
Aku Alice, membuka mataku perlahan. Kepalaku terasa sangat berat sekali, rasanya seperti badanku di guncang-guncangkan dengan sangat hebat. Aku menyadari sesuatu yang aneh ketika aku membuka mataku kembali, menyadari diriku sudah berada di tempat lain. Aku memperhatikan diriku sendiri, sudah terduduk di sebuah kursi, di depanku juga terdapat meja bundar yang besar. Meja itu dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang menggoda, dan juga tiga lilin yang di taruh di tengah meja.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Aku bingung dan bertanya-tanya di mana diriku berada dan apa yang baru saja terjadi. aku menolehkan kepala ku ke kanan dan terkejutnya diriku ketika melihat Neera juga ada di sini. Dia terduduk pingsan di kursi yang sama seperti ku. Jarak antara aku dengannya tidak terlalu jauh. Ternyata Neera juga ada di sini, bagaimana dengan yang lain? Aku sedikit memajukan kepalaku ke depan, dan melihat Koen yang sudah terbangun di samping Neera. Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya sama seperti ku, kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
“Alice.”
Seseorang memanggilku dari arah kiri. Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan melihat Verna yang terduduk di kursi, ia juga sepertinya terlihat sangat gelisah. Apa Kasumi dan Lyubov juga ada di sini? Aku kembali memajukan kepalaku dan melihat ke samping Verna, dan ya, ternyata mereka berdua ada di sana juga, sama sama duduk di kursi. Apa semuanya terbangun dan mendapati diri mereka duduk di atas kursi? Ada yang janggal di sini.
“Alice, apa kau baik-baik saja? Apa kau tau di mana kita? A-aku rasa aku takut sekali di sini. Gelap dan sunyi.” Ungkap Verna yang ketakutan.
“Maaf Verna, aku juga tidak tau di mana kita,” aku menjawab Verna, “tapi yang pasti selama kita bersama kita akan baik-baik saja.”
Verna mengangguk tersenyum tipis, aku rasa dia sudah mulai sedikit tenang. Lalu aku mendengar suara seseorang yang terbangun, aku menolehkan kepalaku ke arah Neera berada. Neera sepertinya sudah mulai siuman kembali, wajahnya terlihat merah. Apa yang terjadi kepadanya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia kehabisan nafas? Aku sangat khawatir sekali.
Neera membuka matanya secara tiba-tiba, dengan nafas yang tidak teratur. Ia melihat ke sekelilingnya dengan penuh keheranan, mendapati dirinya sudah ada di tempat lain yang gelap. Aku menepuk pundaknya perlahan, dan Neera langsung menoleh dengan cepat ke diriku, wajahnya yang penuh dengan ketakutan, khawatir, gelisah dan bimbang itu terlihat dengan sangat jelas sekali. Apa yang terjadi kepadanya? Wajahnya terlihat sangat pucat sekali.
“A-Alice.” ucap Neera lemas dengan wajahnya yang pucat.
“Iya Neera, ini aku. Apa kau baik-baik saja? Tarik nafasnya, jangan membuat dirimu tidak bisa bernafas Neera.” Aku menjawab Neera mencoba menenangkannya.
“Di-di mana kita?” Tanya Neera penasaran, penuh dengan kekhawatiran yang menyelimuti dirinya.
“A-Aku juga tidak tahu Neera, aku harap ini hanya sebuah acara prank yang di buat-buat oleh kakak kelas kita.” Aku menggelengkan kepalaku.
Suara teriakan terdengar dari depan Neera. Aku pun penasaran dan melihat ke depan siapa yang berteriak tadi. Walau sumber cahayanya sedikit, aku masih bisa melihat jelas siapa yang berteriak. “Vanya?” gadis berambut pendek dengan ujungnya yang sedikit keriting, warna mata yang sama uniknya seperti Neera, ungu kemerahan. Tapi kurasa warna mata Vanya lah yang lebih unik ketimbang warna mata Neera.
"WOI LAH APA-APAAN INI, NGGAK JELAS BANGET TIBA-TIBA MEMBAWA KITA SEMUA KE RUANGAN GELAP KAYAK GINI, KELUARKAN KITA WOIIIII” Vanya berteriak dengan lantang, mengeluarkan semua emosi yang ada di dalam dirinya.
Emosi yang sangat besar sekali. Dia selalu mengeluarkan semua isi hatinya dengan sangat lantang sekali, pantas sekali banyak yang takut dengannya, walau dirinya sendiri pendek. Melihat Vanya yang marah-marah sambal menggebrak meja di depannya, aku juga melihat Nyme di sampingnya. Nyme, gadis dengan postur tubuh yang tinggi, memiliki rambut dengan Panjang sebahu, setengah dari rambutnya ia kuncir ke belakang dan sisanya ia biarkan terurai begitu saja.
Setelah Vanya berteriak seperti itu. Dari balik bayangan hitam, terdengar sebuah suara tawa yang seakan-akan sedang mengejek kami. Tiba-tiba, sesosok gadis cilik muncul di tengah-tengah meja bundar. Gadis cilik dengan rambut berwarna ungu gelap mengambang di atas udara. Gadis itu juga memakai gaun pendek berwarna hitam seperti gaun Lolita, dan terdapat rantai rantai emas yang mengelilingi gaun tersebut. Gadis cilik itu memberikan senyuman lebar untuk semuanya.
“Halo, senang bertemu kalian, apa kalian menyukai jamuanku?” ucap gadis cilik itu dengan senyuman lebar terpasang di wajahnya.
Kami semua terdiam, menatap kesal ke arah gadis cilik yang melayang tersebut. Apalagi tatapan Koen, baru pertama kalinya aku melihat tatapan itu, tatapan penuh dengan waspada, takut dan khawatir terhadap makhluk yang ada di depan kita semua sekarang.
“Ooooo, tatapanmu menyeramkan sekali~. Kau membuatku sangat takut.” gadis cilik itu mengeluarkan kata-katanya Ketika ia melirik ke arah Koen, ucapannya penuh dengan nada yang menantang dengan senyumannya yang lebar.
Aku melihat Koen yang sedang menahan amarahnya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam mengambil langkahnya, karena ia tahu, ia tahu betul apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan teman-temannya bukanlah hal yang ada di dalam nalar kita. Salah langkah kemungkinan bisa membawa petaka untuk kita semua. Aku jadi semakin takut dengan apa yang terjadi di sini, melihat gadis kecil yang melayang saja sudah bukan hal yang wajar. Apa aku sedang bermimpi ya?
“Maaf, aku ingin bertanya boleh kan?” tanya Nyme sambal mengangkat tangannya ke atas.
“Tentu saja boleh.” jawab gadis cilik tersebut.
“Bisakah kau mengeluarkan kami dari sini? Pertama-tama, kami akan telat masuk kelas jika kita berada di sini terus. Lalu yang kedua, jika ada sebuah syuting film, bisakah kalian meminta izin kepada kami semua terlebih dahulu, itu akan lebih sopan untuk di lakukan ketimbang menculik kami dengan hal yang aneh dan mencurigakan.”
Gadis Cilik itu menganggukkan kepalanya, Lalu tersenyum ke arah Nyme. Dengan sangat cepat gadis cilik tersebut terbang mendekati Nyme, memberikan senyuman yang semakin melebar di wajahnya, memberikan kesan mengerikan untuk Nyme. Sepertinya baru saja aku mengedipkan mataku dan gadis itu dengan sangat cepat bergerak ke arah Nyme, aku sangat terkejut sekali, apalagi Nyme. Nyme sangat terkejut Ketika Gadis cilik itu mendekatinya, ia mengeluarkan keringatnya karena merasakan ketakutan yang sangat hebat Ketika melihat senyuman yang ada di wajah gadis cilik tersebut.
“Tentu saja tidak, kalian tidak boleh keluar dari sini karena aku membutuhkan kalian semua. Dan tentu ini bukan sebuah pengambilan film seperti yang kau ucapkan tadi.” suara gadis tersebut berubah menjadi sangat berat, tekanan yang ia keluarkan juga terlihat sangat besar sehingga membuat Nyme semakin berkeringat ketakutan.
Gadis cilik itu mundur ke belakang, mengubah ekspresi di wajahnya Kembali normal. Ia pun Kembali ke tengah-tengah meja bundar, merapikan gaun yang berantakan. Nyme terdiam membeku, menurunkan kepalanya karena ketakutan yang ia rasakan. Maemi dan Vanya yang ada di sebelah mereka bisa merasakan hawa menyeramkan dari gadis cilik tersebut, mereka berdua bisa tahu apa yang di rasakan oleh Nyme sekarang. Dan aku baru sadar ada Maemi di samping Nyme. Maemi dirinya sama seperti Kasumi, gadis keturunan asli jepang dengan mata berwarna Hazel memancarkan kehangatan dan cemerlangnya kepribadian dia, dan model rambutnya di kuncir dua kepang ke bawah menambah kesan yang lucu padanya. Ia tidak terlalu banyak berbicara, tetapi dia adalah anak yang menyenangkan bagi kami semua.
“Apa maumu?” Koen membuka suaranya, bertanya kepada gadis cilik tersebut.
“Aku ingin, kalian membawakan pertama biru yang ada di tangan kakakku~”
“Untuk apa kami melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan. dia kakakmu, mengapa kau tidak mengambilnya sendiri?” Alora membuka suaranya, bertanya kepada gadis cilik itu.
Alora. Gadis berambut Panjang, sedikit keriting dan berwarna merah muda yang cantik seperti bunga Sakura. Warna mata yang sama seperti warna rambutnya, dengan pupil yang berbentuk bunga Sakura. Gadis yang banyak di minati oleh pria-pria di sekolah kami, tapi tentu dia menolak semua pria-pria yang pernah menembaknya.
“Kau tahu, aku tidak ingin berhadapan dengan kakakku yang menyebalkan. tapi jika kalian yang melakukannya, aku yakin ia akan memberikan permata tersebut.” Jawab gadis cilik tersebut, ia tersenyum sambil melayang ke sana dan kemari di atas udara.
“Apa untungnya bagi kami?” Koen bertanya kepada gadis tersebut.
“Aku akan memulangkan kalian tentu saja~.” Gadis tersebut menjawab dengan tersenyum, senyuman yang masih tidak bisa di tebak, jika ia tersenyum untuk kebenaran atau kebohongan.
“Agak mencurigakan. kau sangat mencurigakan.” gadis dengan rambut pendek berwarna biru gelap mengeluarkan suaranya, ia mencurigai perkataan gadis cilik tersebut. Sangat berani sekali, siapa lagi kalau bukan Nyx. Salah satu teman kami yang aktifnya super aktif. Ke sana kemari ia selalu melakukan hal yang tidak akan pernah kita ketahui. Satu hal yang sangat kita ingat, dia pernah membakar dapur sekolah karena tidak tau cara menyalakan kompor.
“Tidak ada kata pulang untuk kalian, jika kalian mencurigaiku~.” Dan tentu gadis cilik tersebut mengatakan hal seperti itu.
Satu ruangan di dalam sana terdengar sangat sunyi, penuh dengan kekhawatiran dan ketidakpastian kami masing-masing. Dalam kesunyian yang tegang, kami saling memandang, berbagi kekhawatiran dan pikiran kami. Apa yang harus kami lakukan? kami tidak tahu sama sekali, karena kami hanyalah anak-anak yang masih sekolah, yang seharusnya menjalani kehidupan seperti biasanya.
Cukup lama kami berpikir. Akhirnya, kami membuat keputusan yang cukup berani dan mengambil tawaran gadis cilik tersebut. kami tidak tahu apa yang akan menantikan kami semua, apakah akan berbahaya untuk keselamatan kami, ataupun hanya meminta dan berbicara seperti biasa kepada kakak dari gadis cilik tersebut, seperti yang di bilang tadi. Yang pasti kami berharap tidak ada hal yang di luar nalar kami terjadi.
Gadis tersebut tersenyum lebar, sangat lebar Ketika mendengar kami semua setuju dengan permintaan dari dirinya. Saking senangnya gadis tersebut mengeluarkan aura yang kuat dari tubuhnya, membuat di sekitarnya semakin gelap, dan menekan kami semua dengan ketakutan yang hebat. Aku tidak pernah merasakan hal se-mengerikan itu sampai sampai bulu kuduk ku berdiri.
“Ahhh, saking senangnya diriku sampai mengeluarkan semua auraku.” gadis tersebut terkekeh senang.
“Baiklah, sebelum kalian berpetualang-,”
“Berpetualang?” Neera memotong Gadis cilik itu berbicara.
“Tentu saja berpetualang, karena tempat kakakku tidaklah dekat, jadi dengarkan baik-baik okei~ yang pertama kalian lakukan adalah, kalian harus melewati pintu tersebut.” sebuah pintu dengan ukiran-ukiran aneh muncul begitu saja Ketika gadis cilik itu berbicara.
“Kalian akan masuk ke dalam pintu tersebut, dan kalian harus mencari kunci di dalam sana, dan Kembali menemukan pintu lain untuk menuju ke tempat berikutnya. dan jika kalian terlalu lama membuka pintu tersebut, pintu itu akan Kembali menutup dan kuncinya akan Kembali ke tempat semula. Mudah untuk dimengertikan~”
Penjelasan berakhir, semuanya mengerti apa yang di bicarakan oleh gadis tersebut, termaksud diriku. Demi bisa Kembali ke tempat asal kami, demi bisa menjalani kegiatan seperti biasa yang selalu kami lakukan, kami akan melewati semua yang menghalangi jalan kami, dan Kembali ke tempat seharusnya kami berada. Tapi aku melihat yang Neera merasa tidak yakin, dirinya merasa sangat takut sekali, badannya gemetar keringatnya masih bercucuran. Aku yang berada di samping Neera, melihat Neera yang masih ketakutan. Aku menggenggam tangan Neera dan tersenyum.
“Semuanya akan baik-baik saja, aku akan selalu berada di sampingmu.” Bisikku kepada Neera, dan di jawab dengan anggukan Neera.
Gadis cilik itu menjentikkan jarinya, ia menghilangkan secara tiba-tiba kursi yang kami duduki. Tentu kami terjatuh kesakitan. Lalu kami semua berdiri dan berjalan menuju pintu yang di tunjuk oleh gadis cilik tadi. Kami semua menatap pintu tersebut sangat lama, mengumpulkan semua keyakinan kami untuk melangkah ke tempat selanjutnya. Apa yang akan menanti kami di depan sana? Apa yang akan kami hadapi? Aku tidak tau, kepalaku rasanya sangat sakit sekali memikirkan hal tersebut, dan kami hanyalah anak sekolah biasa yang kerjanya cuman belajar dan bermain, tidak tau menahu tentang hal seperti itu. Tetapi kali ini berbeda, mau tidak mau kami harus berpetualang untuk menemukan jalan Kembali ke rumah kami semua.
Koen yang di depan memimpin yang lain. Meskipun dirinya lelaki sendiri dan memiliki keberanian untuk melangkah, ia harus memastikan teman-teman ceweknya dan bertanggung jawab untuk melindungi kami semua, tidak heran jika dia sangat disukai oleh banyak wanita. Ia dengan hati-hati menoleh ke belakang, memastikan apakah semuanya sudah siap atau belum. Dan kami semua menganggukkan kepala kami, menandakan jika kami siap untuk berangkat ke tempat selanjutnya. Koen membuka pintu tersebut, aura yang gelap dan menyeramkan keluar dari pintu tersebut, memancarkan kekuatan yang mengerikan, sekali lagi membuat bulu kuduk kami semua berdiri tegak.
Dengan kepercayaan diri kami yang sudah matang, satu persatu melangkah ke dalam pintu tetersebut. Neera masih berdiri di depan pintu tersebut, ia masih gemetar ketakutan. Sedangkan aku, yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan Neera. Aku menoleh ke arah Neera, melihat Neera yang masih ketakutan.
“Semuanya akan baik-baik saja, aku akan selalu ada disisimu.” sekali lagi Aku meyakinkan Neera.
“Ah, baiklah..aku percaya kepadamu. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Jawab Neera yang mulai Kembali tersenyum.
kami berdua pun yang terakhir masuk ke dalam pintu tersebut. Pintu itu mulai menutup dengan perlahan. Sebelum pintu itu menutup sepenuhnya Neera sempat menoleh ke belakang melihat gadis cilik tersebut, tubuhnya Kembali gemetar dengan hebat dan langsung menoleh Kembali ke depan. Gadis cilik yang masih ada di sana melambaikan tangannya, tentu dengan senyumannya. Mengucapkan salam perpisahan kepada kami.
“Semoga cerita perjalanan kalian, membuatku puas~”