"Doors of Destiny: The Perilous Journey Begins"

"Doors of Destiny: The Perilous Journey Begins"
Dinning room (1)



“Di mana kita?” tanya Alora penasaran.


Setelah kami semua masuk ke dalam pintu aneh yang di beritahu oleh gadis cilik tersebut, kami sudah berada di tempat yang berbeda lagi. Kami melangkah masuk ke dalam sebuah aula yang sangat besar, aula tersebut di penuhi dengan ornamen-ornamen perhiasan emas yang sangat mewah dan megah. Tetapi udara di sekitar sangat sepi dan mencengkam. Kami semua saling bertatapan, kebingungan dan rasa penasaran yang menyelimuti kami. Kami memutuskan untuk mencoba berkeliling di sekitar melihat keadaan sekitar kita.


“rasanya kita masuk ke dalam dunia fantasi tau, seperti yang ada di dalam buku komik.” Ucap Nyx, sambil dirinya menyentuh vas emas yang terpajang di meja kecil di pinggir aula besar tersebut.


“Nyx, jangan jauh-jauh. Nanti kalau kenapa kenapa kita yang kesusahan.” ungkap Koen memperingati Nyx.


“aish kau seperti ibuku saja, tenang saja di sini tidak ada siapa-siapa kan.” Nyx tersenyum lebar, tidak takut dengan keadaan di sekitarnya.


Koen yang mendengar ucapan Nyx hanya bisa menggeleng kepalanya, diriku hanya terkekeh pelan mendengar mereka berdua. Ah aku lupa, aku masih menggenggam tangan Neera erat. Aku menatap Neera, ia sedang melihat ke tangga yang besar mengarah ke lantai atas. Aku pun juga ikut melihat ke lantai atas, apa ada sesuatu di atas sana? Aku yakin ada sesuatu di atas sana.


“bagaimana jika kita saling berkelompok sekarang, tidak ada yang boleh jauh-jauh, kita tidak tau apa yang terjadi sekarang. Pintu yang muncul begitu saja, bocah cilik yang terbang di atas udara. Aku ingin berpikir jika ini hanyalah setingan, tapi dengan bocah yang mengeluarkan sesuatu yang mengerikan seperti tadi membuat ku berpikir jika ini adalah kenyataan yang sedang kita hadapi.” Koen berbicara kepada semuanya, memperingati satu persatu.


Kami semua mengangguk setuju kepada Koen, mengikuti apa yang dikatakan olehnya. Menyadari apa yang harus kita lakukan, kami satu persatu mulai menginspeksi aula besar tersebut, melihat dan mencari apakah ada petunjuk di mana kunci yang di beritahu oleh gadis cilik itu berada. Verna melihat ke atas langit-langit, memperhatikan fresko indah yang terhias di atasnya. Koen yang pergi ke arah jendela besar, memperlihatkan keadaan luar yang gelap penuh dengan pohon-pohon yang mati. Lyubov yang berkeliling dengan riang ke sana kemari bersama Vanya mencari petunjuk di berbagai macam ornamen yang terpajang di sana. Nyme yang berdiri sendiri di tengah-tengah berpikir dengan keras apa yang akan mereka lakukan jika berada di situasi seperti ini. Kasumi dan Maemi yang keturunan jepang sedang melihat bentuk dan ukiran yang ada di sana, budaya dari manakah ornamen-ornamen tersebut berasal. Alora sendirian berdiri sambil merengek jika ia lapar. Sedangkan aku masih berada di samping Neera.


“apa kau ingin melihat-lihat seperti yang lain?” tanya ku kepada Neera yang dari tadi melihat ke arah tangga yang besar.


“Alice, aku merasa ada yang memperhatikan kita dari tadi.” Jawab Neera dengan alis yang mengerut sambil melihat ke lantai atas.


“eh?” ada yang memperhatikan kita? Siapa? Neera mengatakan hal seperti itu membuatku menjadi sangat takut sekali. Gimana aku tidak takut, kita berada di tempat yang sangat besar, gelap, dengan aura yang mencengkam, Lalu ia berkata jika ada yang memperhatikan kita. Tunggu sebentar, seseorang memperhatikan kita, berarti tempat ini tidak sepi, masih ada yang menempati tempat ini. Yang artinya kita bisa bertanya di mana kunci untuk pintu selanjutnya berada kan. Ya kan!


Alora menghampiri ku dan memeluk ku, “Alice ayo cari makanan yuk, aku lapar sekali.” rengek Alora.


“Kau lapar? Tunggu sebentar seharusnya aku ada satu biskuit di kantong rok ku.” Aku merogoh kantung rok ku, dan mendapati satu bingkis berisi biskuit rasa coklat dan memberikannya kepada Alora. Hebatkan aku memakai rok tapi ada kantungnya, hehehe~.


“Uwahhhh, makasih banyak Alice, aku sangat menyayangimu huhuhu.” Alora berterima kasih kepadaku, dan memakan biskuit yang ku berikan untuknya.


Beberapa menit kemudian. Kami semua kembali berkumpul di tengah-tengah, memberikan semua pendapat kami setelah berkeliling dan melihat sekitar aula yang besar ini, kecuali satu orang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi aku tidak melihatnya dimana-mana, apa dia masih berkeliling? Yang lain masih berbicara dan memberikan pendapat mereka masing-masing. Untungnya kami semua masih bisa memahami situasi yang sedang kita hadapi. Tapi….


“umm, di mana Nyx?” aku akhirnya membuka suaraku.


Kami semua terdiam. Koen menghela nafasnya berat, kakinya langsung terasa lemas, dirinya ter jongkok sambil menutup mata dengan tangannya. “Bocah sialan itu.” Ucapnya lelah. Nyme juga menggeleng-gelengkan kepalanya lelah ketika mendengar Nyx menghilang. Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali, ketika kami memiliki acara study tour bersama di sekolah, Nyx juga pernah menghilang masuk ke dalam hutan, dan kami menemukan dirinya sedang mencoba melawan beruang kecil yang ada di sana, melawan beruang kecil hanya menggunakan sebuah ranting pohon, dan akhirnya Koen membawa Nyx kabur dari tempat tersebut.


“jadi, misi kita sekarang adalah mencari Nyx terlebih dahulu.” Ucap Koen sekali lagi.


“tapi kau sama saja tau, untungnya kau masih ketahuan dan tidak pernah berhasil menghilang kabur dari kami, kau payah sekali.” Lyubov menepuk pundak Vanya sambil terkekeh pelan.


“Oi!” Vanya terlihat kesal ketika Lyubov mengejeknya.


“Umm…, aku ingin memberitahu kalian sesuatu,” ucap Neera, lalu semua tertuju kepada Neera, siap mendengarkan apa yang akan Neera katakan. “ada seseorang yang memperhatikan kita dari lantai atas. Apa sebaiknya kita cek saja?”


Hal yang lebih mengejutkan sekali. Tentu aku sudah tidak terkejut karena Neera sudah mengatakan hal itu kepadaku. Kasumi menunjuk ke lantai atas sambil menatap Neera, Neera menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan jika benar ada seseorang yang memperhatikan kami semua dari atas sana.


“haruskah kita ke atas sana dan mencari Nyx?” tanya Verna, “kita bisa bertanya dengan orang di atas sana kan.” dengan polos Verna menyambungkan ucapannya tadi.


“tapi kita tidak tau siapa orang ini kan, apa dia sendirian atau dia berkelompok. Jika mereka berkelompok dan ternyata mereka orang jahat, tamatlah kita” Maemi menjawab ucapan Verna, ia melipat kedua tangan dan menaruh di depan dadanya.


“tidak ada salahnya kan untuk mencoba bertanya, atau tidak salah satu dari kita saja yang bertanya.” Lyubov memberikan pendapatnya, dan di jawab dengan Vanya menjitak kepala Lyubov pelan.


“kau bodoh atau bagaimana. Kalau salah satu dari kita kenapa-kenapa gimana? Kau mau tanggung jawab?”


“kan aku hanya memberikan pendapat, gimana sih. Jangan main jitak aja dong!”


Perdebatan terjadi antara Lyubov dan Vanya. Nyme yang memiliki postur badan yang tinggi mencoba untuk menengahkan perdebatan mereka berdua. Lyubov dan Vanya saling menatap kesal. Koen yang melihat perdebatan itu kembali menggelengkan kepalanya, aku pun begitu. Jadi sekarang rencana pertama kita adalah menemukan Nyx yang menghilang dan menemukan kunci untuk menuju pintu selanjutnya.


“Ratuku~ kau sudah datang.” Kami semua langsung terkejut merinding ketika mendengar suara seseorang dari lantai atas, suara seorang pria yang sedikit melengking. Kami semua langsung terdiam dan menoleh ke lantai atas.


Seorang pria tinggi dan kurus berdiri dengan anggun. baju yang ia kenakan berwarna putih di kanan dan ungu di kiri, lengan baju yang kebesaran dengan warna putih di kiri dan ungu di kanan, mengenakan rok ketat panjang berwarna hitam, dan sayap putih yang besar menghiasi punggungnya. Ia mengeluarkan suaranya, memanggil dengan sebutan ‘Ratu’ ke arah kami. Ratu? Siapa? Aku melihat ke kanan dan ke kiri tidak melihat orang lain selain kami semua. Pria kurus dengan rambut berwarna ungu terang itu tersenyum lebar bahagia, seakan-akan ia senang karena sudah menunggu lama seseorang kembali ke rumahnya.


“ah, aku melihat kau membawa teman-temanmu juga~” pria itu berjalan dengan anggun, suara sepatu hak tingginya terdengar dengan sangat jelas di antara suasana ruangan yang sangat sepi. Dan ia berhenti di depan Neera.


Aku menjaga posisiku untuk melindungi Neera. Aku langsung memeluk erat Neera dan Neera juga memeluk erat balik diriku, entah mengapa aku takut sekali jika Neera di ambil oleh pria kurus ini. Pria itu masih tersenyum kepada Neera, ia mengambil tangan Neera dan mencium punggung tangan Neera, tentu kami semakin terkejut dengan setiap pergerakan pria tersebut. Aku bisa melihat jelas senyuman lebarnya setelah mencium punggung tangan Neera, ia mengangkat kepalanya menatap Neera dengan tatapan seakan-akan Neera adalah seseorang yang sangat berharga untuknya. Aku takut sekali, firasatku mengatakan ada yang tidak beres di sini.


Pria itu tersenyum lebar dengan air matanya yang menetes.


“Aku sudah menanti ratusan tahun untuk kedatanganmu, ratuku~”