
Kami terkejut saat pria tinggi kurus mendekati Neera dengan perilakunya yang aneh. Dia secara tiba-tiba mencium punggung tangan Neera, memberikan kesan yang tidak pantas dan mengejutkan. Ada sesuatu yang tidak benar dalam tindakannya, dan rasa tidak nyaman langsung meliputi kami. Rasa keterkejutan dan ke tidak nyamanan semakin membingungkan diriku. Hari ini begitu banyak peristiwa yang mengejutkan terjadi, mulai dari terjebak di dunia yang aneh, Nyx yang menghilang, hingga munculnya pria tinggi kurus aneh ini. Semua itu membuat kepalaku berdenyut seakan-akan ingin pecah.
Tiba-tiba, terdengar suara "Tak!" yang keras di udara, dan sebuah vas bunga terlempar ke arah pria tinggi kurus itu. Namun sayangnya, pria tinggi kurus tersebut dengan cepat menangkap vasnya, sehingga tidak mengenai kepalanya seperti yang diharapkan. Kami semua menoleh ke belakang melihat siapa yang melempar vas tersebut. Vanya tersenyum ketika kami semua melihat ke arahnya.
“Apa?” tanya Vanya kebingungan.
“Kau gila ya?” Bisik Lyubov yang berdiri di samping Vanya.
“Ya kenapa? Dia aneh, apa salahnya aku melempar vas ke kepalanya?” jawab Vanya kesal dengan Lyubov.
“Kau adalah yang paling merepotkan setelah Nyx.” Maemi ikut berbisik ke arah Vanya.
Pria itu menaruh dengan perlahan vas yang di lempar oleh Vanya di atas meja kecil samping tangga, lalu dirinya terkekeh pelan. Suara tawanya membuat kami semua kembali terdiam, kembali menatap pria kurus tersebut. Pria itu tersenyum manis kepada kita semua, seakan-akan ia bukanlah musuh untuk kami semua. Kembali lagi, dirinya memberikan senyuman yang sangat berbeda kepada Neera.
“Ratuku~ apa Anda lapar? Kami sudah menyiapkan makan malam untuk Anda dan teman-teman Anda di ruang makan.” Ucap pria aneh itu.
“Kami? Kau tidak sendirian?” Nyme bertanya kepada pria tinggi kurus tersebut.
Pria tinggi kurus itu menjawab pertanyaan Nyme dengan senyuman, “tentu saja saya tidak sendirian, kami semua bersama sudah menunggu Ratu kami ratusan tahun di sini~.” Tetapi tatapannya berubah sinis ketika pria tinggi kurus itu menatap Nyme.
“Maaf. tapi sebelum itu, aku bukanlah…umm ratu? Ratu Kalian. Aku hanya gadis biasa berumur 17 tahun yang masih belajar di sekolah menengah atas. Dan juga kami semua belum tau namamu.” Neera membuka suaranya.
“Neera benar, kau bel-!!” Seruanku terputus dengan terkejutnya wajahku ketika melihat ekspresi dari wajah pria kurus dan tinggi itu berubah secara drastis. Tidak hanya aku yang terkejut, tetapi suasana di sekitar kami juga berubah menjadi tegang dan mencekam. Wajahnya yang tadinya tenang tiba-tiba menjadi memerah, seolah-olah ia sedang jatuh cinta secara obsesif kepada Neera. Pandangan yang sangat berbeda sekali ketika ia menatap Nyme.
"Aahhh.., bahkan suaramu begitu indah dan menenangkan hatiku~," ucap pria itu sambil menyisipkan jari-jemarinya di sebelah wajahnya, seakan-akan terpesona oleh kehadiran Neera. Ungkapannya terdengar begitu berlebihan, menyiratkan kekaguman yang berlebih dan pengaruh yang mempengaruhi emosional.
"Ughm-. Maaf atas ke tidak sopan-an saya kepada Anda dan teman-teman Anda," ucap pria tersebut dengan suara yang rendah dan tulus, menunjukkan rasa penyesalannya. Suaranya yang berubah menjadi terdengar rendah, lembut dan begitu tulus permintaan maafnya. “Merikh.” Pria itu memperkenalkan dirinya.
“Saya adalah seorang saint yang bertugas mencatat takdir semua makhluk hidup yang ada di dunia buatan ini. Tentu termaksud kalian semua karena sudah berpijak di dunia ini.” Ucapnya sambil menyeringai lebar.
Saint? Orang suci? Tidak heran jika di punggungnya terdapat sayap putih yang besar, tapi pakaiannya seperti tidak melambangkan jika dirinya adalah orang suci. Orang suci tidak akan pernah memakai baju berwarna, mereka pasti akan memakai baju serba putih kan? Dan bukannya orang-orang suci seperti saint yang ia katakan, seharusnya di tempat yang terang dan tidak di tempat gelap seperti ini? Itu yang ku ketahu dari cerita-cerita novel yang selalu ku baca.
“Jika kau mencatat semua takdir kita, artinya kau tau masa depan kita kan? Apa yang akan terjadi selanjutnya kepada kita?” tanya Kasumi kepada Merikh untuk memastikan perkataan yang di katakan Merikh benar.
Merikh hanya terdiam, senyumnya menghiasi wajahnya yang misterius. Tatapan matanya memancarkan pesona yang sulit dipecahkan. Suasana tegang menggelayuti ruangan, saat semua orang menanti jawaban dari Merikh. Pertanyaan Kasumi terasa begitu penting, dan mereka semua ingin tahu apakah Merikh benar-benar memiliki pengetahuan tentang masa depan mereka.
Di antara keheningan yang tegang, keanehan terjadi di dalam pertemuan ini. Mengapa Merikh tidak langsung menjawab pertanyaan sederhana dari Kasumi? Apa ada yang salah dari pertanyaan Kasumi? Atau pertanyaan itu yang terlalu sensitif untuknya? Tapi kan kita ingin tahu kebenarannya, mengapa ia harus terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Kasumi. Tunggu sebentar, apa dia berbohong dengan omongannya sendiri?
Merikh masih terdiam hening. Lalu pupil matanya melirik ke arah Neera, seakan-akan dirinya menunggu untuk Neera yang bertanya. Neera yang sadar dengan lirikan Merikh, akhirnya Neera bertanya ulang pertanyaan dari Kasumi kepada Merikh. Secara tiba-tiba, Merikh mengeluarkan sebuah buku catatan dengan cover kecokelatan yang kusam secara ajaib dan pena yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Merikh menulis sesuatu dia atas kertas buku catatannya.
Apa-apaan dengannya, dia baru mau menjawab ketika Neera yang bertanya. Sombong sekali, aku tidak menyukai sikap Merikh yang mengabaikan pertanyaan Kasumi tadi. Rasanya aku ingin menendang wajahnya yang menyebalkan itu dengan tendangan maut ku. Aku sangat kesal sekali, amarahku terus naik dengan semua tingkah laku Merikh ini, tapi aku harus menahan amarahku jika diriku masih ingin hidup.
Tunggu sebentar. Apa yang baru saja aku katakan? Hidup? Memangnya aku akan mati? Memangnya itu bakal terjadi ya? Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan hal-hal aneh yang sudah terjadi kepada kita, aku yakin semua ini masih setingan yang di buat-buat oleh seseorang untuk membuat sebuah film. Benar kan?
“10 detik lagi, Ratuku akan ketakutan sambil mengeluarkan air matanya karena petir yang menyambar, di mulai dari...sekarang.” Merikh kembali tersenyum kepada kami semua.
Aku mulai menghitung dari dalam hatiku. “Satu, dua….,tiga…., empat.” Aku menoleh ke arah Neera, melihat wajahnya yang mulai berubah menjadi pucat. “Enam.., tujuh.” Kenapa? Ada apa Dengan Neera? “sembilan, dan….sepuluh.”
Suara petir menyambar dengan keras, Neera langsung memeluk diriku erat dengan badannya yang gemetar hebat, dan aku bisa merasakan di pundakku air mata Neera yang mengalir membasahi bajuku. Aku langsung memeluk erat kembali Neera yang ketakutan.
“U-uwah…ternyata benar.” Lyubov berkomentar dan takjub kepada Merikh.
“itu sangat hebat, tetapi juga sangat menyeramkan.” Alora melanjuti komentar yang di keluarkan oleh Lyubov tadi.
Merikh terkekeh pelan, “jika kalian semua sudah percaya dengan saya, kita bisa melanjutkan perbincangan ini di ruang makan nanti, tapi sebe-.”
“Aku masih belum percaya.” Koen memotong ucapan Merikh, ia menatap Merikh dengan tatapan tidak percaya dan jijik kepada Merikh.
Aku bisa melihat kekesalan yang dalam dari wajah Koen, melihat satu temannya tiba-tiba di dekati seperti itu dengan sikap yang tidak senonoh. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Merikh, wajah penuh senyuman itu berubah, senyuman yang ada di wajah Merikh menghilang. Merikh terlihat sangat kesal sekali dengan Koen, terlihat dengan sangat jelas sekali jika orang ini sangat membenci Koen.
Merikh menarik nafasnya dalam-dalam, terlihat dirinya sedang menahan amarahnya. “Bagaimana jika saya mengantarkan kalian ke ruang makan terlebih dahulu, dan kita bisa bicarakan semua yang terjadi di sana. Semua yang ingin KAU dan Kalian tau.”
Lalu ia menatap Neera, merubah ekspresi wajahnya kembali dengan senyuman yang di awal ia perlihatkan. “tentu yang ingin Ratuku ketahui semua juga.”
Kami semua kembali saling menatap satu sama lain. Apakah mereka akan mengikuti Merikh menuju ruang makan, di mana di sana pasti masih banyak orang. Tidak...., mungkin akan ada makhluk-makhluk aneh lainnya yang menunggu kami juga disana. Atau hanya berdiam diri di sini mencari jalan lain untuk keluar dari sini.
“Nyx masih menghilang, lebih baik kita mengikuti Merikh ke ruang makan. Kita bisa bertanya kepada orang-orang yang ada di sana tentang Nyx kan? Siapa tau, mereka tau di mana Nyx berada.” Verna memberikan pendapat positifnya kepada kita semua.
“Sepertinya kau benar. Kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti pria aneh ini.” Lanjut Alora.
Kami semua menganggukkan kepala kami setuju, dan memutuskan untuk mengikuti Merikh. Wajah Merikh dipenuhi dengan senyuman kebahagiaan yang tulus, menandakan bahwa ia merasa terhormat dan bahagia atas kepercayaan yang kami berikan kepadanya. Dengan sikap yang mulia, Merikh membungkukkan setengah badannya sebagai tanda penghormatan, menunjukkan bahwa ia siap memimpin kami.
Namun, sebelum Merikh memulai langkahnya di depan, tiba-tiba ia menarik tangan Neera dengan lembut, mengundangnya untuk berjalan di sampingnya. Tindakan ini membuatku merasa tidak nyaman dan kesal. Tanpa ragu, aku dengan tegas menepis tangan Merikh dan menatapnya dengan ekspresi jengkel, dengan sangat jelas sekali aku memberikan isyarat kepada Merikh bahwa aku ingin Merikh berhenti menyentuh dan menjaga jarak dengan Neera. Merikh sedikit terkejut dengan reaksi ku yang tiba-tiba, tetapi ia segera memutar tubuhnya dan mulai berjalan maju, memimpin jalan menuju ruang makan.
Kami pun berjalan menuju ruang makannya. Perasaan tidak tenang ini menghantui diriku, aku memperhatikan Neera yang sangat berbeda sekali dari yang aku tau. Aku bisa melihatnya, ketegangan di dalam mata Neera, dan aku bisa merasakan ada yang membebani hati Neera. Aku ingin bertanya kepadanya, tapi ia selalu terdiam dan ketakutan, tidak seperti Neera yang ku kenal. Mungkin aku harus fokus dengan apa yang terjadi sekarang, aku bisa bertanya kepadanya nanti. Semoga saja apa yang ada di depan kami bukanlah hal yang akan membawakan petaka bagi kami semua, perjalanan ini harus berjalan dengan mulus agar kami semua bisa kembali pulang dengan selamat. Ya, pulang dengan selamat dan kembali tertawa seperti hari-hari biasa yang selalu kami jalani.