Zenkai: New Z - Volume 1

Zenkai: New Z - Volume 1
Bab 3: permulaan



Sekolah dimulai pada pagi hari


Zane sudah siap, lengkap dengan seragamnya yg rapih


Setelah makan bersama Yoshi, Zane beranjak dari tempat duduknya


Dan sepertinya Jin sudah duluan berangkay ke kelasnya


"Yoshi, aku pergi dulu!"


Kata Zane dari depan pintu


"Iya! Selamat belajar keras, Papa!"


Yoshi melambaikan tangannya kejauhan


Zane tersenyum ketika melihat Yoshi


Dia memegang gagang pintu, tapi belum ia buka


Dia menarik nafas lalu membuangnya


"Inilah masa depan, inilah masa-masaku menuju kejayaan dimulai. Lihat saja Nii-san, akan kulampaui pencapaianmu!"


Zane tersenyum penuh semangat


Dia membuka pintunya dan sudah banyak murid berlalu-lalang menuju kelas mereka masing-masing


Zane menenteng tasnya dengan satu tangan dan ditaruh dibelakang punggungnya


Dia mulai berjalan sambil memegang kantong, layaknya tipikal karakter pemalas di anime


Dia terus berjalan dan berjalan menuju kelasnya, dimana itu di kelas 10-D


Akhirnya, dia sampai didepan pintu kelasnya


Dia mulai sedikit gugup


"Oi"


Jin memegang bahunya dari belakang


Zane memutar balik badannya tanpa terkejut sedikitpun


"Jin..."


Jin tersenyum dengan manisnya


Jin mulai bertanya dengan friendly:


"Kenapa? Deg-degan? Grogi?"


Zane memerah wajahnya karena malu


"Ehehehe. Hee..."


Dia garuk-garuk rambutnya


Jin mulai menyemangatinya:


"Tenang saja, semua akan baik-baik saja kalau berjalan sesuai rencana"


"Tapi aku tidak punya rencana!"


Bantah Zane yg tidak terima


"Rencanamu adalah masuk kedalam dan jadilah diri sendiri sambil memperkenalkan diri, jangan terbawa suasana juga. Mengerti?"


Jin tersenyum semakin cantik


Bahkan Zane yg keras kepala pun dibuat luluh hatinya


Jin mulai merapikan dasi dan kerah baju Zane layaknya ibu sendiri


Zane dibuat tersipu malu karena terlalu dekat


Dia berusaha untuk membuang muka, tapi tidak bisa


"Wangi!"


Pikirnya


Jin mulai merapikan rambut milik Zane, dan tidak sengaja memegang kepala Zane yg masih diperban


Zane merintih kesakitan:


"Aw, aw!"


Jin sedikit panik:


"Ma-maaf!"


"Tidak apa-apa"


Jin menyadari kalau rambut Zane gondrong


"Nanti kucukur rambutmu, kubuat rapih"


Kata Jin


"Kau mau aku mati? Kepalaku ditiup angin saja sudah nyeri"


Tolak Zane


"Kalau begitu, sesudah sembuh saja"


Balas Jin dengan santainya


Jin selesai merapikan Zane


Setelah puas, dia menganggukkan kepalanya


"Baiklah, aku pergi dulu"


Jin melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh


Zane memegang dadanya yg dibuat semakin berdebar oleh senyuman manis Jin


Setidaknya itu sudah membuat Zane termotivasi


"Baiklah anak baru, silahkan masuk!"


Suara pak guru dari dalam kelas


"Showdown terakhir!"


Zane langsung berjalan masuk karena pintu otomatis futuristik


Zane menulis namanya dipapan tulis


Dia memutar balik badannya


Dia membungkuk hormat dan mengangkat kepalanya lagi


Zane memperkenalkan dirinya:


"Namaku Zane Souji, kalian bisa memanggilku Souji, Zane, atau apalah terserah aku punya banyak panggilan"


Murid yg duduk paling belakang mengangkat tangannya dan berkata:


"Bagaimana kalau Kutung Kasarung Pake Sarung Ketiban Karung?"


Seluruh murid kelas tertawa


Zane pun ikut tertawa


"Ada apa dengan kepalamu yg diperban? Jangan-jangan beneran ketiban karung"


Lanjut yg meledek tadi


Zane menjawab sambil tertawa sarkas:


"Hahaha! Tidak. Ini karena habis berantem sama penghuni ketua eskul musik, Viola"


Seisi kelas langsung terdiam takut


"Nanti kalian kubantai satu-satu nunggu giliran, ya?"


Kata Zane yg membuat seisi kelas langsung sunyi lagi


Salah seorang murid perempuan berdiri sambil mengangkat tangannya


"Sensei, saya mau tanya soal Souji-san"


Izin si murid itu


Pak guru memperbolehkan:


"Silahkan Abby, tanyakan"


Murid yg bernama Abby itu mulai bertanya:


"Ano, apa Souji-san punya hubungan dekat dengan Katsumi Souji dan Natsuki Souji?"


"Itu lagi pertanyaannya!"


Zane senyum murung


"Iya, mereka adik dan kakakku yg populer"


Jawab Zane dengan nada malas


Kini giliran Zane yg bertanya:


"Dan kalau boleh tau siapa yg bertanya?"


Sambil tersenyum penuh keramahan, Abby menjawab:


"Abigail McTavish Vince, biasa dipanggil Abby. Senang bertemu denganmu"


Zane sedikit terkejut


Karena rasa penasaran, dia bertanya:


"Jadi kau punya hubungan apa dengan Tuan Putri Vivian Stephanie Vince?"


"Dia sepupuku"


"Kalau begitu dia kakak iparku"


Seisi kelas langsung heboh


"Tenanglah murid-murid"


Pinta pak guru dengan sabar


"Bukankah itu membuat kita sebagai saudara ipar?"


Tanya Abby lagi


"Oh, tentu"


Jawab Zane singkat


Abby yg merasa senang langsung duduk dengan aura berbunga-bunga


"Baiklah, tidak ada yg bertanya lagi?"


Kata pak guru


Salah seorang murid laki-laki mengangkat tangannya


"Silahkan Shun!"


Murid itu bertanya:


"Apa berarti kau adik dari si legenda Dan Vince?"


Zane agak kesulitan menjawabnya karena dia sendiri tak tau apa-apa soal kakak kandungnya


Dia menjawab apa adanya:


"Soal aku adik Dan Vince, iya. Tapi soal apa dia legenda seperti yg kau sebutkan, aku tidak terlalu tau. Ketika aku sudah mengerti segala hal, Dan Vince sudah dikabarkan mati, untungnya dia sempat menikah. Kakak iparku, Tuan Putri Vince, sering menceritakan segalanya sewaktu aku kecil sampai sekarang ini. Dia sendiri bilang kalau kakakku, Dan Vince, tidak mau disebut pahlawan, ataupun legenda, ataupun penyelamat. Kesimpulannya: tidak salah kau menganggapnya pahlawan, atau legenda, dan sebagainya, tapi yg pasti dia sendiri tidak mau disebut demikian karena dia sendiri mengaku bukan pahlawan"


Murid-murid terdiam terpaku akan cerita yg diceritakan Zane


"Ya, mungkin itu membuatku menjadi Zane Souji Vince secara tidak langsung, iya?"


Kata Zane dengan maksud bercanda


"Baiklah, Souji-kun, silahkan duduk ditempat yg kosong disamping Marcus"


Zane mengangguk dan mulai berjalan menuju tempat duduk kosong disamping murid yg meledek Zane tadi


Murid itu menatapi Zane dengan tatapan tajam setajam siletnya, layaknya punya dendam terpendam


Zane pun duduk dan menaruh peralatan sekolah di atas meja


Zane lalu menyender di bangkunya dan melirik murid yg bernama Marcus


"Lama tak berjumpa, Marcus Takamiya teman lamaku"


Sapa Zane yg sepertinya sudah kenal


Marcus membalas:


"Iya, sudah lama kita tak jumpa semenjak SD, Zane Souji"


Zane tersenyum


"Heh. Sepertinya ini yg disebut reunian, bukan?"


"Kau sangat benar"


Marcus juga ikut tersenyum


"Ngomong-ngomong, kenapa kepalamu diperban? Takut otakmu copot lagi?"


Ledek Marcus


Zane menjawab dengan sarkas:


"Biasalah, habis cosplay jadi Ki Joko Tolol"


Mereka berdua terdiam sesaat


"Padahal sudah kujelaskan kenapa kepalaku diperban. Detil banget sih!"


Pikir Zane dengan kesal


Selang beberapa menit, mereka tertawa kecil agar tidak terdengar guru


Jam demi jam berlalu, bel istirahat pun berbunyi


Pak guru keluar dari kelas dan beberapa murid juga ikutan keluar untuk membeli makan di kantin, atau sekedar mengobrol dengan teman dari kelas lain


Marcus berdiri


"Yo Zane, mau ke kantin?"


Tanyanya dengan bersahabat


Dengan sopan, Zane menolaknya:


"Tidak, tidak. Nanti saja kususul"


"Baiklah. Aku pergi dulu"


Marcus keluar dari kelas, menuju ke kantin


Dari depan kelas, Abigail atau Abby mulai mendekati Zane


Zane tidak terlalu tau karena dia hendak tidur


"P-permisi... Souji-san"


Sapanya dengan gugup


Zane mengangkat kepalanya


"Ooh, Captain McTavish!"


Jawabnya dengan ceplas-ceplos


Abby terkejut karena nama yg disebut tidak merujuk ke namanya sendiri


Lantas dia bertanya:


"Eh? Captain McTavish siapa?"


"E-eh, b-bukan!"


Zane mulai gugup sendiri


Lalu dia menjawab dengan sedikit malu:


"Sebenarnya... Captain MacTavish itu nama karakter gim"


Abby malah terkagum sendiri


"Wah! Kebetulan nama ayahku ada Tavish-nya"


"Memangnya kata tambahan 'Mc' atau 'Mac' buat apa sih?"


Tanya Zane


Abby mulai menjelaskan:


"Itu nama umum negara Skotlandia. Mac untuk laki-laki yg artinya 'putra dari'. Mc untuk anak perempuan yg artinya sama atau 'putri dari'. Nama ayahku Tavish Sophian Vince, dan munculah aku Abigail McTavish Vince"


"Ooh, jadi kau dari Skotlandia"


"Sebenarnya semua Vince dari Inggris, hanya saja ayahku pindah ke Skotlandia, dan aku lahir disana"


"Ya ampun. Pohon keluarga Vince memang membingungkan ya?"


Mereka berdua tertawa sampai puas


"Jadi... Abigail... Apa yg bisa kubantu?"


Tanya Zane


Dengan ramah, Abby sedikit membantah:


"Tolonglah, panggil saja Abby. Kita semua teman disini, jangan terlalu formal"


"Sí!"


Zane mengacungkan jempol


Abby mulai mengatakan yg ingin dia katakan tadi, hanya saja dia malu


"Jadi begini... Souji-san... Bolehkah aku jadi..."


Belum selesai bicara, Zane mulai berpikir yg tidak-tidak


Matanya melebar karena shock


"Jangan-jangan dia... INGIN MENEMBAKKU?! Tentunya akan kuterima baik-baik"


Pikirnya yg berekspetasi tinggi


"Pelayanmu..."


Lanjut Abby


"Eh...?"


Zane terdiam sesaat


Tidak sesaat tapi sampai beberapa menit


"Jadi begini... Karena sebenarnya keturunan Vince di keluargaku itu adalah Vince tingkat bawah, sedangkan Vivian tingkat atas dimana mereka adalah bangsawa yg terpilih, jadi yg rendah harus menjadi pelayan yg atas"


Jelas Abby


Mendengar ini, Zane mulai menanggapinya serius


Wajahnya menjadi gelap


"Lanjutkan!"


Perintahnya dengan suara serius nan berat


"Waktu itu ayahku, ibuku, dan aku ditunjuk menjadi pelayan orang tua Vivian bahkan Vivian juga, tapi mereka menolak karena semua manusia derajatnya sama. Sebenarnya... Aku masih ingin jadi pelayan Vivian karena itu kemauanku, tapi dia menolaknya..."


Abby mulai menunduk sedih


"Ma-maka dari itu biarkan aku jadi pelayanmu saja! Aku mohon!"


Pintanya


Zane menghela nafas


Zane bertanya:


"Abby, sebenarnya siapa yg menyuruh keluargamu menjadi pelayan keluarga Onee-chan?"


Abby langsung menjawab:


"Kakekku..."


Zane mulai berpikit keras, karena keluarga Vince cukup rumit


"Kalau dia kakekmu, berarti dia ayah dari ayahmu dan juga ayah dari ayahnya Onee-chan... Hmm..."


Abby memohon:


"Jadi tolong Souji-san, biarkan aku jadi pelayanmu!"


Zane mulai berpikir lagi


"Hmm... Sebenarnya aku bakalan sepemikiran dengan Onee-chan, karena dia bukan hanya kuanggap kakak asliku tapi juga sudah seperti ibuku..."


Wajah kekecewaan mulai terlihat di wajah Abby


"Tapi dia juga pernah bilang kalau membahagiakan orang lain akan membuat dirimu lebih bahagia lagi"


Lanjut Zane


Abby mulai tersenyum


Dia memegang tangannya Zane dan bersalaman sekencang-kencangnya


"Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih, Souji-san!"


Zane tersenyum


"Onee-chan benar, membahagiakan orang lain akan membuat diriku lebih bahagia lagi"


Pikirnya


Abby mulai hormat ala tentara


"Tugas pertamaku apa, pak?"


Tanyanya


"Bagaimana kalau... Belikan aku minuman kaleng"


Zane memberikan uangnya


Abby menerimanya


"Sir, yes sir!"


Dia berlari sekencang-kencangnya


Kita akan masih dalam sisi Abby, dimana dia sudah sampai di kantin dengan cepat


Disana sudah ramai, tapi tujuannya hanya minuman kaleng yg ada dipinggir kantin


Dia segera berlari ke Vending Machine yg ada di pinggiran


Dia langsung memasukkan uang yg dibutuhkan dan menekan kombinasi angka untuk membeli sekaleng minuman


"Abby? Kukira kau bawa bekal sendiri?"


Tanya Marcus dari belakangnya yg baru mengambil makanannya berupa roti


"Oh, Ketua!"


Abby terkejut sedikit


"Ini? Ini sebenarnya untuk Souji-san"


Jawab Abby sambil menunjukkan sekaleng susu coklat


Marcus mulai curiga


"Souji? Untuk apa dia menyuruhmu?"


Tanyanya dengan curiga


"Bukan dia yg menyuruhku, tapi aku yg mau disuruh"


Jawab Abby


"Ada yg tidak beres. Ayo kita kembali ke kelas"


Mereka pun kembali ke kelas


Disisi lain, Zane tertidur pulas di mejanya


"Souji-san!"


Abby mengkagetkan Zane dengan menaruh minuman kaleng dengan kencang dimeja Zane


"WAAH- "


Zane terbangun dan mengelus dadanya sendiri karena kaget


"Astaga..."


"Hehe. Mangap!"


Abby memasang wajah tak bersalah


Zane mengambil minuman kaleng itu dan membukanya


Dia tersadar ada Marcus juga


"Oh, Marcus. Mari minum"


Tawar Zane


Dia hendak minum, tapi Marcus memegang tangan Zane, menghentikan Zane untuk meminum


"Jelaskan apa yg kau maksud dengan ini, bre?"


Tanya Marcus dengan wajah serius


Zane malah bertanya balik:


"Apa yg harus dijelaskan?"


Marcus menggelengkan kepalanya


Zane mengalihkan perhatiannya ke Abby


Abby juga geleng-geleng tidak paham


Zane menarik tangannya secara paksa karena marah


"Jangan kau berani menyentuhku!"


Zane mulai minum tapi tidak tenang


Marcus mengambil minuma Zane dan membuangnya keluar jendela


Marcus menarik kerah bajunya


"Kau jangan berani memperbudak murid-murid disini hanya karena kau adik dari Tuan Putri Vince, bre. Mengerti?!"


Marcus mengancam


Para murid mulai melihati mereka


Zane terdiam dengan kesal


Dia membenturkan kepalanya sendiri ke hidung Marcus


"Jangan berani mengancamku kalau KAU BUKAN BAGIAN KELUARGAKU!"


Bentak Zane


"Ketua!"


Abby membantu Marcus mengelap hidung Marcus yg berdarah dengan handuknya


"Aku tidak apa-apa"


Marcus berdiri


"Ohh! Jadi kau Ketua kelas disini?! MAAFKAN AKU KETUA! MAAFKAN AKU KARENA SUDAH LANCANG MEMBUAT HIDUNGMU YG SELEMBEK KOTORAN ITU BERDARAH!"


Kata Zane dengan sarkas dan amarah


"Jadi ini hasil 3 tahun kita berpisah, hah? Kau jadi orang yg brengsek begini"


Marcus menggelengkan kepalanya karena kecewa


"Dan beginu hasilmu sekolah di Razor? Jadi orang sok keren, sok hebat, sok pahlawan. Kau mau jadi Dan Vince kakakku? Bahkan di mimpimu saja kau tidak bisa, bre"


Balas Zane dengan senyuman meledek


Abby hendak melerai mereka dengan kalem:


"K-kalian berdua berhentilah betengkar! Tidak enak dilihat yg lain disini"


"Abby, kau duduk tenang dulu, ya? Aku disini mau mebantumu"


Tolak Marcus dengan halus


"Iya, Abby. Karena aku terhitung saudaramu, aku harus membuatmu menjauh dari orang asing ini"


Lanjut Zane dengan senyum meledek


"Kau masih mau lanjut, bre?"


Tantang Marcus yg sudah naik pitam


"Boleh!"


Zane menerima tantangannya


Suasana menjadi hening


Para murid dari kelas lain pun berhenti melewati kelas D hanya untuk melihat duo "sahabat" sedang bertengkar


Abby menghela nafas sambil memegang kepala


"Padahal aku yg mau"


Gumamnya


Marcus yg kurang paham bertanya:


"Apa? Jadi kau yg mau apa?"


Abby mulai menjelaskan:


"Jadi begini, Ketua, singkatnya aku ingin jadi pelayan Souji-san karena itu seharusnya kewajibanku"


Setelah dijelaskan, Marcus tidak "cengok" sendiri


Marcus malah melirik Zane dengan tatapan tajamnya


"Kenapa? Kau malu? Mau minta maaf?"


Zane menaruh kakinya di meja


"Cium kakiku untuk meminta maaf"


Dia tersenyum jahad


Marcus memukul hidung Zane sampai berdarah, bahkan membuatnya terjatuh


"SOUJI-SAN!"


Abby yg panik langsung membantu Zane untuk menghapus darah di hidungnya


Zane menepuk pundak Abby


"Kau memang seperti Onee-chan"


Dia tersenyum


Abby tersipu malu


"Hah? Apa maksudnya?"


Tanyanya dengan wajah memerah sedikit


Zane tertawa kecil


Zane berdiri


"Hanya saja kalian sama baiknya terhadap sesama"


Zane mulai sedikit berolahraga


Marcus menjewer telinga Zane


"Adududuh! Apa-apaan nih, bre?!"


Tanya Zane yg kesakitan


"Ikut aku! Kau juga, Abby"


Marcus menyeret Zane keluar kelas


"Tututututunggu dulu bre! Kita mau kemana?!"


Tanya Zane yg juga bingung sembari kesakitan


Dengan serius dan tidak ada sedikit pun maksud bercanda, Marcus menjawab:


"Disini ada arena bertarung yg bisa dipakai kapan saja dengan alasan latihan atau sekedar pertadingan persahabatan. Karena kita sahabat, kita bisa pakai alasan itu untuk bertarung sampai mati"


"Tunggu Ketua! Kita tidak perlu melakukan ini!"


Abby masih bersikeras melerai mereka


"Kita PERLU melakukan ini!"


Marcus menolak untuk diam


Mereka akhirnya masuk, karena arena pertandingan bisa dipakai kapanpun


Marcus melempar Zane jauh-jatuh


Ya... Tidak jauh-jauh juga sih, yg penting jauh


"Berdiri! Berubahlah!"


Perintah Marcus


Zane berdiri sambil kesal sendiri


"Tidak perlu menyuruhku juga aku bakalan berdiri untuk menyayatmu hidup-hidup"


Gumamnya


Dia mulai mengeluarkan Hero Device dan Key Device


Dia memasukkan Key Device ke dalam Hero Device


[Ready!]


"Seni bela diri luar angkasa, teknik pertarungan yang diwarisi!"


Serunya


Dia memasang Hero Device ke sekitar perutnya


[Transformation!]


Zane berubah menjadi Sentinel


Desain zirah baja futuristiknya terkesan abad pertengahan, lengkap dengan jaket jubah sepanjang betis yg menyelimuti zirah berwarna biru


Helm kepalanya berbentuk seperti penyihir dan naga, dengan bagian topeng seperti lampu led mobil


Keseluruhan, armor Sentinel Zane terkesan norak


Marcus mengeluarkan pistol yg cukup besar


"Abby, lebih baik kau menonton di atas!"


Perintah si Marcus ke Abby di belakangnya


Mau tidak mau, Abby harus menurutinya, karena mereka tidak bisa dipisahkan


"Hei! Apa-apaan itu!? Pistol?! Yg benar saja?! Kenapa Hero Device-mu berupa pistol?!"


Tanya Zane yg tidak terima


Marcus mulai menjelaskan tanpa ada maksud sombong sedikitpun:


"Ini, bre, bukan Hero Device. Ini adalah Phantom Device, 1 dari 6 Device spesial yg berupa pistol. Device ini hanya punya Skill tetap tapi kuat"


Makin iri dan tidak terima, Zane berkata:


"Bagaimana kau mendapatkannya, hah?! NGECIT!"


Marcus memasukkan Key Device ke slot yg ada disamping Phantom Device


[Ready!]


"Bre, aku hanya beruntung"


Marcus menembak cahaya berwarna biru keatas


[Transforming!]


Cahaya itu berubah menjadi zirah Sentinel milik Marcus


Zirah itu memasangkan diri mereka masing-masing dengan transisi ala ilusi optik, dimana para zirah terlihat banyak dan menembus tubuh Marcus


Secara keseluruhan, armor Marcus terlihat simpel dengan helmnya yg terlihat seperti barcode dan mata yg besar hitam seperti kumbang


Corak-corak berwarna hitam dan sedikit ungu gelap makin membuat desain armor Marcus keren


Mereka siap bertarung


Marcus mulai menodongkan senjatanya


"TUNGGU!"


Teriak Zane yg membuat Marcus menghentikan maksudnya untuk menembak


"Kenapa? Kau takut? Kau menyerah?"


Tanya Marcus


Zane menjawab dengan kesal:


"Bukan begitu, bujang! Bagaimana aku bertarung tanpa senjata sedangkan kau pakai?! Kan curang namanya"


Marcus menghela nafas


Dia mulai menjelaskan:


"Layar untuk tombol 'Build' dan tekan yg bertuliskan 'Weapon'. Kau pasti tau"


Zane sudah paham


Singkatnya, Zane berhasil menuju langkah terakhir


Uniknya, dia memilih dua senjata dalam satu kesempatan, dimana orang lain biasanya akan membuat dua kali untuk mendapatkan senjata lain seperti tameng atau pistol


[Please Insert The Key Device To Initiate Next Step!]


Zane kebingungan dan melihat kesamping, bawah, atas, kiri, kanan, depan, belakang, Hero Device


"Kartu mana yg harus kumasukkan?"


Tanya Zane ke Marcus


Marcus memegang kepalanya sendiri sambil menghela nafas


"Di Deck-mu, bodoh!"


Jawabnya


Zane mengambil kartu dari Hero Deck yg ada dipinggangnya


Dia memasukkan kartu kosong yg sudah diambil ke slot kedua Hero Device


Ya, Hero Device punya dua slot, tiga sebenarnya


Yg satu untuk berubah, yg satu untuk senjata, yg satu untuk kendaraan


Beberapa saat kemudian, sebuah portal ajaib muncul di depan Zane


Dia memasukkan tangannya dan keluar dengan sebuah pedang-pistol futuristik


"Pedang-pistol sesuatu yg baru, tapi aku tidak terkejut"


Komen Marcus yg biasa saja


Zane tersenyum menantang


"Showdown terakhir!"


Serunya dengan penuh semangat


Marcus mengeluarkan kartu skill


"Coba ini"


Dia memasukkan kartunya ke samping Phantom Device


[Skill: B.U.L.L.E.T]


Marcus menembak dari kejauhan


Peluru yg ia tembak, yg tadinya satu menjadi puluhan bahkan ratusan


"Oh, tidak-"


Zane mulai berlari untuk menghindar


Dia mengambil Skill Device secara acak dan menggeseknya ke Skill Vent


[Skill: Infinity Shield]


Zane melompat dan membuat perisai dari telapak tangan kanannya, guna menghindari hujan peluru


Setelah peluru berhenti, Zane berlari ke arah Marcus


Marcus menembaki Zane dari kejauhan


Zane dengan susah payah menangkis dengan pedangnya sambil berlari


Marcus memasukkan Skill Device lagi


[Skill: Eyeless]


Ketika Zane berhasil menebas Marcus, Marcus ternyata menghilang


"Apa?!"


Zane mulai plonga-plongo


"SOUJI-SAN AWAS!!!"


Abby teriak


[Skill: Cloneshooter]


Marcus muncul dalam jumlah lima tubuh


Dengan cepat, Zane menggesek kartu lagi


[Skill: Copy Copy Copy]


Zane juga membelah diri menjadi lima, meskipun yg lainnya hanyalah hologram


Para Marcus menembak Zane


Para Zane melompat tinggi dan mendarat dibelakang para Marcus


Mereka menebas Marcus hingga tersisa satu yg asli


Marcus tersungkur


Zane menunjuk Marcus dengan pedangnya


"Tangan kosong. Pria sejati"


Kata Zane sambil tersenyum dibalik topengnya


Marcus juga ikutan tersenyum meski tidak terlihat


Marcus menyimpan pistolnya ditempat yg tersedia di sabuk pinggang


Berbeda dengan sahabatnya, Zane membuang pedangnya


Mereka mulai kuda-kuda bertarung mereka


Marcus mengambil langkah besar dan meluncurkan tinjunya


Karena tujuan Marcus adalah kepala, Zane jadi mudah menebaknya


Zane pun menghindar ke kanan sedikit dan menyikut kepalanya


Belum selesai, Zane menendang paha Marcus dan membuatnya hilang keseimbangan


Marcus pun berlutut satu kaki


Zane melanjutkan serangannya dengan serangan membabat


Marcus punya banyak akal, jadi ketika babatan Zane hendak mengenai lehernya, Marcus berguling kebelakang


Setelah berdiri, Marcus dikejutkan dengan pukulan diwajah


Pada akhirnya, Marcus berhasil mengembalikan keadaan dengan menyelengkat Zane hingga terjatuh


Marcus hendak menginjak wajah Zane, sayangnya Zane juga menyelengkat Marcus hingga terjatuh


Zane menendang kepala Marcus walau masih dalam posisi tertidur


Marcus terhempas sedikit, lalu dia berdiri lagi


Zane juga ikutan berdiri


Mereka berlari kearah satu sama lain


Mereka saling meluncurkan pukulan


"Panggilan tugas untuk Marcus Takamiya. Dimohon untuk segera menuju lokasi"


Suara pengumuman entah darimana


Zane dan Marcus berubah menjadi normal


"Kurasa kita berhenti disini"


Kata Marcus


Zane membalas dengan senyum:


"Iya. Perlawanan yg bagus, bre!"


Mereka tos tangan lalu tos kaki


Marcus mulai pergi


Abby mulai mendekati Zane


Dia bertanya dengan khawatir:


"Souji-san, kau tidak apa-apa?!"


Dengan santainya, Zane mengacungkan jempol sambil menjawab:


"Fine"


Abby menghela nafas


"Astaga... Kalian membuatku cemas tau"


Entah karena suatu alasan, Zane tersenyun bangga


"Kau cemas karena aku dan Marcus adalah sesuatu yg berharga untukmu, bukan?"


Tanya Zane


Abby mulai memerah malu dan bingung mau menjawab


"Iy-iya... Itu... Bagaimana ya... Begitu lah"


Zane tertawa kecil


"Tak apa. Pada dasarnya ketika kita punya sesuatu yg berharga kita akan bersikeras melindunginya, iya?"


Abby menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa bingung


"Baiklah Abby, kau masih mau ikut denganku mampir ke tempat eskul atau mau ke kelas saja?"


Tawar Zane


Abby salam hormat dan menjawab:


"Tentu saja ikut Mr. Souji"


"Baiklah! Ayo!"


Mereka mulai berjalan menuju ke tempat yg Zane tuju


"Ngomong-ngomong Souji-san, eskulmu apa?"


Tanya Abby ditengah perjalanan


"Menari"


Jawab Zane tanpa malu


"Eh...? Bukannya itu sangat feminim?"


"Tidak peduli. Aku mau belajar berakdance"


Mereka akhirnya sampai di lapangan indoor


Mereka masuk, dan sekarang yg memakai lapangannya adalah murid eskul voli


Zane naik ke panggung eskul menari


"Yo Daiki, Daiko"


Sapa Zane sambil melambaikan tangannya


Daiki melipat tangannya


"Hmph. Kukira kau bakalan telat"


Balasnya


Daiko hanya melambaikan tanganya sedikit sambil teesenyum


Daiki dan Daiko menyadari Abby dibelakang Zane


"Abby? Apa yg kau lakukan disini?"


Tanya Daiki


Abby mengeluarkan buku catatan


"Untuk jaga-jaga kalau dia terikat skandal perselingkuh. Nanti kulaporkan ke istrinya, Matsunaga-san"


Jawab Abby dengan maksud bercanda


Daiki dan Daiko tertawa


"Abby, kenapa kau tidak ikut kami saja?"


Tawar Daiko


Dengan sungkan, Abby menolak:


"Maaf. Aku tidak boleh terlalu banyak berkeringat"


Zane bertanya:


"Memangnya kenapa?"


"Aduh... Bagaimana jawabnya, ya... Kalau singkatnya, jantungku lemah, tidak boleh terlalu kencang berdetak"


Jawab Abby


Zane mulai merasa kasian


"By the way. Daiki, kau bisa mengajariku breakdance dan freestyle?"


Tanya Zane


Daiki menjawab:


"Bisa saja kalau kau bisa memahami gerak dasar tari"


"Seperti apa?"


"Gerakan kaki, tempo injakan, momentum melompat, dan masih banyak lagi"


"Baiklah, ajari aku"


"Yg kau butuhkan pertama adalah ketenangan"


Mereka mulai latihan


Menit demi menit berlalu


Zane masih belum terlalu mahir dalam hal menari, tapi dia tidak menyerah


Zane terus bangkit meskipun dia terjatuh


Dan akhirnya, jam istirahat selesai, bel masuk berbunyi


Zane terengah-engah dan mengelap keringat di kepalanya


"Jangan memaksakan diri, Souji-san. Minum dulu"


Abby memberikan Zane sebotol air


Zane meminumnya


"Terima kasih"


Zane memberikan botol minumannya ke Abby lagi


"Kalau kau masih mau lanjut, kita lanjutkan sepulang sekolah saja"


Tawar Daiki


Zane berdiri tegak dan tersenyum lebar:


"Baiklah. Aku pergi dulu"


Daiki tersenyum dan menganggukan kepala


"Sampai bertemu besok, Souji-san, Abby"


Daiko melambaikan tangannya sambil tersenyum


Zane dan Abby pun keluar dari ruangan


Mereka berjalan menuju kelas mereka


Zane melihat Hibiki baru saja keluar dari perpustakaan


"Hibiki-chan!"


Sapa Zane dari kejauhan sambil melambaikan tangannya


Hibiki menengok ke arah Zane dan mulai salting sendiri


"S-S-Souji-san!?"


Zane dan Abby mendekatinya


Zane mulai bertanya:


"Hibiki-chan, jadi bagaimana perkembangannya?"


Hibiki dengan malu-malu menjawab:


"Mmm... Aku masih tidak berani mencari teman"


Abby yg menyadari keakrapan mereka berdua langsung tersenyum


"Ahh! Jadi Hibiki Itsuki dari kelas C itu selingkuhannya Souji-san, ya? Menarik-menarik"


Abby mengeluarkan buku catatan kecil


Zane langsung mengambilnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi


"A- Souji-san, ke-kembalikan! Aku hanya bercanda tadi"


Rengeknya sambil melompat-lompat karena dia pendek


Zane pun mengembalikan bukunya tanpa berkata apa-apa


"Memangnya kalian ada hubungan apa sih?!"


Tanya Abby yg kesal


Dengan malu-malu kucing tapi mesem-mesem, Hibiki menjawab:


"Itu... Sebenarnya Souji-san itu teman masa kecilku. Souji-san satu-satunya temanku sejak TK"


Abby semakin penasaran


"Ooh..."


Dia mengangguk-ngangguk


"Jadi ternyata Matsunaga-san yg simpenan"


Candanya


Zane mengangkat badan Abby dan melempar-lemparnya, saking kesalnya


Abby mulai berteriak ketakutan:


"SO-SO-SO-SO-SOUJI-SAN! A-A-A-A-AKU TAKUT KETINGGIAN! TURUNKAN AKU!!!"


Hibiki hanya tertawa bingung


Zane pun menurunkannya


Abby mulai terengah-engah sendiri


"A-aku sudah terlambat masuk kelas sepertinya. Aku permisi dulu"


Izin Hibiki dengan sopan tapi malu


"Monggo"


Terima Zane sambil menunjuk dengan jempol


Hibiki pun berjalan menjauh


"Hibiki-chan, kita nanti ketemuan di perpus sepulang sekolah!"


Teriak Zane dari kejauhan


Hibiki memutar balik arahnya hanya untuk sekedar menunduk hormat, lalu dia berjalan lagi


Zane dan Abby pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas


"Abby, kalau kau keberatan tidak usah ikut aku untuk bertemu Hibiki nanti"


Perintah Zane


Abby menggelengkan kepalanya


Abby tersenyum semangat dan menjawab:


"Tidak! Aku akan selalu ikut kemanapun kau pergi!"


Zane juga ikutan tersenyum


Sebelum mereka masuk, seseorang memanggil Zane:


"Souji!"


Zane menengok ke orang yg memanggilnya, dan dia adalah Jin


"Matsunaga-san loh, Souji-san"


Kata Abby


"Iya. Kau tunggu sini"


Zane mendekatinya


"Ada apa, Matsunaga?"


Tanyanya sembari berjalan mendekat


"Sepulang sekolah nanti temani aku belanja untuk makan malam nanti"


Perintahnya


Dengan wajah malas, Zane membalas:


"Eeh...? Kenapa aku harus? Kukira kita bisa makan-makanan dari kantin"


Jin mulai menatapnya dengan tatapan membunuh


Zane langsung ketakutan sampai hampir mengompol


"Apa tadi aku meminta? Aku memerintah, camkan itu!"


Kata Jin dengan aura intimidasi yg sangat kuat sampai membuat Zane yg keras kepala dibuat lemas


Jin langsung berjalan menuju kelasnya


Zane mulai berjalan mendekati Abby dengan wajah suram


"Kenapa Souji-san? Baru kawin minta cerai?"


Candanya


Dengan senyum dan ketawa takut, Zane menjawab:


"Yg benar baru kawin minta kuburan... Buatku... Hehe"


Zane masuk ke kelasnya


Abby menggelengkan kepalanya sambil tersenyum


Zane duduk di bangkunya, disampingnya sudah ada sahabatnya, Marcus


"Tadi kau ada panggilan patroli?"


Tanya Zane yg penasaran


Marcus garuk-garuk kepala


"Ya... Begitulah... Tapi hanya sebentar"


Jawabnya yg sedikit tidak nyaman dan malu, entah apa alasannya


Zane menerima pesan di HP-nya


Dia membuka HP-nya, dan ternyata pesan itu dari adiknya, Natsuki


"Za-Nii, sepulang sekolah nanti kita jalan-jalan yuk! Sudah lama kita tidak jalan-jalan"


Ya, begitulah isi pesan tersebut


Zane mulai memegangi kepalanya


"Natsuki cengeng sialan! Bisa-bisanya umur 14 masih kayak anak kelas 1 SD!"


Gumam Zane dengan gregetan


Marcus yg cemas karena Zane dari tadi menggerutu bertanya:


"Bre, kau tidak apa-apa?"


Zane tersenyum palsu dan menjawab:


"Ya... Begitulah... Mungkin?"


"Kalau ada masalah tidak usah sungkan minta bantuan, bre"


Marcus mengacungkan ibu jari


Zane mengangguk


Dengan penuh stress, Zane berpikir:


"Pertama Hibiki-chan, ya memang aku sendiri yg mau. Kedua Jin. Ketiga Natsuki! DAN KEEMPAT, AKU BELUM SEMPAT MENGUNJUNGI ESKUL MUSIK!"