
Sekolah dimulai pada pagi hari
Zane sudah siap, lengkap dengan seragamnya yg rapih
Setelah makan bersama Yoshi, Zane beranjak dari tempat duduknya
Dan sepertinya Jin sudah duluan berangkay ke kelasnya
"Yoshi, aku pergi dulu!"
Kata Zane dari depan pintu
"Iya! Selamat belajar keras, Papa!"
Yoshi melambaikan tangannya kejauhan
Zane tersenyum ketika melihat Yoshi
Dia memegang gagang pintu, tapi belum ia buka
Dia menarik nafas lalu membuangnya
"Inilah masa depan, inilah masa-masaku menuju kejayaan dimulai. Lihat saja Nii-san, akan kulampaui pencapaianmu!"
Zane tersenyum penuh semangat
Dia membuka pintunya dan sudah banyak murid berlalu-lalang menuju kelas mereka masing-masing
Zane menenteng tasnya dengan satu tangan dan ditaruh dibelakang punggungnya
Dia mulai berjalan sambil memegang kantong, layaknya tipikal karakter pemalas di anime
Dia terus berjalan dan berjalan menuju kelasnya, dimana itu di kelas 10-D
Akhirnya, dia sampai didepan pintu kelasnya
Dia mulai sedikit gugup
"Oi"
Jin memegang bahunya dari belakang
Zane memutar balik badannya tanpa terkejut sedikitpun
"Jin..."
Jin tersenyum dengan manisnya
Jin mulai bertanya dengan friendly:
"Kenapa? Deg-degan? Grogi?"
Zane memerah wajahnya karena malu
"Ehehehe. Hee..."
Dia garuk-garuk rambutnya
Jin mulai menyemangatinya:
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja kalau berjalan sesuai rencana"
"Tapi aku tidak punya rencana!"
Bantah Zane yg tidak terima
"Rencanamu adalah masuk kedalam dan jadilah diri sendiri sambil memperkenalkan diri, jangan terbawa suasana juga. Mengerti?"
Jin tersenyum semakin cantik
Bahkan Zane yg keras kepala pun dibuat luluh hatinya
Jin mulai merapikan dasi dan kerah baju Zane layaknya ibu sendiri
Zane dibuat tersipu malu karena terlalu dekat
Dia berusaha untuk membuang muka, tapi tidak bisa
"Wangi!"
Pikirnya
Jin mulai merapikan rambut milik Zane, dan tidak sengaja memegang kepala Zane yg masih diperban
Zane merintih kesakitan:
"Aw, aw!"
Jin sedikit panik:
"Ma-maaf!"
"Tidak apa-apa"
Jin menyadari kalau rambut Zane gondrong
"Nanti kucukur rambutmu, kubuat rapih"
Kata Jin
"Kau mau aku mati? Kepalaku ditiup angin saja sudah nyeri"
Tolak Zane
"Kalau begitu, sesudah sembuh saja"
Balas Jin dengan santainya
Jin selesai merapikan Zane
Setelah puas, dia menganggukkan kepalanya
"Baiklah, aku pergi dulu"
Jin melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh
Zane memegang dadanya yg dibuat semakin berdebar oleh senyuman manis Jin
Setidaknya itu sudah membuat Zane termotivasi
"Baiklah anak baru, silahkan masuk!"
Suara pak guru dari dalam kelas
"Showdown terakhir!"
Zane langsung berjalan masuk karena pintu otomatis futuristik
Zane menulis namanya dipapan tulis
Dia memutar balik badannya
Dia membungkuk hormat dan mengangkat kepalanya lagi
Zane memperkenalkan dirinya:
"Namaku Zane Souji, kalian bisa memanggilku Souji, Zane, atau apalah terserah aku punya banyak panggilan"
Murid yg duduk paling belakang mengangkat tangannya dan berkata:
"Bagaimana kalau Kutung Kasarung Pake Sarung Ketiban Karung?"
Seluruh murid kelas tertawa
Zane pun ikut tertawa
"Ada apa dengan kepalamu yg diperban? Jangan-jangan beneran ketiban karung"
Lanjut yg meledek tadi
Zane menjawab sambil tertawa sarkas:
"Hahaha! Tidak. Ini karena habis berantem sama penghuni ketua eskul musik, Viola"
Seisi kelas langsung terdiam takut
"Nanti kalian kubantai satu-satu nunggu giliran, ya?"
Kata Zane yg membuat seisi kelas langsung sunyi lagi
Salah seorang murid perempuan berdiri sambil mengangkat tangannya
"Sensei, saya mau tanya soal Souji-san"
Izin si murid itu
Pak guru memperbolehkan:
"Silahkan Abby, tanyakan"
Murid yg bernama Abby itu mulai bertanya:
"Ano, apa Souji-san punya hubungan dekat dengan Katsumi Souji dan Natsuki Souji?"
"Itu lagi pertanyaannya!"
Zane senyum murung
"Iya, mereka adik dan kakakku yg populer"
Jawab Zane dengan nada malas
Kini giliran Zane yg bertanya:
"Dan kalau boleh tau siapa yg bertanya?"
Sambil tersenyum penuh keramahan, Abby menjawab:
"Abigail McTavish Vince, biasa dipanggil Abby. Senang bertemu denganmu"
Zane sedikit terkejut
Karena rasa penasaran, dia bertanya:
"Jadi kau punya hubungan apa dengan Tuan Putri Vivian Stephanie Vince?"
"Dia sepupuku"
"Kalau begitu dia kakak iparku"
Seisi kelas langsung heboh
"Tenanglah murid-murid"
Pinta pak guru dengan sabar
"Bukankah itu membuat kita sebagai saudara ipar?"
Tanya Abby lagi
"Oh, tentu"
Jawab Zane singkat
Abby yg merasa senang langsung duduk dengan aura berbunga-bunga
"Baiklah, tidak ada yg bertanya lagi?"
Kata pak guru
Salah seorang murid laki-laki mengangkat tangannya
"Silahkan Shun!"
Murid itu bertanya:
"Apa berarti kau adik dari si legenda Dan Vince?"
Zane agak kesulitan menjawabnya karena dia sendiri tak tau apa-apa soal kakak kandungnya
Dia menjawab apa adanya:
"Soal aku adik Dan Vince, iya. Tapi soal apa dia legenda seperti yg kau sebutkan, aku tidak terlalu tau. Ketika aku sudah mengerti segala hal, Dan Vince sudah dikabarkan mati, untungnya dia sempat menikah. Kakak iparku, Tuan Putri Vince, sering menceritakan segalanya sewaktu aku kecil sampai sekarang ini. Dia sendiri bilang kalau kakakku, Dan Vince, tidak mau disebut pahlawan, ataupun legenda, ataupun penyelamat. Kesimpulannya: tidak salah kau menganggapnya pahlawan, atau legenda, dan sebagainya, tapi yg pasti dia sendiri tidak mau disebut demikian karena dia sendiri mengaku bukan pahlawan"
Murid-murid terdiam terpaku akan cerita yg diceritakan Zane
"Ya, mungkin itu membuatku menjadi Zane Souji Vince secara tidak langsung, iya?"
Kata Zane dengan maksud bercanda
"Baiklah, Souji-kun, silahkan duduk ditempat yg kosong disamping Marcus"
Zane mengangguk dan mulai berjalan menuju tempat duduk kosong disamping murid yg meledek Zane tadi
Murid itu menatapi Zane dengan tatapan tajam setajam siletnya, layaknya punya dendam terpendam
Zane pun duduk dan menaruh peralatan sekolah di atas meja
Zane lalu menyender di bangkunya dan melirik murid yg bernama Marcus
"Lama tak berjumpa, Marcus Takamiya teman lamaku"
Sapa Zane yg sepertinya sudah kenal
Marcus membalas:
"Iya, sudah lama kita tak jumpa semenjak SD, Zane Souji"
Zane tersenyum
"Heh. Sepertinya ini yg disebut reunian, bukan?"
"Kau sangat benar"
Marcus juga ikut tersenyum
"Ngomong-ngomong, kenapa kepalamu diperban? Takut otakmu copot lagi?"
Ledek Marcus
Zane menjawab dengan sarkas:
"Biasalah, habis cosplay jadi Ki Joko Tolol"
Mereka berdua terdiam sesaat
"Padahal sudah kujelaskan kenapa kepalaku diperban. Detil banget sih!"
Pikir Zane dengan kesal
Selang beberapa menit, mereka tertawa kecil agar tidak terdengar guru
Jam demi jam berlalu, bel istirahat pun berbunyi
Pak guru keluar dari kelas dan beberapa murid juga ikutan keluar untuk membeli makan di kantin, atau sekedar mengobrol dengan teman dari kelas lain
Marcus berdiri
"Yo Zane, mau ke kantin?"
Tanyanya dengan bersahabat
Dengan sopan, Zane menolaknya:
"Tidak, tidak. Nanti saja kususul"
"Baiklah. Aku pergi dulu"
Marcus keluar dari kelas, menuju ke kantin
Dari depan kelas, Abigail atau Abby mulai mendekati Zane
Zane tidak terlalu tau karena dia hendak tidur
"P-permisi... Souji-san"
Sapanya dengan gugup
Zane mengangkat kepalanya
"Ooh, Captain McTavish!"
Jawabnya dengan ceplas-ceplos
Abby terkejut karena nama yg disebut tidak merujuk ke namanya sendiri
Lantas dia bertanya:
"Eh? Captain McTavish siapa?"
"E-eh, b-bukan!"
Zane mulai gugup sendiri
Lalu dia menjawab dengan sedikit malu:
"Sebenarnya... Captain MacTavish itu nama karakter gim"
Abby malah terkagum sendiri
"Wah! Kebetulan nama ayahku ada Tavish-nya"
"Memangnya kata tambahan 'Mc' atau 'Mac' buat apa sih?"
Tanya Zane
Abby mulai menjelaskan:
"Itu nama umum negara Skotlandia. Mac untuk laki-laki yg artinya 'putra dari'. Mc untuk anak perempuan yg artinya sama atau 'putri dari'. Nama ayahku Tavish Sophian Vince, dan munculah aku Abigail McTavish Vince"
"Ooh, jadi kau dari Skotlandia"
"Sebenarnya semua Vince dari Inggris, hanya saja ayahku pindah ke Skotlandia, dan aku lahir disana"
"Ya ampun. Pohon keluarga Vince memang membingungkan ya?"
Mereka berdua tertawa sampai puas
"Jadi... Abigail... Apa yg bisa kubantu?"
Tanya Zane
Dengan ramah, Abby sedikit membantah:
"Tolonglah, panggil saja Abby. Kita semua teman disini, jangan terlalu formal"
"Sí!"
Zane mengacungkan jempol
Abby mulai mengatakan yg ingin dia katakan tadi, hanya saja dia malu
"Jadi begini... Souji-san... Bolehkah aku jadi..."
Belum selesai bicara, Zane mulai berpikir yg tidak-tidak
Matanya melebar karena shock
"Jangan-jangan dia... INGIN MENEMBAKKU?! Tentunya akan kuterima baik-baik"
Pikirnya yg berekspetasi tinggi
"Pelayanmu..."
Lanjut Abby
"Eh...?"
Zane terdiam sesaat
Tidak sesaat tapi sampai beberapa menit
"Jadi begini... Karena sebenarnya keturunan Vince di keluargaku itu adalah Vince tingkat bawah, sedangkan Vivian tingkat atas dimana mereka adalah bangsawa yg terpilih, jadi yg rendah harus menjadi pelayan yg atas"
Jelas Abby
Mendengar ini, Zane mulai menanggapinya serius
Wajahnya menjadi gelap
"Lanjutkan!"
Perintahnya dengan suara serius nan berat
"Waktu itu ayahku, ibuku, dan aku ditunjuk menjadi pelayan orang tua Vivian bahkan Vivian juga, tapi mereka menolak karena semua manusia derajatnya sama. Sebenarnya... Aku masih ingin jadi pelayan Vivian karena itu kemauanku, tapi dia menolaknya..."
Abby mulai menunduk sedih
"Ma-maka dari itu biarkan aku jadi pelayanmu saja! Aku mohon!"
Pintanya
Zane menghela nafas
Zane bertanya:
"Abby, sebenarnya siapa yg menyuruh keluargamu menjadi pelayan keluarga Onee-chan?"
Abby langsung menjawab:
"Kakekku..."
Zane mulai berpikit keras, karena keluarga Vince cukup rumit
"Kalau dia kakekmu, berarti dia ayah dari ayahmu dan juga ayah dari ayahnya Onee-chan... Hmm..."
Abby memohon:
"Jadi tolong Souji-san, biarkan aku jadi pelayanmu!"
Zane mulai berpikir lagi
"Hmm... Sebenarnya aku bakalan sepemikiran dengan Onee-chan, karena dia bukan hanya kuanggap kakak asliku tapi juga sudah seperti ibuku..."
Wajah kekecewaan mulai terlihat di wajah Abby
"Tapi dia juga pernah bilang kalau membahagiakan orang lain akan membuat dirimu lebih bahagia lagi"
Lanjut Zane
Abby mulai tersenyum
Dia memegang tangannya Zane dan bersalaman sekencang-kencangnya
"Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih, Souji-san!"
Zane tersenyum
"Onee-chan benar, membahagiakan orang lain akan membuat diriku lebih bahagia lagi"
Pikirnya
Abby mulai hormat ala tentara
"Tugas pertamaku apa, pak?"
Tanyanya
"Bagaimana kalau... Belikan aku minuman kaleng"
Zane memberikan uangnya
Abby menerimanya
"Sir, yes sir!"
Dia berlari sekencang-kencangnya
Kita akan masih dalam sisi Abby, dimana dia sudah sampai di kantin dengan cepat
Disana sudah ramai, tapi tujuannya hanya minuman kaleng yg ada dipinggir kantin
Dia segera berlari ke Vending Machine yg ada di pinggiran
Dia langsung memasukkan uang yg dibutuhkan dan menekan kombinasi angka untuk membeli sekaleng minuman
"Abby? Kukira kau bawa bekal sendiri?"
Tanya Marcus dari belakangnya yg baru mengambil makanannya berupa roti
"Oh, Ketua!"
Abby terkejut sedikit
"Ini? Ini sebenarnya untuk Souji-san"
Jawab Abby sambil menunjukkan sekaleng susu coklat
Marcus mulai curiga
"Souji? Untuk apa dia menyuruhmu?"
Tanyanya dengan curiga
"Bukan dia yg menyuruhku, tapi aku yg mau disuruh"
Jawab Abby
"Ada yg tidak beres. Ayo kita kembali ke kelas"
Mereka pun kembali ke kelas
Disisi lain, Zane tertidur pulas di mejanya
"Souji-san!"
Abby mengkagetkan Zane dengan menaruh minuman kaleng dengan kencang dimeja Zane
"WAAH- "
Zane terbangun dan mengelus dadanya sendiri karena kaget
"Astaga..."
"Hehe. Mangap!"
Abby memasang wajah tak bersalah
Zane mengambil minuman kaleng itu dan membukanya
Dia tersadar ada Marcus juga
"Oh, Marcus. Mari minum"
Tawar Zane
Dia hendak minum, tapi Marcus memegang tangan Zane, menghentikan Zane untuk meminum
"Jelaskan apa yg kau maksud dengan ini, bre?"
Tanya Marcus dengan wajah serius
Zane malah bertanya balik:
"Apa yg harus dijelaskan?"
Marcus menggelengkan kepalanya
Zane mengalihkan perhatiannya ke Abby
Abby juga geleng-geleng tidak paham
Zane menarik tangannya secara paksa karena marah
"Jangan kau berani menyentuhku!"
Zane mulai minum tapi tidak tenang
Marcus mengambil minuma Zane dan membuangnya keluar jendela
Marcus menarik kerah bajunya
"Kau jangan berani memperbudak murid-murid disini hanya karena kau adik dari Tuan Putri Vince, bre. Mengerti?!"
Marcus mengancam
Para murid mulai melihati mereka
Zane terdiam dengan kesal
Dia membenturkan kepalanya sendiri ke hidung Marcus
"Jangan berani mengancamku kalau KAU BUKAN BAGIAN KELUARGAKU!"
Bentak Zane
"Ketua!"
Abby membantu Marcus mengelap hidung Marcus yg berdarah dengan handuknya
"Aku tidak apa-apa"
Marcus berdiri
"Ohh! Jadi kau Ketua kelas disini?! MAAFKAN AKU KETUA! MAAFKAN AKU KARENA SUDAH LANCANG MEMBUAT HIDUNGMU YG SELEMBEK KOTORAN ITU BERDARAH!"
Kata Zane dengan sarkas dan amarah
"Jadi ini hasil 3 tahun kita berpisah, hah? Kau jadi orang yg brengsek begini"
Marcus menggelengkan kepalanya karena kecewa
"Dan beginu hasilmu sekolah di Razor? Jadi orang sok keren, sok hebat, sok pahlawan. Kau mau jadi Dan Vince kakakku? Bahkan di mimpimu saja kau tidak bisa, bre"
Balas Zane dengan senyuman meledek
Abby hendak melerai mereka dengan kalem:
"K-kalian berdua berhentilah betengkar! Tidak enak dilihat yg lain disini"
"Abby, kau duduk tenang dulu, ya? Aku disini mau mebantumu"
Tolak Marcus dengan halus
"Iya, Abby. Karena aku terhitung saudaramu, aku harus membuatmu menjauh dari orang asing ini"
Lanjut Zane dengan senyum meledek
"Kau masih mau lanjut, bre?"
Tantang Marcus yg sudah naik pitam
"Boleh!"
Zane menerima tantangannya
Suasana menjadi hening
Para murid dari kelas lain pun berhenti melewati kelas D hanya untuk melihat duo "sahabat" sedang bertengkar
Abby menghela nafas sambil memegang kepala
"Padahal aku yg mau"
Gumamnya
Marcus yg kurang paham bertanya:
"Apa? Jadi kau yg mau apa?"
Abby mulai menjelaskan:
"Jadi begini, Ketua, singkatnya aku ingin jadi pelayan Souji-san karena itu seharusnya kewajibanku"
Setelah dijelaskan, Marcus tidak "cengok" sendiri
Marcus malah melirik Zane dengan tatapan tajamnya
"Kenapa? Kau malu? Mau minta maaf?"
Zane menaruh kakinya di meja
"Cium kakiku untuk meminta maaf"
Dia tersenyum jahad
Marcus memukul hidung Zane sampai berdarah, bahkan membuatnya terjatuh
"SOUJI-SAN!"
Abby yg panik langsung membantu Zane untuk menghapus darah di hidungnya
Zane menepuk pundak Abby
"Kau memang seperti Onee-chan"
Dia tersenyum
Abby tersipu malu
"Hah? Apa maksudnya?"
Tanyanya dengan wajah memerah sedikit
Zane tertawa kecil
Zane berdiri
"Hanya saja kalian sama baiknya terhadap sesama"
Zane mulai sedikit berolahraga
Marcus menjewer telinga Zane
"Adududuh! Apa-apaan nih, bre?!"
Tanya Zane yg kesakitan
"Ikut aku! Kau juga, Abby"
Marcus menyeret Zane keluar kelas
"Tututututunggu dulu bre! Kita mau kemana?!"
Tanya Zane yg juga bingung sembari kesakitan
Dengan serius dan tidak ada sedikit pun maksud bercanda, Marcus menjawab:
"Disini ada arena bertarung yg bisa dipakai kapan saja dengan alasan latihan atau sekedar pertadingan persahabatan. Karena kita sahabat, kita bisa pakai alasan itu untuk bertarung sampai mati"
"Tunggu Ketua! Kita tidak perlu melakukan ini!"
Abby masih bersikeras melerai mereka
"Kita PERLU melakukan ini!"
Marcus menolak untuk diam
Mereka akhirnya masuk, karena arena pertandingan bisa dipakai kapanpun
Marcus melempar Zane jauh-jatuh
Ya... Tidak jauh-jauh juga sih, yg penting jauh
"Berdiri! Berubahlah!"
Perintah Marcus
Zane berdiri sambil kesal sendiri
"Tidak perlu menyuruhku juga aku bakalan berdiri untuk menyayatmu hidup-hidup"
Gumamnya
Dia mulai mengeluarkan Hero Device dan Key Device
Dia memasukkan Key Device ke dalam Hero Device
[Ready!]
"Seni bela diri luar angkasa, teknik pertarungan yang diwarisi!"
Serunya
Dia memasang Hero Device ke sekitar perutnya
[Transformation!]
Zane berubah menjadi Sentinel
Desain zirah baja futuristiknya terkesan abad pertengahan, lengkap dengan jaket jubah sepanjang betis yg menyelimuti zirah berwarna biru
Helm kepalanya berbentuk seperti penyihir dan naga, dengan bagian topeng seperti lampu led mobil
Keseluruhan, armor Sentinel Zane terkesan norak
Marcus mengeluarkan pistol yg cukup besar
"Abby, lebih baik kau menonton di atas!"
Perintah si Marcus ke Abby di belakangnya
Mau tidak mau, Abby harus menurutinya, karena mereka tidak bisa dipisahkan
"Hei! Apa-apaan itu!? Pistol?! Yg benar saja?! Kenapa Hero Device-mu berupa pistol?!"
Tanya Zane yg tidak terima
Marcus mulai menjelaskan tanpa ada maksud sombong sedikitpun:
"Ini, bre, bukan Hero Device. Ini adalah Phantom Device, 1 dari 6 Device spesial yg berupa pistol. Device ini hanya punya Skill tetap tapi kuat"
Makin iri dan tidak terima, Zane berkata:
"Bagaimana kau mendapatkannya, hah?! NGECIT!"
Marcus memasukkan Key Device ke slot yg ada disamping Phantom Device
[Ready!]
"Bre, aku hanya beruntung"
Marcus menembak cahaya berwarna biru keatas
[Transforming!]
Cahaya itu berubah menjadi zirah Sentinel milik Marcus
Zirah itu memasangkan diri mereka masing-masing dengan transisi ala ilusi optik, dimana para zirah terlihat banyak dan menembus tubuh Marcus
Secara keseluruhan, armor Marcus terlihat simpel dengan helmnya yg terlihat seperti barcode dan mata yg besar hitam seperti kumbang
Corak-corak berwarna hitam dan sedikit ungu gelap makin membuat desain armor Marcus keren
Mereka siap bertarung
Marcus mulai menodongkan senjatanya
"TUNGGU!"
Teriak Zane yg membuat Marcus menghentikan maksudnya untuk menembak
"Kenapa? Kau takut? Kau menyerah?"
Tanya Marcus
Zane menjawab dengan kesal:
"Bukan begitu, bujang! Bagaimana aku bertarung tanpa senjata sedangkan kau pakai?! Kan curang namanya"
Marcus menghela nafas
Dia mulai menjelaskan:
"Layar untuk tombol 'Build' dan tekan yg bertuliskan 'Weapon'. Kau pasti tau"
Zane sudah paham
Singkatnya, Zane berhasil menuju langkah terakhir
Uniknya, dia memilih dua senjata dalam satu kesempatan, dimana orang lain biasanya akan membuat dua kali untuk mendapatkan senjata lain seperti tameng atau pistol
[Please Insert The Key Device To Initiate Next Step!]
Zane kebingungan dan melihat kesamping, bawah, atas, kiri, kanan, depan, belakang, Hero Device
"Kartu mana yg harus kumasukkan?"
Tanya Zane ke Marcus
Marcus memegang kepalanya sendiri sambil menghela nafas
"Di Deck-mu, bodoh!"
Jawabnya
Zane mengambil kartu dari Hero Deck yg ada dipinggangnya
Dia memasukkan kartu kosong yg sudah diambil ke slot kedua Hero Device
Ya, Hero Device punya dua slot, tiga sebenarnya
Yg satu untuk berubah, yg satu untuk senjata, yg satu untuk kendaraan
Beberapa saat kemudian, sebuah portal ajaib muncul di depan Zane
Dia memasukkan tangannya dan keluar dengan sebuah pedang-pistol futuristik
"Pedang-pistol sesuatu yg baru, tapi aku tidak terkejut"
Komen Marcus yg biasa saja
Zane tersenyum menantang
"Showdown terakhir!"
Serunya dengan penuh semangat
Marcus mengeluarkan kartu skill
"Coba ini"
Dia memasukkan kartunya ke samping Phantom Device
[Skill: B.U.L.L.E.T]
Marcus menembak dari kejauhan
Peluru yg ia tembak, yg tadinya satu menjadi puluhan bahkan ratusan
"Oh, tidak-"
Zane mulai berlari untuk menghindar
Dia mengambil Skill Device secara acak dan menggeseknya ke Skill Vent
[Skill: Infinity Shield]
Zane melompat dan membuat perisai dari telapak tangan kanannya, guna menghindari hujan peluru
Setelah peluru berhenti, Zane berlari ke arah Marcus
Marcus menembaki Zane dari kejauhan
Zane dengan susah payah menangkis dengan pedangnya sambil berlari
Marcus memasukkan Skill Device lagi
[Skill: Eyeless]
Ketika Zane berhasil menebas Marcus, Marcus ternyata menghilang
"Apa?!"
Zane mulai plonga-plongo
"SOUJI-SAN AWAS!!!"
Abby teriak
[Skill: Cloneshooter]
Marcus muncul dalam jumlah lima tubuh
Dengan cepat, Zane menggesek kartu lagi
[Skill: Copy Copy Copy]
Zane juga membelah diri menjadi lima, meskipun yg lainnya hanyalah hologram
Para Marcus menembak Zane
Para Zane melompat tinggi dan mendarat dibelakang para Marcus
Mereka menebas Marcus hingga tersisa satu yg asli
Marcus tersungkur
Zane menunjuk Marcus dengan pedangnya
"Tangan kosong. Pria sejati"
Kata Zane sambil tersenyum dibalik topengnya
Marcus juga ikutan tersenyum meski tidak terlihat
Marcus menyimpan pistolnya ditempat yg tersedia di sabuk pinggang
Berbeda dengan sahabatnya, Zane membuang pedangnya
Mereka mulai kuda-kuda bertarung mereka
Marcus mengambil langkah besar dan meluncurkan tinjunya
Karena tujuan Marcus adalah kepala, Zane jadi mudah menebaknya
Zane pun menghindar ke kanan sedikit dan menyikut kepalanya
Belum selesai, Zane menendang paha Marcus dan membuatnya hilang keseimbangan
Marcus pun berlutut satu kaki
Zane melanjutkan serangannya dengan serangan membabat
Marcus punya banyak akal, jadi ketika babatan Zane hendak mengenai lehernya, Marcus berguling kebelakang
Setelah berdiri, Marcus dikejutkan dengan pukulan diwajah
Pada akhirnya, Marcus berhasil mengembalikan keadaan dengan menyelengkat Zane hingga terjatuh
Marcus hendak menginjak wajah Zane, sayangnya Zane juga menyelengkat Marcus hingga terjatuh
Zane menendang kepala Marcus walau masih dalam posisi tertidur
Marcus terhempas sedikit, lalu dia berdiri lagi
Zane juga ikutan berdiri
Mereka berlari kearah satu sama lain
Mereka saling meluncurkan pukulan
"Panggilan tugas untuk Marcus Takamiya. Dimohon untuk segera menuju lokasi"
Suara pengumuman entah darimana
Zane dan Marcus berubah menjadi normal
"Kurasa kita berhenti disini"
Kata Marcus
Zane membalas dengan senyum:
"Iya. Perlawanan yg bagus, bre!"
Mereka tos tangan lalu tos kaki
Marcus mulai pergi
Abby mulai mendekati Zane
Dia bertanya dengan khawatir:
"Souji-san, kau tidak apa-apa?!"
Dengan santainya, Zane mengacungkan jempol sambil menjawab:
"Fine"
Abby menghela nafas
"Astaga... Kalian membuatku cemas tau"
Entah karena suatu alasan, Zane tersenyun bangga
"Kau cemas karena aku dan Marcus adalah sesuatu yg berharga untukmu, bukan?"
Tanya Zane
Abby mulai memerah malu dan bingung mau menjawab
"Iy-iya... Itu... Bagaimana ya... Begitu lah"
Zane tertawa kecil
"Tak apa. Pada dasarnya ketika kita punya sesuatu yg berharga kita akan bersikeras melindunginya, iya?"
Abby menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa bingung
"Baiklah Abby, kau masih mau ikut denganku mampir ke tempat eskul atau mau ke kelas saja?"
Tawar Zane
Abby salam hormat dan menjawab:
"Tentu saja ikut Mr. Souji"
"Baiklah! Ayo!"
Mereka mulai berjalan menuju ke tempat yg Zane tuju
"Ngomong-ngomong Souji-san, eskulmu apa?"
Tanya Abby ditengah perjalanan
"Menari"
Jawab Zane tanpa malu
"Eh...? Bukannya itu sangat feminim?"
"Tidak peduli. Aku mau belajar berakdance"
Mereka akhirnya sampai di lapangan indoor
Mereka masuk, dan sekarang yg memakai lapangannya adalah murid eskul voli
Zane naik ke panggung eskul menari
"Yo Daiki, Daiko"
Sapa Zane sambil melambaikan tangannya
Daiki melipat tangannya
"Hmph. Kukira kau bakalan telat"
Balasnya
Daiko hanya melambaikan tanganya sedikit sambil teesenyum
Daiki dan Daiko menyadari Abby dibelakang Zane
"Abby? Apa yg kau lakukan disini?"
Tanya Daiki
Abby mengeluarkan buku catatan
"Untuk jaga-jaga kalau dia terikat skandal perselingkuh. Nanti kulaporkan ke istrinya, Matsunaga-san"
Jawab Abby dengan maksud bercanda
Daiki dan Daiko tertawa
"Abby, kenapa kau tidak ikut kami saja?"
Tawar Daiko
Dengan sungkan, Abby menolak:
"Maaf. Aku tidak boleh terlalu banyak berkeringat"
Zane bertanya:
"Memangnya kenapa?"
"Aduh... Bagaimana jawabnya, ya... Kalau singkatnya, jantungku lemah, tidak boleh terlalu kencang berdetak"
Jawab Abby
Zane mulai merasa kasian
"By the way. Daiki, kau bisa mengajariku breakdance dan freestyle?"
Tanya Zane
Daiki menjawab:
"Bisa saja kalau kau bisa memahami gerak dasar tari"
"Seperti apa?"
"Gerakan kaki, tempo injakan, momentum melompat, dan masih banyak lagi"
"Baiklah, ajari aku"
"Yg kau butuhkan pertama adalah ketenangan"
Mereka mulai latihan
Menit demi menit berlalu
Zane masih belum terlalu mahir dalam hal menari, tapi dia tidak menyerah
Zane terus bangkit meskipun dia terjatuh
Dan akhirnya, jam istirahat selesai, bel masuk berbunyi
Zane terengah-engah dan mengelap keringat di kepalanya
"Jangan memaksakan diri, Souji-san. Minum dulu"
Abby memberikan Zane sebotol air
Zane meminumnya
"Terima kasih"
Zane memberikan botol minumannya ke Abby lagi
"Kalau kau masih mau lanjut, kita lanjutkan sepulang sekolah saja"
Tawar Daiki
Zane berdiri tegak dan tersenyum lebar:
"Baiklah. Aku pergi dulu"
Daiki tersenyum dan menganggukan kepala
"Sampai bertemu besok, Souji-san, Abby"
Daiko melambaikan tangannya sambil tersenyum
Zane dan Abby pun keluar dari ruangan
Mereka berjalan menuju kelas mereka
Zane melihat Hibiki baru saja keluar dari perpustakaan
"Hibiki-chan!"
Sapa Zane dari kejauhan sambil melambaikan tangannya
Hibiki menengok ke arah Zane dan mulai salting sendiri
"S-S-Souji-san!?"
Zane dan Abby mendekatinya
Zane mulai bertanya:
"Hibiki-chan, jadi bagaimana perkembangannya?"
Hibiki dengan malu-malu menjawab:
"Mmm... Aku masih tidak berani mencari teman"
Abby yg menyadari keakrapan mereka berdua langsung tersenyum
"Ahh! Jadi Hibiki Itsuki dari kelas C itu selingkuhannya Souji-san, ya? Menarik-menarik"
Abby mengeluarkan buku catatan kecil
Zane langsung mengambilnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi
"A- Souji-san, ke-kembalikan! Aku hanya bercanda tadi"
Rengeknya sambil melompat-lompat karena dia pendek
Zane pun mengembalikan bukunya tanpa berkata apa-apa
"Memangnya kalian ada hubungan apa sih?!"
Tanya Abby yg kesal
Dengan malu-malu kucing tapi mesem-mesem, Hibiki menjawab:
"Itu... Sebenarnya Souji-san itu teman masa kecilku. Souji-san satu-satunya temanku sejak TK"
Abby semakin penasaran
"Ooh..."
Dia mengangguk-ngangguk
"Jadi ternyata Matsunaga-san yg simpenan"
Candanya
Zane mengangkat badan Abby dan melempar-lemparnya, saking kesalnya
Abby mulai berteriak ketakutan:
"SO-SO-SO-SO-SOUJI-SAN! A-A-A-A-AKU TAKUT KETINGGIAN! TURUNKAN AKU!!!"
Hibiki hanya tertawa bingung
Zane pun menurunkannya
Abby mulai terengah-engah sendiri
"A-aku sudah terlambat masuk kelas sepertinya. Aku permisi dulu"
Izin Hibiki dengan sopan tapi malu
"Monggo"
Terima Zane sambil menunjuk dengan jempol
Hibiki pun berjalan menjauh
"Hibiki-chan, kita nanti ketemuan di perpus sepulang sekolah!"
Teriak Zane dari kejauhan
Hibiki memutar balik arahnya hanya untuk sekedar menunduk hormat, lalu dia berjalan lagi
Zane dan Abby pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas
"Abby, kalau kau keberatan tidak usah ikut aku untuk bertemu Hibiki nanti"
Perintah Zane
Abby menggelengkan kepalanya
Abby tersenyum semangat dan menjawab:
"Tidak! Aku akan selalu ikut kemanapun kau pergi!"
Zane juga ikutan tersenyum
Sebelum mereka masuk, seseorang memanggil Zane:
"Souji!"
Zane menengok ke orang yg memanggilnya, dan dia adalah Jin
"Matsunaga-san loh, Souji-san"
Kata Abby
"Iya. Kau tunggu sini"
Zane mendekatinya
"Ada apa, Matsunaga?"
Tanyanya sembari berjalan mendekat
"Sepulang sekolah nanti temani aku belanja untuk makan malam nanti"
Perintahnya
Dengan wajah malas, Zane membalas:
"Eeh...? Kenapa aku harus? Kukira kita bisa makan-makanan dari kantin"
Jin mulai menatapnya dengan tatapan membunuh
Zane langsung ketakutan sampai hampir mengompol
"Apa tadi aku meminta? Aku memerintah, camkan itu!"
Kata Jin dengan aura intimidasi yg sangat kuat sampai membuat Zane yg keras kepala dibuat lemas
Jin langsung berjalan menuju kelasnya
Zane mulai berjalan mendekati Abby dengan wajah suram
"Kenapa Souji-san? Baru kawin minta cerai?"
Candanya
Dengan senyum dan ketawa takut, Zane menjawab:
"Yg benar baru kawin minta kuburan... Buatku... Hehe"
Zane masuk ke kelasnya
Abby menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
Zane duduk di bangkunya, disampingnya sudah ada sahabatnya, Marcus
"Tadi kau ada panggilan patroli?"
Tanya Zane yg penasaran
Marcus garuk-garuk kepala
"Ya... Begitulah... Tapi hanya sebentar"
Jawabnya yg sedikit tidak nyaman dan malu, entah apa alasannya
Zane menerima pesan di HP-nya
Dia membuka HP-nya, dan ternyata pesan itu dari adiknya, Natsuki
"Za-Nii, sepulang sekolah nanti kita jalan-jalan yuk! Sudah lama kita tidak jalan-jalan"
Ya, begitulah isi pesan tersebut
Zane mulai memegangi kepalanya
"Natsuki cengeng sialan! Bisa-bisanya umur 14 masih kayak anak kelas 1 SD!"
Gumam Zane dengan gregetan
Marcus yg cemas karena Zane dari tadi menggerutu bertanya:
"Bre, kau tidak apa-apa?"
Zane tersenyum palsu dan menjawab:
"Ya... Begitulah... Mungkin?"
"Kalau ada masalah tidak usah sungkan minta bantuan, bre"
Marcus mengacungkan ibu jari
Zane mengangguk
Dengan penuh stress, Zane berpikir:
"Pertama Hibiki-chan, ya memang aku sendiri yg mau. Kedua Jin. Ketiga Natsuki! DAN KEEMPAT, AKU BELUM SEMPAT MENGUNJUNGI ESKUL MUSIK!"