
Seorang remaja berambut biru menuang air dari dalam botol ke atas batunisan sebuah makam
"Selamat ulang tahun, Nii-san. Kurasa Nee-chan sudah mengunjungimu, bukan?"
Ucapnya dengan senyuman biasa, meskipun dia sedang dalam tempat dimana seharusnya menjadi tempat emosional
Dan di atas batunisan itu tertulis nama Dan Vince, seorang yg mungkin kita kenal sebelumnya
Zane Souji, remaja berumur 16 tahun yg tidak bersekolah dikarenakan tidak memiliki syarat dan ketentuan untuk bersekolah
Sebuah organisasi kepahlawanan Sentinel Legion of Glory, atau SLG, memiliki sekolah khusus untuk anak penerima Hero Device untuk menjadi Sentinel
Sayangnya, Zane tidak memiliki Hero Device itu, meskipun dia sangatlah ingin masuk sekolah spesial SLG
Lulus SMP, dia harus menerima nasibnya dengan hidup setahun sendirian dikarenakan tidak dapat bersekolah
Zane mulai mengenakan headphone yg ada di lehernya dan mulai berjalan pulang ke rumah sambil mendengarkan lagu
Masa depan, masa dimana semua serba simpel dan praktis, dimana kejahatan juga bisa merajalela dengan sangat mudah
Dan disanalah tercipta pahlawan berbasis masa depan bernama Sentinel
Ya, sepertinya kita sudah melihat penjelasan tentang ini, bukan?
Di perjalanan pulangnya, Zane menerima panggilan
Dia melihat smartphone-nya dan menerima panggilan itu
Bukan panggilan telpon, apalagi video call, melainkan gambar hologram dengan penuh warna muncul dari HP Zane
"Nee-san, apa kabs?"
Sapa Zane dengan gaol
"Zane, apa kau baru dari makamnya kakakmu?"
Tanya seorang gadis berambut merah panjang
Katsumi Souji, kakak dari Zane Souji, salah seorang remaja "beruntung" yg memenangkan Gacha Hero Device yg menjadikannya seorang Sentinel
Mendengar pertanyaan tadi, Zane dengan cerianya menjawab:
"Tentu saja! Setiap bulan kalau bisa. Tapi sekarang spesial karena dia sedang ulang tahun"
Mendengar jawaban dari adiknya, Katsumi mulai cekikikan
Wajah Zane berubah menjadi wajah kesal
"Apa yg lucu, Nee-san?"
Katsumi menjawab dengan cekikikan:
"Bayangkan orang yg sudah mati di doakan panjang umur. Pfft... Haahahahaha!"
Katsumi tertawa terbahak-bahak
Zane memasang wajah bingung dan kesal yg bercampur aduk
"Begini ya, Nee-san! Itu tidak baik loh, humormu suram namanya. Bagaimanapun juga dia juga Nii-san kita, bukan?"
Zane memarahinya
"Ya, ya. Terserah"
Katsumi terlihat mengelap air matanya ketika selesai tertawa
"Lagipula, kenapa Nee-san menelponku? Kurang kerjaan banget!"
Bentak Zane
Katsumi menjawab:
"Sebenarnya bukan aku yg menelponmu"
"Hah?"
"Tapi aku yg menelponku"
Suasana menjadi hening seketika
"Demi Tuhan, lelucon itu lebih baik dikatakan oleh Patrick itu sendiri"
Kata Zane, memecahkan suasana hening
"Ayolah, Nee-sanmu berusaha untuk lucu disini!"
Katsumi merengek
Zane semakin kesal dan langsung meledak
"Jawab, nenek!"
"Natsuki sebenarnya ingin bertemu denganmu"
Katsumi langsung menjawab dengan wajah datar dan suara datar dengan sekilas
Zane mulai tersenyum
"Tunjukkan"
Gambar dari hologram berganti menjadi seorang gadis kecil dengan rambut merah pendek, wajahnya tidak beda jauh dari Katsumi
"Za-Nii! Lama tak jumpa!"
Gadis itu menyapa
"Hmm?! Siapa kau?! Dimana Nee-san?!"
Zane mulai menanyainya dengan nada serius
Dengan bingung, gadis itu menjawab:
"Eh? Ini aku Natsuki Souji"
"Iya kah? Bagaimana kalau aku percaya bahwasannya KAU adalah A.I yg dirancang oleh para Raider untuk menghancurkan dunia. Mencoba membohongiku dengan wujud adikku yg manis seperti setan!"
Natsuki mulai terlihat takut seakan ingin menangis
"K-Katsu-Nee, bagaimana ini? Za-Nii tidak mempercayaiku"
Natsuki mulai menangis
Dari kejauhan panggilan mulai terdengar suara Katsumi tertawa kecil
Zane membuang wajahnya untuk tertawa sepuasnya
Dia mengembalikan wajahnya dan mencoba menahan tawanya
"Jawab aku, peniru! Atau kubuat kau menjadi makanan ayam"
Zane mulai mengancam
"A-aku Natsuki Souji yg asli! Umurku 14 tahun! Aku sekolah di Unity School Razor buatan SLG! Aku punya kakak perempuan Katsumi Souji dan kakak laki-laki Zane Souji!"
Jawab Natsuki dengan cepat
"Apa warna celana dalammu!?"
"Hitam dengan polkadot merah!"
"Siapa yg menembak JFK?!"
"Tidak tau!"
"Dasar Natsuki cengeng"
Natsuki mulai terkejut
"Heh?"
Zane tertawa terbahak-bahak dengan sepuas-puasnya
"Sudah 10 tahun lebih kau masih cengeng! Ahahahahaha!"
Katsumi juga terdengar ikutan tertawa
Natsuki mulai ngambek, pipinya menggembung, dan wajahnya memerah
"Kalian berdua bodoh!"
Umpatnya
Beberapa saat untuk tertawa berlalu
"Za-Nii, aku rindu padamu"
Natsuki mencondongkan bibirnya seolah ingin berciuman
"Natsuki, aku duri padamu"
Zane juga ikutan
"STOP! JIJIK!"
Teriak Katsumi dari pinggir Natsuki
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak
Beberapa saat berlalu tanpa Zane sadari
Tiba-tiba dia sudah sampai di depan rumahnya dikarenakan asik mengorbol dengan adiknya
Zane masuk ke rumahnya dan segera duduk di sofa
"Za-Nii, sekali-sekali mampir dong!"
Pinta Natsuki dengan nada meledek
Zane terenyum meremehkan
"Hmph. Kalau tidak karenamu, akulah yg harusnya bilang begitu. Aku yg memberimu Device itu karena aku kasian, nanti Natsuki kecil nangid. Ucuk-kucuk"
Ledek Zane
Natsuki memerah malu dan membuang wajahnya
Dia mulai keluar dari jangkauan panggilan, mengartikan dia pergi entah kemana
"AKU MEMBENCIMU!!!"
Teriaknya dari kejauhan yg terdengar jelas layaknya sedang bicara tatap muka
Zane tertawa terbahak-bahak dengan sepuasnya
"Baru diledek seperti itu sudah ngambek! Kecil sampai besar tidak ada perubahan! AHAHAHAHAHA!"
Katanya sambil tertawa kencang
Katsumi juga terdengar tertawa
"Nee-san juga sering-sering mampir ketika patroli"
Kata Zane dengan polosnya
Katsumi menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung
"Ya... Akan kuusahakan sih..."
Jawabnya yg rada bingung
"Nee-san, sebenarnya di sekolah spesial SLG, mereka belajar tentang apa sih?"
Tanya Zane yg mati penasaran
Dengan sedikit canggung, Katsumi menjawab:
"Yah... Kau taulah... Pelajaran-pelajaran sekolah pada umumnya. Matematika, IPA, Bahasa Kanji, English"
"Itu saja?"
Tanya Zane lagi dengan kecewa
Dia menggeleng kepalanya
"Kalau tau pelajaran dasar, aku sebenarnya tidak niat masuk sekolah SLG atau apalah itu"
Katanya dengan kecewa berat
"Hei! Tapi kami juga diajari pelajaran soal Sentinel juga! Jangan meremehkan dulu sebelum melihat atau mencobanya"
Katsumi memarahi Zane
Zane mulai tersenyum semangat lagi
"Wah, kalau ini membuatku tertarik!"
"Ngomong-ngomong, apa ibu dan ayah sudah memberi kabar?"
Tanya Katsumi mengganti topik pembicaraan
Zane menaruh HP-nya di meja dan menuju ke kulkas untuk mengambil minuman
Gambar digital membesar, membentuk replika Katsumi secara langsung
Sambil berjalan memgambil, Zane menjawab dengan sarkas:
"Belum. Memang kabar apa yg mau mereka sampaikan? Mereka terlalu asik bekerja di luar negri sampai lupa anak mereka sendiri"
Dia berjalan menuju sofa dan duduk lagi
"Hei! Jangan seperti itu! Mereka bekerja untuk kita-"
"Persetan. Kau yg bekerja untuk menafkahi keluarga, Nee-san"
Potong Zane dengan tidak sopannya
Katsumi terdiam
Zane meminum minuman kalengnya yg berupa soda
"Menyerahlah, Nee-san. Kau tidak bisa menang debat melawanku"
Ledek Zane dengan senyuman sombongnya
"Yap. Kakakmu benar, kau susah dilawan kalau soal berdebat, karena kau KERAS KEPALA!"
Jawab Katsumi dengan santainya
Lebih tepatnya Katsumi berhasil meledek balik, atau mengROASTing
Zane tertawa terbahak-bahak
Lama kelamaan, tawanya menjadi tawa berat ala-ala penjahat anime
"SIAPA KAU BERANI MENGHAKIMIKU!"
Zane tiba-tiba berubah ekspresi menjadi seram dan mengagetkan kakaknya
"AAH-"
Panggilan terputus, mungkin sengaja karena saking takutnya
Zane tertawa kecil
Dia meminum sodanya lagi
"Hehe, bagus. Sekarang yg aku butuhkan adalah Hero Device and gadis Hula. Mmmmm... gadis Hula..."
Zane senyum-senyum sendiri yg lama kelamaan malah membuatnya keliatan aneh
"Hei! Author! BERHENTI NYEMIL DAN BERI AKU HERO DEVICE!"
Teriaknya sendiri tanpa sebab
"Baiklah author-ku tersayang, kau punya 30 detik sebelum aku datang kerumahmu dan bicara denganmu. Atau kau bisa memberikanku Hero Device agar jalan ceritanya lebih cepat. MENGERTI?!"
Iya, lama-lama dia teriak-teriak sendiri, mungkin sudah lama keluar dari RSJ dia jadi rada idiot
"Hei author, aku tau apa yg sedang kau bicarakan, DAN ITU SALAHMU SENDIRI!"
Abaikan saja dia, oke?
"Yup, daripada nganggur mending jalan-jalan"
Zane mulai berdiri sambil membawa sekaleng sodanya yg masih tersisa sedikit
Dia keluar dari rumahnya, tidak lupa mengunci pintu
"Jika aku tidak segera mendapatkan Hero Device, AKAN KUTENDANG BOKONGMU, AUTHOR! Sadar aku tidak bilang 'membunuh' KARENA AKU PERLU SENJATA UNTUK ITU!"
Teriaknya sendiri
"Zane, sebaiknya kau segera kembali ke planet asalmu. AHAHAHAHA!"
Orang random lewat sambil tertawa
Zane ke-trigger dan teriak:
"DIAM KAU, KARAKTER TIDAK PENTING SEKALI PAKAI SEPERTI CONDOM!"
Zane menghela nafas untuk menenangkan diri
"Mungkin kerumah Nee-san bisa membuatku tenang. Aku terlalu kesepian"
Pikir Zane setelah menghela nafas
Dia memasang headphone ke telinganya dan menyalakan lagu
Dia mulai berjalan menuju apa yg dia tuju sambil mendengarkan lagu
Dia meminum soda kalengnya sampai habis lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat
Beberapa menit berlalu, Zane tidak sengaja menabrak seseorang
Zane membuka headphone-nya dan tersadar dia menabrak seseorang yg berbadan dua kali lipat lebih besar darinya
Orang itu memutar balik badannya, menunjukkan wajah-wajah ala preman
"Kalau jalan pakai kaki dong, bedebah!"
Kata orang itu dengan kesal
Zane tersenyum
"Jalan pakai kaki terlalu mainstream, jalan pakai mata itu baru anti-mainstream"
Katanya dengan senyum meledek
Tiba-tiba drone patroli melintas disaat yg tidak tepat
Drone itu berhenti untuk mengawasi mereka
Zane mendekati kepalanya ke telinga si preman tadi
"Dengar, kawan, kau tidak mau melakukan inu didepan petugas itu, bukan?"
Bisiknya dengan sangat pelan
"Pecayalah kawan, kita mau"
Bisik balik si preman
Tiba-tiba preman lain datang mengepunginya
Tidak sembarang preman, mereka memakai baju rapih layaknya pegawai kantor
Atau mereka lebih tepatnya dipanggil Yakuza
"Kau masih mau lanjut? Kau tidak akan menang meskipun membawa sekampung pasukanmu"
Bisik Zane dengan nada gregetan
"Tidak perlu sekampung, juga tidak perlu Kazuya-san untuk melawanmu. Aku saja sudah cukup"
Jawab si Yakuza tadi
Zane tersenyum meledek
"Kau yakin?"
"Tentu saja"
Mereka mulai mundur selangkah dan mengepalkan tangan mereka
"Jangan mau kalah Godai!"
Teriak temannya si Yakuza itu untuk menyemangatinya
"Aku tidak perlu semangat dari kalian!"
Bantah si Godai
Zane meluncurkan tangannya duluan
"Sial! Aku lengah!"
Pikir Godai
Spontan, Godai mengayunkan tangannya balik
Kedua tangan mereka bertemu di pertengahan dengan Zane gunting dan Godai kertas
Suasana hening sesaat
"TIDAAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!!"
Godai berteriak sambil melihat tangannya sendiri
Godai berlutut dengan rasa kekalahan
Zane tertawa puas
"WAHAHAHA! Kau kira kau bisa mengalahkanku? Semenjak lahir aku tidak pernah kalah dari siapapun! WAHAHAHA!"
Kata Zane sambil menatapi Godai yg berlutut kalah
Temannya yg lain tertawa terbahak-bahak
Mereka mendekati Zane dan Godai
Zane memberikan tangannya dengan senyum keren
Godai tersenyum balik dan memegang tangannya
Zane membantu Godai berdiri
"Kau kurang cepat, Godai-san. Kau sendiri yg mengajariku untuk selangkah lebih cepat dari musuh"
Ledek Zane
"Bukan kaunya yg cepat tapi kau yg curang! Kau menyerang duluan!"
Bantah Godai
Semuanya tertawa tanpa pengecualian
"Yo Zane, bagaimana kalau kita minum-minum di tempat kami?"
Ajak salah satu Yakuza itu
"Boleh, boleh!"
Zane mengangguk
"LET'S GO!!!"
Mereka mulai berjalan menuju tempat nongkrong mereka
"Hei, Zane, sebenarnya kau mau kemana?"
Tanya salah satu Yakuza yg lain
Zane menjawab:
"Sebenarnya aku mau kerumah Nee-san karena aku nganggur, tapi karena bertemu kalian aku tidak jadi"
Setelah cukup lama berbincang, mereka sampai di sebuah cafe modern
Mereka masuk
"Kazuya-san, liat siapa yg ikut bersama kita!"
Kata Godai kepada seorang yg sedang duduk membelakanginya
Orang itu memutar balik badannya
"Hei, lihat itu! Zane Souji, adik dari bos kita. Kemari, nak"
Orang yg bernama Kazuya itu menyambutnya dengan baik
Para Yakuza yg jumlahnya mungkin ada puluhan, duduk di tempat lain
Zane dan Kazuya duduk bersampingan
"Mau minum apa?"
Tawar si Kazuya
"Hmm... Mungkin susu soda"
Jawab Zane
Satu Sake dan susu soda langsung dihidangkan
"Kazuya-san, apa yg kau tau tentang kakakku?"
Tanya Zane sambil memutar-mutar gelas minumannya
Kazuya terkejut seakan dia teringat masa lalu yg kelam
Dia meminum Sake-nya sedikit
Dia mulai tersenyum
Kazuya menjawab:
"Kakakmu, ya...? Hmm... Kumulai darimana ya? Sebenarnya aku kenal dia karena dia keponakan dari teman lamaku"
"M-maksudmu pamanku Hari?"
Tanya Zane
Kazuya menjentikkan jarinya
"Bingo!"
"Jadi karena jalur orang dalam?"
Zane kebingungan
"Kakakmu, Dan, juga alasan kami tidak menjadi musuh masyarakat. Sebisanya kami melawan yg meresahkan warga dibanding menjadi lawan para warga"
"Hehei! Lihat itu, Yakuza baik!"
Kata Zane dengan maksud bercanda
"Kau tau, kemungkinan besar pasukanmu sudah tidak dibutuhkan lagi di era perang modern ini. Era dimana teknologi adalah perkerja keras. Ya, meskipun demikian, lowongan kerja juga masih banyak"
Kazuya tertawa sedikit
"Kalaupun tenaga kami sudah tidak dibutuhkan, kami masih bisa membantu keluargamu"
Kazuya menepuk bahunya Zane
Zane meminum habis susu sodanya
"Baiklah, waktunya pergi"
Zane berjalan keluar dari cafe
"Hati-hati dijalan, nak"
Kata Kazuya
Zane mengeluarkan jari tengahnya
Para Yakuza termasuk Kazuya juga ikutan
Zane keluar dari cafe dan memasang headphone-nya
Dia masih berjalan menuju rumah kakaknya, kakak ipar lebih tepatnya
Di perjalanan, para warga berhamburan menjauh yg dimana itu berlawanan dengan arah Zane
Zane tidak terlalu mempedulikan karena dia tidak dengar suara bising yg disebabkan para warga
Dia menabrak seseorang lagi
Dia membuka headphone-nya dan melihat seseorang dengan baju besi futuristik
"Hei, nak, kau tau kami siapa?!"
Tanya Iron Man itu
"Raider. Sudahlah, kalian membuang waktuku saja!"
Zane berjalan melewatinya dengan santainya
Raider itu memegang bahunya
"Kau kira kau bisa pergi seenaknya sebelum memberi kami hartamu?"
Raider itu ingin merampok Zane
"INI! AMBIL SEMUA! AMBIL!"
Zane melempar uang koin ke Raider itu dengan kesal
Zane pergi meninggalkan Raider itu sambil menggerutu
Raider itu kebingungan sendiri
Salah satu Raider temannya datang mendekatinya
Dia memegang bahu temannya
"Kita sebagai penjahat tidak ada harga dirinya, bukan?"
Sementara itu, Zane sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah yg cukup besar
Pagar disamping gerbang terbentang sekitar beberapa meter, bukti kalau rumahnya juga bakalan cukup besar
Zane menekan tombol bel yg ada di pinggir gerbang
Dari kejauhan, terlihat ada rumah yg sangat megah
Pintunya rumah itu terbuka, menunjukkan ada seekor loli berambut merah yg membukakannya
"Wah! Ojisan!"
Kata gadis itu
Zane melambaikan tangannya dengan senyuman friendly
"Yo, Rio!"
Rio pun berlari menuju gerbang dan membukakannya
"Silahkan masuk!"
Sambut Rio
Zane mengangkatnya
"Wah! Kau semakin besar ya? Wahaha! Tapi kau tidak berat. Wahaha"
Zane mulai berjalan menuju rumah megah itu
Rio tertawa kecil
"Hehe. Aku baru 5 tahun"
Katanya
"Waduh, paman kira masih 2 tahun"
Usil Zane sambil tersenyum iseng
"Ojisan sudah berkunjung ke rumah Papa?"
Tanya Rio dengan polosnya
Zane memberikan Rio acungan jempol sambil menjawab:
"Sudah!"
Rio memberikan Zane acungan jempol balik
"Good job!"
Zane terkejut dan berkata:
"Ohoho. Masih kecil sudah bisa bahasa Inggris sepertimu ibumu, ya? Ehem... Jalur orang dalam"
"KEKUATAN ORANG DALAM! YAY!"
Teriak Rio
Mereka sampai di dalam rumahnya, dan sesuai ekpetasi, di dalamnya pun nampak besar
Zane menurunkan Rio
"Kupanggil Mama dulu, ya?"
Rio berlari entah kemana, karena rumahnya terlalu besar
Zane mulai melihat-lihat sekitar
Dia melihat sebuah monumen dan mendekatinya
Monumen kecil itu lebih tepatnya sebuah pedang katana yg ditaruh rapih, ditompang diatas penyandang kecil
Disamping katana itu ada sebuah topi fancy, ala-ala cowboy
Foto mereka dengan background lautan terlihat sangat romantis
Didalam hati, Zane berpikir:
"Hmph. Hidupmu enak bukan, Nii-san? Punya istri cantik, punya anak imut, dan punya rumah mewah. Andai kau masih hidup dan merasakan betapa indahnya dunia setelah kau selamatkan"
Zane mengambil topi fancy itu dan memakainya
Dia tersenyum percaya diri, seolah topi itu cocok untuknya
"Kau terlihat keren dengan itu"
Suara gadis mengejutkan Zane sedikit
"Astaga, Nee-chan!"
Zane memutar balik arahnya, menatap seorang gadis anggun, jelita, berambut hitam, bernama Vivian Stephanie Vince
Vivian tersenyum manis
Zane menaruh topi itu di tempat asalnya
"Kenapa kau tidak ambil saja topi itu? Itu cocok kok untukmu"
Tawar Vivian dengan lembut
"Meh. Tidak perlu. Itu aset berharga suamimu bukan?"
Mereka mulai duduk di sofa
Rio lewat dan berkata:
"Mama, aku mau main dulu"
Dia mencium pipi ibunya dan berlari keluar
"Hati-hati ya!"
Kata Vivian
"Ojisan, see ya!"
Rio melakukan salam hormat dari kejauhan sebelum benar-benar keluar
Zane membalas dengan salam hormat balik
"Jadi... Kau kesini mau bicara soal Hero Device?"
Tanya Vivian, seolah membaca pikiran
Zane sedikit terkejut
"Bagaimana kau bisa tau?"
Tanya Zane dengan sedikit curiga
Vivian tersenyum dan menjawab:
"Pecayalah, kenal dengan kakakmu semenjak kecil membawa banyak perkembangan"
Zane ketawa malu
"Yah... Begitulah. Aku ingin sekali Hero Device"
Dia menggaruk-garuk pipinya
"Kenapa tidak beli?"
Tanya Vivian dengan entengnya
Zane bingung dan menjawab:
"Memangnya seperti ****** di tokoh grosir apa? Semudah itu"
"Ya, aku dengar Sentinel itu punya organisasi bernama SLG, bukan? Aku terlalu kudet, jadi kurang tau"
Zane mulai menjelaskan:
"Benar. SLG, Sentinel League of Glory, sebuah organisasi persatuan Sentinel dari seluruh dunia. Dibalik SLG dan Sentinel, mereka juga punya asal-usul tersendiri. Sebenarnya mereka dibuat dan dikembangkan oleh Phantom Coorporation, sebuah perusahaan yg bermula dari Jepang yg kemudian merajalela ke seluruh dunia. Hero Device juga tidak diberikan sembarang, mereka seperti Gacha yg mempermainkan keberuntungan seseorang"
Vivian mengangguk paham
"Hmm... Beli tidak ya, Phantom Corp itu? Karena kuyakin perusahaan ayahku juga mungkin mampu membelinya"
Pikir Vivian sambil memegang dagunya
Dikira bercanda, Zane tertawa
"Hahaha! Bisa saja kau ini, Nee-chan"
Dia terus tertawa
"Tentu bisa. Hehe!"
Zane menggebrak meja di depannya
"Hehe matamu picek!"
Bentaknya dengan nada datar tapi menyeramkan
Vivian tersenyum canggung
"A-aku tidak bercanda kok. Ini buatmu kok"
Zane duduk dengan rapih lagi dengan sekejap
"Nee-chan bercanda sudah tidak lucu lagi loh?"
Kata Zane yg masih menganggapnya bercanda
Vivian menjawab lagi:
"Siapa yg bercanda? Aku serius!"
"HAAAAAAA!!!!!! OTAKKU TIDAK KUAT UNTUK BERCANDAAN ORANG TAJIR!!!"
Teriak Zane sambil memegangi kepalanya sendiri
"Zane, kau tidak apa-apa? Apa perlu kubelikan setoko obat untukmu?"
Tanya Vivian yg khawatir
"HAAAAAA!!!!!! SUDAH CUKUP! AKU TERLALU MISQUEEN!!!! SAMLEKOM!!!"
Zane berlari keluar dari rumah kediaman Vince
"Jiwa miskinku menangis tidak kuat dengan siksaan itu!"
Pikir Zane sambil berlari tanpa melihat arah
"AUTHOR! Ini salahmu membuat karakter terlalu kaya! CEPAT BERIKAN AKU HERO DEVICE!"
Teriak Zane sambil berlari
Tanpa berhati-hati lagi, Zane menabrak seseorang lagi
Kali ini benturannya sangat parah karena dia sedang lari tak terkendalikan
Benturannya sangat parah sampai-sampai dia tidak sengaja menicum seorang gadis ketika sudah terjatuh
Zane segera melompat mundur untuk menghindari hantaman cewek anime generic
"Mundur! Kuperingatkan kau, sebelum memukulku, sabukku hitam waktu SD!"
Kata Zane dengan wajah memerah malu
"Cih! Kalau pakai logika idiot seperti itu, semua orang juga pernah sabuk hitam"
Kata gadis berambut ungu tua itu
Zane mendekati gadis itu dan membantunya berdiri
"Maaf, soal tadi. Kita jadi menikah secara tidak sengaja"
Canda Zane
Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya
"Jangan dipikirkan, aku juga terlalu sibuk dengan tugasku"
Zane mulai mengamati gadis itu yg memakai baju seragam
"Kau... Siswi sekolah spesial Razor, ya? Dilihat dari seragammu"
Gadis itu mengambil sebuah kartu nama
"Tepat sekali. Jin Matsunaga, 16 tahun"
Gadis bernama Jin itu memberikan kartu namanya ke Zane
Zane menerimanya dan membacanya sebentar
Zane menyimpan kartu nama itu
"Akan kuingat-ingat"
Katanya
Zane mulai hormat layaknya seorang pelayan
"Hola sinyorita, my name Souji, Zane Souji. Senang bertemu denganmu"
Zane memperkenalkan dirinya dengan bahasa campuran
"Senang bertemu denganmu juga, Soujiki"
Ledek Jin
"Mmph! Soujiki?! Memangnya aku penyedot debu?"
Zane ke-trigger
Jin tertawa halus dan berkata
"Hahaha! Bercanda, bercanda, jangan dibawa ke hati. Hati-hati kalau cari hati, jangan ada cerita salah pilih kekasih"
Zane mulai tenang
"Lagipula, apa yg anak Sentinel lakukan disiang bolong tengah kota begini, huh?!"
Tanya Zane
Lalu dia melanjutkan pembicaraanya:
"Kalau mau cari kopi, jangan di cafe Ryuou, disana banyak Yakuza-nya. Beda cerita kalau kau bersamaku, mereka anak buahku"
Jin meladeninya dengan berkata:
"Ya, ya, terserah"
"Okay!"
Zane memberikan acungan jempol
Jin mulai menjelaskan apa yg sebenarnya akan lakukan:
"Sebenarnya aku mencari dua Raider yg baru saja kudapat laporannya sekitar 15 menit yg lalu"
Zane mulai berpikir sesaat
Wajahnya berubah seolah dia mengerti
"Ooh...!"
Serunya
Mendengar itu, Jin berharap Zane bisa menjawab
"Dimana? Kau lihat?"
Tanyanya dengan penuh ekpetasi
"Tidak"
Jawabnya yg membuat Jin kecewa berat
Jin memegang kepalanya sendiri sambil bergumam:
"Ini tidak akan berhasil"
Zane mlanjutkan perkataanya:
"Terakhir kali aku lihat, di dekat sana"
Zane menunjuk tempat yg tadi dia lewati, di dekat taman
Jin memutar balik badannya, dan tepat sekali dia melihat dua Raider itu sedang memegangi anak kecil dengan menggendongnya dipinggulnya
Zane mengamati siapa anak kecil itu, dia disandra itu adalah keponakannya, Rio
"Astaga!"
Zane berlari menuju Raider yg sedang menyandra Rio
"Tungg- AKH!"
Jin mengejarnya
"RIO!"
Teriak Zane
"Oh? Ojisan! What's up!"
Rio melambaikan tangannya seperti tidak terjadi apa-apa
"Kau jangan melawan, nak, atau kau tidak bisa melihat keponakanmu lagi!"
Raider itu mengancamnya
"Rio! Bertahanlah!"
Zane mulai panik
Jin sampai dan berdiri di samping Zane
Jin bertanya:
"Tunggu dulu, dia anak dari Tuan Putri Vince. Dia adikmu?"
"Bukan, dia keponakanku"
Jawab Zane
"Kau adik dari Dan Vince si legenda yg tidak diakui itu!?"
Jin nampak terkejut
Zane mengangkat bahunya seolah dia tidak tau
"Ojisan, siapa wanita itu?"
Tanya Rio
Senyum aneh mulai muncul
"Jangan-jangan... Kikiki... Pacarmu?"
"Nak, untuk ukuran anak 5 tahun, kau cukup dewasa ya. Mungkin ayahmu mengajarimu cara menjadi legenda"
Entah Jin memuji atau sarkas, yg pasti mereka mengobrol seolah Raider yg menyandra tidak ada apa-apanya
"Woman! Dia anak yatim sejak dia lahir!"
Bentak Zane memarahi Jin
Jin memegang wajahnya karena malu sendiri
"Kau tidak paham sarkas ya?"
Katanya
"O-oi! Kalian berdua jangan malah ngobrol! Kubunuh anak ini nanti!"
Ancam si Raider
"Silahkan saja, Kamen Rider. Aku yakin kematian bakalan kalah judi karena aku tidak akan mati sekarang"
Kata Rio dengan santainya
"Hei! Kamen Rider itu baik!"
Bentak Zane yg tidak terima
Rio tertawa meledek:
"Ohoho! Ojisan lupa Evil Rider dan Dark Rider? Atau Another Rider? Mereka jahat loh!"
Zane garuk-garuk bingung
"Iya sih"
Jin juga sama bingungnya dengan Raider
Dia berkomentar:
"Kalian berdua nampak akrab, ya? Ada perampok pun kalian terlihat sangat santai"
Zane dan Rio tertawa
"JANGAN MELEDEKKU, BOCAH!"
Raider itu hendak menusuk Rio
Rio menyelip keluar dari genggaman
Rio dengan santainya berkata:
"Paman ini ketiaknya bau, meskipun dia memakai baju baja"
Warga sekitar menertawainya
"DIAM!!! KENAPA AKU TIDAK ADA HARGA DIRINYA SEBAGAI PENJAHAT!"
Teriak Raider itu
Rio dengan biasa berjalan menuju Zane
"Ketimbang penjahat, kau lebih seperti pelawak"
Kata Rio mengroasting habis-habisan si Raider
Semua orang menertawainya
Zane jongkok
"Kau tidak apa-apa?"
Tanya Zane yg khawatir terhadap Rio
Rio mengangguk dan bersembunyi dibalik kaki Zane
Raider kedua keluar dari tokoh dengan membawa sekantong penuh uang
"Hei, oppai! Kau atasi ini"
Pinta Zane tanpa menengok ke Jin
Ketika dia menengok, Jin sudah memakai kostum bajanya, menjadi Sentinel
"Serahkan ini padaku"
Jin berlari menuju dua Raider itu sambil memegang pedang
Dia mulai bertarung 1v2
"Apa yg kau lakukan, Zane? Kau mau diam saja melihat pacarmu dihajar?"
Suara gadis yg familiar dari belakang Zane
Zane dan Rio memutar balik badannya
"Mama!"
Rio memeluk ibunya
Zane dengan gugup karena takut berkata:
"Nee-chan... Ak-aku... Aku tidak bisa melakukan apa-apa..."
Vivian tersenyum
"Tentu kau tidak bisa melakukan apa-apa, tapi kau bisa merubah apapun"
Vivian memberikan Hero Device lengkap dengan sebuah kartu
Zane tergagap-gagap ketika melihatnya
"Masa lalumu tidak bisa diubah, tapi masa depanmu bisa. Itulah yg diucapkan kakakmu"
Kata Vivian
Zane mengambilnya
Zane tersenyum senang
"Terima kasih... Nee-chan"
Vivian mencium kening Zane tanpa ragu
"Sama-sama"
Vivian berjalan keluar dari zona bertarung
Zane tersenyum dengan wajahnya yg memerah
"Tidak salah kau memilih istri, Nii-san"
Pikirnya
Zane memasukkan kartu ke Hero Device
Ngomong-ngomong, kartu itu bernama Key Device
[Ready!]
Suara dari Hero Device terdengar
Zane mulai tersenyum penuh hype
"SAKSIKANLAH PAHLAWAN BARU DI ERA BARU INI! ZANE SOUJI, ORANG YG AKAN MENGUBAH DUNIA!!!"
Teriak Zane sekencang-kencangnya saking senangnya
Semua orang mengalihkan perhatiannya kearah Zane
"HENSHIN!!!"
Zane menempelkan Hero Device ke sekitar perutnya
[Transformation!]
Zane berubah menjadi Sentinel, tapi anehnya ini baru baju spandex berwarna hitam saja
Jin terbang mundur ke arah Zane
"Aku tidak percaya Tuan Putri Vince memberikanmu sebuah Device. DAN AKU TIDAK PERCAYA KAU ITU PUNYA HUBUNGAN DENGAN KELUARGA VINCE!"
Teriak Jin
"Matsudragon, kau urus yg kiri aku yg kanan. Kanan baik"
Tanpa basa-basi, Zane berjalan menuju Raider pertama tanpa ragu
"Kuperingatkan kau jangan mendekat mentang-mentang kau sudah menjadi Sentinel!"
Seru si Raider
"Kuperingatkan kau untuk cepat membuat kuburan karena kau sudah berani menyentuh KEPONAKANKU TERSAYANG!"
Zane memukul Raider tepat di bagian dadanya
Raider itu meluncurkan pukulannya balik
Zane menangkisnya dan memukul dadanya lagi
Zane mengibaskan pergelangan tangannya sebelum memukul perut Raider dua kali
Raider berhasil memukul dada Zane, tapi itu bisa dibilang 0 damage
Zane memukul wajah Raider itu dengan sangat kencang hingga helm kerennya hancur
Raider itu tersungkur
Raider itu hendak berdiri tapi Zane menendang kepalanya tanpa ampun
Zane menginjak kepala Raider itu tanpa ampun
"SUDAH! KUBILANG! BUAT! KUBURANMU!!!"
Dengan bringasnya, Zane menginjak-injak wajah Raider itu hingga hancur tak karuan
Sementara itu, Jin juga sudah mulai menang melawan Raider kedua
Jin menebasi Raider kedua dengan sempurna
Jin mengambil kartu dari Hero Deck, sebuah kantong yg berada di pinggang, berisi Hero Skill yg berjumlah cukup banyak
Kartu yg diambil juga bernama Skill Device
Jin menggesek Skill Device ke alat gesek yg ada di lengannya yg bernama Skill Vent
[Skill: Ballistic Violet]
Jin mulai mengambil ancang-ancang untuk menusuk dengan pedang tipis ala musketer
Dengan secepat kilat, Jin menusuk Raider kedua bolak-balik, depan-belakang, tidak dengan berdiam diri melainkan dengan gerak kesana-kemari
Ketika menusuk, sebuah bunga-bunga berwarna ungu bertebaran bersamaan dengan energi berwarna ungu
Raider kedua terpental tapi tidak cukup jauh
Zane menendang Raider pertama karena sudah puas menginjaknya
Jin berbaris dengan Zane
"Kaummu yg memulai kau juga yg harus menyelesaikannya"
Pinta Zane sambil menepuk bahu Jin
Jin mengangguk
Jin mengambil Skill Device lagi
Dia menggesek Skill Device itu ke Skill Vent
[Skill: Flower Slash]
Simpelnya, Jin menebas tebasan energi berwarna ungu dari kejauhan
Dua Raider itu terkena serangan itu dan meledak
Zane terdiam membeku
Dia berkomentar:
"Betina, kau baru membunuh mereka, kau tau itu"
Jin tersenyum meledek
"Zirah yg dipakai Raider dan Sentinel itu sangat kuat, bodoh! Tidak mungkin mereka langsung mati. Kecuali mereka sudah tidak memakai zirahnya lagi"
Jelas Jin
Beberapa saat berlalu, dua Raider itu berhasil ditangkap dan dibawa ke kantor polisi
Zane dan Jin pun sudah kembali ke wujud manusia lagi
"Zane Souji terima kasih atas bantuannya"
Jin dan Zane bersalaman dengan senyuman friendly
"Aku juga mendadak punya dendam pribadi dengan kunyuk itu"
Balas Zane dengan bercanda
"Kutawarkan kau masuk sekolah SLG, Razor, mau?"
Tawar Jin
Zane terkejut bukan main
"Eh?"
Dia tidak menyangka hal yg dia inginkan akhirnya tercapai juga
Zane bertanya:
"Kau serius?"
Jin menjawab:
"Duarius malahan. Akan kubantu masuk sekolah itu yg malah sebenarnya kau hanya perlu menunjukkan Hero Device-mu"
Zane mengangguk sambil tersenyum bahagia
"Terima kasih... Matsunaga..."
"Panggil Jin pun tidak apa-apa, Souji"
Momen menjadi emosional, Zane menangis tersedu-seduh karena saking senangnya
Dia mencoba menghapus air matanya dengan lengannya, tapi masih terus mengalir
"Semenjak kecil aku ingin sekali menjadi Sentinel... Aku mengalah Hero Device-ku kuberikan kepada adikku, akhirnya kebaikanku terbayar juga"
Zane menjelaskan mimpinya
Jin mengelus kepala Zane sambil berkata:
"Sudah, berhenti menangis. Laki-laki memang tidak boleh menangis, tapi laki-laki juga tidak boleh membuat perempuan menangis"
Zane mengangguk dan mencoba berhenti menangis
"Sekarang, kita pergi kerumahmu dan ambil barang-barang yg kau butuhkan, seperti baju"
Zane mengangguk paham
Mereka pun bergegas menuju kediaman Souji
Beberapa saat kemudian, mereka sampai
Zane membukakan pintu dan segera masuk, diikuti oleh Jin
Dengan suara pelan, Jin berkata:
"Punten..."
Sambil masuk perlahan
Mereka berhenti di ruang tamu
Zane menaruh sekaleng soda di meja
"Silahkan duduk dulu, aku mau bersiap-siap"
Jin mengambil sekaleng soda itu dan meminumnya
Dia duduk di sofa
"Tidak usah terburu-buru, sekarang juga waktu senggang"
Beberapa saat berlalu, Zane kembali dengan dua koper
"Aku siap! Aku siap! Aku siap!"
Seru Zane dengan semangat
Jin bingung dengan koper yg Zane bawa
Lantas dia bertanya:
"Koper apa itu?"
Dia menunjuk koper yg lebih kecil dari koper biasanya
Meskipun terbilang kecil, bentuknya lebih bagus dan setidaknya agak besar
"Oh ini?"
Zane menaruh koper yg ditunjuk ke meja
"Ini adalah wasiatku. Alat futuristik tahun 2000an"
Dia membukanya, menunjukkan satu set mainan Tokusatsu bertopeng dengan inisial 555
Jin menghela nafas kecewa
"Kukira apa, ternyata mainan"
Zane ke-trigger langsung menarik kerah baju Jin tanpa ragu
"KAU BILANG APA, ******?! MAINAN?! INI BUKAN SEKEDAR MAINAN, WANITA! KAU YG PEREMPUAN SAJA TIDAK TAU SEBERAPA BERHARGANYA BENDA INI KEPADA BLA BLA BLA baca selengkapnya..."
Dan ocehan terus berlanjut, sedangkan Jin hanya bisa tersenyum sambil menutup matanya
"Seperti yg orang bilang, yg waras ngalah"
Guman Jin sendiri, sambil senyum-senyum