
Zane dan Jin sampai didepan gerbang sekolah Razor
"Selamat datang di Razor"
Jin menyambut Zane dengan penuh kebanggaan
"Welcome to Jurrasempak"
Guman Zane sendiri
"Apa?"
Tanya Jin yg tidak dengar
Zane menjawab dengan tidak serius:
"Tidak, tadi ada obral ****** dipasar. 10 yen dapat satu stack"
Jin enggeh-enggeh wae
Mereka masuk melewati gerbang
"Yo Jin-chan, sudah selesai patrolinya?"
Sapa satpam yg ada di pinggir gerbang
Meskipun terbilang satpam, dia juga Sentinel
Jin mengangguk dan menjawab:
"Iya. Terima kasih sudah bertanya, Kasuki-san"
Si satpam yg bernama Kasuki mulai memperhatikan si Zane
"Siapa dia? Anak baru? Atau mungkin pacarmu?"
Tanya Kasuki dengan senyum iseng
Jin melambaikan tangannya sambil berkata:
"Tidak-tidak-tidak, tadi aku memungutnya di bawah got"
"Oi, kalau ngomong jaga lidahmu, bedebah!"
Zane memarahinya
"Makanya jauh-jauh 5 kilo social distancing!"
Jin menjauh dari Zane
"INI BUKAN 2020 LAGI, SIALAN!"
Bentak Zane
Si satpam tertawa terbahak-bahak
"WAAHAHAHA! Kalian berdua memang cocok ya?"
Goda si satpam Kasuki
Mengganti topik pembicaraan, Jin bertanya:
"Kasuki-san, apa Yoshi mampir kesini?"
Kasuki menggeleng kepalanya
"Oh, baiklah"
Jin dan Zane pun berjalan menuju sekolah
Zane memasang headphone-nya dan mendengarkan lagu
Di dalam gedung sekolah pun masih ada pintu besar, siap dibuka
Sebelum membukakan pintu, Jin bertanya:
"Souji, pertama-tama kau kuantar bertemu kepala sekolah, apa itu masalah?"
Zane memasukkan tangannya ke kantong dan keluar dengan jari tengah
Entah apa artinya, yg pasti Jin mengerti
Jin membukakan pintu, mereka pun masuk bersama
Zane terkagum-kagum sambil menatapi sekitar
Zane berkomentar:
"Sekolah sebesar ini kalau muridnya ratusan-puluhan mubazir jatuhnya"
Jin membantah:
"Enak saja! Disini ada sekitar ribuan bahkan puluhan ribu murid tau! Ada yg dari SMP sampai SMK, bahkan mereka dibagi beberapa kelas dari A sampai E, malah ada yg F"
Zane mengangguk mengerti sambil:
"Ooh..."
Mereka sampai di depan pintu ruang kepala sekolah
Sebelum masuk, Jin memberitahu:
"Sebelum kau bertemu dengan kepala sekolah kumohon JANGAN pakai tingkah lakumu seperti bicara dengan temanmu"
Bukannya menjawab, Zane malah berkata:
"Lihat ini, disinilah ceritaku dimulai! Terima kasih author"
Jin memegangi kepalanya, pusing karena sulit menangani anak yg satu ini
"Kuartikan itu sebagai 'iya' dalam bahasa orang idiot"
Katanya
Jin membukakan pintunya, mereka pun masuk bersamaan
"Sensei, saya bawa gelandangan"
Kata Jin
Yg mereka lihat hanyalah kursi yg berlawanan arah
"Kau bicara dengan kursi? Fetish-mu aneh, ya?"
Bisik Zane
Jin tidak mau menjawab karena dia tau sulit untuk meladeni Zane
Kursi itu memutar balik arahnya, menujukkan seorang wanita bule berambut pirang yg duduk disana
Kelpsek itu tersenyum ala-ala penjahat shounen
"Mmm. Kau tidak salah pilih, ya Jin-chan"
Zane tidak mempedulikannya
Dia malah melihat-lihat sekitar
"Souji! Hormat sedikit kepada kepala sekolah!"
Jin mendorong Zane untuk menunduk hormat
"Zane Souji, mohon bimbingannya"
Kata Zane dengan nada datar
"Hello, Souji-kun. Namaku Luvianna Erica, kau bisa membanggilku Luvi-Sensei"
Mendengar namanya, Zane berpikir:
"Hoh! Orang Jerman!"
Dia mulai hormat ala bangsawan
"Guten morgen! My name iz SpongeBob! And iz meet you, my zeacher!"
Salamnya dengan kuah yg muncrat dari mulutnya
Kelpsek hanya bisa tertawa kecil
"Haha. Pakai bahasa Jepang saja juga boleh"
Zane membentak:
"Dummkopf!"
Jin mencubit pipinya Zane
"ITU BAHASA KASAR!!!"
Jin memarahinya
Kelpsek tertawa terbahak-bahak
"Kalian berdua memang cocok, benar?"
Goda si kelpsek
"Eh? Mava vau avu acaran sama ceuve ganas hegini"
Jawab Zane meskipun bibirnya ditarik-tarik
Beberapa menit berlalu hanya untuk menenangkan Zane
Si kelpsek mulai bertanya:
"Baiklah, Souji-kun, apa yg kau bisa kalau membicarakan soal ilmu bela diri?"
Zane tersenyum cool dan menjawab:
"Aku bisa memasak nasi yg dimasak 60 detik atau semenit dalam 59 detik"
Jin memegangi wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Sensei... Sebaiknya saya buang balik ke tempat asalnya saja ya?"
Pinta Jin yg sudah tidak kuat dengan Zane
Kelpsek tertawa kecil
"Jangan begitu, Jin-chan. Karena adanya dirimu, dia bisa dibimbing oleh semua warga sekolah"
Jelas si kelpsek
Jin menangis, bukan karena sedih tapi karena capek sama Zane
"Baru kenal 5 jam sudah mewek, gimana kalau sudah 1 ronde"
Ledek Zane dengan wajah yg kurang mengenakan
Tangisan Jin malah mengencang
Si kelpsek mulai serius
"Dengar baik-baik, Souji-kun!"
Zane sekejap langsung tegap ala tentara
"Ja, herrin lehrerin!"
Jawabnya dengan bahasa Jerman
Kelpsek mulai menjelaskan peraturan sekolah:
"Dengar ya, di sekolah ini sama seperti sekolah pada umumnya, kau akan belajar layaknya sekolah biasa. Yg menjadikannya tidak biasa adalah setiap mata pelajaran yg kau pelajari akan menambah Rate Point-mu. Apa itu Rate Point? Rate Point adalah sebuah poin yg nantinya kau pakai untuk mengembangkan kekuatan Sentinel-mu. Simpelnya, Rate Point seperti EXP dalam istilah game-game RPG. Kau bolos matpel, Rate Point-mu tidak menambah dan kau menjadi lemah. Guna memperkuat Sentinel-mu adalah untuk keadaan pertarungan hidup-mati kedepannya. Disini diperbolehlan bertarung satu-sama lain, dan itu akan diawasi drone tak terlihat kami. Untuk eskul kau pilih sesukamu, tapi perlu diketahui, eskul OSIS itu sangat berbahaya karena kau akan berpatroli di sekitar kota ketika kami mendapat kabar buruk. Disekolah ini sudah disediakan serba-serbi kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan minuman secara gratis. Meskipun serba gratis, kau bisa mendapat uang jika kau berpatroli. Mengerti?!"
Zane hormat
"Ja, gnädige frau!"
Si kelpsek tersenyum balik
"Selamat bersenang-senang!"
Zane juga ikutan senyum lega
"Untuk kali ini, kau bisa menjelajahi sekolah dulu, besok kau baru bisa bersekolah seperti biasa"
Jelas si kelpsek
Zane merasa ada yg janggal
Lantas dia bertanya:
"Itu... Sensei... Aku tinggalnya dimana?"
Kelpsek menjawab:
"Di sekolah ini sudah disediakan fasilitas umum. Kau bisa menganggap ini sebagai rumahmu, dan rumahmu akan ditempatkan bersama Jin-chan"
Zane menengok ke arah Jin yg biasa saja
Kelpsek bertanya:
"Kau tidak keberatan, kan Jin-chan?"
Jin menggeleng kepalanya
Dia menjawab dengan tegas:
"Tidak sama sekali, Sensei. Aku juga harus mengawasi makhluk astral ini"
Jin menunjuk Zane dengan jarinya
"Pertanyaan terakhir untuk Souji-kun"
Kata kelpsek
Zane bertanya:
"Apa itu Sensei?"
"Apa kau punya hubungan dengan Katsumi Souji dan Natsuki Souji?"
Tanya si kelpsek
Zane menggaruk-garuk kepalanya, bingung
"Mereka adik dan kakakku, sih... Memangnya kenapa?"
"Tidak. Mereka hanya murid terbaik sekolah ini, kuharap kau juga bisa"
Zane senyum pesimis
"Hehe. Saudariku lebih terkenal daripada aku"
Pikirnya
"Baiklah, kau sudah boleh pergi. Jin-chan, nanti ambilkan seragam untuk Souji-kun, ja?"
Jin menunduk sambil berkata:
"Baik, Sensei!"
Mereka berdua pun keluar dari ruang kelpsek
"Jin, sekarang rumah kita dimana?"
Tanya Zane
"Ikut aku"
Jin mulai berjalan duluan untuk menunjukkan jalan
Diperjalanan cukup hening, Zane pun membuka topik pembicaraan
"Apa kita satu kelas nanti?"
Tanyanya
Jin menjawab:
"Tidak, aku di kelas 10-E, kau dikelas 10-D"
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Jangan bodoh, tentu kepala sekolah memberitahuku karena aku anak emasnya. Ohoho!"
Jin tertawa layaknya Tuan Putri sombong
Zane tidak terlalu mempedulikannya
Mereka sampai di sebuah pintu
Jin memegang gagang pintunya
"Sebelum kau masuk, setiap kali kau tidak melakukan hal bodoh akan kubayar berapapun"
Tawarnya
"Jika aku sudah dibayar, tidak ada kembalian kalau aku melakukannya, mungkin?"
"Hmm. Akan kupertimbangkan"
Jin membuka pintunya
Anehnya, di dalam "rumah" milik Jin, lampunya menyala
Pada dasarnya, orang akan mematikan lampu jika ingin keluar
Kejanggalan ini membuat Zane curiga
"Ehem. Yoshi, Mama pulang!"
Seru Jin
Zane terkejut bukan main
"E-eh?! MAMA?! Jangan-jangan kau..."
Gumpalan bola bulu berwarna biru tiba-tiba melompat menuju Jin
Jin menangkapnya, dan gumpalan bola bulu itu berubah menjadi seorang gadis kecil berambut biru sedang memeluk Jin
"Mama, selamat datang!"
Seru gadis itu dengan riang dan gembira
"Maaf kalau Mama terlambat pulang ya"
Jin menurunkan gadis itu
Zane mulai tersenyum iseng
"Ohoho! Kau ternyata janda ya? Menarik, menarik!"
Godanya
Dengan biasanya Jin membalas:
"Jangan bodoh, orang-orang disini sudah tau aku dan Yoshi"
Yoshi mulai menatap Zane
"Mama, apa orang ini Papa Yoshi?"
Yoshi menunjuk Zane dengan lugunya
Zane hormat ala pelayan
"Buenos días, Yoshi. Selamat bertemu Papa-mu yg baru!"
Sapanya dengan sangat family friendly
"B-bukan! Jangan dengarkan dia! Dia bukan Papa-mu! Dia pengemis nyasar!"
Jin mulai panik
Yoshi mulai menangis
"AKU MAU PAPA!!!"
Teriaknya sambil menangis kencang
Jin kebingungan cara menenangkannya bagaimana
Zane memegang bahu Jin
"Sudahlah, biarkan anak kecil melakukan apa yg dia mau"
Zane mulai menggendong Yoshi
"Yoshi Yoshi!"
Zane main angkat-angkatan dengan Yoshi
Melihat mereka akrab, Jin merasa senang
"Menjadi paman di usia muda sangat membantumu, bukan?"
Komen Jin
Zane mengedipkan sebelah matanya
"Papa, nama Papa siapa?"
Tanya Yoshi dengan polosnya
"My name is Souji, Zane Souji"
Jawab Zane dengan sok bahasa Inggris
"Nama Yoshi Yoshi!"
Yoshi memperkenalkan dirinya sendiri
Zane menurunkan Yoshi
"Jin... Aku punya pertanyaan pribadi soal Yoshi, jadi bisa kau rayu dia?"
Bisik Zane
Jin mengangguk
"Yoshi bisa ke kamar sebentar? Papa sama Mama mau mengobrol sebentar"
Pinta Jin sambil membelai rambut Yoshi
Tanpa basa-basi, Yoshi segera menuju kamarnya setelah mengangguk
Jin mulai duduk di kursi dapur
"Pertama yg akan kau tanyakan 'bagaimana?', kedua 'siapa?', kan?"
Jin seolah-olah membaca pikiran Zane
"Kalau kau sudah tau silahkan jawab"
Jin menghela nafas berat, dia terlihat sangat terpuruk ketika ditanyakan
Jin mulai menjelaskan:
"Yoshi sebenarnya bukan anakku dan itu jelas. Bagaimana aku mendapatkan dia waktu aku patroli sekitar 2 tahun yg lalu. Siapa orang tuanya, aku juga masih belum tau. Mereka terbunuh oleh Raider dan akulah yg menemukannya dan merawatnya selama dua tahun silam"
Zane melipat tangannya dengan alis diangkat karena tak percaya
"Huh... Cerita kelam masa lalu kurang dari 30 menit, aku berharap lebih layaknya anime sewajarnya yg memakan waktu 2 episode. Mungkin author miskin ide"
Komen Zane
Jin menggelengkan kepalanya
"Sebelum itu, kau jelaslan aku bagaimana para Sentinel punya kostum baja sedangkan aku hanya spandex!?"
Perintah Zane
Jin menjawab:
"Itu karena kau belum punya Motive"
"Motive? Maksudmu seperti Kamen Rider yg kebanyakan bermotif kumbang?"
"Ya begitulah. Mungkin itu lebih tepatnya dibilang motif, kalau ini Motive"
Zane duduk dikursi didepan Jin
"Bagaimana caranya, Matsunaga?"
Tanyanya dengan serius kali ini
Zane sudah siap Hero Device ditangannya
Jin dengan rendah hati mulai menjelaskan:
"Kau cari tombol yg bertuliskan 'Build' dulu"
Zane langsung menemukannya
Di layar, terdapat tulisan yg berupa "Armor", " Weapon", dan "Ride"
Tanpa basa-basi, Zane menekan yg "Armor"
"Lalu kau pilih bahan dasar kekuatanmu kalau sudah kau tekan Armor"
Jelas Jin lagi
Ada beberapa bahan dasar yg dimaksud, mereka adalah "Speed", "Strength", dan "Accuracy"
Ketiganya menentukan kekuatan Sentinel kedepannya
"Kalau kau yg mana?"
Zane bertanya
Jin menjawab:
"Aku memilih Strength, karena aku memerlukan kekuatan"
Zane memilih Speed, karena dia mementingkan kecepatan
Setelah dipilih, Zane diharuskan memilih motif lain yg berupa pilihan-pilihan hal berbasi flora, fauna, dan fiksi
Flora contohnya: tanaman, tumbuh-tumbuhan seperti Jin yg memilih bunga
Fauna contohnya: hewan, bahkan serangga juga dihitung
Fiksi contohnya: penyihir, monster, dan lain-lain
Ada banyak pilihan, Zane pun kebingungan apa yg harus dia pilih
Tanpa pikir panjang, dia memilih fiksi yg berupa penyihir
"Ingat, setiap bahan dasar dan motif akan mempengaruhi Skill!"
Jin memperingatinya
Setelah memilih semua yg ia mau, ada tulisan bertuliskan "Proceed"
Zane pun menekan tulisan itu
[Please Insert The Key Device To Initiate Next Step!]
Zane memasang Key Device ke dalam slot yg ada di Hero Device
[Key Confirmed!]
Suara A.I terdengar dari Hero Device
[Building: Armor!]
Dan muncul lah loading screen di layar Hero Device
Jin melihat jam yg ada ditangannya
"Ahh... Maaf kalau tidak bisa lama disini, jadwalku padat, aku harus menyiapkan makan siang dan mengambil seragam untukmu juga"
Jin berdiri
Zane melambaikan tangannya dan berkata:
"Tidak usah dipikirkan. Lakukan apa yg harus kau lakukan"
Jin tersenyum, mengangguk, dan berjalan keluar
"Tunggu! Bagaimana dengan Yoshi?!"
Tanya Zane sebelum Jin benar-benar keluar
"Tidak perlu cemas, dia anak baik kok"
Jawab Jin dengan wajah seperti senang
Dia keluar
"Kalaupun sudah dibilang dia anak baik, aku masih tidak bisa menahan diri untuk mengeceknya"
Pikir Zane
Dia segera berjalan menuju kamar Yoshi, dimana itu ada di lantai 2
Dia berhenti didepan pintu kamar
Zane mulai menguping dibalik pintu
Yg terdengar hanya suara Yoshi yg sedang mengobrol sendiri
Zane mengetuk pintunya
"Ah, masuk!"
Suara dari dalam memyambut
Zane membuka pintunya
Sebelum melihat Yoshi, dia melihat seisi kamar yg penuh akan hal-hal kekanak-kanakan seperti boneka
"Hai Yoshi"
Sapa Zane
"Hai Papa"
Sapa Yoshi balik dengan polosnya
Lalu dia bertanya:
"Ada perlu apa kesini? Mau main sama Yoshi?"
Zane tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
Zane malah menjawab:
"Apa Yoshi tidak kesepian ditinggal Mama sendiri?"
Yoshi menggelengkan kepalanya
"Tidak, Mama bilang Yoshi itu pintar! Yoshi kuat! Yoshi tidak menangis!"
Jawabnya dengan penuh semangat
"Tunggu disini sebentar ya"
Zane bergegas menuju lantai bawah dan mengambil koper mainannya
Dia kembali lagi dan masuk ke kamar Yoshi
Dia duduk dilantai dan menaruh koper mainan dilantai
"Papa, ini apa?"
Yoshi menggoyang-goyangkan tubuhnya Zane
"Ini? Hm hm hm"
Zane perlahan membuka kopernya sambil tertawa kecil
Setelah dibuka lebar, Yoshi langsung terkagum
"WAAAH! Keren! Ponsel lipat jadul!"
Seru Yoshi
Zane tersenyum penuh nostalgia
"Pada masanya ponsel lipat sangatlah epik, dan karenanya benda ini membuat ponsel lipat lebih epik"
Jelas Zane
Zane mengambil ponsel lipat dan memberikannya ke Yoshi
"Coba"
Tawar Zane
Yoshi memegangnya dan kebingungan
Dia membuka ponsel lipat itu
Di layar ponsel lipat itu, ada beberapa 3 digit kombinasi angka yg akan memunculkan suara
Tak henti terkagum, Yoshi bertanya:
"Keren Papa! Apa namanya?"
Zane mendekatkan wajahnya ke telinga Yoshi
"Karena takut copyright, aku tidak akan menyebutkannya. Akan kusebut dengan nama 555"
Bisik Zane yg tentu Yoshi yg kecil tidak paham banyak tentangnya
"Baiklah. Aku mau keliling-keliling dulu, kau main saja disini"
Zane berdiri dan keluar dari kamar
"Hati-hati, Papa!"
Seru Yoshi
Zane keluar dari "rumahnya" dan bersandar ditembok
Dia menghela nafas panjang
"Kenapa jadi begini?! Aku masih muda dan menjadi ayah dari anak yg baru kukenal?! Ini konyol, sangatlah konyol"
Pikir Zane yg sebenarnya merasa canggung
Dia melihat sekitar dimana sangatlah sepi
"Aku tidak terkejut kenapa seluruh murid tidak ada disini? Ini sudah masuk jam 11, sebentar lagi juga mereka pulang"
Pikir Zane
Dia mulai mengeksplorasi sekolah
Pertama dia ke bagian belakang gedung, dimana ada kolam renang disana
Dia memainkan airnya sebentar, lalu berjalan menjauh
Tanpa disadari jam berapa, bel pulang berbunyi
"Oh lihat, kiamat dimulai"
Pikir Zane dengan pikiran sarkas
Dia masih berjalan melewati beberapa kelas yg muridnya keluar dari dalamnya
Murid lain menatapi Zane dengan tatapan bingung sambil ngegosip sepertinya
Mungkin mereka bingung kenapa ada anak jalanan bisa masuk kedalam sekolah mereka
Zane tidak terlalu mempedulikannya karena sifat acuh tak acuhnya
Dia terus berjalan dan berjalan, sampai pada akhirnya dia berhenti karena melihat seseorang
Dia melihat adik perempuannya, Natsuki Souji, yg dimana Natsuki sendiri tidak melihat Zane
Lalu kakak perempuannya terlihat datang mendekati Natsuki dan mengobrol
Berbeda dengan Natsuki, Katsumi menyadari keberadaan Zane
Dia terlihat memberitahu Natsuki dari kejauhan dan menunjuk Zane
Natsuki menengok ke arah Zane
Zane langsung memakai kacamata hitam dan berdiri tegak
Natsuki terlihat senang dan berlari ke arah Zane
"ZA-NII!!!"
Teriaknya dari kejauhan sambil berlari
Ketika Natsuki hendak memeluknya, Zane mengangkat telapak tangannya, tanda untuk berhenti
Natsuki berhenti dan kebingungan
"Apa ada yg bisa kubantu?"
Tanya Zane dengan suara robot
Natsuki tertawa
"Jangan bercanda, Za-Nii! Aku tau ini kau!"
Natsuki memukuli Zane pelan
"Salah. Namaku Z4N, atau lebih mudah disebut Zane"
Jawab Zane yg masih dengan nada robot dan gerakan robot
Natsuki masib tertawa:
"Ehehe! Terminator, eh?"
Godanya sambil menyikut-nyikut Zane
Zane memegang tangannya Natsuki
"Dan kau akan diterminasi"
Kata Zane dengan sangat mengintimidasi sampai-sampai murid lain menganggapnya serius, begitu juga dengan Natsuki
Dia mulai ketakutan seakan pingin menangis
Zane mendekatkan wajahnya ke wajah Natsuki
Dia membuka kacamata hitamnya
Dia mendesah aneh:
"Aeugh!"
Zane tertawa terbahak-bahak, meskipun murid lain terdiam
Mereka mulai melanjutkan aktifitas mereka
"Za-Nii... BODOH!!!"
Natsuki memukul ***** Zane
"Mmp!"
Zane langsung berlutut karena saking sakitnya
Katsumi sampai didekat mereka
"Kau baru saja membunuhnya, Natsuki! Dia tidak bisa kawin!"
Dia memarahi Natsuki
Natsuki mulai menunduk malu dan bersalah
"M-maaf... Habisnya dia menyebalkan"
Katanya meminta maaf
Zane mengangkat kepalanya dengan wajah aneh
Zane dan Katsumi berkata bersamaan:
"Tapi bohong!"
Mereka tertawa terbahak-bahak
Wajah Natsuki memerah, pipinya mengembung cemberut
Dia berjalan meninggalkan mereka tanpa sepatah-kata lagi
Zane mulai berdiri
"Jadi, pada akhirnya kau menang Gacha juga, ah?"
Tanya Katsumi dengan bangganya
Zane hanya memberikan ibu jari
Katsumi mengelus kepalanya Zane sambil memuji:
"Anak pintar"
Zane cekikikan sendiri
"Ngomong-ngomong... Siapa teman sekamarmu? Dan bagaimana kau bisa dapat Device?"
Tanya Katsumi
Zane menjawab:
"Jin Matsunaga"
Komen Katsumi sambil memegang dagunya
"Biar kutebak, dia juga murid terbaik sekolah ini? Dan biar kutebak lagi, Natsuki murid terbaik deretan SMP, kau dan Jin murid terbaik deretan SMK?"
Zane menebak dengan sarkas
"Biasalah!"
Jawab Katsumi dengan senyum meledek
Katsumi bertanya lagi:
"Bagaimana kalau soal Device?"
Zane menjawab:
"Aku dapat Device dari Nee-chan"
Katsumi terkejut bukan main
"T-Tuan Putri Vince memberikannya kepadamu?! BAGAIMANA!?"
Zane mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya
"Dia pun tidak memberitahu bagaimana dia mendapatkannya. Bercandanya sih dia membeli seluruh Phantom Coorporation"
"Hahaha! Dia pasti bercanda!"
Kata Katsumi yg sama tidak percayanya
"Baiklah, aku mau lihat Natsuki dulu. Bye"
Katsumi berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya
Zane ikutan, tapi hanya sesaat
Dia mulai berjalan-jalan lagi, mengeksplorasi sekolah
Dia sampai di atap sekolah, dimana hanya ada suara angin kedamaian
Zane menarik nafas lalu membuangnya lewat lubang *****, alias kentut
Barulah dia menghela nafas dengan wajah orang idiot
"Atmosfer sekolah ini membuatku tidak nyaman. Aku merasakan ada tantangan yg menungguku setiap detiknya"
Pikir Zane
Zane memutar balik arahnya, dan tanpa ia sadari, ada seorang gadis berambut putih di samping pintu masuk atap sekolah
Kelihatannya dia sedang makan siang
Zane dengan lancangnya mendekati gadis itu
"Apa yg kau lakukan?"
Tanya Zane yg mengejutkan gadis itu
Gadis itu tergagap-gagap dengan wajah merah malu
"Tenanglah, cewek! Aku kesini bukan untuk merampokmu!"
Kata Zane
Zane memperhatikan gadis itu, dan diwajahnya ada penutup mata dibagian mata kiri
"Souji, Zane Souji namaku"
Zane memperkenalkan diri
Gadis itu dengan suara pelan menjawab:
"Hibiki..."
"Hai Hibiki, salam kenal. Boleh aku duduk disini?"
Tanya Zane
"E-eh?! Ahm... Ano... Mmm..."
Gadis itu tergagap-gagap lagi
"Kalau tidak boleh tidak apa"
Potong Zane
"Ti-tidak kok! Silahkan-silahkan!"
Hibiki memperbolehkan Zane
Zane duduk
"Sendirian saja? Kenapa tidak bersama yg lain?"
Tanya Zane dengan lantangnya
Hibiki menjawab dengan suara pelan:
"Aku tidak punya teman"
Zane menghela nafas
"Carilah teman! Aku juga sebelumnya tidak punya teman, tapi aku berusaha mencari teman"
Zane menyuruhnya
"Bukan itu masalahnya!"
Bentak Hibiki
"Lalu apa?!"
Zane menaikkan suaranya
Hibiki mulai menjelaskan:
"Bukan masalah aku berusaha mencari teman... Tapi apa aku bisa mencari teman. Aku... Aku takut mereka... Memusuhiku"
"Memusuhi? Apa karena matamu?! Ada apa dengan matamu?"
"Mataku tidak ada hubungannya! Aku hanya tidak mau mereka terluka lagi"
Zane terdiam dan mulai terlihat serius
"Tapi sebenarnya ada apa dengan matamu kananmu?"
Tanyanya
Hibiki mulai menjelaskan:
"10 tahun yg lalu keluargaku diserang oleh para Raider, mereka berhasil melukaiku sampai ke titik aku kehilangan mata kananku"
Zane terdiam lagi
"Sebelumnya maaf kalau pertanyaanku jatuhnya pribadi. Siapa nama panjangmu?"
Hibiki memberanikan diri untuk menjawab dengan lantang
"Hibiki Itsuki!"
Zane mulai terkejut setengah mati
"H-Hibiki ITSUKI?! HIBIKI-CHAN?!"
Nampaknya Zane sudah kenal
Hibiki tersenyum
"Iya, ini aku Hibiki, Souji-san"
Zane tersenyum penuh kebahagiaan
Dia memegang tangannya
"HIBIKI-CHAN! LAMA TAK BERJUMPA!"
Dia menggoyang-goyangkan tangannya Hibiki
Hibiki tersenyum canggung
"Maaf aku tidak ada disana sewaktu Raider menyerangmu. Sudah 10 tahun kita tidak berjumpa, syukurlah kau masih hidup"
Zane seakan ingin menangis karena saking senangnya
Dia menghapus air matanya sebelum mengalir
Hibiki hanya bisa tersenyum melihatinya
Zane mulai penasaran dan bertanya:
"Apa yg sebenarnya terjadi 10 tahun terakhir, Hibiki-chan?"
Hibiki mulai murung
Sambil murung, dia menjelaskan:
"Tepat setelah Raider menyerangku, aku mulai tidak berani berkumpul dengan siapapun lagi. Aku habiskan hidupku dirumah hanya dengan membaca buku, menonton vidio, TV, dan hal-hal yg tidak membuatku jenuh. Pada akhirnya, aku mendapat Hero Device dan menjadi Sentinel, dan aku pun pergi ke sekolah ini... Sayangnya aku tidak mau berteman lagi..."
Zane mulai merasa bersimpati kepadanya
"Hibiki-chan... Aku tidak bisa melakukan apa-apa, tapi aku bisa mengubah sesuatu. Sebelumnya... Maaf aku tidak ada disana ketika kau dalam bahaya. Tapi, kau harus mencari teman agar bisa meminta bantuan"
Zane mulai menyemangatinya
"Tidak... Terakhir kali aku berteman, dialah penyebab aku kehilangan mata kanan"
Hibiki menolaknya
Zane makin bingung
Dia bertanya:
"Jadi Raider yg menyerangmu adalah temanmu sendiri? Ya... Aku masih ingat anak-anak yg membully-mu dulu"
Hibiki mengangguk
"Bertemanlah, tapi jangan terlalu menaruh kepercayaan kepada siapapun termasuk dirimu sendiri"
Zane berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan Hibiki sendirian
Hibiki mulai memikirkan perkataan Zane lebih dalam
Sementara itu, Zane baru turun dari tangga
Dia mulai melihat kakinya sendiri
Dia mulai menendang-nendang angin, mumpung tidak ada siapa-siapa yg melihat
"Hmm... Sepertinya aku perlu melatih kaki-kakiku. Siapa tau suatu saat nanti aku hanya bisa pakai kaki, dan tanganku patah"
Pikir Zane dengan ide terkesan absurd
Zane mulai berjalan menuju lapangan indoor, siapa tau dia menemukan yg dia cari
Dia menemukannya, dan benar saja dia menemukan apa yg dia cari
Tidak... Secara harfiah untuk kata "menemukan apa yg dia cari" tapi setidaknya dia sampai ditempat yg dia tuju
Dia masuk ke dalam lapangan indoor yg sudah ramai para cowok sedang latihan sepak bola
Bukannya ke arah para laki-laki, dia malah mengarah ke perempuan yg ada dipanggung
Mereka terlihat seperti orang-orang eskul tari
"Hei Nona, aku perlu bantuan disini!"
Seru Zane yg berhasil mengambil alih perhatian salah dua anggota eskul dimana mereka adalah seorang gadis
Kedua gadis itu menengok ke arah Zane, dimana hal itu yg membuat Zane bingung
Zane bingung bukan main karena mereka berdua terlihat sama, lengkap dengan gaya rambut dan rambut yg berwarna merahnya
"Aku... Punya... Perasaan aneh... Yg berhubungan dengan... Mata minus, karena aku melihat dua orang sekaligus"
Kata Zane seperti orang mabuk
Kedua gadis itu saling menatap satu sama lain dan tertawa
Zane baru tersadar sesuatu dan membantah sendiri:
"Tunggu sebentar! Kalian berdua kembar, bukan masalah mata!"
Kedua gadis kembar itu berhenti tertawa, yg satu melipat tangannya, yg satu terlihat seperti peran support
"Apa ada yg bisa kubantu?"
Tanya yg terlihat ramah
Zane tersenyum meringis
Dia bertanya
"Iya, siapa nama kalian sebelum aku lanjutkan ini?"
"Hmph! Kepo banget sih!"
Yg melipat tangannya membuang muka
"Hoho! Tipikal Tsundere brengsek"
Goda Zane dengan wajah songong
"APA KAU BILANG?!"
Yg Tsundere hendak turun dari panggung untuk memukul Zane, tapi saudari kembarnya menahannya
"Sudahlah Onee-chan!"
Si kakak mulai tenang
Si adik mulai memperkenalkan diri dengan sopan:
"Salam kenal, namaku Daiko Kuromiya, dia kakak kembarku Daiki Kuromiya"
Zane mulai memperkenalkan diri balik:
"Souji, Zane Souji. Salam kenal"
"Souji? Apa kau ada hubungan dengan Katsumi Souji dan Natsuki Souji?"
Tanya Daiki yg penasaran
Zane menjawab:
"Mereka adik dan kakakku"
Daiki be like:
"Ooh..."
"Jadi, Souji-san, apa yg bisa kubantu hari ini?"
Tanya Daiko dengan ramah
Zane mulai menjawab dengan agak malu:
"Jadi begini, kalian kan eskul nari ato dansa ato apalah itu. Aku mau melatih kelincahan kakiku, kalian yg sudah mahir pasti bisa dong mengajariku"
Daiko langsung setuju
"Boleh, boleh"
"Tunggu Daiko! Jangan langsung menerima tanpa izinku saja!"
Daiki tidak setuju
Daiko mulai membujuk kakaknya:
"Ayolah Onee-chan, makin ramai makin seru"
"Tapi dia itu laki-laki sendiri tau!"
"Itu urusannya, dia yg mau dia yg menanggung"
Daiki menghela nafas atas kekalahan debatnya
"Aku memang selalu kalah jika bicara denganmu"
Daiki menerima kekalahannya
Daiko tersenyum lebar
"Terima kasih Onee-chan!"
"Jadi... Bagaimana?"
Tanya Zane yg menunggu mereka berhenti debat
"Besok jangan sampai terlambat! Jika kau terlambat satu nanosecond saja, kepalamu akan kupenggal!"
Ancam Daiki yg tidak membuat Zane takut sama sekali
"Iya, terserah"
Zane berjalan menjauh
"AWAS!!!"
Cowok eskul bola berteriak
Sebuah bola melayang ke arahnya
Zane berputar 360 derajat dan menendang bola itu
Dia menendangnya dengan style
Bola itu melayang balik menuju gawang dan gol
Siswa eskul bola yg ada disana mendekati Zane
Zane menggesek-gesek sepatunya ke lantai
"Phew... Tadi hampir saja!"
Kata yg teriak tadi
"Lain kali hati-hati kalau menenendang bola, Senpai"
Zane berjalan keluar dari lapangan sesudah berkata ucapan sarkasnya dan wajah yg kurang mengenakan
"Apa-apaan orang itu?!"
"Sombong sekali"
"Perlu dihajar"
"BPJS kan ditilang"
"Mobilnya bakwan"
Itulah ecaman dari siswa eskul bola
Yg tadi teriak mulai menenangkan mereka:
"Dibawa santai sobat. Dia mungkin kesal karena bola tadi hampir melukainya"
"Tapi kapten... Dia kurang ajar"
Salah seorang anggota menolak untuk ditenangkan
"Itu salahmu, Mishima"
Si kapten menunjuk yg ngomong tadi
"Aki, apa anak tadi benar-benar mencetak gol dari kejauhan?"
Tanya Daiki dari kejauhan
Si kapten yg dipanggil Aki menjawab:
"Iya, dia hebat. Kau memang sepatutnya menerimanya di eskul menarimu, Daiki"
Para cowok mulai melanjutkan main bolanya
"Kau dengar tadi? Dia bisa menjadi peluang kita untuk mengembangkan eskul menari kita"
Kata Daiko seperti sedang menyusun rencana jahat, muehehehe!
Sementara itu, Zane yg baru keluar dari lapangan mulai berpikir lagi:
"Kurasa ikut eskul sepak bola juga bagus untuk melatih otot kaki. Baiklah, sekarang aku punya eskul menari untuk kelincahan kaki dan eskul sepak bola untuk kekuatan"
Zane melanjutkan eksplorasinya
Tanpa dia sadari, dia berjalan menuju aula yg terkesan angker
Dari kejauhan terlihat ada tulisan "ruangan eskul musik", tapi disekitar tidak ada siapa-siapa
Hanya ada suara angin yg terdengar, itupun terkesan horror
"Yup, kurasa Easter Egg pasti ada disini, tapi aku bukan pemburu Easter Egg"
Zane menjauh dari aula angker layaknya seorang pecundang
"Hei! Jangan memaksakan kehendakku, author! Aku disini yg mengatur, bukan kau!"
Bentak Zane
Belum sampai beberapa langkah, dia mendengar suara biola yg cantik
Suara itu terdengar dari dalam "ruangan eskul musik"
Dengan kesalnya, Zane bergumam:
"Sumpah demi apapun, aku membencimu author-ku tersayang"
Dia mulai mendekati suara itu
Perlahan tapi pasti, Zane akhirnya sampai di samping pintu
Dia memilih untuk tidak langsung nyelonong masuk, tapi mendengarkan musiknya
Beberapa saat berlalu, musik pun berhenti
"Sepertinya dia mencari lagu yg lain"
Zane mengintip dari balik pintu
Terlihat gadis berambut hitam dengan anggunnya bermain biola
Bahkan Zane yg keras kepala pun sampai dibuat luluh hatinya karena paduan kecantikan si gadis dan suara biolanya
Zane mulai tersenyum jahad karena punya ide
Dia mengambil mainan harmonika mulut dari kantongnya
Dia mulai membersihkan tenggorokannya
Dia menyalakan harmonika mainan itu dimana benda itu mengeluarkan lagu
Zane pura-pura meniupnya seolah-olah dia memainkan sebuah lagu
Suara musik dari harmonika mainan Zane berhasil menarik perhatian gadis yg ada di dalam
Gadis itu membuka pintunya dan melihat Zane sedang lewat, atau pura-pura lewat
"Dibalik sebuah musik ada perasaan pemainnya ketika memainkannya. Setiap suara yg keluar dari instrumen terkadang menggambarkan bagaimana perasaan si pemain. Bukankah begitu?"
Zane mau sok jadi bijak
Si gadis musik malah terlihat curiga
Zane memperkenalkan dirinya:
"Zane Souji namaku, mencari kesenangan adalah kesukaanku. Aku anak baru disini"
Si gadis mulai angkat bicara
"Kau... Punya hubungan dekat dengan Katsumi Souji dan Natsuki Souji?"
Zane mengangguk sedikit
"Mereka adik dan kakakku"
Jawabnya dengan suara "cool"
Si gadis merespon dengan:
"Begitu ya..."
Lalu dia memperkenalkan dirinya:
"Namaku Viola Ongaku, aku kelas 12-A"
"Berarti Senpai! Mohon bimbingannya"
Zane menunduk hormat
"Tidak perlu formal, kita keluarga disekolah ini"
Balas Viola dengan rendah hatinya
Zane melihat-lihat sekitar
"Dinilai dari penampilan, ruangan ini setidaknya dihuni satu-dua orang... Dan kelihatannya tidak ada orang lain selain kau yg ada disini, padahal kalau bicara soal musik, eskul musik terkenal dikalangan siswa"
Komen Zane
Viola masuk ke dalam sambil berkata:
"Tidak ada dan tidak akan pernah ada. Mereka takut denganku"
Zane mengikutinya dengan santainya
"Mungkin karena atmosfer disini terasa seperti malam Jum'at kliwon, pulang lewat kuburan, dan lihat cewek berambut panjang duduk diam diatas batu nisan. Bukannya menjelek-jelekkan tapi faktanya berdiri disini rasanya bikin bulu jem... Pol merinding"
Balas Zane
Viola tidak tersindir, malah menerimanya
"Tidak apa-apa. Memang banyak yg bilang disini angker, bahkan banyak yg bilang mereka melihat penampakan padahal itu aku"
Zane mulai membeku ngeri sambil menatapi Viola dengan wajah pucat
"Memang kau sendiri yg angker, bukan tempatnya"
Pikirnya
"Ngomong-ngomong... Bagaimana caramu melakukannya?"
Tanya Viola, mengganti topik pembicaraan
"Oh!"
Zane menunjukkan harmonika mainannya
Zane menjawab:
"Sebenarnya aku pakai ini"
Viola makin penasaran
Dia pun bertanya:
"Bagaimana cara kerjanya?"
Zane mulai menjelaskan:
"Sebenarnya ini adalah mainan premium Ban- ehem! Mainan yg diadaptasi dari salah satu seris Tokusatsu terkenal di Jepang setelah Gojira. Ultraman"
Zane menekan tombol untuk memulai lagu
"Dengar? Ini sebenarnya rekaman lagu yg dimainkan protagonisnya"
Kata Zane
Tanpa dia sadari, Viola sebenarnya tidak mendengarkan, melainkan terlihat kurang senang dengan menundukkan kepalanya
Zane mulai bingung kenapa tidak membalas
Dia pun bertanya karena khawatir:
"Senpai? Kau sakit?"
Viola menjawab dengan bergumam:
"Kau yg membuatku sakit... Muak..."
Zane tidak terlalu kedengaran dan bertanya lagi:
"Maaf, bisa diulang? Aku tidak dengar"
"Kalau begitu kubuat kau TIDAK BISA MENDENGAR!"
Entah dari kekuatan apa, Zane terpental karena hempasan angin
Zane mencoba untuk tidak sampai menabrak tembok dan berhasil
Zane mulai terkejut karena serangan tiba-tiba ini
"Kau mempermainkanku seperti mempermainkan musik, sekarang kubuat nyawamu mainanku"
Viola memasang Key Device ke dalam Hero Device
[Ready!]
Entah bagaimana caranya, Viola terbang seperti sedang kerasukan
Hero Device-nya pun terbang sendiri menuju lengan Viola
[Transformation!]
Dari belakangnya, muncul bayangan hitam raksasa yg memakan Viola
"Dia sudah tidak waras"
Pikir Zane yg dia tidak takut
Atmosfer sekitar benar-benar menjadi suram dan gelap
Bayangan hitam meledak, menampilkan wujud Sentinel Viola yg terkesan demonic dengan warna hitam pekatnya
Di tangannya ada biola dan penggeseknya, aku lupa namanya
Dia menjunjuk Zane dengan alat penggesek biola
"Kenapa kau tidak berubah, fana?"
Tanyanya
Zane dengan entengnya menjawab:
"Aku bahkan tidak perlu berubah untuk memukulmu"
"Mari kita lihat apa plot armor-mu bekerja"
Lalu dia memainkan biolanya
Kini, lagunya terkesan intens dan horror
Tangan-tangan semu bayangan keluar dari belakang Viola
Zane mengambil meja yg tepat ada dibelakangnya dan melemparnya untuk menghindari serangan
Dengan cepat, dia mengecek kantongnya
"Gawat! Device-ku ketinggalan sewaktu aku membuat Motive!"
Tangan semu mulai menyerang lagi
Karena Zane belum cukup mahir dalam bertarung, dia hanya bisa menghindar dan menghindar
"Kita bisa membicarakan tentang ini, sayang!"
Kata Zane untuk menenangkan Viola
"Kita bicara di neraka NANTI!"
Tangan semu meluncurkan pukulan kali ini
Zane berguling mundur dan mengambil meja yg tadi untuk dijadikan tameng
"Sayang, maafkan aku kalau tadi aku berbohong! Aku menyesal membohongi wanita pemuja setan sepertimu!"
Zane terus meminta maaf
Zane menaruh meja yg dia pegang dengan posisi bertahan, jadi dia bersembunyi dibalik meja
[Skill: Gus Feist]
Mendengar itu, Zane sadar ini adalah akhir dari hidupnya
"Sial!"
Gumamnya
Viola menarik semua tangan semunya
"Kau tau, aku sangat ingin belajar musik, karenanya aku hanya bisa membeli mainan harmonika"
Kata Zane yg berhasil membuat Viola tenang
Zane melanjutkan pembicaraannya:
"Sebenarnya, musik itu tergantung yg memainkannya. Dinilai dari suara yg keluar dari biolamu, kau sedang dalam depresi dan kesedihan berat, bukan?"
Viola langsung terdiam
"Biar kutebak, kau memainkan musik hanya untuk menenangkan diri. Sebenarnya itu tidak salah, hanya saja mengurangi performa bermainmu, Senpai"
Mendengar itu lagi, Viola mulai merenung
Dia berubah pikiran dan mengeluarkan tangan semu raksasa untuk memukul Zane
"Cih! Showdown terakhir!"
Zane melempar mejanya kearah tangan raksasa
Tangan raksasa mengenai mejanya, dan inilah kesempatan Zane untuk menghindar
Zane melompat kesamping guna menghindari serangan
Tangan raksasa memukul lantai, menyebabkan ledakan
Setelah ledakan terjadi, hanya asap yg menutupi mereka
Mereka berdua sama-sama batuk
Viola melihat siulet Zane dari dalam asap
Dia pun hendak memainkan biolanya, tapi Zane memegang tangannya dengan cepat
"Sebagai tanggung jawab, aku akan ikut eskul musik ini"
Kata Zane
"Dan mengajarimu seni musik?"
Tanya Viola
Zane menjawab dengan tegas:
"Deal!"
Mereka hendak bersalaman
"Tidak ada timbal-balik, mungkin?"
Tanya Zane yg tidak jadi bersalaman
"Mmm... Akan kupikirkan 4 kali"
Jawab Viola
Mereka bersalaman
Viola tersenyum, sedangkan Zane terlihat tidak senang
Tiba-tiba, Zane merasakan pusing membuatnya ingin pingsan
"S-Souji! Kepalamu!"
Viola panik menunjuk kepala Zane yg berdarah
Zane memegang jidatnya dan melihat darah dijarinya
"Ooh...! Demi keringat ketiak Tuan Krab-"
Zane terjatuh pingsan
Viola mulai panik dan memilih untuk menggoyang-goyangkan tubuh Zane sambil berteriak:
"Souji! Souji bangun! Souji!"
Usahanya sia-sia, Zane tak kunjung bangun
Dia memegang wajahnya, malu akan dirinya sendiri
"Aku terlalu berlebihan"
Beberapa jam berlalu, kini sudah masuk jam malam
Zane terbangun dari tempat tidurnya
Dia duduk dan memegang kepalanya, dan ada perban melingkari kepalanya
"Sumpah demi pantat beruk, kalau Jin yg memindahkanku, aku akan gantung diri"
Pikir Zane yg memucat ketika membayangkan seberapa kuat Jin bisa memindahkan Zane dari ruang eskul musik ke kamarnya
Dia mulai beranjak dari tempat tidurnya
Dia berjalan keluar dari kamarnya
Dia sampai diruang tengah dan melihat Jin masih bangun walau ditengah malam
Jin sedang duduk di dapur dengan sebotol minuman entah apa dimeja
Zane pun bertanya:
"Masih belum tidur?"
Jin terkejut sedikit dan menengok ke arah Zane
"Belum, insomniaku kambuh"
Jawabnya
Zane mengangguk-angguk paham
"Bagaimana kepalamu?"
Tanya Jin yg khawatir
Zane pun menjawab:
"Masih sakit, tapi mendingan"
Jin tersenyum manis
"Lain kali jangan membuat masalah dengan Viola-Senpai lagi, ya?"
Pintanya dengan lembut
"Kau kenal setan itu?"
Tanya Zane yg sedikit terkejut
Jin menjawab:
"Tentu aku kenal, siapa yg tidak kenal Viola. Tapi hanya aku yg berani mengobrol dengannya"
Zane pun berjalan keluar dari kos-kosannya
Dia melihat bulan bersinar terang dengan suasana hening malam
"Hei..."
Zane memutar balim arahnya setelah mendengar seseorang memanggilnya
Ternyata dia Viola
"Senpai? Sudah malam masih belum tidur?"
Tanya Zane yg khawatir
Viola mulai senyum-senyum sendiri
"Belum"
Jawabnya singkat
"Hei, maafkan aku kalau aku berlebihan tadi. Aku paling tidak terima kalau seseorang menjelek-jelekkan seni musik"
"Tidak apa-apa, aku juga tidak tau kalau kau orangnya sentimen. Hei, tidak bermaksud menyinggung!"
"Soal besok, kau bisa ikut eskul musik sebisamu saja, jangan memaksakan diri"
"Roger, roger"
"Baiklah. Sampai jumpa besok"
Viola berjalan meninggalkan Zane sendiri
"Seharusnya kau bisa memberikanku plot armor, tapi tidak! Kau tidak pernah memberikanku apa yg kumau, AUTHOR!"
Zane mulai kesal sendiri dan memukul-mukul nendang-nendang angin