
Dikamarnya Aira masih bergulat dengan fikirannya, bayangan keakraban Daniel dan Rain masih terus berputar. Aira tak bisa memungkiri bahwa ia merasa cemburu dengan kedekatan mereka.
Tak selang berapa lama, pintu kamarnya diketuk seseorang. Aira dengan malas membukakan pintu, dan ternyata Rain sedang berdiri di hadapannya dengan sepiring cake ditangannya.
“ kamu dicariin yang lain tuh dibawah “ Aira memandang kakaknya geli, ia masih tak habis fikir mempunyai seorang kakak yg sama sekali tidak memikirkan penampilannya.
Bahkan Rain sekrang bisa berbicara dengan cake yg penuh di mulutnya, dan jari – jarinya yang penuh cream sama sekali tidak membuat Aira risih.
“ ya sudah turun sana, emang gak bisa lewat HP aja apa?. Sampai harus repot pakai naik segala “ Aira berlalu menuju meja kerjanya dan menggapai telpon selulernya.
“ hehehe.... HP ku dipakai si kudanil main game “ Rain berbicara dengan senyum lebar tanpa beban, berbeda dengan Aira yg menatapnua datar.
Mereka berdua pun turun kebawah, disana terlihat Darren, Ray dan Daniel sedang berbicara sambil tertawa renyah. Lain halnya dengan Abigail yang sedang sibuk menyiapkan beberapa makanan ringan untuk mereka.
“ Rain... Jorok banget sih kamu, cuci tangan sana “ Abigail menegur putrinya yang sibuk menjilat jarinya satu persatu.
“ Iya mommm.. Tapi ini nikmat tau” Abigail yg melihat tingkah putrinya pun hanya bisa menghilangkan kepalanya. Dia memiliki dua putri yang sangat bertolak belakang sifat nya.
***
Hari sudah hampir menjelang malam, kini diruangan yang cukup luas itu Daniel, Ray, Rain dan Aira sedang sibuk masing\-masing. Daniel sibuk dengan gamenya, Ray entah sedang sibuk mengetik apa di handphone nya, Rain masih setia dengan cemilan di tangannya. Namun Aira hanya sibuk memandang Daniel, entah apa yg sedang dia fikirkan sekarang, mungkin dia sedang berfikir bagaimna membuat Daniel berbicara dengannya.
“ Ada yang ingin eskrim? “ Aira sudah siap bangkit dari tempat duduknya.
“ Vanila” Rain menyahut walau masih sibuk dengan beberapa chips di mulutnya.
Aira pun langsung menuju ke dapur, sambil bersenandung ringan dia menyiapkan eskrim pesanan kedua kakaknya. Namun suara seseorang menghentikan aktivitasnya.
“ Jangan memandangku seperti itu lagi “ suara Daniel terdengar santai namun kesan peringatan keras untuk Aira. Daniel mengambil alih eskrim vanila di tangan Aira dan menggantikan tugasnya.
“ Kenapa tidak? Bukankah itu hak ku? “ Aira menata es krim coklat milik Ray di gelas sajinya dengan sangat pelan, seakan mengulur waktu.
“ Aira.... Berhentilah “ kini Daniel menatap intens Aira.
Aira yang mendengar kalimat itu dan bahkan tatapan intens dari Daniel hanya bisa memberikan senyum kecilnya.
“ huh... Kenapa? Setelah 7 tahun aku harus mendengar kalimat itu lagi. Apa ada seseorang yang sedang dekat denganmu? Atau sedang kamu sembunyikan dari ku? “ Aira menahan semua rasa kesalnya sekuat yang ia mampu.
“ ini tidak sehat untuk mu... Aku tak mau kamu terjebak dalam situasi seperti ini selamanya” Daniel mencoba memberi pengertian kepada gadis di hadapannya.
“ huh.... Aku akan merubah pendirian mu itu, dan jangan pernah melarangku” Aira bergegas menata kembali eskrim yang hampir mencair.
“ Aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini, kamu sudah melakukan semua ini selama 7 tahun. Dan aku masih sama Ra, masih menganggap mu seperti dulu. Aku juga tak mau menyakiti mu lebih dari ini kedepannya. “ Aira hanya diam di tempatnya, sambil menggenggam erat emosinya.
“ Jika kamu tak mau berhenti maka aku yang akan memaksa mu berhenti “ Daniel pun mengambil alih eskrim yang ada di hadapan Aira dan kembali kemana Ray dan Rain menunggu mereka.
Aira mengikuti dari belakang dengan diam dan langsung pamit dengan alasan sudah terlalu lelah.