Yours

Yours
BERLARI



 


“ Aira, sendiri aja” Aira menoleh dan melihat laki-laki memakai seragam Sekolah Menengah Swasta yang bergengsi, tatapan yang tajam dan jarak mereka yang begitu dekat membuat Aira terpana seketika.


“ eh.. iya kak, lagi nunggu kak Ray dan Rain” Aira menjawab dengan tenang dan menjauhkan jarak mereka, namun gadis 10 tahun itu tak bisa menyembunyikan rona dipipnya.


“hmm.. ya udah kakak pulang dulu ya. Nunggunya didalam mobil saja, jangan dihalte bahaya” Daniel tersenyum manis padanya dan melangkah menuju motor yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri.


“ oh ya.. Ra” Aira yang merasa terpanggil pun kembali menoleh ke ara Daniel yang kini masih tersenyum padanya.


“ jangan biarkan orang lain melihat senyummu itu” Daniel mengedipkan sebelah matanya dan langsung memakai helmnya serta melajukan motornya, dan sialnya Aira masih terpinga\-pinga dengan kalimat Daniel barusan. Bahkan dia menyentuh wajahnya merasakan apa dia tersenyum tadi, dan dnegan cepat dia berlari menuju mobil yang terparkir di samping halte yang ia duduki tadi.


 


Aira baru menyadari bahwa sahabat kakaknya itu cukup tampan, dan senyumnya menyita sebagian imaginasi Aira. Untuk sesaat Aira masih menganggap bayangan itu adalah mainan pikirannya*.


 


“ Aira... ra ... ra” Rain mengoyangkan bahu Aira kuat hingga siempunya menoleh dan menghela nafas sedikit keras.


“ apaan kak?” Aira mengeluarkan suara malasnya.


“ ya ampun, mikirin apa si adik ku yang genius?” pertanyaan Rain tak dijawab oleh Aira, karena menurut Aira itu membuang\-buang tenaga.


“ Daniel manggil kamu tuh” Rain masih menyantap cakenya, Aira yang mendengar nama Daniel di sebut memandang kakaknya dan melihat sekeliling mencari nama yang disebut.


“ ponselmu dari tadi berdering, tertera nama Daniel. Sudah lebih dari 3 kali berdering tapi kamu tak mengangkatnya” Aira langsung berlalu membawa ponselnya dan Rain tetap dengan tenang menikmati cakenya.


 


Aira menuju kelantai dua restaurant itu dimana pemandangan malam disajikan dengan apik, disana juga terdapat bebearpa meja untuk tamu. Aira menekan nama Daniel dan menekan simbol panggil di layar ponselnya.


 


“ halo, ada apa kak?” Aira menghela hafasnya pelan.


“kamu dimana? Aku ke meja Rain tapi kamu tidak ada” Aira tersenyum tipis bahkan hanya sekilas.


 


“ Aira diatas” dan panggilan terputus begitu saja.


 


“ kurang kerjaan banget” Aira memundurkan wajahnya yang sesaat tadi terasa hangat.


“ hahaha, kamu serius banget tau nggak Ra.... coba sekali\-kali rileks, nikmati apa yang ada di depanmu?” Daniel dengan wajah jailnya, dan Aira menaikan sebelah alisnya. Seketika terlintas ide membalas Daniel.


“menikmati? Apa aku terlalu serius?” Aira perlahan memajukan wajahnya kearah Daniel, namun Daniel masih pada posisinya. Hanya saja wajah mereka berdua masih sama datarnya.


“ bagaimana caranya Ra menikmati apa yang ada dihadapan Ra? Apa ada cara yang sepecial?” Kini wajah Aira cukup dekat ke Daniel walau Aira hanya setinggi pundak Daniel.


“ haruskah aku mengajarinya?” Daniel sekarang membalas perbuatan Aira dengan sedikit menunduk dan Aira yang kaget dengan tindakan Daniel pun tak bisa mengimbangi diri dan mau tidak mau dirinya limbung karena terlalu cepat melangkah mundur.


Aira sudah menutup matanya dan bersiap merasakan sakit pada tubuhnya, namun sedetik, dua detik, dan tiga detik berlalu yang Aira rasa bukan dinginnya lantai atau sakit pada tubuhnya. Kini yang dia rasa hanya lah pelukan erat dipinggang mungilnya, dan hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya. Aira membuka matanya yang tadinya tertutup rapat, dan dilihatnya wajah Daniel yang sangat dekat ke wajahnya. Spontan dia menolak Daniel kuat namun Daniel memeluk pinggannya tak kalah erat hingga akhirnya mereka berdiri sempurna.


“ kamu masih perlu banyak belajar” Daniel berkata dengan santai dan mengalihkan pandangannya ke arah langit yang terbentang luas.


Aira menatap wajah Daniel dari samping dan membenarkan letak rambutnya yang tidak berantakan. jantungnya seakan berlomba keluar dari tempatnya, lagi\-lagi Aira menutupinya dengan wajah datarnya.


“bagaimana dengan tugas akhir mu? Apa sudah selesai?” Daniel kembali mencari topik obrolan.


“seharusnya beberapa hari lagi tapi aku harus melakukan beberapa urusan dikantor Daddy jadi pastinya tidak akan siap dengan cepat?” kini pembahasan mereka tak jauh dari tugas masing\-masing.


“ tidak perlu terburu bukan, masih terlalu muda untukmu berlari secepat itu” daniel memasukkan kedua tangannya kepada kantong dikedua sisi celananya.


“ aku harus cepat karena tak ada kesempatan yang akan menunggu” Aira sedikit tersenyum mengejek pada Daniel, atau mungkin pada dirinya sendiri.


“ lalu bagaimana dengan yang mengejarmu jika kamu terus berlari? Bukankah kamu mempersulitnya Ra?” kini Aira menatap Daniel lekat, dia merasa kalimat Daniel barusan tak berhubungan dengan topik mereka. Tapi saat Aira ingin mengeluarkan pertanyaan mereka diinterupsi oleh Rain.


“ ya ampuuuunn Aira, kakak menunggumu dibawah. Kamu malah sama si tengil satu ini disini, kamu tahu gara\-gara kamu aku harus menjawab banyak pertanyaan mereka karena tak menemukan kalian berdua” Rain dengan wajah cemberut dan nada suaranya yang meledak\-ledak mencoba menyerang dua orang didepannya.


Daniel yang melihat Rain seperti petasan bantingpun hanya bisa tertawa renyah, dia yakin keluarga Reagan pasti ramai dengan kehadiran Rain. Sedangkan Aira hanya memijit keningnya, dia cukup perihatin dengan kedua orang tuanya yang bisa memiliki seorang Rain yang tak tahu situasi dan keadaan.


“ ya sudah ayuk turun, kami juga sudah selesai” Aira menarik tangan Rain menuruni tangga yang disusul Daniel.


“Ai, kakak pesan ya sama kamu, jangan dekat\-dekat sama sitengil itu. Dia itu berbahaya, dia itu playboy.”Rain berbicara dengan nada berbisik yang masih bisa didengar dengan Daniel, membuat orang yang dibicarakan hanya menahan tawa dibelakang.