
Pukul 21.01
Suasana menyeramkan nan gelap di dalam sebuah rumah sakit terbengkalai. Rina yang merasa sedih tak menyangka jika teman-temannya tega mengurung dirinya di sini.
"Apa masih ada jalan keluar lain di rumah sakit ini?"
Saat dirinya terkurung di sini, cuman yang dipikirkan adalah mencari jalan keluar dari rumah sakit menyeramkan ini.
Tapi langkahnya terhenti sesaat ia berhasil menemukan jalan keluar lain yang di sisi lain rumah sakit ini. Tapi sayang, jalan keluar yang ia temukan tertimbung puing-puing rumah sakit ini, tenaganya yang lemah yang sewajarnya bagi wanita, tak mungkin baginya ia bisa memindahkan semua batu raksasa ini seorang diri.
Rina yang mulai panik tak bisa memikirkan hal lain lagi, mengingat tempat ini sangat gelap dan hanya bermodalkan senter sorot yang diberikan oleh Nomi.
"Denah..."
Di tengah-tengah kebingungannya itu, ia langsung teringat akan sebuah denah tempat. Yap, setiap tempat umum pasti ada denah kecil yang menunjukkan lokasi setiap ruangan yang ada.
Dengan bergegas menuju ke ruangan sebelumnya di mana Rina memasukinya ada banyak kertas berserakan di sana.
Sesaat sampai di sana, pemandangannya masih sama seperti sebelumnya dengan kertas kotor nan sobek di mana serta bekas darah kering juga.
"Hah? Sejak kapan ada goresan seperti ini?"
Suatu hal mengejutkan dan membingungkan baginya, adanya empat garisan besar dan dalam seperti sebuah cakar hewan, hanya saja ini tampat masih baru dilakukan.
Karena tak ingin memikirkan kejanggalan itu, Rina bergegas mencari denah rumah sakit ini.
"Ketemu!"
Dengan senang dan semangat, Rina masih punya harapan untuk bisa keluar dari sini.
"Coba kita lihat, di sini tadi jalan keluar yang terutup batu itu dan jalan masuk ke sini..."
Memerhatikan dengan seksama setiap tempat dan ruangan denah itu. Ada ruang perawatan, ruang data, ruang lab diagnosis dan lagi ada juga ruang listrik beserta cadangan listrik. Sisanya masih ada ruang-ruang lain yang tak diketahui apa maksud ruangan ini.
"Aneh, apa benar ini rumah sakit? Tempat ini lebih terlihat seperti lab uji coba bagiku."
Seperti dugaan Nomi yang lainnya, bahwa rumah sakit ini jauh lebih tampak sebuah lab eksperimen, itu sudah terlihat jelas dari peralatan mereka yang berserakan di mana-mana saat pertama kali masuk ke sini.
Tak ingin pusing memikirkannya, ia masih sibuk mencari jalan keluar lain.
"Ada jalan keluar lain, hanya saja... kenapa berada di bawah?"
Suatu hal dan membingungkan, dari lembaran kedua denah itu menunjukkan tempat lain dari rumah sakit ini. Beberapa ruang aneh terletak di bawah tanah dan untuk menuju ruang bawah tanah, harus menaiki sebuah lift khusus yang terletak di tengah-tengah aula rumah sakit.
"Untuk menaiki liftnya, pasti membutuhkan listrik. Tapi tempat ini sudah terabaikan sangat lama, apa masih ada listrik yang tersisa?"
Sedikit ragu, walau denah ini menunjukkan jalan menuju ruang listrik yang memiliki cadangan energi untuk menghidupi rumah sakit ini, tampaknya akan sangat mustahil jika tempat terbengkalai ini masih menyisahkan cadangan listrik.
Tapi Rina tak ingin meragukan semua yang itu dan berjalan menuju ruang yang dimaksud sembari membawa denah itu, cuma itu satu-satunya baginya untuk bisa menemukan lokasi yang tidak diketahui.
Setelah beberapa saat, ia berhasil menemukan ruangan listrik dan tampak wajahnya sedikit lega karena akhirnya bisa menemukan langkah awal menuju keluar dari tempat menyeramkan ini.
Krek... Krek...
"Hah...!"
Dia terkejut karena pintu ruangan ini ternyata terkunci, mau tidak mau Rina harus berpikir gimana cara membuka pintu ini. Apa ia harus mendobraknya? Tampaknya mustahil, karena pintu ini penampakannya seperti pintu umumnya, hanya saja terbuat dari logam keras seperti brankas bank, mustahil baginya dirinya yang lemah untuk menghancurkan pintu ini seorang diri walau bantuan alat sekalipun.
"Apa kuncinya ada di ruang arsip itu lagi?"
Cuma ruangan itu satu-satunya dipikirannya, karena dari semua ruangan yang ada saat ia cek bersama teman-temannya--semuanya terkunci. Dan untuk lokasi ruang listrik ini, cukup jauh dari lokasi sebelum Rina dan teman-temannya mengecek semua ruangan yang ada.
Karena tak ingin berlama-lama dalam tempat menyeramkan ini, ia bergegas berlari menuju ruangan itu lagi dan butuh beberapa saat baginya untuk kembali ke sana.
Hanya saja...
Brak...!
"?"
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah kirinya, tampak hanya sebuah lorong gelap dan dinginnya membawa mimpi buruk. Langkahnya terhenti sesaat merasakan ada sesuatu di sana.
"Suara apa itu tadi?"
Walau rasa takut menyelimutinya, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar dibandingkan rasa takutnya. Mungkin ini sudah bawaan sifatnya kutu buku atau memang dirinya memang seperti itu sejak dulu.
Ia berjalan ke arah lorong itu, tapi ia hanya berada diujung lorongnya saja. Namun akal sehatnya akhirnya masih tetap mengendalikan dirinya, walau rasa penasarannya masih tetap menyuruhnya untuk maju.
Ia langsung berlari menuju ke arah ruangan itu, sesaat sampai di sana. Ia dikejutkan oleh apa yang dilihatnya.
"Apa yang terjadi di sini? Perasaan tadi tidak seberantakan begini."
Ruangan tadinya yang hanya berserakan kertas-kertas yang kotor di lantai, kini meja kursi semua perabotan di ruangan itu ikut jatuh dan ada pun telah dihancurkan.
Setelah keluar dari ruangan itu, ia berlari lagi ke arah ruangan listrik dan melewati lorong gelap menyeramkan itu lagi. Tapi, karena masih penasaran apa yang di sana karena terdengar suara aneh terus di sana.
Rina memberanikan diri untuk mengecek lorong itu dengan alat penerangan seadanya, saat berjalan ke lorong gelap itu, semuanya sudah terlihat sedikit jelas berkat senter yang dibawanya.
Ia melihat ada banyak ruangan lagi, tapi semual terkunci. Ditambah anehnya lagi, di sini tidak ada semacam lampu untuk menerangi lorong ini. Tampaknya memang disengaja pihak rumah sakit. Tapi, kenapa ada harus lorong gelap di rumah sakit? Ditambah di lorong itu ada banyak pintu ruangan berbaris tanpa nama.
Karena sudah cukup mengobati rasa penasarannya, kini berbalik lagi ke tempat sebelumnya.
Klek...!
"Eh...!?"
Terdengar suara dari arah belakang dan Rina dengan refleks langsung mengarahkan cahayanya ke arah belakang.
"Apa itu tadi?"
Mencari arah sumber suara itu, ia tidak menemukannya. Hanya saja... salah satu pintu terbuka dengan sendirinya. Karena melihat pintu itu terbuka, rasa penasarannya kambuh lagi dan mencoba memasuki ruangan yang terbuka itu.
Klek... Ngek...
Dia mendorong pintu itu dengan perlahan dan masuk ke dalamnya. Saat masuk, ia hanya melihat ada banyak cairan kimia serta alat-alat lab pada umumnya.
"Mungkin ruangan ini untuk meneliti sesuatu."
Menyusuri ruangan gelap itu dan hanya dibekali senter kecil saja. Rina masih tetap melanjutkan eksplorasi horornya itu dan dia hanya temukan barang-barang lab yang telah hancur dan berdebu.
"?"
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada salah satu tabung besar di ruangan itu. Tampak tabung ini hanya ada satu dan lagi, ukurannya melebihi orang dewasa, seolah-olah benda ini buat hanya untuk memasukkan manusia ke dalamnya saja.
"Bekas cakar ini... sama seperti di ruang arsip tadi."
Ada banyak bekas cakar pada dinding dan sekitar tabung itu. Karena mulai merasa tak nyaman, dirinya segera meninggalkan ruangan itu sembari menutup pintunya lagi.
"Grrrgh...!"
Tapi siapa sangka, sudah ada sosok yang telah mengawasinya sedari tadi di pojokan ruangan itu.
Beberapa langkah menuju ruangan listrik akhirnya ia sampai dan ajaibnya ia berhasil membuka pintunya, setelah beberapa percobaan dengan semua kunci itu.
"Syukurlah, kupikir tidak ada satu pun dari kunci ruangan ini."
Menghembuskan napas leganya, ia langsung masuk dan melihat isi ruangan itu. Dia terkagum akan teknologinya, baru kali ini ia melihat ada banyak alat asing dan tak tahu harus mulai dari mana baginya.
"Itu..."
Tampaknya sang Dewi keberuntungan masih berpihak padanya, ada sebuah buku panduan yang terletak di pojok ruangan yang di susun dengan rapi di sebuah lemari besi.
Rina segera membuka lemari besi dan untung tak terkunci juga. Beberapa saat membaca bukunya dan dia cukup paham akan mekanisme penyambungan daya setiap sisinya.
Ia pun segera mengambil sebuah kabel listrik yang panjang dan sangat tebal menancapkan-nya ke aliran daya dan satunya lagi tancap kan ke sisi berlawanan. Hal ia lakukan sampai tiga kali mengingat butuh waktu baginya karena harus hati-hati akan terjadi korsleting saat dinyalakan.
"Dengan ini semuanya beres. Sekarang tinggal menyalakannya."
Rina mulai menarik sebuah tuas dan bermohon dalam hati agar berhasil, karena dia harus segera keluar dari tempat menyeramkan ini.
Dab...!
Bing...! Bing...! Bing...!
Seketika lampu ruangan listrik menyala dan membuat Rina senang dan bersyukur karena akhirnya dia punya jalan keluar. Mengingat daya tenaga listrik ini berasal dari tenaga Surya dan memiliki banyak cadangan simpanan, cukup baginya untuk bertahan satu hari penuh.
"Aku harus keluar cepat dari---"
Dur...! Brak!!!
"Kyaaaa!!!"
Tiba-tiba rumah sakit ini terguncang seolah ada gempa dan terdengar jelas suara runtuhan di luar ruangan listrik.
Setelah beberapa saat menenangkan diri dan Rina sangat ketakutan dan sulit menopang kakinya yang gemetar.
"Aku... harus pulang!"
Karena sudah sampai sejauh ini dirinya harus menguatkan diri dan bergegas keluar.
"Tidak mungkin!"
Kaget sembari menutup mulutnya dan air matanya keluar seketika. Jalan menuju aula utama rumah sakit tertimbun reruntuhan gedung.