You're Not A Monster

You're Not A Monster
Murid baru



Pukul 08.39


Kring...!


Suara bunyi bel sekolah yang menandakan waktu kehidupan dalam sekolah tersebut masih ada. Semua murid berlomba-lomba masuk ke dalam kelas mereka dan menempati kursinya masing-masing.


Tapi... tampak seorang gadis muda yang masih terdiam di depan pintu kelasnya, terlihat ia sangat khawatir jika dirinya memasuki kelasnya.


"Kumohon... kali ini biarkan aku belajar dengan tenang."


Ia terus berharap dalam hatinya agar semuanya dilancarkan dalam proses belajarnya. Setelah itu, ia memulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas sembari mendorony pintu kelasnya.


Tapi...


Buk!


Sesaat pintu itu terdorong, sesuatu telah jatuh tepat di atas kepalanya.


"Hahaha!!"


Teman-teman dalam kelasnya tertawa dan tidak sedikit juga di antara mereka kasihan. Sebuah penghapus papan tulis yang sudah terkotori oleh sisa-sisa kapur putih, karena hal itu juga membuat kepala gadis putih memutih karena tumpukan debu kapur tersebut.


Ia hanya bisa menundukkan pandangan ke lantai dan berjalan ke arah mejanya.


Akan tetapi...


Gedebuk!


Langkah kaki yang semestinya tenang tapi entah kenapa tersandung dan membuat dirinya terjatuh ke lantai, sampai-sampai lutut mulus harus terkena kotoran lantai.


"Kalau jalan pakai mata dong!"


Ya, penyebab dirinya terjatuh karena kakinya disandung oleh wanita yang seumuran dirinya, tampak wanita ini menatap Rina dengan tatapan hina. Entah apa alasan melakukan ini, satu hal yang pasti... karena suka, itu saja.


Rina bangkit kembali sembari membersihkan debu dan kotoran di lututnya dan berjalan ke arah bangkunya yang letaknya paling belakang.


Tapi tidak sampai situ saja...


"?"


Seketika tatapan Rina syok melihat meja dan kursinya yang sangat kotor oleh sampah-sampah makanan dan sisa makanan busuk.


"Wah, wah, kayaknya kamu sangat lapar ya, Rina," ucap wanita berkacamata yang masih satu kelompok dengan wanita yang menjatuhkan Rina.


Rina hanya bisa bersabar dan bersabar, bagainanapun ia sangat bergantung pada impiannya yang ingin menjadi seorang dokter hewan. Ia mengambil kantong kresek berwarna hitam yang dibawanya bersama roti bakar pemberian tetangganya.


Rina segera membersihkan semua kotoran itu yang sudah busuk dan basah dan memasukkannya ke dalam kantong yang ia bawa.


Ia menyimpan sampahnya itu di bawah mejanya, karena menurutnya untuk membuangnya ditempat sampah sekarang tidak ada waktu lagi, karena guru yang mengajar kelasnya saat ini dikenal gurunya sangat galak dan salah satu guru killer di sekolahnya.


Klek... Ngek...


Suara pintu terdorong dengan pelan dan muncullah seorang wanita cantik dengan proporsi tubuhnya seperti model pada umumnya, semua murid tahu siapa guru ini--walau mengagumi keanggungannya tapi tak ada satu pun berani mengajaknya ngobrol ataupun bercanda.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kakinya yang berbunyi dilantai dibarengi suara sepatu High-nya terdengar cukup tegas ditelinga murid-muridnya.


Tapi... pandangan semua murid dikelas ini langsung tertuju pada seseorang yang mengikuti guru mereka. Dan dia adalah seorang pria yang seumuran dengan semua murid di sana.


"Murid baru kah?"


"Kayaknya iya, tapi dilihat-lihat dia tampan juga."


Dak!


Terdengar suara tumpukan buku yang diletakkan di atas meja dan semua murid langsung kembali hening lagi.


"Baiklah, Nak. Perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu ini."


Pria muda mengangguk dan menatap ke arah depan, ia sudah seperti artis di atas panggung yang berdiri dengan tegak tanpa sedikit pun gugup.


"Perkenalkan, namaku Rehan Adhitya."


Setelah perkenalan itu, para wanita masih terfokus dengan wajah murid baru ini dan para pria merasa risih karena melihat murid baru ini. Yap, siapa pun melihat kelebihan seseorang maka akan ada yang iri.


"Duduklah dibangku kosong dibelakang sana."


"Baik, Bu."


Tampak Rina sedikit panik dan mulai sibuk membersihkan sisa kotoran di atas meja dan kursi disampingnya secara diam-diam. Mengingat mejanya, meja sambung cukup panjang untuk dua orang dan kursi tunggal masing-masing.


Rehan mulai berjalan ke arah bangku yang belum terhuni itu dan ia menatap seorang gadis seumurannya tampak sibuk dan gadis itu akan jadi teman mejanya.


"Hm? Bau..."


Sontak rina tegang mendengarnya dari murid baru yang akan jadi teman bangkunya. Ia tak ingin memberikan kesan buruk pada pertemuan pertamanya ini.


Drek...


"Eh! Tunggu..."


"Ada apa?"


"Itu..."


Rina tak bisa melanjutkan kata-katanya, murid baru ini langsung menarik kursi yang masih ingin dibersihkan oleh Rina karena masih meninggalkan sedikit bau menyengat.


"Kamu tidak perlu khawatir, bau seperti ini tidak menggangguku sama sekali."


Mendengar itu membuat Rina sedikit tersentuh dan malu, karena menurutnya semua ini akan mengacaukan hari pertama sekolahnya di sini bagi pria ini.


"Tampaknya kehidupan sekolahmu tidak mudah ya," lanjut Rehan.


Rina hanya menundukkan pandangannya karena ia sudah memberikan kesan aneh pada teman barunya.


"Kalau soal itu..." sesaat mata Rina tertuju pada gadis-gadis yang merundungnya selalu dan mata mereka pada Rina sangat sinis dan itu membuat Rina tak berani menatap mereka selalu.


Rehan yang menyadari tatapan sesaat Rina pada seseorang, ia langsung berbalik dan matanya berkontak dengan ketiga gadis itu, para gadis ini tersenyum padanya seolah-olah memberikan rayuan Succubus mautnya. Rehan yang menyadari sikap seperti apa orang-orang ini dan ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman juga, tulus tapi sangat kotor.


"Kayaknya kehidupan sekolahku tidak akan tenang lagi, kuharap hal ini tidak terulang lagi. Aku tak mau dikeluarkan lagi karena berurusan dengan anak-anak orang kaya. Tapi wanita ini...," pikir Rehan sembari berbalik dan menatap teman bangkunya. "Kurasa cuman dia yang akan jadi teman baikku."


Tap... Tap... Tap...


Suara hentakan sepatu High itu membuat semuanya mulai fokus ke depan. Kali ini mata pelajaran selanjutnya ialah matematika, sebuah mata pelajaran yang tidak sedikit murid-murid membencinya.


Sang guru mulai menulis semua soalnya di papan tulis depan dan para murid mulai fokus dengan mata pelajaran mereka.


"Kerjakan semua ini, dan kumpulkan sebelum jam selesai."


Karena sudah terbiasa dengan ketegasan suara guru galaknya ini, para murid langsung mengerjakan walau ada banyak tidak paham sepenuhnya dengan matematika sih.


"Duh... kenapa sih Bu Siska suka memberikan soal yang sulit."


Banyak murid mulai mengeluh dalam diam, sang guru tahu kesulitan soal ini. Tapi ia harus melakukan ini karena semua murid-muridnya mulai kurang memahami mata pelajaran matematika tingkat pertama.


"Seharusnya kalian semua bersyukur, aku memberikan sedikit mata pelajaran di luar kurikulum sekarang, karena mata pelajaran sekarang mulai tergabung dengan tingkat atas (SMA)," pikir Bu Siska yang sedikit sedih.


Di saat bersamaan juga, perasaannya lega melihat di antara murid-murid yang masih serius mengejar pendidikannya.


"Kenapa mereka semua mengeluh, padahal soal inikan sangat mudah. Apa benar ini sekolah elit?" Tanya Rehan dalam hatinya.


Yang dikatakan pepatah benar "Jangan lihat buku dari sampulnya". Sangat menggambar kehidupan sekarang yang mana ada kalangan tertentu hanya bisa berkumpul dengan sesamanya saja. Dompet tebal belum tentu otaknya tebal juga, yap... sangat prihatinkan sekali bagi orang yang hanya mengandalkan kepintarannya tanpa keberuntungan finansial sama sekali.


"Kayaknya nih anak cerdas juga."


Rehan memperhatikan teman sebangkunya yang menjawab semua pertanyaan cukup sulit itu dengan benar semua. Rina yang merasa ditatap oleh seseorang dari samping, ia langsung berbalik.


"Apa kamu mau melihatnya?"


Rehan yang merasa hal lain dari ucapannya itu mengerti situasi teman bangkunya ini, sudah sekian lama usaha pintar Rina selalu dicuri oleh orang yang merundungnya.


"Tidak perlu, aku juga sudah selesai kok."


"Begitu ya," balas Rina dan tak sengaja melirik ke arah buku belajar Rehan. Ia terkejut melihat semua jawabannya dijawab dengan benar dengan jawaban yang sangat presisi dengan rumus yang tepat juga. "Kamu... sangat hebat."


"Hm? Apa?"


"Tidak... tidak! Aku hanya salah bicara tadi!"


"Oh..."


Rina sangat malu untuk berbicara dengan seseorang, apalagi teman bicaranya lawan jenisnya. Rina tak berani menatap mata orang yang ingin diajak bicara terkecuali orang yang sudah dianggap sangat baik baginya.


"Dilihat-lihat, dia manis juga."


Rehan tersenyum tipis dengan pikirannya itu. Wanita dengan rambut panjangnya yang mulus dan lurus dengan kacamatanya, kalau diperhatikan dari samping sekalipun akan terlihat sangat menawan.


Para wanita mulai menatap tajam ke arah Rina, karena menurut mereka kenapa wanita culun ini yang harus jadi teman sebangkunya.


"Awas saja kamu, Rina!"


Geram diam dari seseorang yang merundung Rina, tampaknya ia punya rencana busuk bersama teman-temannya.


Kring...!


Bunyi bel sekolah yang menandakan jam pelajaran telah usai dan saat waktu memasuki jam istirahat.


"Baiklah anak-anak, kumpulkan semua buku kalian ke Ibu. Dan Rina..."


"Iya Bu?"


"Tolong bantu Ibu bawa semua buku temanmu ke ruang Ibu nanti."


"Baik, Bu."


Bu Siska mulai mengemas barang-barangnya dan memintat Rina mengikuti dirinya, Rina mengikuti sang ibu merasa sangat lega karena ia bisa lolos dari ancaman merundung teman-temannya.


Setelah kelas usai, para wanita mulai menghampiri Rehan yang duduk sendirian.


"Rehan~."


Dirinya dipanggil dengan sedikit nada manja, Rehan mendengar itu hanya bisa terpaksa tersenyum pada teman-teman kelasnya ini.


"Mau ke kantin? Kita yang akan traktir loh."


Tiga wanita seumuran dengannya mengajaknya dalam rangka mengakrabkan diri atau mungkin gatal? Entahlah, ada banyak jenis orang di dunia ini.


"Boleh, tapi... aku penasaran kenapa teman dudukku ini tidak memberikan respon sedikit pun layaknya seorang teman kepadaku tadi."


"Begitu ya." Tampak Rehan mengerti situasinya. "Aku belum tahu nama kalian, aku bingung harus memanggil apa tadi."


"Oh aku! Kamu boleh memanggilku Nora, Rehan~." Semangat dan menggoda itu yang bisa digambarkan oleh Rehan.


"Kamu bisa memanggilku Novi." Kalem dan anggun itu sudah terlihat dari nada bicaranya dan sangat berbeda dengan dua temannya ini disertai kacamatanya membuatnya terlihat cantik juga.


"Aku Nomi." Dilihat sekilas pun dia tampaknya ketuanya dan terlihat tegas dari tatapannya.


Rehan berusaha untuk sebisa dan sejauh mungkin akrab dengan mereka, sudah terlihat dari lagatnya yang suka menghamburkan uang dengan kata orang kaya.


"Sebaiknya kamu menjauh dari Rina, Rehan~," peringatan Nora.


"Memangnya kenapa?"


"Dia itu anak menyusahkan," kata Nomi. "Asal kamu tahu dia itu anak yatim piatu yang hanya mengandalkan uang orang lain untuk bisa bersekolah, orang tuaku sampai-sampai kerepotan setiap hari mengurus anak-anak sepertinya yang tidak mau berusaha sendiri."


"Iya! Bahkan Ibuku juga harus repot mengurus hal itu, padahal itu bukan tugasnya kenapa harus dilimpahkan padanya," lanjut Nora.


Tampak Rehan kurang nyaman mendengar ini dan hanya bisa diam mendengar semua ucapan pedas ini.


"Sudah-sudah, bagaimana kalau kita... heh?" Kata Novi.


Brek...!


Rehan langsung berdiri dari kursinya.


"Apa kamu ke kantin Rehan~?" Tanya Nora.


Rehan menatap gadis itu yang memanggil namanya dengan nadanya yang sedikit geli di telinga untuk di dengar.


"Tidak, aku baru ingat, Bu Siska memintaku untuk mengurus sesuatu setelah jam pelajarannya."


"Dan apa itu?" Tanya Novi.


Rehan terdiam sejenak dan berkata :


"Aku harus mengurus pendaftaranku yang kemarin belum diurus sebelum masuk ke sini, dan pendaftaran itu adalah untuk siswa yang kurang mampu karena tidak ada tangguhan sama sekali dari siapa pun dengan kata lain yatim piatu."


Mereka terkejut mendengar itu dan Rehan pergi meninggalkan mereka bertiga dengan perasaan sedikit marah.


"Waduh! Berarti Rehan juga..." tampak Nora khawatir yang ia ucapkan sebelummya.


"Untuk apa kamu khawatir," kata Nomi. "Kalau dia memang yatim piatu, berarti dia sampah yang hanya menyusahkan orang, sangat cocok dia bersanding dengan Rina tadi. Sudahlah! Kita ke kantin sekarang."


Mereka bertiga langsung pergi mengisi perut tanpa menghiraukan perasaan yang tersakiti.


Di luar kelas tampak Rehan masih berjalan di koridor kelas.


"Cih! Yatim ini yatim itu! Apa salahnya kami jadi anak yatim piatu! Itu bukan keinginan kami!"


Dalam hatinya yang kesal karena memikirkan ucapan anak-anak orang kaya sombong itu. Tapi ia berjalan ke arah ruang guru dan tampaknya ia menemui seseorang.


"Akhirnya dia masih di sini."


Rehan memutuskan menunggu di luar ruangan saja dan menunggu orang dimaksud keluar ruangan.


"Serius ini, Bu?!" Tampak Rina sangat semangat akan hal sesuatu.


"Itu benar Rina, apa kamu mau ikut?" Tanya Bu Siska.


"Tentu saja Bu. Rina ikut!"


"Baiklah, karena kamu setuju Ibu akan masukkan kamu juga, kebetulan kami butuh seorang lagi untuk ikut olimpiade matematika ini."


Rina sangat senang bisa, selain hadiahnya banyak untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, tapi ini juga langkah awal baginya agar bisa masuk ke universitas impiannya dan mendapatkan beasiswa karena punya catatan prestasi akan hal akademik.


"Dengan ini semuanya beres, sekarang tinggal kamu harus berjuang dan rajin belajar agar bisa menang."


"Terima kasih Bu, Rina akan berjuang sekeras mungkin untuk bisa menang."


"Pelan-pelan saja, jangan terlalu memaksakan diri. Nanti kamu jatuh sakit sebelum ikut. Pergilah makan dulu sana, jam istirahat sudah mau usai."


"Baik."


Rina bergegas keluar dari ruang guru dan Bu Siska hanya bisa tersenyum melihat murid manisnya bersemangat akan belajar.


"Seandainya dia putriku, aku akan sangat bahagia pastinya."


Sesaat Rina berada di ujung pintu, ia dikejutkan akan seseorang yang ia kenal baru-baru ini.


"Rehan! Sedang apa kamu di sini?"


"Menunggumu."


"Menungguku?"


"Ya, aku ingin kamu mengajakku berkeliling untuk mengenal sekolah ini lebih dekat."


"Kamu kan bisa minta teman-teman di kelas, kenapa harus aku?"


Rehan hanya bisa menghela napasnya yang berat dan berkata :


"Tak kusangka di sekolah mana pun ada-ada aja circle-nya ya."


"Circle?"


"Ya, ada circle orang kaya, kutu buku, preman, dan ada pun biasa-biasa saja bahkan sampai ada pun khusus anak yatim piatu seperti kita."


"Yatim piatu, berarti kamu..."


Rehan hanya mengangguk saja dan Rina baru mengetahui itu hanya bisa simpati padanya mengingat keadaan dirinya juga sama.


Rina mau menerima ajakan Rehan untuk mengenal sekolah ini lebih dalam.


Setelah beberapa saat, mereka berdua akhirnya duduk di sebuah bangku taman sekolah.


"Tak kusangka sekolah ini sangat luas dan banyak fasilitasnya, tak heran disebut sekolah elit."


Rina langsung fokus pada buku yany dibawanya dan Rehan melihat itu hanya bisa diam untuk sesaat mengingat wanita ini di sampingnya ini gila belajar.


"Nora, Novi dan Nomi..."


"Hah?" Rina langsung berbalik dan menatap Rehan, fokusnya pecah saat nama itu disebut.


"Mereka bertiga selama ini menganggumu kan."


"Soal itu... kamu tak perlu pikirkan. Hal itu sudah sering terjadi di mana pun."


"Aku mengerti, tapi apa salahnya kita hidup atas bantuan seseorang hanya karena kita anak yatim, dan lagipula... semua pemberian itu atas sumbangan dari beberapa orang secara sukarela, kami juga tak berniat memohon terus atas belas kasihan orang-orang."


Rina hanya bisa diam mendengar itu karena menurutnya hal itu sudah wajar bagi kehidupan masyarakat, mau itu secara ikhlas ataupun hanya sekedar gengsi belaka yang mau hanya dipuji-puji saja.


"Lagian aku juga masih punya tubuh yang sehat dan kadang aku sering mengambil kerja sampingan dibeberapa toko kecil, hanya untuk menghidupi kehidupan sehari-hariku," lanjut Rehan.


"Sekarang kamu tinggal di mana?"


"Aku masih tinggal di panti asuhan, sudah dari bayi aku di sana dan ibu-ibu panti juga tak memperbolehkan aku hidup sendiri."


"Mungkin mereka sangat khawatir, mengingat anak orang lain yang sudah dibesarkan sendiri sudah seperti anak kandungnya sendiri."


"Itu benar juga sih. Bagaimana denganmu, apa di panti asuhan juga?"


"Soal itu... aku tinggal sendiri. Orang tuaku sudah tidak ada dan aku masih tinggal di rumah peninggalan mereka sendirian."


Rehan cukup terkejut mengetahui fakta itu, ia tak menyangka wanita yang terlihat lemah ini ternyata jauh lebih hebat dari perkiraannya.


"Irinya..."


"Kenapa iri?"


"Bagaimana mengatakannya ya. Soalnya dari bayi aku tak mengetahui sama sekali orang tua kandungku dan itu membuatku selalu berpikir, apakah aku anak tak diinginkan oleh mereka. Sedangkan kamu masih punya tempat hangat yang masih bisa dirasakan kehangatan orang tuamu, sedangkan aku saat dewasa nanti tak ada tempat bagiku akan pulang nanti karena panti asuhan mana pun tak akan bertahan lama dengan kondisi yang tak memadai."


Rina hanya bisa merasah kasihan mendengar itu. Ya dirinya beruntung masih bisa merasakan kehangatan orang tuanya sendiri dan itu sudah lebih dari cukup baginya untuk bersyukur.


Kring...! Kring...!


Suara bel sekolah berbunyi yang menandakan waktu istirahat telah usai.


"Baiklah," kata Rehan sembari berdiri. "Semenyedihkan apa pun nasibku, itu tak membuatku gentar untuk mengejar cita-citaku. Apa kamu tahu alasan aku pindah ke sekolah ini?"


"Tidak," jawab Rina sembari menggelengkan kepalanya.


"Itu karena aku memukul beberapa anak orang kaya yang sombong."


"Eh! Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu?" Tampak Rina sangat terkejut mendengar dan tak menyangka jika teman barunya sekasar.


"Bagaiamana bisa aku memukulnya, karena mereka sering merundung teman-teman yang hanya standar ekonomi keluarganya pas-pasan, aku tak tahan melihatnya dan mau bagaimana lagi aku langsung memukul mereka, karena sudah berapa kali kuperingati untuk mengganggu teman-temanku. Menurutku tindakanku tidak ada yang salah karena aku bercita-cita untuk jadi polisi, melihat perbuatan kasar seperti itu yang dianggap sepele, bagaimana jadinya jika sudah jadi polisi melihat perbuatan lebih kasar lebih dari itu, maka aku harus mengabaikannya gitu?"


"Tidak juga, adakalanya kita harus bertindak pada kondisinya."


"Begitu ya, untung saja aku masih bisa sekolah mengingat aku punya prestasi yang patut dibanggakan."


"Memangnya prestasi apa itu?"


"Aku ini juara satu karate tingkat antar kota dan jika ada kesempatan lagi aku akan mengikutinya lagi jika tidak ada halangan."


Rina tersenyum mendengar itu dan segera bangkit dari duduknya.


"Sebaikya kita ke kelas, karena sudah waktunya masuk," ucap Rina.


Rehan hanya mengangguk dan tanpa sadar ia terus memandangi Rina dari samping.


"Kalau semakin diperhatikan dia cantik juga."


Rina yany merasa di tatap langsung berbalik dan berkata :


"Apa ada sesuatu di wajahku?"


Seketika Rehan sedikit salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya darinya.


"Tidak ada, aku hanya memandangi pohon itu dari tadi."


"Oh pohon itu ya," sembari memandangi pohon yang ada di sampingnya.


Mereka berdua bergegas menuju ke kelas dan hubungan keakraban mulai terjalin dengan tulus tanpa ada sedikit pun pandangan lain di antara satu sama lain.