You're Not A Monster

You're Not A Monster
Kebun binatang terbengkalai



...17-03-2004...


Pukul 08.10


Setelah beberapa hari murid baru ini yaitu Rehan sekolah di tempat yang sama dengan Rini. Kini Rini merasa sangat senang karena akhirnya ia punya teman yang bisa diajak bicara selalu di sekolahnya.


Awalnya gadis muda ini sangat terpuruk karena tak ada satu pun mendekati dirinya karena masalah sepele saja. Semua tatapan teman-teman sekelasnya merasa aneh karena sudah keberadaan Rini ditambah lagi satu orang yang senasib dengan Rini.


"Semakin dilihat mereka berdua semakin menyebalkan," ucap Nomi yang kesal sembari menyinis mereka berdua.


Rehan yang merasa ditatap tak nyaman oleh trio wanita menjengkelkan ini rasanya ingin menampar mereka semua begitu saja, karena dia sudah diperingati keras oleh ibu pantinya untuk tak membuat masalah lagi.


"Ternyata keberadaan kita berdua seperti kotoran di mata mereka."


Rina mendengar itu hanya bisa menundukkan pandangannya dan fokus ke meja serta buku pelajarannya.


Rehan merasa intimidasi mereka sangat mengganggu ketenangannya, apalagi semua tatapan itu langsung tertuju ke Rina.


Beberapa hari setelah Rehan masuk, selama ini Rina tak mengalami penindasan dari teman-temannya lagi, karena saat ini ada Rehan selalu disampingnya dan beberapa waktu lalu Rehan memukul salah satu temannya hanya karena menjatuhkan bekal milikny.


Tapi ya... semua itu sangat disengaja dan orang yang dipukul Rehan kini tak masuk sekolah untuk beberapa saat karena mengalami mimisan waktu itu. Setelah kejadian itu, tak ada satu pun dari mereka mengganggu Rehan lagi dan lagi juga, Rina sangat dekat dengan Rehan dan otomatis sudah mengusik Rehan juga.


"Itu karena kamu membuat keributan kemarin, kan sudah kubilang untuk menahan diri."


"Apa salahnya, makanan itu suatu hal berharga dan tidak boleh dimain-mainkan."


"Kan kamu bisa minta ganti rugi."


"Kalau itu..." Rehan kesulitan memikirkan kata-kata lain karena ucapan Rina sangat masuk akal. "Tapi makanan itu aku buat dengan susah payah, jadi... sama saja mereka menginjak harga diriku."


Alasan ngawur dan tak terbantah, sesuatu yang dibuat dengan tangan sendiri adalah sesuatu hal yang patut dibanggakan, tapi memukul wajah seseorang hingga babak belur pantas disandingkan dengan sepotong roti tawar? Entahlah, hanya Rehan seorang yang berhak memutuskan apakah itu berhak dipertahankan atau dibiarkan saja.


Rina hanya bisa menghela napasnya yang berat itu, walau beberapa hari kenalan dengannya, tapi entah kenapa Rina sudah sangat mengenal Rehan seperti teman lama saja.


"Pokoknya jangan pernah melakukan hal kasar seperti itu lagi, jika terjadi lagi... jangan anggap aku temanmu lagi."


Rehan hanya bisa membelalak matanya dan merasa gadis ini jauh lebih tangguh dari perkiraannya.


"Baik, baik, jangan jutek begitu. Aku janji tak akan mengulanginya lagi."


Tap... Tap... Tap...


Klek... Ngek...


Pintu kelas terdorong secara perlahan dan tampak seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya.


"Semuanya duduk ditempatnya masing-masing, kita akan mulai pelajarannya."


Semua murid mengambil buku pelajarannya masing-masing dan memulai proses belajarnya.


...•••...


30 menit telah berlalu...


Kring...! Kring...!


"Jangan lupa materi ini, karena minggu depan Bapak akan berikan ulangan."


"Baik, Pak!"


Setelah pesan itu, sang guru bergegas keluar dari kelasnya, di saat bel istirahat berbunyi, para murid antusias pergi ke kantin masing-masing untuk mengisi tenaga guna menghadapi pelajaran selanjutnya.


"Mau ke kantin?"


"Boleh, kebetulan aku ingin beli minuman."


Rinah dan Rehan seperti biasa, mereka berdua pergi bersama lagi ke kantin. Hubungan mereka sudah seperti orang berpacaran padahal di antara mereka berdua tidak ada dari mereka merasakan cinta masing-masing, mereka hanya menganggap hubungan ini hanya sebatas teman atau sahabat belaka.


Tapi... hubungan persahabatan antara wanita dan pria kan jauh lebih dalam kan? Hmm... (Mencoba memahaminya).


Di sisi lain, Nomi, Nora dan Novi tampak mendiskusikan sesuatu.


"Kamu yakin ingin ke sana?" Tanya Novi yang masih tak percaya.


"Tentu saja, aku ingin kita semua pergi ke sana," jawab Nomi yang menegaskan keputusannya sudah bulat.


"Tapi kan... tempat itu sangat seram. Mana lagi sudah lama ditinggalkan," ucap Nora yang khawatir.


Nomi hanya bisa memegang keningnya karena semua temannya ini ternyata sangat penakut.


"Kita ke sana bukan untuk bersenang-senang. Tapi kita ke san untuk memberi pelajaran ke seseorang karena dia sudah mulai lupa akan posisinya di sini."


Novi dan Nora mendengar itu saling memandang satu sama lain dan mereka berdua mengerti maksud siapa orang yang dimaksud itu.


"Kamu yakin ingin membawa Rina ke sana?" Tanya Novi. "Belakangan ini dia sangat nempel dengan Rehan."


"Soal itu kamu tidak perlu khawatir, kita akan membawa dia pada malam hari dan kebetulan juga aku sudah tahu di mana rumahnya."


Kedua temannya ini masih ragu akan rencana Nomi ini. Mereka berdua khawatir jika ketuanya ini akan melakukan tindakan di luar yang tak diharapkan. Karena mereka berdua sudah tahu pembawaan Nomi seperti apa saat ada orang yang membuatnya kesal, ia akan mengurusnya dengan cepat.


...•••...


...•••...


Pukul 20.08


Saat di sebuah rumah sederhana yang berpenghuni satu orang anak tunggal dan yatim piatu.


[Please, tolong ya, kerjakan punyaku sekalian juga.]


[Lagian kenapa tak mengerjakannya kemarin, padahal waktumu saat itu sangat luang.]


[Saat ini aku sering ikut latihan karate, dan sering lupa jika ada PR saat itu.]


[Baiklah, besok traktir aku makanan banyak-banyak, karena saat ini aku ingin berhemat.]


[Ya, ya, teman sendiri kok perhitungan banget...]


Rina tersenyum sembari mengetik keyboard HP-nya dan dirinya tak menyangka saat ini ia akhirnya bisa ber-chat dengan teman sekelasnya. Padahal di kelasnya, semua temannya saling menge-chat satu sama lain dan hanya Rina doang yang tak pernah dihubungi oleh mereka.


"Yap! Saatnya belajar lagi..."


Dengan semangatnya ini membuat hidupnya semakin berarti, karena ia tak perlu kesepian lagi akan namanya teman sekolah, karena saat ini dia sudah punya dan berharap hubungan tulus itu bertahan lama.


Tok... Tok... Tok...


"Hm?"


Saat dirinya hendak bersiap untuk belajar, tiba-tiba terdengar suara pintu rumahnya diketok oleh seseorang. Rina yang sedikit takut, karena saat ini ia hanya seorang diri dan apalagi dia juga seorang wanita. Takut akan penjahat yang mengapa-ngapain dirinya di rumahnya sendiri.


Klek... Ngek...


"Kalian..."


Ternyata firasatnya benar, bahwa saat ini ada tiga penjahat dalam pandangannya telah datang ke rumahnya.


"Sedang apa kalian ke sini?" Tanya Rina yang sangat tidak nyaman kehadiran mereka. "Sedang apa mereka ke sini?"


"Jadi ini isi rumahmu ya." Tanpa permisi, Nomi langsung masuk begitu saja tanpa alas kaki dibuka. Dan tindakannya itu diikuti oleh Novi dan Nora.


Rina masih merasa ketakutan di hadapan mereka bertiga. Padahal saat ini dia sudah di rumahnya dan masih tak bisa berbuat apa-apa atas tindakan tidak sopan mereka.


"Anu... untuk apa kalian datang ke sini?"


Mereka bertiga seketika berbalik dan menatap Rina, mereka tahu kedatangan mereka ke sini tidak disambut sama sekali oleh sang tuan rumah.


"Alah~, masa teman sendiri datang berkunjung masa kamu tidak senang," ucap Nora.


"Kayaknya kita tidak disambut di sini deh," lanjut Novi.


Rina mendengar itu sangat terkejut dan ketakutan, bagaimana jadinya jika mereka bertiga mengacak-mengacak rumahnya.


"Bukan! Bukan begitu! Aku hanya terkejut karena kalian tiba-tiba datang ke sini."


Nomi maju dan berdiri tepat di hadapan Rina, Rina hanya bisa menundukkan pandangannya ke lantai karena ia selama ini tak berani tatap mata sama mereka bertiga apalagi kepada Nomi, yang dikenal tidak ada ampun.


"Eh?"


"Rina..." tiba-tiba Nomi memegang kedua tangan Rina dan tentu pemandangan yang sangat tak biasa. "Maaf ya, selama ini kami sangat kasar padamu."


"Itu..." Rina sangat gugup dan tak biasanya mereka tiba-tiba bersikap baik begini, karena dia hanya seorang gadis tunggul. Hal seperti ini sangat tiba-tiba baginya, apalagi sikapnya yang penuh sopan. "Tidak apa-apa, aku tak terlalu memikirkannya. Lagian hal seperti sudah sering terjadi di sekolah mana pun."


Mendengar itu membuat mereka sudah mendapatkab kodenya untuk melakukan tindakan selanjutnya.


"Kamu sedang apa belakangan ini?" Tanya Nomi.


"Aku hanya menghabiskan waktuku dengan belajar saja di rumah."


"Hah, apa tidan bosan tuh di rumah terus," ucap Nora.


"Tidak, hehe, aku melakukan ini hanya karena mau saja."


"Begitu ya, kalau begitu... bagaimana kalau ikut kami keluar," tawar Novi.


"Kalau soal itu... kayaknya aku tak bisa karena aku harus belajar segera."


"Ayolah, sekali-sekali hang out dong. Apa tidak capek di dalam rumah terus," ucap Nora.


"Yang dikatakan mereka berdua itu benar, adakalanya otak kita butuh refreshing agar bisa lebif fokus belajar lagi," lanjut Nomi. "Bagaimana, mau ikut?"


Rini tampak ragu akan ajakan mereka, tapi menurutnya mungkin ini langkah awal agar mereka bisa berteman dan tidak mengganggu dirinya lagi di sekolah.


Rina mengangguk dan menerima ajakan mereka, Rina langsung bergegas siap-siap di kamarnya dan membuat mereka menunggu di ruang tamu.


"Nora, apa jam segini sudah jarang orang lewat sana?" Tanya Nomi.


"Jangan khawatir, aku sudah sering lewat jalan itu dan biasanya jam segini sudah sepi. Siapa mau melewati tempat seram itu, aku terpaksa sering melewatinya karena cuma itu satu-satunya jalan tercepat menurut sopirku, walau sering melewatinya tapi tetap saja selalu membuatku takut," terang Nora.


"Dengan ini kita memberinya pelajaran," kata Nomi.


Sesaat sang tuan rumah selesai, mereka berempat bersiap-siap untuk berangkat. Sesaat di luar rumah, tak sengaja seorang ibu tetangga dari Rina menyapa mereka berempat.


"Heh... mau ke mana nih malam-malam begini, Neneng sekalian?"


Mereka bertiga saling memandang dan Rina maju mengajak ibu itu bicara.


"Kami hanya mau pergi jalan-jalan sebentar aja, Bu."


"Begitu toh, bagus juga sih, memang seharusnya masa muda dihabiskan bersama teman-teman. Baiklah, nikmati waktu kalian dan jangan pulang terlalu larut."


"Terima kasih Bu."


Ibu it kembali melanjutkan jalannya dan entah kenapa tiba-tiba Nora menghela napasnya dan itu membuat Rina penasaran akan tingkahnya.


"Semua orang di sini sudah sangat baik padaku, tak enak bagiku jika mengabaikan mereka walau tak menyapanya sekalipun."


Mendengar itu membuat Nomi dalam hatinya merasa sangat muak melihat Rina tersenyum begitu dengan mudah.


"Ayo kita pergi, waktu banyak terbuang!"


Seketika sikap dari Nomi sedikit berubah dan itu membuat Rina beserta kedua temannya sangat terkejut. Rina merasa bahwa ini salaj dirinya, tapi Novi menepuk pundaknya dan mengatakan bahwa Nomi saat ini lagi datang bulan sekarang. Mendengar itu membuat Rina sedikit lega, tapi ia tetap merasa tak enak atas sikap Nomi barusan.


Mereka berempat menuju ke arah sebuah mobil cukup besar dan mewah, Rina merasa kagum saat menaiki mobil ini, selagi kursinya yang empuk beserta AC-nya yang menyejukkan membuat kulit ini terasa lembut.


Brem...


Mobil dinyalakan dan mereka segera pergi dari lokasi, sesaat diperjalanan, suara mobil dibisingin oleh suara musiknya dan tampak ketiga gadis ini menikmati lagu ini. Terkecuali Rina yang belum terbiasa akan suasana ini dan ia hanya mengamati arah luar dari jendela mobil ini.


"Kamu pasti penasaran kita mau pergi ke mana kan," ucap Novi.


Rina merasa Novi sejenis orang yang mudah akrab dengan siapa pun dan dia juga tak segan-segan selalu mengajak dirinya mengobrol dengannya yang dijauhi oleh siapa pun oleh teman-temannya di kelas.


"Itu benar, memangnya kita mau pergi ke mana?"


"Saat ini kita akan melakukan wisata horor."


"Horor..."


Mendengar itu membuat Rina terkejut dan Novi merasa Rina jauh lebih terkejut mendengarnya daripada takut.


"Apa karena ia selama ini tinggal sendirian, jadi hal seram sekalipun tak membuatnya goyah," pikir Novi yang merasa kagum dengan Rina. "Itu benar, Nomi ingin merekam berbagai hal kejadian di sana dan katanya ia ingin dapat banyak uang hasil rekaman menyeramkan itu."


Belakangan ini ada stasiun TV menerima berbagai rekaman seram dari para penontonnya dan mereka akan dibayar juga jika video mereka bagus dan akan ditampilkan di TV nantinya.


Brem...


Sesaat sampai dilokasi, mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah gerbang sebuah tempat yang di atasnya ada tertulis "Kebun Binatang Lautan Api".


"Kita sudah sampai, semuanya turun cepat."


Mereka berempat bergegas turun dan di tangan Nora ia memegang sebuah kamera untuk rekaman dan tak lupa di tangan yang lainnya memegang senter sorot.


"Baiklah kita masuk..." saat ingin masuk langkah mereka berhenti sebentar karena Rina masih terdiam di sana. "Ada apa Rina?"


"Itu Nomi... bukannya kita dilarang masuk ke sini."


"Itu benar, terus?"


"Itu berarti akan ada hal berbahaya jika kita dilarang memasuki tempat ini," lanjut Rina.


Nomi mendengar itu memegang keningnya dan menggelengkan kepalanya.


"Tempat ini sudah lama ditinggalkan, dan aku lihat di TV tadi, ada beberapa orang sudah masuk ke sini dan merekam tempatnya. Berarti pemerintah sudah tak mempermasalahkan tempat terbengkalai ini lagi jadi tempat wisata. Sudahlah, ayo kita masuk cepat."


Mereka bertiga langsung menerobos penghalang polisninya dan Rina merasa tak nyaman dari tadi membuatnya terpaksa mengikuti Nomi karena suda terlanjur ikut.


"Ayah..."


Rina langsung teringat akan ayahnya yang pernah bekerja di kebun binatang juga dan itu yang dikatakan oleh mendiang ibunya. Ayahnya menghilang saat Rina baru lahir dan sampai sekarang ia tak bisa melihat wajah ayahnya secara langsung sampai ibunya meninggal tahun lalu karena penyakit kanker dideritanya.


Kata ibunya bahwa saat Rina bayi, memang banyak orang-orang menghilang saat itu dan tak kembali-kembali. Bahkan ada yang sudah kembali tapi sudah tak bernyawa, saat itu ibu Rina masih berharap bahwa suaminya masih hidup walau banyak orang-orang dan tetangga mengatakannya bahwa mustahil bagi suaminya untuk kembali hidup-hidup.


Saat masuk, mereka berempat dibuat kagum dalam kebun binatang ini.


"Wow, tak kusangka ada kebun binatang sebesar ini di kota tempat tinggal kita sendiri," ucap Nora yang kagum.


"Seharusnya keuntungan kebun binatang ini besar, tapi kenapa bisa ditinggalkan begitu saja?" Tanya Novi.


"Aku dengar dari Ayahku, bahwa kebun binatang ini ditutup karena mengalami kecelakaan dan seluruh staf dan binatang didalamnya menghilang semuanya," jelas Nomi.


Mendengar itu membuat mereka terkejut dan mereka berempat menyebar ke berbagai arah dan mengamati tempat ini dari arah masing-masing.


"Hm?"


Rina menghampiri sebuah kandang.


"Lucy..."


Dia melihat sebuah papan teks diskripsi dan di samping teks itu ada foto hewan itu.


"Sangat cantik."


Gambar difoto itu ditampilkan seekor serigala dengan bulu putihnya seterang rembulan. Dan ada pun data lain di atasnya yang tertulis nama serigala itu adalah "Lucy", jenis kelamin betina, satu-satunya serigala salju yang mengalami mutasi genetik dan dijauhkan oleh kawanannya karena memiliki bulu yang sangat berbeda dengan kawanannya.


"Serigala ini kayaknya aku pernah lihat, di mana ya?"


Mencoba mengingatnya, tapi dia dipanggil yang lainnya dan Rina segera meninggalkan kandang itu. Tapi ia masih berusaha mengingat semua memori yang melintasi setiap jalan saraf otaknya.


"Tak ada apa pun di sini, bagaimana kalau kita ke sana," ucap Nomi.


Mereka kembali melanjutkan eksplorasinya dan berjalan ke arah lain. Saat beberapa langkah, ia sampai di sebuah rumah sakit terbengkalai dalam kebun binatang.


"Kenapa ada rumah sakit sebesar ini dalam kebun binatang?" Tanya Nora.


"Mungkin ini rumah sakit khusus hewan saja dan penanganan darurat," jelas Novi.


"Baiklah, kita masuk..."


"Eh, masuk?" Nora terkejut dan ketakutan. "Dari luarnya saja sudah sangat seram, apalagi di dalam. Tak mau ah!"


Tampaknya buka Nora saja menolak keras untuk masuk, tapi diam-diam Rina merasa juga tak nyaman melihat rumah sakit ini dan tak ingin masuk.


"Kamu yakin tak mau masuk?" Tanya Novi. "Lihat, Rina saja jaub lebih berani darimu dan mau ikut masuk."


Rina sedikit terkejut mendengar itu dan ia tak bisa membantah karena takut merusak suasana senang-senang mereka, dan ia hanya mengangguk dan ikut juga masuk.


"Tidak apa-apa kamu tidak masuk, tapi kamu yakin ingin di luar sendirian?" Tanya Nomi yang berusaha meyakinkan Nora.


Nora berbalik dan meliha sekitarnya, yah... ternyata rasa takutnya semakin besar saat melihat sekitarnya.


"Ah...! Ya sudah, aku ikut!"


Dengan terpaksa ia ikut masuk juga, dan saat masuk ke dalam rumah sakit itu dan tampak dalamnya seperti rumah sakit pada umumnya, tapi ada banyak alat aneh yang tak pernah dilihat di rumah sakit mana pun.


"Serius ini rumah sakit?" Tanya Nora yang masih ketakutan. "Ini malah lebih terlihat seperti ruang penyiksaan."


Yang dikatakannya benar, semua alat ini sangat tidak wajar dan ada banyak ruang juga setiap rumah sakit ini yang mana telah terkunci.


"Kita menyebar, dan beritahukan jika kalian menemukan sesuatu," perintah Nomi.


Nora ikut ke Novi dan tak mau sendirian, Rina juga maunya ikut tapi karena Nomi meminta mereka menyebar akhirnya ia mengikuti apa yang dikatakannya.


Rina berjalan ke arah sebuah ruangan yang pintu tak terkunci sama sekali. Saat masuk, ada banyak kertas serta dokumen berserakan di lantai.


"Ini pasti ruang arsip..."


Rina menelusuri sekitar dan ia melihat ada bercakan darah yang sudah kering menempel di dinding dan lantai serta mejanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"


Keanehan mulai menyelimuti, perasaan tak nyaman Rina semakin memuncak. Ia memutuskan segera keluar dari sana dan kembali ke tempat awal.


"Di mana mereka semua?"


Saat sampai di tempat awal, ia sangat terkejut karena teman-temannya tak terlihat sama sekali. Ketakutan mulai menyelimuti dan Rina berlari ke arah pintu utama saat dia dan yang lainnya.


"Apa?!"


Brek...! Brek...!


Rina berusaha mendorong pintu itu dan tampaknya pintu itu terkunci atau tertutupi sesuatu dari luar.


Brek...! Dak! Dak!


Rina terus berusaha mendorongnya dan mengetuk beberapa kali pintu itu.


"Siapa pun di luar sana, tolong buka kan pintunya!"


Berusaha seorang diri di tempat menyeramkan ini, dari awal ia tak ingin masuk ke sini karena punya firasat tak menyaman.


"Kenapa... kenapa kalian tega melakukan ini padaku..."


Pip... Pip... Pip...


Karena tak seorang pun selain mereka berempat masuk ke sini, Rina tahu siapa yang mau melakukan ini selain mereka bertiga. Dirinya tak menyangka bahwa mereka mau sampai senekat ini merundung dirinya


Tangisan diamnya membuat kegelapan di tempat ini semakin mencekam dan Rina sangat terpuruk berada di dalam sini seorang diri.


...•••...


Sesaat di luar rumah sakit...


"Nomi, bukankah ini terlalu berlebihan," kata Novi yang khawatir.


"Iya, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya," lanjut Nora.


"Kalian ini menyebalkan sekali sih! Bukannya kita sudah sepakat melakukan ini," ucap Nomi yang kesal.


Nora dan Novi memang sudah sepakat, tapi mereka tak menyangka sampai harus mengurung Rina di tempat menyeramkan itu seorang diri, pikirnya mereka berdua bahwa Rina dibawa ke sini untuk mempermalukan Rina di sekolah dengan rekaman ini, tapi siapa sangka Nomi melakukan ini semua di luar rencana mereka berdua.


"Kalian tidak perlu khawatir, rumah sakit mana yang tak punya pintu darurat. Aku yakin dia pasti keluar dari pintu."


Mendengar itu membuat Nora dan Novi lega, tapi lain halnya bagi Novi yang tak merasa enak sama sekali memperlakukan hal ini pada Rina.


"Maaf..."


Ia hanya bisa meminta maaf dalam hatinya, karena dirinya tak menyangka bahwa Rina gadis yang sangat ramah dan sangat cocok sebagai teman ngobrol, hal itu ia sudah rasakan saat mengobrol dengan Rina di perjalan.


Brem...


Seketika mobil itu tancap gas dan meninggalkan lokasi.


...•••...


Sesaat di dalam rumah sakit...


"Tidak mungkin..."


Tatapannya mulai menampakkan keputusasaan, sebuah jalan telah tertutupi puing-puing bangunan rumah sakit, dan di samping tembok itu ada tulisan "Exit" yang berarti ada jalan keluar lain di rumah sakit ini.


Grak!


"?"


Sesuatu di balik bayang-bayang telah mengintai Rina dan gadis muda ini masih sibuk mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini.