You're Not A Monster

You're Not A Monster
Sebatang kara



...12-03-2004...


Pukul 05.55


Cik... Cik...


Suara kicauan burung di pagi hari membuat pendengaran ini semakin menyegarkan. Embun pagi yang dingin selalu membuat kulit terasa lembut dan sejuk. Serta ayam berkokok yang menandakan bahwa pagi ini akan sangat cerah dan tidak ada hambatan sama sekali mengejar impian dan rezeki yang halal.


Dring...! Dring...!


Trak!


Tepukan lembut dari tangan seorang gadis muda terhadap teman yang selalu membangunkannya tepat waktu. Ia mengambil jam beker itu dan melihat jarum jam yang masih berputar dengan tatapan setengah sadar.


"Hm..."


Ia terus mengucek matanya yang masih lelah itu dan masih memandangi jarum yang terus berputar itu.


"Hoahmm..."


Setelah melihat beberapa saat teman pengingat itu, ia pun segera bangkit dari surga empuknya itu dan meregangkan setiap otot-otot tubuhnya dan mengeraskan setiap saraf-saraf di tubuhnya yang sedikit kaku.


"Selamat pagi Bu, Ayah..."


Melihat sebuah foto dengan gambar sepasang suami-istri yang tampak sangat bahagia, hal itu sudah terlihat jelas dari senyuman tulus yang mereka tunjukkan.


Gadis muda ini memandangi foto itu beberapa saat sembari tersenyum walau dari tatapannya tampak sedikit kesedihan, tapi hal ini tak akan membuatnya goyah untuk bersemangat untuk hidup demi kedua orang yang sangat dicintainya, agar mereka tidak khawatir pada dirinya.


"Baiklah! Saat bersiap-siap kesekolah!"


Tak ingin kesedihan mengambil waktu pagi cerahnya, ia bergegas bangkit dari kasurnya dan bersiap-siap melakukan rutinitas pagi harinya yang ia lakukan setiap paginya, atau mungkin semua orang selalu melakukan hal sama seperti dirinya? Entahlah, semua manusia punya privasi tersendiri, dan kamu pun demikian.


Menyiapkan pakaian yang sudah di setrika, menyiapkan buku-buku mata pelajaran hari ini serta beberapa alat tulisnya, setelah itu bergegas melepas seluruh kain yang ia pakai setiap tidurnya dan diganti selimut handuk nan lembut untuk menemaninya di tempat yang dingin dan menyejukkan--yang disertai bau harum dan selalu membuat bersih setelahnya.


Setelah mandi, ia berusaha merapikan diri dengan sedikit wewangian di tubuhnya dan memakai pakaian khas sekolah umumnya, dengan pakaian putih dan rok biru tua yang melewati lututnya.


Setelah melakukan persiapan untuk mengejar impian, ia tak lupa untuk mengisi perut yang kosong dengan beberapa lembar roti tawar disertai selai coklat kesukaannya.


"Aku berangkat dulu Bu, Ayah."


Setelah mengisi perut ia bergegas berangkat mengejar impiannya dan tak lupa berpamitan pada orang-orang yang sangat dicintainya yang pernah tinggal di rumah yang sudah dianggap seperti istana oleh mereka.


Klak!


Gadis muda ini segera mengunci pintu rumahnya dan melangkahkan kaki menuju alam bebas dan segar ini.


Berjalan di jalan beraspal panas dan dibarengi teriknya panas matahari pagi, membuat langkahnya sedikit cepat. Ia berjalan menuju ke sekekolahnya dan kebetulan jarak dari rumah ke sekolahnya tidak jauh, ia hanya perlu melewati 10 rumah saja dan dan sudah terlihat gedung sekolahnya.


Sebelum ke sana, ia disapa oleh orang-orang setiap ia lewan lorong rumahnya.


"Lagi ke sekolah ya, Neng," sapa seorang ibu yang menjual roti bakar.


"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu..."


"Heh... tunggu dulu, nih buat kamu," sembari memberikan sesuatu.


Gadis muda itu mengambilnya dan melihat isi dari kantong itu.


"Ya ampun, Bu. Tidak perlu repot-repot memberikan ini saya sudah sarapan dari tadi, kalau begitu saya bayar--"


"Tidak perlu," ibu itu langsung menyela kalimat gadis itu.


"Tapi Bu..."


Gadis muda itu hanya bisa tersenyum karena masih ada orang-orang yang sangat baik pada dirinya, ia berterima kasih pada ibu itu lagi dan melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya.


"Itu Rina ya?" Tanya seorang ibu yang datang untuk membeli roti bakar.


"Iya itu dia."


"Padahal ia masih muda tapi sudah kehilangan orang tuanya dengan cepat."


"Ya mau bagaimana lagi Bu, sudah takdir dari Tuhan," ucap ibu penjual roti bakar itu sembari menyiapkan pesanan pelanggan. "Tapi setidaknya, gadis muda sepertinya tidak bergaul bebas seperti gadis-gadis pada umumnya."


"Menikmati masa mudanya bakalan sulit baginya, karena setiap pulang sekolah selalu mampir di warungku untuk membantuku, dan tentu saja aku juga membayarnya walau aku tak membutuhkan bantuan sih. Tapi aku kasihan dengan dirinya yang harus berjuang keras seorang diri."


Kedua ibu-ibu kompleks ini sangat prihatin dengan nasib naas yang menimpa gadis muda itu, semua warga di di sekitar kompleks sangat mengenal gadis yang hidup sebatang kara ini. Mereka kadang selalu membantu gadis muda ini dan tak lupa juga gadis muda ini tak ingin menerima bantuan secara gratis, ia ingin bekerja seadanya walau bayarannya sedikit dan menurutnya itu cukup untuk menghidupi kehidupannya.


"Oh iya, sebentar lagi akhir bulan, mana lagi harus bayar iuran listrik dan tagihan air ledeng pula. Tapi aku penasaran bagaiamana Rina melewati hal ini? Padahal selama ini semua uang ia sisihkan hanya cukup untuk uang makannya dan sekolahnya," tampak ibu yang membeli roti bakar ini bertanya-tanya mengenai nasib malang gadis yatim piatu ini.


"Kamu tidak perlu khawatir, hal ini Pak RT sudah mengurusnya dan katanya semua biaya listrik dan airnya akan ditanggung olehnya."


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya masih ada banyak orang-orang di sekitarnya peduli padanya, mana lagi dia anaknya sangat manis pula. Aku jadi tak sabar saat dia dewasa dan segera menjodohkan Putraku padanya."


"Nih ambil! Gak usah banyak berkhayal."


Tampak ibu pembeli roti bakar ini sedikit cemberut, setelah itu ia berpamit pada ibu penjual roti bakar itu.


"Kalau Rina di sini masih ada banyak orang yang peduli padanya, tapi aku sedikit khawatir pada kehidupan sekolahnya, apa ia baik-baik saja ya?"


Ibu penjual roti bakar masih terus bertanya-tanya atas kebingungannya, tapi ia langsung menepis semua pikiran negatifnya itu sembaring menggelengkan sejenak kepalanya.


"Ah! Jangan berpikiran negatif, mungkin ia akan baik-baik saja di sekolahnya."


...•••...


Sesaat sampai di sekolah...


Namaku Rina Rosmara, berusia 14 tahun dan sekarang aku menginjak kelas dua di SMP Negeri 1 Bandung.


Aku bisa masuk ke sekolah elit ini karena aku mendapatkan beasiswa prestasi karena semua nilai-nilai rapor milikku semasa SD semuanya sangat baik, ditambah aku juga mendapatkan biaya bantuan siswa kurang mampu dari pemerintah sebab aku sekarang hanya seorang yatim piatu, tanpa pegangan apa pun dan hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan bekerja yang secukupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.


Tapi...


"Kyaaa!!!"


Kehidupan sekolahku tidak berjalan mulus seperti yang kuharapkan sejak dulu.


"Hahaha!!"


Tiba-tiba tiga orang wanita seumuran dengan Rina mendorongnya hingga jatuh.


"Kalau jalan lihat-lihat dong!"


"Tau nih! Punya mata sih?!"


Ketiga wanita ini terus mengusik ketenangan hidup sekolah gadis malang ini, tiada hari hanya perlakuan kasar yang ia dapatkan di sekolahnya. Teman-teman yang lainnya hanya bisa memandang dirinya dengan kasihan dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Karena ketiga gadis ini adalah anak dari pejabat pemerintahan dan orang tua mereka telah membantu anak-anak kurang mampu dengan menyekolahkan mereka dengan uang pemerintahan.


Hal inilah yang ditakutkan dari Rina, jika hidup tanggungan sekolahnya dicabut maka ia tidak akan bisa bersekolah lagi, karena membiayai hidup sehari-hari sangat kurang apalagi harus ikut membiayai uang sekokahnya, hal itu akan sangat mustahil baginya yang hanya bisa bekerja seadanya karena masih dibawa umur untuk bisa bekerja berat dan kasar.


Rina harus bertahan dari semua ini demi masa depannya, walau hal mengerikan selalu terjadi dalam hidupnya... terutama untuk ke depannya.