Wrathful

Wrathful
Wrathful



"MARIO !!" geram mikaru melihat mario tengah menikmati rumia.


mikaru berlari sekuat tenaga, lalu mengambil sebilah pedang yang bersandar di salah satu tiang dipinggiran lokasi kejadian.


dengan sebilah pedang ditangan kirinya, ia melesat maju menerobos gerombolan kesatria lalu menebas leher mario sekuat tenaga. hingga mengakibatkan cidra pada lengannya yang bergeser akibat terlalu kuat.


"mi.. mikaru..." rendah nada yang dikeluarkan rumia memanggil mikaru.


dari apa yang mikaru lihat, rumia tampak pucat, lemah tak berdaya tanpa sehelai busana.


"ru-rumia..." bergetar bibir mikaru melihat rumia yang terbaring lemah.


melihat mario yang tewas satu serangan oleh mikaru, membuat seluruh pasukan murkah.


secara serentak mereka mengeluarkan senjata dari sarungnya, lalu berbondong-bondong mengejar mikaru dari segala sisi.


dengan sisa tenaga yang ia punya, rumia mencoba mengangkat tangan seolah ingin menggapai mikaru. mikaru yang melihat rumia, lantas tersenyum.


air matapun jatuh dari kedua mata mereka secara bersamaan.


salah satu pasukan berhasil menerjang mikaru dari belakang hingga tersungkur


ingin segera berdiri namun mikaru merasa serangan tadi mematahkan beberapa tulang rusuknya "akh..." keluar darah dari mulutnya "keras sekali pukulannya..."


tiba-tiba seseorang memotong kakinya dengan kapak besar hingga terputus rapi.


"AKKHHH....." teriak mikaru yang merasa kesakitan.


berkali-kali mikaru di injak dan di tusuk hingga kehabisan banyak darah.


"di-dingin sekali..." gumam mikaru


pongki mencoba mencangking mikaru dengan satu tangan, tampak tatapan kosong dari mata mikaru.


mikaru yang kehabisan banyak darah tidak lagi merasakan sakit oleh serangan-serangan yang dilucuti ke dirinya.


ini adalah serangan akhir yang dilancarkan pongki untuk memenggal kepala mikaru.


"si-sial... aku tidak bisa menggerakan apapun dalam diriku..."


"maafkan aku rumia..."


"kurasa sampai disini..."


sambil tersenyum dengan wajah mesum, seakan mengisyaratkan setelah kematian mikaru ia akan melanjutkan tindakannya pada rumia.


"orang ini..."


air mata mikaru menetes kembali dihadapan pongki


"kenapa orang - orang seperti ini dibiarkan hidup bebas di dunia ini..."


beberapa dari mereka melanjutkan perbuatan keji mereka, sementara pongki memaksa mikaru melihat perbuatan mereka diakhir hidupnya.


"jika saja..."


"saat itu..."


"aku lebih memilih mati dengan hewan buas itu..."


"jika saja..."


"saat itu..."


"aku tidak percaya dengan kebaikan mereka..."


"jika saja..."


isak tangis mikaru meratapi akhir hidupnya


"jika saja..."


"Tuhan..."


"jika saja..."


"Dewa..."


"jika saja... mereka tahu, manusia lebih buas dari hewan buas..."


"aku bersumpah akan membinasakan mereka dikehidupan manapun dan kapanpun..."


"kelopak bunga pohon ensnare perlahan muncul dan menjalar dari kerongkongan manusia keji, telinga dan hidung tersumbat hingga tak mampu berfungsi. mengunci jiwa yang melayang untuk pergi. bunga-bunga yang mekar menghasilkan buah hijau berkilau bagai apel segar. setiap satu buah yang tumbuh adalah jiwa yang dikorbankan.


sebuah tunas yang baru lahir dari kebencian yang abadi, apa kau mendengar suaraku wahai anak yang malang ?"


bersamaan dengan suara lembut dari sesosok perempuan yang tidak tahu dimana keberadaannya, mikaru menyaksikan seluruh pasukan itu mati.


"tidurlah dengan tenang..."


suara lembut dari wanita itu hingga mikaru sampai pada batasnya lalu memejamkan mata.