Wrathful

Wrathful
Pasukan Perbatasan



Tanah outcast adalah tanah buangan. dahulu kala, tanah outcast adalah tanah bagi para vampir. disini pernah hidup jutaan vampir dengan damai. mereka lahir, tumbuh, berkembang layaknya manusia mereka hidup dengan bebas ditanah ini. hingga suatu hari penyihir itu tiba, membunuh seluruh vampir yang ada di tanah ini dengan makhluk ciptaannya yaitu chimera, penyihir itu dikenal sebagai witch of blood dialah Meldanova. vampir sesungguhnya, yang haus akan darah untuk seluruh makluk yang memiliki jiwa.


"kurasa sungai ini akan membawa kita ke ujung pulau" ucap mira.


"memang itu tujuan kita" sambung mikaru.


"bagaimana jika kita beristirahat dulu" sambung ririn.


"kita akan berjalan santai kali ini" ucap sigit seraya mengulurkan tangan.


"aaa... baiklah-baiklah" sambut ririn.


"rumia, kau lelah ?" tanya mikaru.


"ti-tidak..." kaku rumia menjawab.


menyadari seakan ada sesuatu yang disembunyikan mikaru berbisik "jika kau lelah, aku akan menggendongmu"


"dengan luka seperti itu" jawab rumia.


"tentu saja hihi..." sambil tersenyum mikaru menjawab.


"bodoh !" jawab rumia lalu tersenyum.


setelah beristirahat, kondisi mental mereka kembali setelah saling bersanda gurau. kini mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti aliran sungai.


"nah sigit, berapa usiamu ?" tanya mikaru.


"hoy-hoy... apa-apaan ini, tiba-tiba menyakan usia" jawab sigit.


"tidak, aku hanya ingin kenal lebih dekat dengan kalian semua" jawab mikaru.


"usiaku, 23 tahun seorang mahasiswa semester akhir" jawab sigit.


"sial, ternyata kau sudah tua" sontak bingung mikaru menjawab.


"hoy-hoy... kau itu yang masih bocah" balas sigit.


rumia tertawa melihat ekspresi mereka berdua "disini hanya kita yang masih sekolah" sambung rumia.


"aku sempat bingung, kukira kau lebih tua dari kami" tanya mira.


"apa wajahku terlihat tua ?" tanya mikaru dengan wajah melas.


"itu karna kau terlihat lebih dewasa seperti pemimpin, mikaru !" seru ririn.


ucapan mikaru benar adanya, terbesit dibenak mereka bahwa keluarga, teman dan orang-orang yang kita kenal semua ada disini. bahkan kota merekapun ada disini, jika dia kembali itu artinya mereka lah yang menjadi orang asing.


"tidak, bukan seperti itu mikaru. tim evakuasi pasti akan mengumpulkan orang-orang yang hilang dan pemerintah pasti akan membangun kembali kota kita" ucap sigit menenangkan mikaru.


"itu benar, yang terpenting kita harus kembali, mungkin salah satu keluarga atau teman kita sudah terlebih dulu pulang dan menunggu kita segera kembali" sambung ririn.


"haha... kalian benar, beruntungnya kalian" senyum mikaru mendengar jawaban teman-temannya.


diperjalanan, mereka santai berjalan sambil bercerita mengikuti aliran sungai hingga tak menyadari ada sesuatu yang mengikuti mereka.


"srek...srekk..." terdengar suara rumput terinjak dan patahan kayu di semak-semak.


"suara apa itu ?!" ucap sigit.


sontak mata mereka berlima melihat kesumber suara.


keheningan malam memungkinkan mereka mendengar setiap gesekan-gesekan yang terjadi dihutan.


dari arah belakang, tepat dibalik semak tertutup kabur. sesosok chimera melompat kearah mereka.


chimera yang mengikuti mereka adalah chimera berjenis Kong berkepala srigala, bertubuh tegap dapat berdiri, kepalan tangan yang besar menyerupai gorila dan berkaki anjing untuk melompat, meski ekornya tidak tampak berbahaya namun ekornya seperti kera yang dapat bergantung di ranting-ranting pohon.


"awas..." teriak mikaru memberi sinyal pada teman-temannya untuk menghindar.


"bwaarrr" terdengar begitu keras hingga menggetarkan tanah efek lompatan kong yang menabrak pepohonan.


"makhluk ini lebih besar dari chimera yang sebelumnya" ucap sigit.


kong memiliki tinggi delapan sampai sepuluh meter saat berdiri. serangannya sangat kuat, cukup mudah baginya menghancurkan batu karang dengan pukulannya.


"celaka, kita tidak bisa lari dari makhluk ini" ucap mikaru.


terdengar suara sumbang dari balik pohon seperti mengucap sebuah mantra lalu melempar tombak runcing yang begitu kuat.


tidak hanya satu, ada puluhan tombak yang mendarat ditubuh kong.


kong pun dilumpukan dengan puluhan tombak yang menusuk tubuhnya.


seketika, mata mereka berkaca-kaca melihat ratusan manusia yang menolong mereka.


mereka adalah pasukan perbatasan dari kerajaan melkuera.