
episode 5
Tebalnya kabut yang menyelimuti langit-langit reruntuhan kota, tak memberi cela bagi matahari untuk menampakkan keberadaannya. menyusuri sudut kota tanpa petunjuk arah, mikaru memutuskan untuk segera pergi menuju gunung tinggi yang tampak samar dari reruntuhan kota. baginya, dari ketinggian ia dapat menembus kabut tebal dan melihat dengan jelas keadaan sekitarnya.
menjarah perbekalan dan perlengkapan yang tak memiliki tuan, kini mereka berlima mempersiapkan diri untuk meninggalkan reruntuhan kota.
"bagaimana ?..." tanya Mikaru pada yang lainnya.
"tunggu sebentar..." jawab Mira.
melihat ke empat temannya yang sedang sibuk berkemas, Mikaru melirik kesebuah toko disebelah kanan tempat ia berdiri, tampak sebuah pisau sepanjang 30cm yang terpampang di etalase.
beranjak pergi meninggalkan teman-temannya, ia menuju ketempat itu dan menemukan alat-alat perburuan.
"perlengkapan perburuan ?" gumam mikaru melihat-lihat isi ruangan.
"kurasa senapan angin ini tidak efektif untuk perlindungan diri" gumamnya melihat beberapa senapan yang biasa digunakan untuk berburu hewan.
"kurasa ini cukup" gumamnya mengambil pisau sepanjang 30cm yang ia letakan di pinggang bagian belakang.
keempat temannya sudah siap, lalu menghampiri mikaru.
"apa yang kau cari ?" tanya mira menghampiri mikaru.
"tidak mungkin kita terus berlari kan ?" jawab mikaru sambil mencoba ketajaman pisau.
"mira-mira, coba lihat..." Seruan Ririn berlari menghampiri Mira tampak memamerkan pakaian yang ia dapat dari toko pakaian sebelah.
"kau ini..." menghela nafas memperhatikan pakaian Ririn.
Ririn tampak mengenakan celana pendek dan jaket biru muda yang memiliki kerudung seperti telinga kelinci.
"sudah-sudah jangan ribut mulu..." sambung sigit melerai ririn dan mira.
"mikaru, aku menemukan ini" ucap rumia mendekati mikaru sambil menunjukan sesuatu yang ia bawa.
"dimana kau menemukannya ?" tanya mikaru pada rumia.
"didalam toilet wanita toko pakaian tadi" jawab rumia.
"kosong... " gumam mikaru mengecheck pistol yang dibawa rumia. "benda ini sangat berguna. tapi, tidak ada amunisinya !" ucapnya lalu menyimpan senjata api tersebut disaku celananya.
"bisa kita pergi sekarang ?" tanya mira.
"baiklah..." jawab mikaru beranjak pergi.
kini mereka berlima memulai perjalanan menuju bukit yang tampak dari reruntuhan kota. hari yang paling melelahkan dalam hidup mereka, dimana mereka berlima harus berlari menuju bukit tanpa mengenakan kendaraan. delapan jam setelah perjalan mereka, sedikitpun tak tampak ujung dari reruntuhan kota.
mikaru menyadari sesuatu yang janggal terjadi pada mereka, ditengah kabut yang tebal. harusnya padangan mereka terbatas. namun, "kenapa kabut ini tidak menutupi gunung itu ?!" gumam mikaru.
"huaaagghh.... bi-bisa kita berhenti sebentar ?" dengan nafas terhenga-henga ririn memintak untuk beristirahat sejenak.
"kau ingin bermalam bersama monster itu lagi ?" tanya mira pada ririn.
"aku be-benar-benar lelah... hah" jawab ririn dengan nafas terengah-engah tampak sulit sekali bernafas.
"berikan tasmu padaku..." ucap sigit mengambil tas dukung yang dibawa ririn.
"te-terima kasih..." ucap ririn.
"sebelum gelap kita harus keluar dari kota ini" tegas mikaru melihat kondisi ririn.
hari yang panjang diisi dengan perjalanan tanpa henti. perut yang lapar dan tenggorokan yang kering tak menghentikan langkah mereka, namun tubuh mereka kini tampak mencapai batas. rasa lelah yang mengharuskan mereka untuk berhenti dan beristirahat.
"entah sudah berapa lama kami berjalan, bahkan stopwatch ini pun tidak berfungsi" gumam mikaru memperhatikan stopwatch yang ia dapat ditoko perburuan.
"kita akan beristirahat dirumah itu..." tunjuk mikaru pada bangunan tepat berada didepan mereka.
"akhirnya..." jawab ririn tampak bahagia.
delapan jam perjalanan mereka tempuh tanpa henti, kini mereka beristirahat di bangunan dengan kondisi 40% hancur.
"benar-benar tidak layak tinggal..." ucap sigit melihat kondisi bangunan.
"mau bagaimana lagi, tempat ini berbeda dengan sebelumnya" menanggapi sigit, mikaru menjelaskan keadaan "tidak ada yang lebih layak disinggahi dari pada tempat ini kan" melihat keseluruh sudut lingkungan.
"dari pada ini, kalian lihat itu ?" tunjuk mira tampak pepohonan dibalik kabut tebal yang terlihat sangat besar.
"be-besar sekali..." sambung ririn menanggapi ucapan mira.
"di-dimana kita sebenarnya" terpatah-patah sigit menanggapi mira.
"aku benar-benar tidak menyadari kita sudah sampai keujung reruntuhan" ucap mikaru terbujur kaku melihat hutan yang diisi pepohonan rindang raksasa.
tampak raut wajah cemas sigit merespon ucapan mikaru "kita tidak bisa melanjutkan perjalanan, sebaiknya kita menetap disini sampai besok pagi".
memperhatikan gestur tubuh teman-temannya yang tampak cemas "kau benar, sebaiknya kita bermalam disini dan melanjutkan perjalanan besok pagi" berjalan melangkah ke arah bangunan yang akan mereka tempati, mikaru berucap "sebelum gelap, sebaiknya kita sudah bersiap dan tidak ada aktifitas untuk malam hari".
didalam ruangan 4x6 ini, mereka membersihkan ruang kotor dari debu tebal. mira memperhatikan langit-langit ruangan yang berlubang cukup besar. rasa cemas mira jika nanti makhluk itu kembali , lalu masuk dari langit-langit yang berlubang.
"apa sebaiknya kita perbaiki atap ini ?" tunjuk mira kearah atap yang berlobang.
"waktu kita tidak akan cukup" jawab mikaru.
"bagaimana jika dia (chimera) kembali ?" tanya mira.
"kita tidak akan beraktifitas saat malam, kita akan tidur dengan sleeping bag" jelas mikaru.
menanggapi kecemasan mira, mikaru bergumam "semoga dugaanku benar".
"hanya ini yang aku dapat tadi" terdengar suara ririn sedang berbicara dengan rumia.
"tidak apa-apa, itu cukup" jawab rumia.
ririn dan rumia tengah mempersiapkan makan-makanan instan.
"mikaru, temani aku... " panggil sigit mengajak mikaru pergi mencari kayu bakar.
setelah membersihkan tempat, ririn, mira dan rumia mempersiapkan bahan makanan. sementara mikaru dan sigit mencari beberapa kayu bakar.
perlahan mereka mendekati hutan, tak hanya satu tapi seluruh pohon didalamnya berukuran besar. sampai-sampai mereka dibuat takjub dengan buah-buah yang jatuh sebesar bola yoga dengan diameter 70-90cm.
sambil menunjuk buah besar dengan raut wajah bingung mikaru bertanya "ini ?... buah sebesar ini dari pohon ini ?".
"kurasa, begitu..." sambil memusatkan pandangan pada puncak pohon yang tertutup kabut tebal.
mikaru dan sigit dibuat terheran-heran, bagaimana bisa pohon setinggi ini tidak terlihat ujungnya, sementara puncak gunung terlihat dari sini.
terlintas dipikiran mikaru "apa ini delusi ?" gumamnya sambil memikirkan sesuatu yang ada dipuncak gunung itu.
mengenyampingkan keanehan-keanehan yang mereka alami, sigit dan mikaru kembali ke tempat peristirahatannya.
langit mulai kehilangan sinarnya. setelah makan. mikaru menyalakan api unggun diluar bangunan, guna menerangi jalan dan memperluas pandangan.
saat hendak beristirahat, rumia mendekati mikaru lalu menanyakan keadaan dari luka yang dialami mikaru "bagaimana lukamu ?"
"ti-tidak apa-apa" grogi dengan kedatangan rumia secara tiba-tiba "kurasa, aku mulai terbiasa tanpa tangan ini..." melirik ke arah luka.
"perbannya harus digan-(ganti)" memotong ucapan rumia, mira bertanya "kalian saling kenal ?".
"rumia teman sekolahku..." jawab mikaru.
"teman sekolah ?" merasa kurang puas dengan jawaban mikaru "tapi, kalian terlalu dekat...".
"dulunya aku anak yatim, ia berjuang membesarkanku seorang diri. lalu, setelah bencana ini aku kehilangan dia. dan sekarang, hanya ini satu-satunya yang berharga untukku" membelai lembut rambut rumia "kita akan kembali bersama...".
mira memahami ucapan mikaru "begitu..." sambil menyelimuti diri dengan sleeping bag "baiklah, waktunya kita tidur..."
"kejadian terburuk jika mahkluk itu kembali, aku mintak kalian untuk tidak berlari pergi" ucap mikaru sebelum mereka semua tertidur.
"maksudmu ?" tanya sigit.
"ini hanya perkiraanku saja, sebaiknya kurangi pergerakan jika makhluk itu kembali. tutupi diri kalian dengan sleeping bag sampai kulit kalian tidak terlihat" mikaru menjelaskan.
"tu-tunggu... aku bisa mati kehabisan nafas" ucap ririn menanggapi penjelasan mikaru.
mendengar ucapan mikaru, mira terbangun ingin mendengar penjelasan "apa yang kau pikirkan..."
"meskipun makhluk itu terlihat aneh (chimera), tetap saja mereka itu golongan hewan. beberapa kemampuan mereka yang dipadukan antara singa dan ular. memiliki titik buta dan kelemahan dalam memilih mangsa kan ?..." penjelasan mikaru.
"maksudmu sensor suhu tubuh yang dimiliki ular dan objek bergerak yang dilihat singa..." sambung mira.
"yah... kurang lebih seperti itu." jawab mikaru.
karena kemampuan dasar dari chimera adalah hewan cipataan yang memiliki dua kemampuan. mikaru mencoba mengkaitkan kemampuan singa dan ular yang dipadukan, hanya teori liar mikaru yang belum terbukti kebenarannya.
seusai perbincangan, mereka pun beristirahat dengan kesiapan yang telah direncanakan mikaru.
malam semakin larut, diperkuat dengan udara dingin dan suasana yang begitu hening. kobaran api yang menyala perlahan mengecil. terdengar dekuran dan langkah kaki yang menandakan makhluk itu kembali.