Wrathful

Wrathful
Tanah OutCast



episode 4


Gemuruh teriak dan raungan makhluk tak dikenal menambah kalut suasana. disela-sela lorong, terdengar langkah kaki tengah berlari kesana kemari berharap pertolongan.


"to-tolong...".


Gumam hati seraya melirik kesana kemari berharap ada seseorang menemukannya.


"siapapun, tolong aku..."


Dari matanya tampak air mata tertahan, wajah cemas dan kebingungan melewati lorong gelap tanpa penerangan.


Mira, wanita berusia 19 tahun yang berlari meninggalkan teman-temannya.


"GRAAAA..." dari kejauhan terdengar raungan yang memekakkan telinga.


Mira menjerit menangis menutup kedua telinganya.


"sudah hentikan, kumohon..." berharap semua ini hanyalah mimpi.


Setiap kali raungan makhluk itu terdengar, mira terbayangan ketika makhluk itu menerkam temannya. tak lagi ada keberanian untuk berlari ataupun kembali, ia memilih duduk dan menangisi keadaan saat ini.


"to-tolong..."


Tersendu-sendu menangis meminta tolong.


"siapapun... tolong aku..."


Fokus beralih pada mikaru dan rumia


"mikaru..." bisik rumia sambil memegangi lengan mikaru


Melihat wajah rumia yang ketakutan, perlahan mikaru membawa rumia melintasi jalan lain.


"ayo..." dengan nada kecil mikaru menarik tangan rumia berlari melewati jalan memutar.


Jalan terlalu gelap dan berbahaya membuat mikaru mengurungkan diri untuk berlari mengejar teman-temannya.


"disini..." melihat pintu bangunan bekas mall, mikaru membawa rumia.


Menghela nafas setelah berlari rumia bertanya "yang tadi itu apa ?..."


"kurang lebih itu seperti chimera, makhluk fiksi yang ada di dalam cerita..."


"hmm ?!..."


"kau tidak takut ?"


"takut kanapa ?"


"ti-tidak... maksudku, apa kau melihatnya ?..."


"iya, itu randy bukan ?"


"tubuhku sempat bergetar saat melihat makhluk itu melahap rekanku, tapi rumia seperti tidak merasakan apapun" gumam mikaru.


"i-iya, yang tadi itu randy" terbata-bata mikaru menjawab "sebaiknya kita segera ke atas" ajak mikaru memperhatikan anak tangga yang ada didepannya.


berbekal penerangan dari phonsel, mikaru dan rumia menelusuri tiap sudut ruangan yang ada di bangunan bekas mall.


"mikaru..." dengan nada lembut rumia memanggil mikaru.


"ada apa ?"


"kenapa kita kesini ?"


"diluar terlalu berbahaya, kearah mana mereka berlari aku pun tidak tahu..." mengalihkan wajah mikaru bergumam "terlebih aku mengkhawatirkanmu, Rumia. aku tidak tahu ada dimana mereka jika terlalu lama ada disana mungkin nasip serupa terjadi padamu, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa..."


"tidak perlu memikirkan mereka..." menatap sinis rumia menjawab.


"e-eh ?" terheran mikaru melihat ekspresi rumia.


tampak amarah yang tertahan dari rumia "mereka meninggalkan kita lari entah kemana, itu balasan setimpal untuk mereka !"


"ru-rumia ?"


"aku tidak peduli dengan mereka, untuk apa kita mengejar dan mengikuti mereka, lagi pula aku tidak tahu siapa mereka".


"tidak pernah sedikitpun aku melihat kerutan didahinya" gumam mikaru menyaksikan keluhan rumia.


"sedikitpun aku tidak akan merasa kasihan pada mereka"


"saat teman-teman disekolah menjahilinya dia selalu berkata, ya sudah tidak apa-apa, sambil tersenyum memaafkan teman-temannya"


"persetan dengan mereka semua!" teriak rumia.


"te-tenangkan dirimu rumia..." terbata-bata mikaru memegangi pundak rumia.


"huhu..." rumia tampak menangis menundukan pandangannya.


"ternyata..." gumam mikaru saat memeluk tubuh rumia "tangannya bergetar dan detak jantungnya terasa sangat kencang, tak banyak yang dapat kulakukan selain memeluk untuk menenangkannya."


Fokus beralih pada sigit dan ririn tengah berlari kencang melewati Lorong.


"tolong !" terdengar teriakan cukup keras.


"mira !" ucap sigit melirik ririn.


Ririn menganggukan kepala seolah menjawab pertanyaan sigit


Sigit dan Ririn berlari menuju sumber suara...


Suasana begitu mencekam, seakan tak ada tempat untuk berlari, itu yang dirasakan mira saat ini. sembari menangis tersenduh-senduh di tengah lorong ia berbisik "huhu... tolong... huhu... tolong..."


Kilas balik teringat beberapa jam sebelum bencana itu terjadi, ia masih bersenang-senang bersama teman-temannya menghabiskan waktu bercanda gurau.


"to..." belum sempat berucap tiba-tiba seseorang menutup mulut mira dan menyeretnya kedalam bangunan tepat berada disebelahnya.


"pelankan suaramu mira..." terhenga-henga nafas sigit setelah berlari.


"apa kau terluka mira ?" tanya ririn.


"ka-kalian ?!" terkejut mira melihat kehadiran mereka berdua.


"kami mendengar teriakanmu" ucap sigit seraya mengelus rambut mira "apa kau terluka ?"


Menepis tangan sigit, mira bertanya "di-dimana yang lain ?" trauma mengingat monster yang melahap temannya kembali terbayang dipikiran mira.


Dari apa yang sigit perhatikan, mira tampak ketakutan hingga tidak bisa membedakan mana teman dan mana lawan.


Bergetar tubuh ririn menjawab "mo...monster itu..."


Belum sempat ririn menjawab, mira berteriak histeris kehilangan kesadaran tampak seperti orang gila.


Sambil memegang pundaknya "mira !" sigit mencoba menenangkannya "ini aku sigit, temanmu !"


"AaaKKkhhHH" teriak mira sambil mengacak-acak rambutnya.


Melihat mira kehilangan kesadaran, ririn pun berlutut menangisi kejadian yang menimpa mereka.


"tak ada harapan, tak ada jalan keluar" sigit melepaskan tangan dari pundak mira "menangislah... dan berteriaklah..."


Sigit menepi kepojok ruangan lalu bersandar "cepat atau lambat kita pun akan mati"


Didalam bangunan kumuh dan kotor mereka bertiga berlindung dari serangan chimera. tak tergambar harapan di wajah ketiganya, hanya berdiam diruangan menunggu kematian datang.


Fokus beralih pada mikaru dan rumia.


Rumia tampak khawatir dengan luka yang ada ditangan mikaru, dari balutannya, darah mulai menetes keluar.


"mikaru, bagaimana lukamu ?"


"sedikit berdenyut, tapi tidak apa-apa"


"darahmu ?..." menatap luka mikaru.


"oh ayolah, ini tidak apa-apa" sambil memegang pipi rumia, mikaru bertanya "dari pada ini, bagaimana luka bakar yang kau terima ?"


"aku tidak merasakan sakit dari luka ini" memalingkan wajah "kurasa, sudah sembuh" dengan nada lembut rumia menjawab lalu memeluk mikaru.


"tubuhnya bergetar..." gumam mikaru memeluk rumia.


"dari mana getaran ini berasal..."


"bukan hanya aku..."


"ia hanya bisa memelukku... sangat kuat... aku merasakan detak jantungnya..."


"aku tahu betul apa yang dia rasakan saat ini..."


"maafkan aku rumia,..."


"aku benar-benar malu menjadi laki-laki yang tidak bisa mengatasi rasa takutmu..."


Malam begitu panjang, tak banyak yang dapat mereka lakukan kecuali menunggu. entah itu seseorang yang menyelamatkan atau kematian yang datang. raungan itu terus terdengar dari luar bangunan, disela-selanya terdengar pula teriakan mintak tolong. sigit dan mikaru memahami betul kondisi saat itu, empati benar-benar tidak diperlukan. rasa takut teramat besar mengalahkan semua perasaan, sekalipun tenggorokan mereka kering, perut mereka lapar dan luka mereka terbuka, tak sedikit pun mereka beranjak dari tempat itu.


gulita malam berlalu, bersama dengan terbitnya mentari pagi para chimera kembali ke sarang mereka.


kicauan burung terdengar membangunkan mikaru yang tengah tertidur lelap.


perlahan mikaru membuka matanya "Mo-monsternya ?!" hendak berdiri melihat jendela, namun tertahan oleh pelukan rumia "hmm ?" tersenyum mikaru melihat rumia tertidur pulas sambil memeluk tubuhnya.


"hey... bangun" dengan jarinya, ia mencubit pipi rumia.


"hmmm...." menepis jari mikaru, rumia melanjutkan tidurnya.


"sepertinya, monster itu sudah pergi..."


"be-benarkah ?" bersemangat rumia bangun mendengar ucapan mikaru.


Dari sela-sela lobang pada bangunan, cahaya matahari menerangi ruangan tempat mereka beristirahat.


Perlahan mikaru bangkit mencari toilet di bangunan bekas mall yang ia tempati.


"cuma mau liat-liat" seraya beranjak pergi meninggalkan rumia.


"ikut !" susul rumia.


Mereka berdua menyusuri bangunan bekas mall menemukan beberapa pakaian ganti lalu membersihkan diri.


Diruang terpisah mikaru melepas pakaian kotornya, setelah melepaskan pakaiannya, ia termenung melihat pakaiannya yang mengeras "darahnya sampai mengering seperti ini ?"


Saat hendak memakai baju baru yang ia dapatkan, ia melirik tangan kanannya yang terbalut perban putih yang telah kusam "kurasa, aku sudah terbiasa tanpa tangan kanan ini..." mengingat tangannya, perlahan matanya berkaca-kaca "tapi... aku belum terbiasa tanpamu..." keseimbangannya pun hilang, seiring jatuhnya air mata ia bersandar pada tembok, lantas terduduk beberapa saat mengingat kematian ibunya.


Bukan hal mudah melupakan sosok seorang ibu yang telah berjuang membesarkannya seorang diri.


"mikaru ?" panggil rumia yang menunggunya didepan ruang ganti.


"ya..." jawab mikaru membuka pintu.


"kau terlihat cocok dengan pakaian itu" puji mikaru memandangi penampilan rumia.


"kau melihat kearah mana ? mi-ka-ru..."


"oh... haha... tersipu malu mikaru mengalihkan pandangannya"


"lukamu ?" tanya rumia melihat luka ditangan mikaru.


"aku tidak bisa mengganti perbannya, terlalu lengket"


"biar ku bantu" ucap rumia lekas mencari beberapa bahan untuk mengganti perban mikaru.


Setelah beberapa menit rumia mengumpulkan bahan, ia mencoba membuka perban pada luka mikaru.


"Akkhh !" teriak mikaru.


"sakit ?"


"tanpa ditanyapun harusnya kau sudah tau"


Baru beberapa balut-an dilepas, darah mikaru kembali menetes.


"ti-tidak usah rumia, tidak apa-apa" menahan tangan rumia "lukanya masih belum pulih, sebaiknya tidak usah dilepas dulu"


"tapi perban ini sudah kotor"


"awas !" sontak berdiri mikaru menarik tangan rumia.


Tetesan luka mikaru yang jatuh kelantai tiba-tiba mengeluarkan asap panas, lalu meresap tanpa sisa dilantai bangunan yang mereka tempati.


Rumia yang kebingungan melihat prilaku mikaru "da-darahnya..."


"sebenernya...." gumam mikaru menatap tajam "tempat apa ini..."


Fokus beralih pada sigit, mira dan ririn.


Berbaring terlentang lemah mira berucap "mereka sudah pergi...".


"hmm ?" sambut ririn melirik kearah mira.


Sigit menyadari maksud ucapan mira lantas beranjak keluar bangunan


Hendak melewati ririn yang tengah duduk bersadar, celana panjang sigit ditahan oleh ririn "mau kemana ?"


Hanya melirik tanpa menjawab sigit melanjutkan langkah kakinya.


Pagi ini tampak tenang, sangat tenang sampai-sampai suara angin yang bertiup lembut melewati telinganya terdengar. diiringi dengan kicauan burung, sigit memperhatikan langit "dimana...." langit tampak ditutupi kabut tebal yang kuning hingga matahari tak tampak wujud dan keberadaannya "dimana sebenarnya ini..."


Para penduduk kota yang terhisap kedalam lubang hitam terdampar ditanah outcast. bagian dari dataran yang tidak terjamah oleh manusia dan tidak ditemukan dalam peta dunia. dataran outcast adalah dataran yang memiliki luas 3 kali indonesia, sebuah dataran yang diselimuti kabut kuning tebal menutupi langit.


Kabut tebal yang menutupi langit membuat suasana pagi itu terasa senja, mikaru terdiam sesaat di depan pintu menatap langit, sementara rumia tampak ketakutan memeluk erat tangan kiri mikaru.


"te-tempat apa ini sebenarnya"


Dari apa yang mikaru lihat saat ini, banyak potongan tubuh mengering "harusnya..."


Sisa-sisa serangan chimera semalam membuatnya tak habis pikir "banyak bekas darah..."


Chimera tak memakan manusia seutuhnya "tapi kenapa..."


Mereka hanya mencabik-cabik layaknya mesin pembunuh.


Mikaru mencoba membuktikannya kembali, ia melukai telapak tangan kirinya dengan potongan kaca yang masih menempel dijendela tempat ia bermalam.


"apa yang mau kau lakukan ?" tanya rumia.


"ada sesuatu yang membuatku bingung...."


"apa ?"


Setelah melukai tangannya, darah mikarupun jatuh ke tanah.


Tanah itu menghisap darahnya sampai kering tak bersisa dan meninggalkan bau.


Sambil melihat uap yang keluar dari tetesan darah mikaru "begitu ?".


bingung apa yang dilakukan mikaru, rumia bertanya "darahnya, kenapa ?".


"bukan hanya makhluk itu, bahkan tanah ini juga tampak menghisap darah manusia".


"maksudnya ?".


"lihat sisa-sisa serangan mahkluk semalam, mereka hanya membunuh tapi yang menikmatinya adalah tanah ini"


"aku tidak mengerti, apa maksudnya mikaru"


"sebaiknya, kita pergi ketempat mahkluk itu menyerang rama dan randy"


mikaru dan rumia bergegas pergi ketempat serangan mahkluk itu semalam, sesampainya disana.


sesuai dugaan mikaru, mahkluk itu tidak memakan sepenuhnya tubuh rama dan randy. mereka hanya membunuh dan menumpahkan darah sebanyaknya agar dapat diserap oleh tanah ini.


"Mikaruu ... !!" teriak seseorang dari kejauhan.


"hmm ?" lirik ke sumber suara.


"mereka selamat ?!" jawab rumia.


sigit menghampiri mikaru dan rumia "bagaimana keadaan kalian ?"


"tidak terlalu baik" ucap mikaru sambil memandangi mayat randy dan rama.


ririn dan mira yang menyusul melirik ketelapak tangan mikaru


"tanganmu ? kenapa..." tanya mira melihat telapak tangan mikaru.


"perhatikan" ucap mikaru sambil meremas telapak tangannya untuk mengeluarkan darah.


sigit, mira dan ririn menatap tetesan darah mikaru yang diserap oleh tanah, sigit yang mulai mendekati dan memperhatikan tanah tempat mikaru meneteskan darah "teteskan lagi..." ucapnya mentap serius.


"uap nya tidak panas..." sigit memperhatikan uap yang keluar saat darah mikaru menetes.


"apa yang terjadi ?" tanya ririn.


"tanah yang kita pijaki ini sepertinya hidup..." jawab mira


"mira ?" bingung ririn melihat mira.


"sepertinya dia telah sadar dari stresnya" gumam sigit.


"benar-benar terserap sampai tak bersisa" jawab mira sambil memegangi tanah yang terkena tetesan darah mikaru.


"kita tidak bisa berlama-lama ditempat seperti ini" ucap mikaru.


berdiri sigit berkata "kau benar, selagi masih siang dan monster itu tidak ada disini"


"ayo kita pergi dari sini" ajak ririn.


"sambil membalut luka ditangan mikaru, rumia menjawab "sebaiknya luka ini diobati dulu".


masih memandangi tanah yang tertetes darah mikaru, mira berkata "mau kemana ?"


"tentu saja keluar dari tempat ini..." semangat ririn menjawab.


"kau tau, saat aku belum bertemu kalian, aku menemukan ini" jawab mira menunjukan kompas "salah satu mayat memegangnya, benda ini sama sekali tidak menunjukan dimana arah utara, kurasa ia berlari mencari jalan keluar"


"mungkin itu rusak-..." belum sempat sigit menjawab ucapan mira, mira memotong ucapnya.


"kau tau, pengaturan waktu diphonsel dan jam tanganmu tidak berfungsi ? apa phonsel dan jammu rusak ? kau lihat kompas ini, ia bergerak seperti kebingungan ?" teriak mira yang tampak marah pada sigit sambil menunjukan kompas yang ia genggam.


"jadi itu yang membuatnya berteriak histeris semalam..." gumam sigit


"kau lihat kelangit apa kau bisa melihat keberadaan matahari terbit ditimur dan tenggelam dibarat ? apa kau punya petunjuk arah mana yang dapat membuatmu keluar dari tempat ini ?..." nada keras mira yang tampak marah perlahan mengeluarkan air mata.


terdiam sesaat mereka mendengar ucapan mira.


"kita seperti hewan ternak yang akan segera dipotong..."


"kita tidak bisa kemana-mana..."


perlahan sigit mendekati mira, lalu memeluknya "aku memahami apa yang kau rasakan..."


melepas pelukan sigit "aku tidak butuh belas kasihanmu !"


bingung sigit melihat ekspresi mira yang tampak semakin marah.


"gunakan isi kepalamu untukku keluar dari tempat ini, bukan pelukanmu !" tegas mira merespon pelukan sigit.


"disana..." ucap mikaru sambil menunjuk kearah gunung yang tampak samar tertutup kabut "aku tidak tahu apa yang kalian ributkan, aku akan kesana dengan rumia..."


beranjak pergi mikaru meninggalkan sigit, mira dan ririn.


"mikaru tunggu..." jawab rumia berlari mengikuti mikaru.