When with you

When with you
Episode 9



Putih, warna yang menggambarkan kemurnian serta kesederhanaan. Seperti awan di langit, seterang cahaya mentari, juga seindah sinar rembulan. Warna ini kulihat lebih dominan pada bagian luar rumah tempat Cindy tinggal. Terdiri dari dua lantai dengan luas tanah tidak terlalu besar. Fasadnya yang minimalis memberikan kesan sederhana sekaligus modern.



Aku berdiri di depan pagar bermotif kayu yang diberi warna hitam, dipasang pada bagian kiri dengan cara membukanya didorong. Setelahnya ada jalan setapak yang ditemani beberapa tanaman hias. Menghibur mata tamu saat hendak menuju pintu masuk di sebelah kanan rumah, mungkin itu tujuannya.



“Tunggu dulu di sini,” Cindy mengatakannya tanpa melihatku, kemudian menuju ke dalam.



Aku ingin menghilangkan rasa gugup, kucoba mengamati lingkungan sekitar tempat yang selama ini Cindy huni. Tak banyak pepohonan tumbuh, namun ada sebuah taman yang sempat kami lewati tadi. Jumlah pohonnya dapat dihitung menggunakan jari, tetapi tidak dengan bunga-bunga mekar yang disusun rapi. Rata-rata merupakan rumah dua tingkat dan memiliki desain kekinian, sepertinya di sini termasuk kawasan elite.



Suara langkah kaki mendekat dari belakang bisa telingaku dengar. Aku berbalik perlahan berniat menyapa, mencoba agar terlihat sopan oleh warga sekitar.



Seorang wanita anggun, rupanya. Rambut hitam tidak terlalu panjang diikat bergaya ponytail. Memakai kacamata, serta make up yang rasanya cukup tebal. Pakaian formal layaknya pengajar, seorang guru? Atau barangkali dosen?



Niat untuk memberi sapa, aku mengurungkannya. Selain karena kedatangan wanita ini, perhatian diriku teralihkan oleh sikapnya yang waswas. Apa aku terlihat mencurigakan? Bisa jadi dia sudah lama mengawasi saat aku melirik sana sini.



“Kamu ... Vasnka, kan?” tanya wanita tersebut sambil menempelkan tangan di dagu.



Bagaimana dia tahu namaku? Apa kami pernah bertemu sebelumnya?



Aku dan wanita ini sama-sama merasa heran. Dia mengamatiku dengan jeli, tidak mengedipkan mata, tak ingin ada yang terlewat dari pengecekan.



Sedangkan diriku menyelam ke dalam memori, mengingat kembali kapan aku bertemu dengannya. Membuka satu per satu pintu kenangan terkunci, tetapi tak dapat aku temukan apapun yang kucari. Dia hanya seorang wanita asing di mataku.



Pintu rumah Cindy terbuka, gadis itu keluar dengan masih mengenakan seragam sekolah tanpa jaket merahnya. Ia mengambil sandal dan berjalan mendatangiku.



“Eh, dibatalkan saja. Tadinya Ibuku mau bertemu denganmu, tapi dia sedang tidak di rumah.”



Aku berdiam diri menatap Cindy yang telah melewati pembatas rumahnya. Mendengar apa yang dikatakan gadis ini membuatku sedikit lega. Aku tidak harus secepat ini bertemu dengan ayah ibunya.



Cindy berhenti ketika melihat seorang wanita yang juga berdiri di depan rumahnya, “Eh ... Ibu? Kok baru sampai?”



“Ibu kan sudah bilang kalau ada sedikit urusan, jadi agak telat pulangnya.”



Wanita ini ... Ibunya Cindy? Aku memejamkan mata. Baru saja perasaan lega menghampiriku, namun sudah kembali dibuat berantakan.



“... Dia?” tanya Ibunya Cindy melirik ke arahku.



“Oh iya ... dia ini laki-laki yang pernah kuceritakan, Bu,” jawab Cindy santai lalu mendekati Ibunya, “Dia yang menggangguku ketika di sekolah kemarin.”



“....”



Aku tidak dapat berkata apa-apa. Ingin menghentikan Cindy, sudah terlambat. Mau membela diri, akan tetapi yang dikatakannya itu benar. Tak ada pilihan selain menerima dan menghadapinya.



“Selamat sore, Tante,” aku mengulurkan tangan dengan sedikit menunduk.



Niatku menyapa terealisasi juga ternyata. Ibunya Cindy pun membalas dan memberikan senyuman. Mereka berdua berbeda rupanya. Selanjutnya aku melihati Cindy, membayangkan seandainya dia juga dapat memasang senyuman seperti itu di wajahnya. Tidak butuh waktu lama, gadis itu langsung membuang muka saat tahu aku sedang meliriknya.



“Biar Ibu tebak, apa dia juga yang menyatakan perasaan padamu?” tanya Ibunya Cindy, membuat diriku dan anaknya sontak kaget.



Aku mencoba untuk tidak salah tingkah, namun Cindy malah terpancing, “... A-apa yang Ibu katakan? Jangan mengada-ada deh.”



“Hmm ... begitu ya,” ujar Ibunya Cindy sambil tersenyum curiga, “Kita lanjutkan di dalam saja. Ajak dia masuk, Sisi.”



Sisi? Jadi begitu cara Cindy dipanggil oleh Ibunya.



“T-tunggu dulu, Bu! Kita tidak akan membahas ini juga kan?” pinta Cindy dengan sangat hingga mengejar Ibunya yang sudah masuk.



Cindy kembali mendatangiku sesudah bernegosiasi dengan perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Ia berdiri di balik pagar, memunculkan kepalanya saja. Bermuka keruh dan menatapku sinis, gadis itu seakan ingin mengusirku.



“... Masuklah. Tapi ingat, jangan berkata yang tidak-tidak.”



“Seperti apa misalnya? Kau yang pernah menampar dan memukul perutku?”



“Dasar tukang adu. Mau ribut?” ucap Cindy dengan tajam seperti tatapan yang diberikannya.



Komposisi dengan dirinya yang kupandang lugu nyatanya malah menggelitik perut.



“Aku menyukaimu,” kataku, yang keluar begitu saja mengikuti arus waktu.



Entah mengapa aku sangat senang ketika mengatakan perasaanku pada Cindy. Meskipun belum terungkap dari bibirnya apa yang ia pikirkan tentangku, perasaan milikku tidak akan pernah berubah—semoga saja. Gadis itu kini semakin kesal, namun terlihat jelas ada sikap malu-malu yang ditutupinya.



“Kau benar-benar ngajak berantem!?” tantang Cindy sambil berancang-ancang mengeluarkan pukulannya.



“Sisi!” panggil Ibunya Cindy dengan sebutan khususnya kepada Cindy, menghentikan tinju gadis yang tengah kesal itu dan menjadi penyelamatku.



Aku bisa saja menahan serangan Cindy, tetapi itu akan menjadi kontak fisik pertama kami. Tunggu dulu, dorongan sentuhan tangannya yang keras lalu mendarat di pipiku itu sudah menjadi yang pertama. Sial, seharusnya aku mempersiapkan sesuatu yang spesial agar dia tidak akan pernah melupakannya. Kalau begini maka aku yang akan selalu teringat dengan rasa sakit dari tamparannya.



“Persiapkan dirimu, kau akan dimarahi habis-habisan oleh Ibuku,” gertak Cindy.



Aku coba menyikapi tingkah laku Cindy dengan kepala dingin. Padahal ingin rasanya diriku lebih sering mengganggu gadis yang tak biasa diusik ini. Hingga tiba saatnya dia akan merindukan setiap usikan dariku.



Aku melepas sepasang sepatu hitam putih khas anak sekolahan. Tidak lagi bersih, karena hujan yang mengotori. Kemudian diriku mengikuti Cindy memasuki rumah sesuai tujuan awal mengajakku ikut dengannya.




“Silahkan duduk,” ujar Ibunya Cindy mengetahui aku telah berada di ruang tamu.



Ada dua buah sofa besar di sini, aku dan Cindy duduk berlawanan arah saling berjauhan di masing-masing ujung. Aku melepas tas, setelah itu menaruhnya di pangkuan. Cindy mengambil sebuah bantal bermotif garis merah dan putih di dekatnya, lalu dipeluk dengan erat.



Ibunya Cindy datang membawa minuman dan beberapa camilan, “Kenapa ini? Kalian belum berbaikan?”



“Terima kasih, Tante.”



Tidak banyak kata yang kuucap, mengingat posisiku saat ini belum aman. Ibunya Cindy membalas dengan senyuman lagi, ia memperlakukanku dengan baik seolah tidak ada kekesalan padaku. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu. Seharusnya tidak begini kan?



Cindy memperhatikan Ibunya yang menaruh camilan di atas meja. Sesaat Ibunya berjalan meninggalkan ruang tamu, Cindy menyergap jajanan berupa kue bolu kukus berwarna hijau itu. Belum sempat mulutnya menikmati, Ibunya datang kembali dan menghampiri Cindy.



“Itu buat tamu, Sisi,” tegur Ibunya Cindy dengan lembut sambil menaruh kue bolu yang dipegang anaknya ke tempat semula.



“Tapi ... tinggal ini kan yang ada di dapur, Bu. Nanti dia habisin gimana?”



“Bagus dong kalau gitu,” ucap Ibunya Cindy lalu menggeser piring camilan lebih dekat denganku, “Maaf ya, Vasnka. Makanlah, jangan malu-malu. Habiskan saja kalau memang suka.”



“Iya, Tante,” jawabku singkat, kemudian mengambil satu potongan kue bolu yang telah dihidangkan.



Sedikit demi sedikit aku menggigit dan menikmati kue bolu kukus di tanganku. Bertekstur lembut, lezat tentunya, juga beraroma pandan. Mengingatkanku dengan makanan-makanan ringan buatan Nenek indekos. Pada masa liburan beliau sesekali membuatnya, terutama jika Kak Mika berkunjung. Kedatangan perempuan yang membuatku terganggu tersebut akan sedikit mereda di kala camilan buatan Nenek dibawa bersamanya. Hal ini menjadi salah satu cara licik andalannya agar tetap dapat menginjakkan kaki di lantai kamarku.



Sedang diriku menyantap sajian, dari kejauhan aku melihat Cindy yang berusaha menahan diri. Ia memelotot dan mencakar-cakar bantal berbentuk persegi di pelukannya seperti melampiaskan kekesalan padaku. Apakah ini makanan favorit Cindy? Aku jadi tidak enak hati memakannya.



“Sudahlah, Sisi ... nanti Ibu buatkan lagi,” bujuk Ibunya Cindy lalu pergi berjalan ke dalam.



Buatan Ibunya Cindy sendiri, ya. Pantas saja rasa dari kue ini berbeda dengan yang sering dijual orang atau dari tangan Nenek. Dibuatkannya makanan dengan penuh cinta untuk anak tersayang, demi memenuhi kebutuhan dan keinginan sang buah hati. Tidak ada yang lebih enak selain masakan seorang Ibu teruntuk anaknya.



“Tiga kali lipat ya, Bu,” pinta Cindy sambil berisyarat menggunakan jarinya.



“Itu terlalu banyak untuk kita berdua, Sisi. Memangnya kamu bisa menghabiskannya?”



Mereka hanya tinggal berdua, kurasa itu alasan yang menguatkan kenapa di depan tadi hanya ada berbagai model alas kaki perempuan. Bahkan bagian dalam rumah ini pun lebih menonjolkan tampilan unsur feminin. Seperti penggunaan warna pastel, adanya motif-motif bunga meramaikan dekorasi, hingga tanaman hias yang ditempatkan pada beberapa sudut ruangan.



Setelah penjamuan yang nyatanya tidak buruk, Ibunya Cindy bergabung bersama kami. Ia duduk di sofa yang sama dengan anaknya, tidak jauh, lebih tepatnya pada jarak di antara aku dan Cindy. Dirinya mengambil bantal kecil lain yang serupa dengan milik Cindy, terlihat santai namun selalu memperhatikanku.



“Tak perlu tegang begitu, Vasnka,” ujar wanita yang aku tebak kira-kira sudah berumur empat puluhan itu.



Aku menanggapi dengan memberikan senyum simpul, lalu menggeser penglihatan lebih ke kiri menuju Cindy. Gadis itu masih saja memelototiku. Ibunya yang menyadari tingkah Cindy mencubit pipi kanannya dan membisikkan sesuatu. Raut wajah putrinya menjadi cerah seketika, bergegas bangun dari duduk dan pergi ke dapur.



Ruangan untuk mempersiapkan makanan itu dapat kulihat dari tempatku dan Ibunya Cindy kini sedang berada. Sedikit lebih ke dalam ada ruang makan yang tidak besar, menyambung dengan sebuah tangga. Jika diperhatikan, mereka lebih memaksimalkan penggunaan ruang tamu dengan luas ukurannya.



“Sekarang kamu tinggal di mana?” Ibunya Cindy berbasa-basi.



Pembicaraan kecil dimulai, aku tidak yakin apakah dapat bertahan lama, karena biasanya yang seperti ini akan kuhindari. Itulah mengapa tak banyak yang mau repot-repot mengajakku berbicara. Aku lebih memilih mendengarkan cerita panjang lebar daripada saling bertanya jawab membicarakan sesuatu yang hanya akan masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Tetapi pada kasus ini berbeda, Ibunya Cindy pasti benar ingin tahu segala hal tentang anak laki-laki yang mencoba mendekati putrinya.



“Di kompleks dekat daerah sekolah, Tante,” jawabku tidak memerinci.



“Berarti lumayan jauh ya.”



“Nggak kok, Tante. Kami tadi karena berjalan kaki sekitar dua sampai tiga puluh menitan.”



“Jalan kaki?” tanya Ibunya Cindy memastikan, bertepatan dengan kembalinya Cindy ke ruangan ini.



“Kamu tadi dari sekolah jalan kaki, Sisi? Kan bisa pakai angkutan umum.”



“Eh? Ah iya, Bu. Soalnya ....”



“Hmm?”



“... Gimana kalau ada anak sekolah yang melihat kami bersama?” jawab Cindy dengan lirih dan memalingkan muka.



“Suaramu kurang kencang, Sisi. Bagaimana menurutmu, Vasnka?” Ibunya Cindy beralih bertanya padaku.



“Berjalan kaki maksud Tante? Saya tidak masalah selama Cindy juga merasa begitu. Tapi lebih baik naik angkutan umum supaya menghemat waktu,” jawabku apa adanya yang kemudian dibalas dengan tatapan tajam Cindy.



Melihatnya bertingkah seperti itu membuatku ingin melanjutkan kata-kata, “... Walaupun begitu, saya senang karena bisa lebih lama bersama Cindy di jalan.”



Cindy memasang ekspresi terkejut dan agak tersipu. Tidak bertahan lama sayangnya, emosi gadis itu meledak sampai ia melempar bantal di dekatnya kepadaku dengan kencang. Refleks yang kuberikan malah menangkis bantal sehingga jatuh menyenggol gelas minumanku.



“Sisi!”



“K-kan ... dia yang mulai, Bu.”



“Nggak apa-apa kok, Tante,” ucapku mencoba menenangkan suasana.



Ibunya Cindy menyuruh Cindy untuk mengambil kain lap. Setelah itu ia melirikku, dan memberikan isyarat jari jempol tanda aku telah melakukan sesuatu yang dirinya sukai. Eh? Yang benar?



Perilaku Ibunya Cindy sedari awal memang mengherankan, seakan memberitahu kalau keberadaanku bukan masalah untuk anaknya. Ya, yang sebetulnya menjadi masalah ada padaku. Aku tak dapat berhenti membuat Cindy menunjukkan setiap macam tingkah lakunya. Aku berharap masih banyak yang dapat Cindy perlihatkan nantinya untukku.