
“Pagi, Nek.”
Pemilik indekos yang sedang membersihkan halaman dengan sapu lidi di tangan kanan dan pengki di tangan kirinya menoleh ke arahku, “Pagi, Nak. Sudah mau berangkat?”
“Iya, Nek.” Aku berjalan menghampiri untuk mencium tangannya yang telah mengeriput.
“Oh iya, Nenek sudah dapat kabar ....” Sambung wanita lanjut usia itu dengan senyumannya yang lembut.
“... Katanya Nak Mika bulan depan mau main lagi ke sini loh.”
“Kalau begitu bakal ramai lagi ya, Nek,” aku menelan ludah. Meskipun ini memang sudah menjadi rutinitas tahunan, hatiku tidak siap.
Raut wajah Nenek berubah, kemudian disusul tawa kecil sambil kembali menyapu halaman.
Mika adalah cucu perempuan beliau, ia dan orang tuanya tinggal di kota yang jauh dari sini. Di kala liburan datang, perempuan yang satu tahun lagi akan menyelesaikan pendidikan sarjananya itu selalu berkunjung. Menginap selama beberapa hari, meski sebenarnya Nenek bilang dia lebih lama tinggal sejak mengetahui kalau ada aku di tempat ini. Seharian memaksaku untuk menjadi teman main, dia satu-satunya perusak waktu liburanku. Walaupun kuakui cukup menyenangkan.
Tahun demi tahun kulihat perempuan itu berbeda, dia semakin tumbuh dewasa. Pastinya, perempuan yang selalu mengajakku berbicara itu pun akan menjadi seorang wanita. Jatuh cinta, menikah, dan memiliki keluarga sendiri.
Aku tidak yakin kalau ini adalah cinta. Tetapi, dapat memiliki pasangan yang lebih dewasa dan dapat diandalkan di kala susah atau pun senang adalah harapanku. Namun bisa jadi karena selama ini hanya dia perempuan yang sering ada di sampingku.
Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan bertahan lama. Jauh berbeda denganku, dia berada di tingkatan yang tinggi—aku tidak akan pernah dapat menggapainya.
“Hmm... Maaf,” sapa seorang siswi yang berdiri di hadapanku. Memegang sebuah buku cukup tebal dengan logo sekolah di sampulnya, kurasa yang menghentikan langkahku di depan gerbang sekolah ini adalah petugas kedisiplinan.
Tidak asing bagiku, hanya dia yang kukenal seperti ini. Menundukkan wajahnya dan sesekali melihat ke arahku, sikap pemalu siswi ini ternyata tidak berubah sejak SMP dulu.
“Jas seragam sekolah ... Apa kau tidak membawanya?” tanya si siswi petugas kedisiplinan dengan ramahnya.
“... Hmm,” aku bergumam lalu memejamkan mata, mengeluh dalam hati memikirkan sesuatu.
Hari sialku telah datang. Gadis yang kemarin kubuat kesal kembali memenuhi isi kepalaku saat ini. Setelah kejadian waktu itu, Cindy lari begitu saja sambil membawa jas milikku. Tentu aku tidak bisa mengatakan alasan ini kepadanya.
“Hilang ... Sepertinya.”
“E-eh? Apa maksudmu hilang?” Ia merespons alasanku dengan antusias. Tidak ada kulihat keraguan dari mata gadis itu. Tetapi aku masih belum bisa tenang begitu saja.
“Apa yang terjadi? ... Ah, kau rupanya.” Sosok yang biasa bersama gadis pemalu ini pun muncul. Mungkin kah dia yang mengajaknya menjadi petugas kedisiplinan? Aku yakin memang dia.
“Kau berhasil mendapat tangkapan yang bagus, sahabatku!” dia mengatakannya sambil cengar-cengir dan menepuk punggung si gadis pemalu.
“Kau! Temui ketua di ruangannya nanti siang!” perintah siswi petugas kedisiplinan yang asal nimbrung itu.
Tak ada pilihan selain menurutinya. Aku pergi meninggalkan mereka setelah menuliskan namaku di lembar pelanggaran siswa. Dapat terlihat jelas kepuasaan di wajahnya, sedangkan rasa bersalah pada si pemalu.
Hari ini pun waktu istirahatku direnggut juga. Aku hanya berharap ini tidak jadi lebih parah dengan munculnya Cindy. Kendati demikian, aku ingin agar dapat melihatnya sekilas untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Setelah itu baru aku bisa merasa tenang, jika memang memutuskan ingin menjauhinya.
Kembali ke zona nyaman, hanya itu yang kupikirkan saat ini. Membiarkan kegelapan melalap, merusak, dan menghancurkan diriku. Itu lebih baik daripada ada yang tersakiti.
Melihat orang-orang di sekelilingku bahagia saja sudah membuatku puas. Misalnya, ketika seisi kelas sedang bersenda gurau sementara aku duduk menyepi, itu cukup. Asalkan tidak ada hal yang menggangguku. Tidak kurang dan lebih, aku menikmatinya. Bahkan kadang kala aku sempat tersenyum dan tertawa sendiri—siapa pun yang melihatnya pasti akan menganggapku gila. Sebuah kebahagiaan sederhana yang tak banyak dimiliki oleh orang lain, atau malah hanya diriku seorang.
Diceramahi selama setengah waktu istirahat, akhirnya aku dapat keluar dari ruangan petugas kedisiplinan. Berlokasi di ruangan paling ujung lantai dua gedung ekstrakurikuler, naik turun menuju ke sana saja bagiku sudah seperti hukuman.
Mendapatkan hukuman di sekolah, pertama kalinya terjadi padaku. Selama ini selalu kucoba untuk menjauhi permasalahan, terlebih pada orang-orang yang bertugas menggenggam peraturan dengan teguh.
Belum lama keluar dari duniaku sendiri saja sudah banyak hal yang merepotkan terjadi, membuatku sangat ragu seberapa lama akan bertahan.
“Tu- ... Tunggu sebentar!”
Seseorang menghentikan gerak kakiku yang sudah hampir menuju barisan anak tangga untuk turun. Aku menoleh, ternyata itu si gadis pemalu yang keluar dari ruangan petugas kedisiplinan dengan bergesa-gesa.
Mengingatkan ketika dahulu dia selalu mencoba berbicara padaku. Suka memaksakan diri walau tahu jika dirinya tidak mampu. Berniat menghilangkan sifat pemalu, kurasa itu yang diinginkannya. Sempat yakin untuk kujadikan target, namun dahulu aku lebih memilih mengabaikannya.
Salah satu alasannya adalah karena gadis itu tidak sepertiku. Adanya sahabat yang senantiasa mendukung dengan keras. Kurasa itu bagus, namun juga dapat berakibat fatal. Karena mau bagaimanapun sesuatu yang berlebihan memang lah tidak baik.
Jika diriku yang lama menghadapi ini pastinya tidak akan sabar. Tanpa kusadari malah menyakitinya, atau paling tidak aku akan berusaha menghindar. Aku kagum, dia masih ingin mencoba berbicara denganku biarpun dulu telah berulang kali kuabaikan.
“Apa masih ada yang harus kulakukan, Vinca?” tanyaku dengan sedikit menekan suara ketika menyebut namanya.
Menarik napas yang panjang dan menepuk-nepuk pipinya, Vinca terlihat berusaha menguatkan diri. “Tidak ada, hanya saja ....”
“... A-aku minta maaf untuk yang tadi pagi!”
Aku ingin mempercepat pembicaraan, tapi sepertinya akan terasa lebih sulit. “Untuk apa? Itu tidak perlu.”
“Tapi ... Karena aku ... Kau jadi ....” ujar Vinca dengan lebih menggenggam erat tangannya. Kata-kata gadis itu berhasil menarik keluar rasa iba milikku yang sudah lama tidak kukeluarkan untuk sembarang orang.
“Kau telah melakukan tugasmu dengan benar. Itu bagus, bukan?” pujiku sambil tersenyum kecil. Vinca membalasnya dengan hal yang sama lalu kembali menunduk dengan cepat.
“... Kau telah berubah ya.”
Ucapan Vinca barusan mengejutkanku. Selain Nenek dan Kak Mika, hanya dia yang berkata seperti itu. Dan cuma dari dia lah yang terasa berbeda ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.
“Kuharap begitu.”
“... Walau tidak terlalu banyak, sepertinya.” lanjut gadis itu, membuatku tersenyum kecil lagi.
“Begitu kah? Kurasa kau saja yang jadi lebih tidak gugup dan mudah berbicara denganku.”
Vinca sejenak melirikku, kemudian mengalihkan pandangannya. Dia tak menyadari kalau sesaat tidak terlalu gugup, dibanding ketika baru akan mulai berbicara padaku. Sepertinya ini salah satu contoh yang dimaksudkan dari kutipan seorang penulis Amerika terkenal, “Momen yang paling menakutkan ialah selalu bertepatan saat sebelum kau memulai ....”
Petikan yang kuakui memang tepat. Segalanya akan terasa indah dan menenangkan setelah kau memulai, meski bukan berarti tidak akan ada paku di tengah jalan.
“... Tapi baru kali ini aku melihatmu tersenyum, meski sikap dingin hatimu masih sama.”
“Aku juga heran ....” Mungkin karena suasana saat ini lebih menenangkan, apalagi setelah diriku berurusan dengan petugas kedisiplinan yang merepotkan.
Bagaikan di taman bunga yang luas, Vinca seakan membuat bunga-bunga di sekeliling kami bermekaran. Namanya yang merupakan satu di antara berbagai jenis bunga, sama indah dengan dirinya. Jika saja aku tidak memfokuskan perhatianku kepada Cindy, mungkin aku akan menaruh hati padanya.
“Biasanya kau akan mengabaikan ketika kupanggil, menghindar jika coba kuajak berbicara, dan menolak permintaan tolongku bahkan sebelum aku mengatakannya.” Vinca tiba-tiba membahas diri lamaku yang juga kurang kusukai.
“Aku minta maaf soal itu.”
Gadis pemalu yang selalu melihat ke bawah itu menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tahu maksud sebenarnya dari setiap perilakumu, tidak seperti yang lain.”
“Ketika kau menjauhiku, itu karena selalu ada yang datang menghampiriku, kau tidak terbiasa dengan keramaian. Lalu di saat aku memanggilmu, kau mengabaikannya sebab pikirmu orang-orang di sekitar akan menjauhiku lantaran berteman dengan orang yang suram sepertimu ....”
Mendengar penjelasan Vinca yang memerinci dan terang-terangan cukup membuatku terkejut, aku harus bersikap lebih hati-hati. Penglihatannya terkesan lebih tajam dari mata dan telingaku.
“... Meski menolak ketika kuminta pertolongan, diam-diam kau melakukannya. Aku tahu itu. Dan masih banyak lagi.”
Panjang lebar Vinca mengatakan itu semua dengan kedua tangan yang kembali saling menggenggam di depan dadanya. Aku hanya berdiam menyimak setiap apa yang ia pikirkan tentangku.
“... Sekarang kau menjadi lebih jujur dan mudah diajak berbicara.”
Vinca masih melanjutkan apa yang ia lihat dariku, aku harus berusaha untuk menghentikannya. “Rupanya kau tahu banyak tentangku ya?”
Aku menaruh rasa curiga. Apa jangan-jangan banyak yang seperti Vinca di luar sana? Terlihat begitu manis dan menarik, padahal nyatanya banyak hal mengejutkan yang disembunyikan dari laki-laki. Perempuan itu benar-benar mengerikan.
Vinca perlahan menaikkan kedua tangan yang masih menyatu. Jari jemari kecilnya menutupi sebagian bibir, dengan pipi agak tembam yang memerah. Bagaikan cokelat berwarna emas, gadis pemalu itu mengeluarkan senyum manis lagi berharga.
Sesudah itu berkata, “Karena aku selalu memperhatikanmu.”