When with you

When with you
Episode 3



“Jadi, apa jawabanmu?”



Matanya melirik ke arahku, seakan memberi kode bahwa pikirnya aku pasti sudah tahu pilihan mana yang telah diputuskan. Namun sayang tidak, aku enggan menebak untuk hal seperti ini.



“Tidak ada.”



Cindy mengatakannya sambil menatap tajam.



“Apa maksudmu tidak ada?”



Sementara tatapanku berisi keheranan, padahal kuyakin sebelumnya sempat kulihat wajahnya merona merah.



“Aku memang berharap kau menanyakannya, tapi aku tidak bilang kalau akan mengatakan apa jawabanku terhadap perasaanmu.”



Aku mengakuinya, meskipun sedikit menjengkelkan namun apa yang dikatakannya memang benar. Bukan berarti aku juga penasaran dengan apa jawabannya. Hanya saja ini masalah waktu, kalau bisa aku ingin sesegera mungkin pergi menjauh dari kehidupannya. Tanpa ada luka dalam yang tak sengaja kubuat pada dirinya.



“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menentukannya?”



Cindy diam menunduk tanpa mengeluarkan tatapan sinisnya, “Bukan urusanmu.”



Singkat plus tajam, kata-kata dan sikapnya ternyata telah berubah seperti semula. Celah yang tak sengaja dibuka beberapa waktu lalu sudah ditutup rapat. Menyembunyikan kembali wajah tersipu manisnya yang langka, seperti tidak pernah dilakukannya.



Langit masih saja membasahi sekitar, meskipun tidak selebat saat aku mulai berbincang dengan Cindy. Gadis itu menaikkan tudung jaket dan mulai berjalan menjauh dariku tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Dengan jaketnya yang tebal kurasa memang tidak apa-apa untuk kembali sekarang ke kelas. Seandainya setelah ini sudah tidak ada mata pelajaran, maka aku pun akan melakukan hal yang sama.



Pada hari Senin sampai Jumat proses belajar mengajar akan selesai di sore hari. Sementara untuk kegiatan ekstrakurikuler diberi waktu hingga menjelang matahari tenggelam di ufuk barat.



Tidak ada kegiatan ekstrakurikuler yang kuikuti. Kalaupun ada, maka itu pasti berkaitan dengan bidang melukis atau setidaknya menggambar. Pada bagian seni, ekstrakurikuler yang dimiliki sekolah ini hanya seni musik, paduan suara, dan tari. Kurasa karena memang itulah yang paling banyak diminati, oleh murid dan guru calon pembimbing.



Sejenak kuingin menghabiskan waktu setelah mata pelajaran terakhir usai dengan berkeliling sekolah. Hal ini biasanya kulakukan pada saat waktu istirahat saja, namun karena tadi siang aku harus berurusan dengan Cindy membuat jadwal keseharianku berantakan.



Objek pengamatanku kali ini adalah setiap ruangan pada gedung ekstrakurikuler dan lapangan di belakangnya. Dapat kulihat dan dengar setiap siswa siswi yang sedang fokus menjalankan kegiatan. Mengisi waktu dengan hal positif yang disukai itu memang menakjubkan—aku berusaha memuji diri sendiri.



Cukup bising, tapi dapat kurasakan ini sesuai dengan tatanan simfoni yang indah. Menghilangkan kepenatan setelah seharian bertatap muka dengan jendela dunia yang luas, serta berbagai macam tipe pengantarnya. Ada yang berupa jembatan beton, kayu, bambu, atau bahkan hanya seutas tali. Oleh karena itu semua tergantung bagaimana para penyeberang—murid—melewatinya.



Berkeliling sepulang sekolah di sekitar gedung ekstrakurikuler kurasa lebih melelahkan. Meskipun menyenangkan, aku yang tidak terbiasa dengan kebisingan dibuatnya cukup pening. Hati dan tubuh memang terkadang tidak dapat diajak bekerja sama.



Terdapat sebuah spot bersantai di salah satu sisi gedung ini. Empat meja piknik besar serta dua mesin penjual minuman otomatis dengan tangga di antaranya yang bisa memudahkan akses dari dalam gedung menjadikan tempat ini sempurna. Bagi para murid yang ingin beristirahat dari kegiatannya, atau yang hanya ingin menjadikan tempat nongkrong selain di kantin dan taman.



Ketika ingin mengeluarkan uang untuk membeli minuman, aku menyadari sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi.



Tidak jauh dari tempatku berdiri sedang ada pem-bully-an, empat lawan satu, kulihat. Menyembunyikan mangsa dibalik mesin penjual minuman otomatis yang satunya lagi. Apa tempat ini juga biasa digunakan untuk hal seperti itu?



Di satu sisi aku ingin mengabaikannya dan segera pergi, namun di sisi lain kegelapanku berbicara. Memberikan saran bodoh agar setelah minuman yang dibeli keluar, aku segera melemparkannya dengan keras ke arah mereka. Memancing kegelapan yang lain, saling berbenturan, hingga berhasil menciptakan medan pertumpahan darah.



Motif sederhana, permasalahan yang sepele, namun dapat menghasilkan tangkapan yang besar. Aku tidak akan termakan itu, wahai kegelapan.



Sangat disayangkan yang ada jauh di depan mataku ini adalah urusan para gadis, mereka bukan gerombolan lelaki seperti yang biasa kulihat. Perempuan lebih merepotkan bagiku. Cara sembrono ketika menunjukkan bahwa mereka lebih hebat daripada laki-laki membuatku geleng kepala—kalau dengan cara positif tentu berbeda. Juga adanya suatu ketetapan pada diriku bahwa sebisa mungkin aku tidak akan menyakiti makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah ini—secara fisik, tepatnya.



Aku memutuskan untuk mengabaikannya, sampai diriku menyadari si korban ternyata adalah sosok yang kukenal. Siapa lagi kalau bukan gadis pendiam dingin yang juga berlidah tajam. Tidak mengejutkan jika memang ada yang membencinya. Laki-laki dibuatnya menjauh, sedangkan beberapa perempuan membencinya.




Membuatku penasaran, mereka berhenti meneriaki dan mencaci Cindy. Mungkin keberadaanku menjadi masalah bagi mereka, sehingga menunda sementara kesenangan yang telah direncanakan matang-matang.



Masalah lain menghampiriku, minuman yang sedari tadi kutunggu tidak kunjung keluar. Mana mungkin mesin yang belum lama berada di sini sudah rusak, mesin ini baru ada sejak angkatanku. Aku mencoba menekan tombol minuman yang lain, namun tetap tidak bekerja. Uang yang ingin kuambil kembali pun tidak memberikan reaksi.



Aku sudah tidak sabar menghadapi mesin otomatis yang tidak berguna ini, bersamaan dengan mereka pem-bully yang sepertinya telah lelah menungguku pergi.



Pada akhirnya kulihat mereka sendiri yang memilih pergi meninggalkan Cindy. Secara kebetulan mesinnya kemudian berbunyi, mengeluarkan minuman yang kubeli. Aku hanya ingin satu, namun malah keluar lima minuman. Ini memang salahku, memasukkan uang bernominal besar dan menekan tombol minuman berkali-kali. Tidak ada pilihan lain selain membawanya pulang.



Cindy masih berdiri membisu, tanpa sedikit pun memperhatikanku yang berjalan ke arahnya, “Mau satu?”



Kulemparkan satu minuman yang tak sengaja dibeli banyak, dan dia menangkapnya dengan refleks yang bagus. Duduk di meja paling ujung lalu membuka minuman, aku berusaha untuk mencoba agar tidak membahas permasalahan yang barusan terjadi.



“Apa kau tidak suka yang itu? Pilih saja yang kau suka,” kutawarkan minuman yang ada dan menyodorkannya. Cindy tetap tidak bergerak sedikitpun.



Kuakui berhadapan dengan seorang pendiam yang telah tenggelam jauh dalam dunianya sangat mengesalkan—padahal aku sendiri juga termasuk. Pastinya orang yang tidak terbiasa terlibat dengan ini akan segera menjauh dan mengabaikannya. Atau mungkin bersikap baik untuk sekadar mempertahankan nama baiknya di mata orang-orang.



Aku beranjak dari bangku untuk mendekatinya. Dia benar-benar terlihat menyedihkan. Sikapnya cukup buruk, seharusnya dia tahu apa akibat yang akan timbul. Sama seperti ketika aku masih mengenakan seragam putih biru, terjebak di dalam kegelapan tanpa peduli apa yang sebenarnya kuinginkan dan cintai—keindahan.



Kuangkat sedikit wajah Cindy yang terlihat kusut namun masih memancarkan keindahannya, seperti itulah kodrat perempuan. Kutuangkan air minuman yang dingin di atas kepalanya tanpa henti hingga tetes terakhir, membasahi rambut serta sebagian jaket dan seragam miliknya.



“Andai kau tahu. Saat ini kau benar-benar terlihat memuakkan.” Aku menatapnya bengis, dan dibalas olehnya dengan mata yang penuh kekesalan dipenuhi penderitaan.



Cindy yang terus menerus diam pun mengeluarkan emosinya. Dia menampar pipi kiriku dengan kekuatan yang luar biasa hingga terasa nyeri cukup lama. Menatapku dengan penuh kesal beserta air mata yang perlahan mulai keluar, “Apa yang kau lakukan!? Kau sangat jahat!”



“....”



Aku pun terkejut atas apa yang telah kuperbuat. Dengan tenang kucoba mengendalikan diri.



“Salahmu, kenapa kau mengabaikanku? Lagi pula ternyata kau lebih manis saat sedang marah.” Kata-kataku yang tak beraturan keluar dengan sendirinya.



“... H-haaaa!?” Wajah Cindy yang terlihat sedikit memerah bercampur aduk dengan raut kesal, kemudian mengayunkan tangan kiri yang rasanya akan mendarat lagi di pipiku.



Aku sebisa mungkin mencegahnya, “Maaf maaf, ini memang berlebihan.”



“Aku tidak punya handuk, jadi pakailah ini.”



Kulepaskan jas seragamku dan menyeka rambut Cindy yang basah. Cindy terdiam tanpa kata, kurasa dia telah sedikit lebih tenang.



Tak lama kemudian Cindy bergerak. Rasanya ia tidak terima dengan perlakuan itu, sehingga pada akhirnya memukul perutku. Pukulan yang terasa lebih keras dari tamparannya.



Cindy pergi begitu saja sambil berteriak, “Aku tidak akan pernah melupakan perbuatanmu hari ini! Sampai kapan pun!!”



Aku yang sedikit tersungkur mencoba untuk berdiri dan menarik napas panjang. Seperti yang kutakutkan, kegelapan dalam diri berhasil membutakanku dan melukai orang lain. Ini membuatku tidak ada bedanya dengan para pem-bully tadi, meski alasan kami jelas berbeda.



Pastinya Cindy telah semakin membenciku. Memperjelas alasanku untuk berhenti mencoba masuk ke dalam dunianya. Atau malah sebaliknya?