When with you

When with you
Episode 7



“Aku mencintaimu, Cindy.”



Heningnya suasana kembali kurasakan seperti saat pertama kali aku mengatakan itu kepadanya. Cindy memutar-mutar payung ke kanan dan kiri dengan tidak terlalu cepat. Ia kemudian menundukkan payung, sehingga aku tak lagi dapat menengok wajah merahnya yang manis dan elok.



“... Kau tidak perlu mengatakannya berulang kali sebanyak itu.”



Apa yang Cindy maksud? Itu adalah kali kedua aku secara langsung menyatakan perasaan padanya. Selebihnya kukatakan dalam hati. Jika soal sebelum ini, yang hanya untuk meyakinkan diri kalau aku memang mencintainya, kukatakan dengan suara rendah. Tidak mungkin dia mendengarnya. Kalau pun terdengar, sebetulnya itu bukan suatu masalah bagiku. Sebab dia jadi semakin mengerti, kalau aku memang benar jatuh cinta padanya.



“Aku baru melakukannya dua kali.”



“Nggak, nggak. Itu lebih dari dua kali tau! Kau berkali-kali mengatakannya dan terus menyebut namaku!" ucap Cindy kekeh, yang berarti dia memang menyadari gumamanku sebelumnya.



“Apakah itu menganggumu?”



Cindy kembali memainkan payungnya, antara karena gugup atau justru jemu membahas persoalan ini lagi dan lagi. “... Kalau kau mengatakan itu terus-menerus, aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.”



“Maaf. Aku tidak memperhatikan perasaanmu. Kukira kau enggan memikirkannya dengan serius.”



“Apakah kau pikir aku selalu bersikap apatis?”



Memang begitu, iya kan? Cindy selalu mengeluarkan aura seperti itu, sehingga orang-orang yang melihatnya pun beranggapan demikian. Semua berubah jika ia sudah tersenyum dan memperlihatkan emosi lain. Namun sayang sekali, itu adalah momen langka yang harus dilindungi.



“... Kau tahu, aku tidak bisa dengan mudah memberikan jawaban, seperti yang kau lakukan pada perempuan itu. Jika aku menerima ....”



“Jika kau menerima?” aku mengulangi karena penasaran, mengabaikan pandangan Cindy yang sepertinya sok tahu tentangku dan Vinca.



“... Kalau aku menerimamu, aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Mungkin keseharianku akan lebih membosankan daripada sekarang.” Cindy mengatakannya dengan blak-blakan, seolah anggapan sebelumnya kalau gadis itu memikirkan perasaan orang lain dengan serius hilang.



Aku menahan diri, dan mencoba bertanya pilihan lain yang bisa saja diambilnya. “Seandainya kau menolakku, bagaimana?”



“... Aku juga tidak dapat membayangkannya. Mungkin tidak akan ada lagi laki-laki lain yang mau dengan bodohnya mendekatiku.”



Apa dia sengaja melakukannya? Cindy menyisipkan kata-kata hinaan yang jelas mengarah kepadaku. Seperti ini kah serangan yang biasa dia lakukan kepada orang-orang? Selain menggunakan kekuatan fisik seperti kemarin. Meski tidak ada rumor kalau Cindy pernah menyerang dengan menggunakan tangannya.



Aku berjalan mendekati Cindy untuk mendahului. Karena ia tidak mau bergeser dari sisi kanan, maka aku melewati sebelah kirinya.



“Dengan kata lain, sampai saat ini tidak ada laki-laki yang berani dan berhasil mendekatimu?” balasku terhadap celaan Cindy dengan tampak membanggakan diri.



“Jangan terlalu percaya diri! Setidaknya dulu pernah ada ....” bantah Cindy sambil memutar badan ke arahku. Membuatku ingin mengetahui masa lalunya, tetapi saat ini masih ada hal lain yang lebih penting.



“Oh? Kalau sekarang tidak ada kan? Jadi tidak masalah.”



“Apanya yang tidak masalah!?” Cindy menyipitkan matanya menatapku, sambil menaruh tangan kiri di pinggang.



“Tidak apa jika kau membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya. Tetapi boleh kah aku meminta sesuatu padamu?”



“... Apa?” ucap Cindy dengan lirih setelah diam sejenak.



“Biarkan aku menyimpan perasaan ini. Dan juga, izinkan aku untuk dapat berada di sisimu.”



Cindy mengalihkan pandangan, lalu mengajukan kesepakatan. “Hanya itu? ... Yah, asalkan kau tidak berbuat macam-macam maka itu bukan masalah.”



Akhirnya, tahap awal telah selesai kulakukan. Selanjutnya aku hanya perlu mengamati Cindy dengan lebih dekat dan mendalam. Mengeluarkan kegelapan yang berlebih dan membebaskan jiwanya. Setelah itu, aku akan pergi meninggalkan kehidupan gadis sinis ini. Membiarkannya kembali bersinar, dikelilingi bintang-bintang. Tanpa adanya awan hitam yang melintang.



Masih memalingkan pandangan dariku, padahal sebelumnya Cindy selalu menatap sinis. Hanya berjarak satu langkah, ini adalah yang terdekat—saat aku menyiramnya tentu itu tidak dihitung. Payung kami saling bersentuhan, sepertinya perkembangan mereka lebih cepat daripada pemiliknya.



Aku memandangi Cindy dengan tenang sekaligus waswas. Jika diperhatikan baik-baik secara keseluruhan, dia adalah sosok gadis idaman. Andai kata tak ada dinding dan racun yang ia persiapkan, maka setiap laki-laki pasti akan mengincarnya. Karena mau bagaimana pun juga, fisik adalah yang pertama kali terlihat oleh mata.



Bagiku sedikit berbeda, dari tatapan matanya lah yang membuatku tertarik. Ketika ia memandangi langit dengan tatapan dingin serta penuh harapan, kemudian saat dirinya menatapku sinis dan tajam menutupi sesuatu. Baru setelah itu, menuntunku ke dalam gelapnya hati Cindy. Karena aku yakin, mata tak bisa berbohong.




Gantungan tas berupa menara kenamaan dari Paris dan juga ikon kota London, cincin perak sederhana di jari kelingking tangan kanan, tahi lalat pada bagian leher—aku tidak dapat berhenti menganalisis. Bibir yang mengilap, apa dia memakai semacam pelembap? Terkadang aku melihat Kak Mika sedang memakainya. Sepertinya itu hal biasa bagi perempuan, selain bermaksud agar bibir tampak basah. Walaupun bisa jadi ada yang bertujuan lebih dari itu.



Adakalanya aku mempertanyakan ini, untuk apa melempar kail jika nantinya tidak mau ada yang tersangkut? Ikan yang harus disalahkan karena terpancing? Atau kekeliruan pelempar lantaran hanya ingin menebarkan umpan? Pada saat permasalahan itu terjadi, aku hanya akan berharap hujan besar turun. Membuat pengail pergi menuju tepi atau bahkan pulang, dan ikan-ikan berenang menjauhi permukaan. Tak akan ada konflik terjadi, saling merendahkan harga diri, serta siapa pun yang harus disalahkan.



Setelah lama berpaling, Cindy sekali lagi menatapku sinis. Aku tersenyum dalam hati, setelah menunggu lama kapan itu akan terjadi. Mataku lama menatap matanya. Tak ada satu pun dari kami yang berkedip. Apa ini semacam permainan ketahanan mata? Jika memang begitu maka dari awal dia sudah curang, karena menggunakan kacamata.



Cindy makin lama kian menyipitkan kedua mata. Mukanya pun terlihat memasam. Aku ingin tertawa, tapi kurasa nanti dia akan melempar tinju ke wajahku. Perhatian mataku beralih pada mata kanannya. Ada yang terlihat janggal di sana.



Lensa mata?



“Mata kananmu? ....” ucapku spontan dan membuat Cindy melebarkan mata.



Menunjukkan ekspresi sangat kaget, Cindy kemudian dengan cepat berbalik punggung membelakangiku. Dia buru-buru membuka tas dan mencari sesuatu. Mengherankan, Cindy terlihat amat panik begitu.



“Kau baik-baik saja?”



Cindy mengabaikanku dan terus mengorek-ngorek tas miliknya.



“Berikan payungmu.”



“Hah!?” Cindy membalas dengan cepat sambil menutupi mata kanannya.



“Ah, maksudku biar aku pegang payungmu. Memakai dua tangan akan jadi lebih mudah mencari, bukan?”



Cindy menatap curiga, namun dia tetap memberikan payungnya kepadaku. Aku menerima dengan tangan kanan, dan kurenggangkan lengan agar payung dapat menjangkaunya. Dekat wajah, atau lebih tepatnya pipi.



Terlihat lembut dan kenyal, pipi Cindy seperti menarikku untuk menyentuhnya. Dan itu benar kuturuti. Aku melakukannya begitu saja tanpa berpikir panjang. Cindy menoleh dan berteriak, “Apa lagi!?”



Lebih dari melegakan, kupikir Cindy akan mencabik-cabik jari telunjukku. Aku mencari alasan supaya tidak kehilangan kepercayaan atas kesepakatan yang telah dibuat.



“Bagaimana kalau meneruskannya di sana?” Aku menunjuk ke arah sebuah gazebo kayu di seberang jalan.



Berada di tepi jalan raya dan di belakangnya terdapat taman dengan banyak pohon rindang. Aku rasa lebih strategis jika gazebo tersebut berada di dalam taman. Namun kalau seperti itu kemungkinan aku tidak dapat menemukan tempat berteduh ini tadi.



Bau pernis dapat kucium ketika berjalan mendekati gazebo. Beberapa bagian terlihat kinclong, sementara di sisi lainnya membuatku beranggapan bahwa gazebo ini sudah cukup tua. Berkebalikan, seperti beberapa hal tersembunyi dari gadis yang sedang melepas sepatunya itu. Warna kayu di atap yang tidak sinkron dengan bagian bawahnya, banyaknya goresan-goresan pada tiang dan langkan, serta bunyi ketika Cindy menginjak lantai bagian tengah gazebo.



Aku memilih tidak ikut ke dalam dan berdiri menyandarkan diri pada salah satu tiang, sambil mengamati jalanan yang terkadang dilintasi mobil. Sesaat kubayangkan suasana di sekitar gazebo menurutku pada masa sebelum ini, ketika belum ada jalan besar dan hamparan taman yang dibuat.



Rerumputan hijau di bawah kaki dan sekitaran gazebo, ladang sayur-mayur membentang sejauh mata memandang, semilir angin segar tanpa adanya polusi, serta pekikan soang dan bebek yang turut meramaikan hari. Pemandangan yang hanya dapat dijumpai di desa atau kota-kota kecil.



“Jangan melihat ke sini.”



Cindy memecahkan imajinasiku. Perkataannya malah membuatku ingin menoleh ke arahnya. Aku memikirkan apa yang sebenarnya sedang kulakukan di sini. Mengikuti kemauan perempuan yang kau suka tanpa mengetahui alasan pastinya, apa ini kebiasaan para lelaki demi mendapatkan secuil cinta? Aku baru dalam hal seperti ini, kurasa akan lebih bagus jika ada orang yang dapat kuamati.



“Ke mana kau akan membawaku?”



Lama menjawab, barangkali Cindy fokus memperbaiki lensa kontaknya atau memang benar-benar mengabaikanku.



“Pertama kita akan pergi ke mana? Kafe? Bioskop?”



Cindy mengentakkan kakinya ke lantai gazebo dengan cukup keras lalu berkata, “Sudah kubilang ini bukan kencan!”



“Terus?” tanyaku singkat sambil menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang melihat gelagatnya.



“... Ke rumahku.”



“Heh?”