
Malam semakin larut. Daniah berada di kastil bersama Alberto. Pasangan yang sedang di mabuk cinta itu saat ini sedang bergumul di atas ranjang dengan penuh gairah.
"Ah ... ah." Suara dessahan demi dessahan terus terdengar memenuhi kamar tersebut.
"Dan, apakah kau menyukai Rich?" tanya Alberto di sela aktifitasnya mengentakkan senjatanya maju mundur dengan cepat.
"Ahhhh ... tidak, kami hanya sebatas teman saja, Al." Daniah memejamkan kedua mata, saat hentakan yang di berikan Alberto semakin cepat, dan tidak berselang lama dia mengejang dan mencapai pelepasan, tubuhnya lemas tidak berdaya akan tetapi Alberto belum menghentikan aksinya.
"Tapi, hati dan pikiranmu berkata lain." Alberto menjawab dengan nada dingin. "Kau tidak bisa membohongiku, Dan!" lanjutnya marah.
Daniah menatap Alberto yang masih bergerak di atas tubuhnya, ia mengalungkan kedua tangannya di leher yang kokoh itu.
"Al, terus terang aku menyanyangi tapi hanya sebatas teman saja, percayalah. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri," jelas Daniah lalu mengecup bibir Alberto dengan penuh penuh kelembutan, tapi semakin lama ciuman itu semakin panas dan penuh gairah saat Alberto membalasnya.
"Ah .... ssstt ... uh." Daniah melenguh ketika hentakan Alberto berubah melembut dan sangat dalam.
"Aku mencintaimu, Al. Aku sangat mencintaimu, tidak peduli siapa dirimu, aku akan tetap mencintaimu." Daniah berkata di dalam hati.
Alberto tersenyum ketika mendengar suara hati Daniah. Sebuah ungkapan kata cinta yang tidak pernah di katakan oleh Daniah, tapi sekarang dia bisa mendengarnya meski hanya dari suara hati sang kekasih.
*
*
Deru nafas memburu, bukan karena sedang naffsu akan tetapi sedang menahan emosi. Rich melakukan tugasnya pada malam hari memburu para vampir yang masih berkeliaran di Kota. Pria tampan dan gagah itu berada di dalam hutan mengejar vampir yang melarikan diri ke sana.
Tatapan Rich menajam dan waspada sembari mengedarkan di sekitarnya, tidak lupa indra pendengaran dan indra penciumannya ikut bekerja sama.
Rich memegang pedang sakti bercahaya biru. Pria tersebut menghentakkan sebelah kakinya hingga tanah yang ada di sekitarnya bergetar, terguncang seolah sedang terkena bencana gempa bumi yang dahsyat. Suara retakan tanah terdengar bergemuruh membuat para penduduk kota terkejut dan berhamburan keluar rumah, tatapan mereka tertuju pada hutan kota yang letaknya tidak jauh dari sana, tepatnya di atas perbukitan.
Rich mengeraskan rahangnya, seraya menancapkan pedangnya di atas tanah, seketika itu tanah terbelah. Awalnya hanya retakan kecil dan semakin lama retakan itu semakin melebar, memanjang. Para vampir yang bersembunyi ketakutan, akan tetapi mereka tidak bisa melarikan diri lagi, saat retakan tanah itu mulai menelan tubuh mereka.
Rich mencabut pedangnya dan menghela nafas panjang ketika segerombolan para vampir telah lenyap di telan bumi. Tanah yang tadinya terbelah kini sudah kembali seperti semula, tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Rich segera pergi dari sana dengan cara berlari secepat kilat menuju kota.
*
*
Elena berada di depan rumah Rich, sejak tadi ia berada di sana memencet bel pintu akan tetapi tidak kunjung ada yang membukanya.
Rich melihat Elena dari kejauhan, dia berdecap karena gadis itu tidak menyerah. Kemudian dengan langkah pelan, mendekati Elena.
"Sedang apa di sini?" tanya Rich mengejutkan Elena.
"Rich, aku sedang ..."
"Pulang sana!" usir Rich seraya merogoh kunci rumah dari kantong celananya.
"Bolehkah aku menginap di sini?" tanya Elena.
"Tidak!"
"Rich, please! Di rumahku tidak ada siapa pun, dan aku merasakan hal aneh beberapa hari ini, seolah ada yang mengintai dari balik jendela kamarku." Elena berkata jujur, dia memang merasa ada yang mengintainya jika malam hari.
Rich yang sedang mamasukkan anak kunci menghentikan gerakannya sejenak, kemudian ia membuka pintu rumahnya dengan lebar, mempersilahkan Elena masuk.
"Thanks," ucap Elena senang, segera masuk ke dalam rumah tersebut.
"Aku ada urusan sebentar. Kau aman di sini." Rich segera pergi tanpa memedulikan seruan Elena yang memanggilnya.