
Elena mengerjapkan kedua matanya. Ia perlahan-lahan membuka kedua matanya dengan lebar. Langit-langit sebuah ruangan yang menyambut pandangannya. Dan ruangan tersebut tidak asing baginya. Yap, ruangan tersebut adalah kamarnya sendiri. Gadis tersebut segera mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, seraya menoleh ke kirin dan ke kanan.
Kenapa dirinya bisa berada di kamarnya sendiri? Bukankah sebelumnya ia berada di mobil Rich?
CEKLEK
Pintu kamarnya terbuka, sosok wanita cantik meski sudah tidak muda lagi memasuki kamarnya sembari membawa secangkir teh hangat.
“Akhirnya kau sadar juga. Mommy sangat cemas dengan keadaanmu. Temanmu membawamu pulang dengan keadaan yang tidak sadar. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya wanita tersebut seraya meletakkan teh hangat di atas nakas samping ranjang putrinya.
“Entah, aku juga kurang tahu, Mom. Apakah yang membawaku ke sini adalah seorang pria?” tanya Elena.
“Hmm. Pria muda, tetangga kita.”
Elena mengangguk dan tersenyum tipis.
“Sepertinya pria muda itu bukan hanya sekedar teman,” tebak wanita tersebut saat melihat raut wajah putrinya yang berubah senang.
“Iya, dia tampan dan baik,” jawab Elena malu.
“Aku mengerti perasaanmu. Sekarang minum teh hangatmu ini. Maybe gula darahmu turun, jadi membuatmu pingsan,” ucap wanita tersebut lalu segera keluar dari kamar putrinya.
*
*
“Kau harus menjaga identitasmu dari siapa pun, Rich,”
“Iya, Dad,” jawab Rich pada ayahnya yang duduk berhadapan dengannya.
“Aku tidak yakin denganmu, karena sebelumnya kau pernah memberitahukan jati dirimu kepada Daniah hanya karena Cinta. Dan pada akhirnya gadis itu lebih memilih pria menghisap darah kotor itu.” Pria paruh baya itu berdecap kesal.
“Tentu saja tahu. Daniah sudah menjadi pembicaraan di bangsa kita. Ada yang bilang kalau Daniah memang sudah di takdirkan hidup bersama dengan Vampir,” jawab pria paruh baya itu.
“Lalu?” Rich ingin tahu kelanjutannya.
“Itu sudah menjadi pilihan Daniah sendiri, karena segala resiko dan bahaya di tanggung sendiri. Dan saat ini Alberto di anggap penghianat karena sudah mencintai bangsa manusia. Dia saat ini sedang di buru oleh Vampir lain,” jelasnya dengan tatapan menajam.
“Aku harus membantu Daniah.” Rich beranjak dari duduknya, akan tetapi di cegah oleh ayahnya.
“Dulu kau memang di tugaskan untuk menjaga Daniah, tapi saat ini sudah tidak!”
“Tapi, Dad--”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, jadi tetap berada di tempatmu!” tegas pria paruh baya itu.
“Daniah adalah temanku, jadi aku tidak akan membiarkannya dalam bahaya,” jawab Rich.
“Kau tidak dengar aku berkata tadi? Kalau segala resiko di tanggung Daniah sendiri, lagi pula penghisap darah kotor itu tidak akan membiarkan Daniah terluka!”
Rich kembali ke tempat duduknya dengan lesu. Benar kata ayahnya kalau Alberto tidak akan membiarkan Daniah terluka. Tapi, hal itu tetap saja tidak membuat Rich merasa tenang.
“Lebih baik sekarang kau fokus pada jodohmu, Elena.”
“Ck! Aku tidak menyuakai gadis itu, jadi stop kalau ingin menjodohkan aku dengannya!” kesal Rich karena ayahnya tidak berhenti menjodohkannya dengan Elena.
“Why? Elena gadis yang baik dan juga cantik. Mungkin kalau Daddy masih muda akan menikahi Elena,” jawab pria paruh baya itu sambil tertawa pelan.
“Daddy tidak tahu diri sekali!” geram Rich, seraya beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Dia sedang tidak mood keluar rumah, jadi lebih baik ia merebahkann diri di atas tempat tidur.