
Luka
Akhirnya bel istirahat berbunyi. Teman-teman lainnya sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing, termasuk kenza dan aira yg mencari ruangan Kantin karena kenza sudah berjanji dengan ibunya bahwa ia akan makan siang nanti.
"Awassss!!!"
SERTTTTSSS! Awwww sakit, kenza terduduk setelah ada sesuatu yg menggores pipinya. Sedikit demi sedikit keluar darah segar dari pipinya, orang-orang yg menyadarinya terlihat mengerumuni kenza yang masih terduduk membungkuk itu dengan rasa panik. Sedangkan aira segera membawa kenza untuk duduk di bangku yg ada di sampingnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Terdengar suara laki-laki yang mendekati kenza dengan membawa peralatan p3k itu. Dia duduk di samping kenza yg masih memegangi pipinya itu, dia membuka kotak kecil itu dan mengambil sebuah tisu yg kemudian menuangkan obat merah di atasnya.
Kenza yg terus memperhatikannya merasa pernah melihatnya sebelumnya. Kedua bola mata kenza membulat sempurna saat pipi nya di raih dan di obati oleh lelaki itu. Tanpa di sadari orang-orang juga masih memperhatikan mereka termasuk aira yg tidak berkedip itu.
"A..a..a..aduhh duhh"rintih kenza saat lelaki itu mengoleskan obat merah ke lukanya.sedangkan lelaki itu berekspresi datar dan hanya fokus untuk mengobati luka kenza.
Selesai sudah pengobatan luka kenza dengan di tutup oleh hansaplas di pipinya. Lelaki itu langsung membereskan kotak obatnya.
"Tet... terimakasih.."kenza sedikit menarik kerah baju tangan lelaki itu yang hendak pergi.
"Sama-sama, kalo masih sakit bilang aja" ucapnya dengan ekspresi yang masih sama. Kenza melepaskan pegangannya pada kerah baju tangan lelaki itu perlahan, "kenapa kamu bisa langsung nolong aku?" Kenza masih penasaran dengan lelaki yang langsung menolongnya dengan kotak obatnya." Aku membawa ini karena di suruh pak ridwan untuk mengantarkannya.jadi kebetulan ada kamu yang terluka." Lelaki itu langsung pergi tanpa menunggu ucapan selanjutnya dari kenza.
"Gila... ganteng banget sih dia, iyakan za?"
kenza kembali melihat aira, dilihatnya bahwa gadis ini juga seperti menyukai murid tadi. "mmm aku harus ke toilet anter aku yuk ra.."
Aira segera bangkit dari duduknya dan memegang tangan kenza "ayuk kamu taukan di mana toiletnya?" kenza menatap aira dengan tatapan polosnya "aku tidak tahu ra... hehehe gimana nih.." kenza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aira tertawa melihat reaksi sahabatnya itu dan tanpa disadari kenza juga itu tertawa melihat aira tertawa. Entah apa yang mereka pikirkan itu,tapi mereka terlihat bahagia walau kebahagiaan mereka membuat orang-orang bingung.
Mereka masih terlihat mencari-cari toilet namun karena sekolah ini begitu elit tidah heran jika sulit menemukan toilet, apalagi jika yg mencarinya murid baru yang belum mengenal lingkungan sekolah nya.
"umm permisi apakah kamu tahu arah untuk ke toilet?" kenza berusaha bertanya kepada siswa yang sedang duduk di bangku tunggu yang sedang membaca buku.
Terlihat siswa itu mendongakkan pandangannya untuk melihat siapa orang yang bertanya kepadanya. saat sudah melihatnya sekilas dia langsung menatap ke arah buku lagi dan tidak memperhatikan kenza dan aira yang masih menunggu jawaban.
"apakah kalian murid kelas satu?"
kenza dan aira mengangguk bersamaan untuk menjawab pertanyaannya.
"pantas saja..huh.." siswa itu tampak melepaskan nafas kasar, kenza yang melihatnya merasa tidak enak dan berniat untuk pergi tapi baru saja hendak pamit pria itu malah mengatakan sesuatu.
"kalian dari sini tinggal jalan ke depan lalu belok kiri di sana kalian bisa menemukan toilet. ohiya toilet wanita dan pria berbeda jadi lihat saja tulisannya yang menempel di pintu"
kenza dan aira tidak berkedip dan memasang ekspresi yang lugu ternyata siswa itu mau membantunya. walaupun siswa itu berbicara tanpa menatap mereka.
"Terimakasih banyak. maaf sudah mengganggu" kemudian aira menarik tangan kenza untuk segera ke toilet.
Ternyata arahan dari siswa tadi benar,kenza langsung masuk ke toilet khusus wanita di dalam terlihat bersih dan rapi bahkan juga wangi benar-benar toilet yang elit. Tanpa pikir panjang kenza langsung masuk ke wc untuk membereskan urusannya yang sudah di tahan begitu lama.