
05:00
Jam lima, masih benar-benar pagi
bukan? Matahari yang belum
menunjukkan sinarnya, kabut dan
embun yang menunjukkan dirinya.
Hari ini sangat dingin. Tapi dingin itu
hanya untuk kamar Amel, membuat
Amel segera bangun dari tidurnya.
Dia melihat ke arah jendela. Tidak ada
cahaya yang menembus gordennya.
Amel menghembuskan nafasnya. Lagi-
lagi dia bangun begitu pagi dengan
keadaan kedinginan. Bagaimana tidak
dingin? Kamarnya ini berada di lantai
paling atas.
Rumah Amel itu besar, berlantai empat.
Hampir seperti hotel atau apartemen
bukan? Dan sayangnya, kamar dia
terletak dipaling atas, yang paling
ujung, dan disitu hanya terdapat kasur,
kursi,dan meja.
Hanya itu, lemari? Lemarinya telah
dijual oleh Reva, adiknya sendiri.
Kasur itu pun tidak ada selimnutnya,
bahkan semua orang dirumah ini tahu
bahwa lantai yang paling atas terutama
kamarnya yang berada di paling
ujung. Saat malam hari itu benar-
benar dingin, sebaliknya jika tengah
hari dan cuacanya sangat panas, dapat
dipastikan kamar Amel bagaikan gurun
pasir. Benar-benar panas.
Amel berjalan keluar dari kamarnya,
menuruni tangga satu persatu-satu
dan segera kedapur. Setiap pagi, Ame1
adalah orang pertama yang bangun,
dan setiap paginya dialah yang
membuat sarapan. Itu sudah tugasnya,
jika tidak dia lakukan? Kalian sudah
tahu pasti apa yang akan terjadi.
Setelah membuat roti bakar danminumannya adalah susu, Amel segera
beranjak dari dapur dan menuju
ke arah kamar mandi. Jam telah
menunjukkan 05.30, berarti dia telah
membuat sarapan selama tiga puluh menit.
Amel mandi agak lama, karena hari ini sekolah, jadi dia harus siap- siap.
"Fighting"
...***...
"Dek, mau Abang anter gak?" Tanya
Rava, saat mereka semua berkumpul
dimeja makan. Tapi Amel tidak
menjawabnya, dia malah melanjutkan
memakan roti bakar yang telah
dibuatnya tadi pagi tanpa rasa bersalah
sedikitpun.
"Dek, Adek, dengar Abang gak?" Tanya
Rava sekali lagi dan Amel Sekali lagi
masih tidak menghiraukannya.
"Ad---"
"Udahlah bang, dia juga tidak mau
tuh!! Lebih baik Abang Rava nganter
Reva aja yah." Bujuk Reva dengan
mengeluarkan jurus andalannya.
Rava menghela nafasnya, kemudianmengangguk. Rava menatap nanar
kepada Amel yang masih saja
tidak meliriknya melainkan masih
melanjutkan memakan roti bakarbuatannya.
"Maaf bang, ini untuk kebaikan Amel
dan juga untuk kebaikan Abang." Amel
berusaha untuk tidak menangis saat itujuga.
Dia beranjak dari tempat duduknya,
kemudian berjalan keluar rumah
untuk segera ke sekolah dengan
menggunakan sepeda hitamnya.
...***...
"Eh!! Liat deh, itu si CUPU!!"
"Ih!! Mukanya kagak ada bagus-
bagusnya tapi bisa masuk disekolah
kita."
"Pindah aja sonoh."
"Jijik gue liat muka dia, sampe pingin
muntah disini juga."
"So disgusting." Dan masih banyak lagi.
Amel tak menghiraukannya, terserah
mereka mau mengatainya dengan
apa. Mulut Netizen digunakan untuk
berbicara bukan? Jadi tidak salah kalau
mereka seperti itu.
Dasar manusia kurang belaian,
mulutnya gak pernah disekolah-in.
Andai kata-kata itu bisa dikatakanAmel terhadap Netizen yang kurang
belaian tersebut. Tapi itu benar-
benar sangat tidak mudah. "Huh...MENYEBALKAN!!" Kesal Amel dalam hati.
Kring Kring
Bel berbunyi menandakan KBM
kegiatan belajar mengajar) akan
segera dimulai.
Amel segera berlari kearah kelasnya
yang berada di lantai dua. Tapi saat
mau menaiki tangga seorang guru
memanggilnya didepan ruang guru.
"Amel!!"
Amel membalikkan badannya,
melangkahkan kakinya untuk pergi ke
hadapan guru tersebut.
"Ada apa Bu?" Tanya Amel saat
sudah berhadapan dengan guru yang
memanggilnya.
"Kamu Amel kan? Anak kelas XII IPA1? Yang selalu juara 1 dan yang paling
pintar disekolah ini?" Tanya gurutersebut dalam satu tarikkan nafas danAmel mengangguk sebagai jawaban.
"Besok ada Murid baru, tolong kamu
antarkan dia kekelasnya sekalian ajak
dia keliling di sekolah kita:"
"Besok saya masuk kekelas dulu ataulangsung kemana Bu?"
"Besok kamu datang pagi-pagi, taruh
tas dikelas, dan segera keruang kepala sekolah."
"Makasih yah."
"Sama-sama."Amel pergi dari hadapan guru tersebut,
kemudian menaiki anak tangga satu
persatu untuk kelantai dua.
Amel berjalan dikoridor lantai dua, dia
mendengar didalam kelasnya banyak
laki-laki yang berteriak kencang seperti
godaan? Mungkin.
Amel masuk kedalam kelasnya dan
godaan tersebut berhenti digantikan
dengan ejekan dan itu tentu saja
mengarah ke dirinya. Amel melihat
didepan papan tulis terdapat siswi
yang sedang berdiri yang juga sedangmenatapnya. Murid baru kah itu?
Bukannya nanti besokyak? Atau adadua murid baru? Sudahlah.
Tatapan yang diberikan siswi baru itu
terhadapnya berbeda, kenapa? Tatapan
itu hangat, tidak ada tatapan yang
diberikan seperti siswa/i lain.
"Sudah-sudah, Amel silahkanduduk." Suruh wali kelasnya dan
Amel mengangguk. Dia pergi duduk
dibangku yang disampingnya kosong.
Kenapa kosong? Tentu saja tidak ada
yang mau duduk dengannya.
"Silahkan perkenalkan dirimu
nak." Siswi tersebut mengangguk,
mengangkat kepalanya dengan angkuh
dan begitu dengan percaya dirinya.
"Perkenalkan nama saya Ahfiza
Salsabilla Mustafa, kalian bisa panggil
saya Salsa. Salam kenal semuanya!!!!
"Cowok-cowok dikelas XII IPA 1langsung berisik, mereka kagum akan
semangatnya Salsa. Disekolah mereka
yaitu sekolah SMA Wijaya, semua
cewek disini tidak ada yang seperti
Salsa. Semuanya berbeda. Kenapa?
Yah... Untuk menjaga image mungkin.
Disisi lain, cewek-cewek bukannya
kagum, mereka malah merasa risi
dengan kehadiran Salsa. Merekamerasa nama cewek di sekolah SMAWijaya akan rusak. Awas saja.
"Baiklah Salsa, silahkan kamu pilih
tempat duduk yang kosong." Dengan
semangat 45 Salsa menunjuk tempat
duduk yang berada disebelah Amel.
Bahkan ditempat duduk laki-laki
mereka sudah saling untuk mendorong.
"Woi!!! Pergi Lo dari sebelah gue, Salsa
duduk disini aja."
"Geser lu semua!!!"
Salsa tidak menghiraukan mereka.
Dia dengan semangat berjalan kearah
bangku disebelah Amel.
"Hai!!! Salken."
Amel diam tidak berkutik, dia gugup
soalnya ini baru pertama kali dia
berinteraksi dengan siswi lain. Diamerasa canggung.
"Oh!! Lo canggung yak? Tenang woles
aja, gue ini orangnya santuy danbersahabat."
Amel masih tidak menghiraukannya,
dia menatap kearah Salsa yang berada
disebelahnya, yang ternyata sudah
fokus kedepan memperhatikan guru
yang mengajar.
Merasa di perhatikan, Salsa menatap
kesamping dimana Amel juga
menatapnya. Salsa tersenyum lebar
dan Amel segera mengalihkan
pandangannya, melihat guru yang
sedang mengajar.
Salsa tertawa dengan kencangnya tidak
menghiraukan lingkungan sekitar.
"Salsa ada apa?" Tanya guru yang
sedang mengajar.
"Gak ada Bu, cuman saya lucu aja samaAmel.
"Kali ini semua orang tidak lagi menatap
Salsa tapi menatap Amel.
"Amel, apakah kamu berusaha melucu
dijam pelajaran saya?"
"T-tidak Bu."
"Kalau kamu masih mau melucu, cepat
keluar dari kelas saya."
Amel terkejut, pasalnya ini baru yang
pertama kali dia akan dikeluarkan dari
kelas. Sepanjang hidupnya ini yangPERTAMA KALI.
"M-maaf Bu."
"Ce""Eh!!! Tunggu dulu Bu, jangan
keluarkan Amel, dia gak bersalah sama
sekali. Saya ketawa itu karena spontan.
Jadi kalau yang harus dikeluarkan dari
kelas ini adalah saya."
Salsa berdiri kemudian berjalan keluar
kelas. Sebenarnya dia sengaja tertawa
kencang agar bisa ke kantin. Dari tadimalam dia belum makan sama sekali.Perutnya ini kosong tanpa ada asupan.
Kasihan cacing-cacingnya yang tidak
diberi makan, fufuyfiufiu. "Thanks."
Amel yang tidak tahu apa-apa hanya
mengangguk.
Guru yang didepan kelas hanya
menggelengkan kepalanya. Terkejut
dengan kelakuan siswi barunya.
"Yaudah, ayo kita lanjutkan lagi
pelajarannya.
"Guru itu kembali mengajar sedangkan
Amel menunduk karena mendapatkan
serangan dari cowok-cowok dikelasnya.
Karena dia, Salsa dikeluarkan darikelas. Huh... Semua yang gue lakukanitu salah.
"Bertahan lah Amnel, Lo akan segerabebas dari ini semua. Tinggal beberapa
bulan lagi untuk lulus. SEMANGAT!!!."
Subuh/pagi/siang/sore/malam
Semuanya!!! :)
Update lagi-update lagi. Fufufu:")
Semangat untuk menanti Zera update >A<
Maapkan typo yang bertebaran >A<
Sekian dan terimakasih.
1126。