
"Amel!!!" Teriak seorang wanita paru bayah.
1 detik
2 detik
3 detik
Tidak ada sahutan. Wanita tersebut berteriak lebih kencang. "AMEL!!! KALAU KAMU GAK TURUN!! SAYA BAKAR KAMAR KAMU.
Terdengar seseorang sedang berjalan tergesa- gesa menuju kearah nya.
"Maaf ma, tadi Amel ketiduran." Amel menundukkan kepalanya, takut akan tatapan dari mamanya.
"Maaf- maaf, jangan panggil saya dengan sebutan suci 'Mama' itu. Saya tidak sudi kamu memanggil saya itu. Panggil saya Nona, Nona Karin." Amel menganggukkan kepalanya. "Maaf Nona, tadi Amel ketiduran." Ucap Amel mengulangi perkataannya.
"Saya tidak peduli. cepat kamu bersihkan rumah ini dan masak makanan mewah, karena kita akan kedatangan tamu, dan saya mau kesalon bersama Reva." Amel menganggukkan kepalanya patuh terhadap perintah.
Segera dia mengambil sapu dan menyapu rumah mewah nan besar itu. lanjut dengan mengepel, meng-lap meja dan jendela, mengganti sheprei di setiap kamar, mengganti gorden dengan yang lebih bersih, mengganti vas dan bunga yang lebi indah, dab lain- lainnya.
Semuanya dia lakukan, tanpa ada
bantuan seorang pun. Sebenarnya di
rumah ini mempunyai pembantu tapi
Mama... Ups, Nona Karin. Lebih ingin
Amel yarng mengerjakannya.
Dan setiap pembantu yang berada
dirumah ini diwajibkan untuk tidak
membantunya. Melelahkan? Sudahpasti.
Amel segera mencuci tangannya,menggunakan celemek dan mulaimemasak.
Beberapa jam kemudian.
kemudianMakanan mewah dan terlihat lezat itusudah tertata rapi diatas meja yang
panjang dan besar.
"Andaikan gue bisa duduk disini." Amel
segera menggelengkan kepalanya,
menyadari bahwa itu adalah hal yangSANGAT MUSTAHIL.
"Apa sih yang gue pikirkan? Heh, Lucu."Gumam Amel terkekeh. bukan karenabahagia, tapi karena merasa tersiksa.
Amel mempunyai adik bernama Reva
dan kakak yang bernama Rava. Kenapa
nama dia sangat berbeda dari mama
dan saudara-saudarinya? Karena orang
tuanya membencinya, sudah pasti.
Amel segera pergi ke kamar,
mengambil beberapa baju kemudian
pergi keluar rumah, memasuki taksi
yang sudah dipesannya tadi. "Pak, ke
mansion Violet yah." Pak supir pun
mengangguk, walaupun dia bingung
.Setelah sampai didepan mansion, Amel
keluar dari taksi dengan style dan
tampang yang berbeda. Bahkan supir
taksi pun kaget.
"A-adek, yang masuk taksi tadikan?
beneran?" Tanya Pak supir kaget.
"Hehe iya pak." Jawab Amel.
"A-adek, nona Violet itu kan?" Tanya
pak supir sekali lagi dan diangguki oleh
Amel, tapi sekarang dia menjadi Violet.
"Ini uangnya Pak." Violet memberikan
uang untuk membayar Pak supir
tersebut karena telah mengantarnya,
dan Pak supir mengambil uangnya
dengan senang hati.
"Makasih non." Taksi tersebut pergidari mansion sesaat setelah Violetsudah membalas ucapannya. "Sama-sama."
Violet melangkahkan kakinya
masuk kedalam mansionnya sambil
tersenyum ramah. Untuk saat ini.
Yahh, Dirumah atau disekolah merekamengenali dirinya dengan nama Amel
karena gaya fake nerd nya membuat
mereka tidak mengetahui bahwa di
balik Amel tersebut berada seorangViolet.
Orang terkaya nomor satu di dunia.
Sang model dan artis terkenal di
setiap majalah, koran, berita online,
aplikasi online seperti facebook,
Instagram,Twitter, YouTube dan lain-
lain, yang pasti sudah ada nama dan
mukanya disitu.
"Malam non." Sapa Bi Ida, orang
kepercayaan Violet untuk menitipkan
mansionnya saat dia berada di rumah
lainnya.
"Malam juga Bi, jangan panggil non
ih! panggil Violet atau Vio aja." Violet
tersenyum manis dan Bi Ida pun
membalas senyumannya, kemudian
mengangguk.
"Udah makan belum no-V-Vio?" Tanya
Bi Ida agak canggung karena tidak
terbiasa memanggil majikannya
dengan nama saja.
Violet memakluminya kemudian
menggelengkan kepalanya,menandakan bahwa dia belum makan sama sekali pada malam ini.
"Eh!! Silahkan non, ada di atas meja
makan, Bibi udah masak-masakankesukaan non." Violet mengangkat
sebelah keningnya membuat Bi Ida
sadar bahwa dia telah memanggil
Violet dengan sebutan 'non'.
"Maaf Vio, bibi lupa hehe." Bi Ida
mengeluarkan cerngiran andalannya membuat Violet terkekeh.
"Woles aja Bi, Violet maklumi kok.
Ntar juga terbiasa kan?." Violet segera
melangkahkan kakinya menuju meja
makan untuk mengisi perutnya dan
memberikan makan kepada cacing-
cacingnya yang sudah meminta sesuatuuntuk dimakan sedari tadi.
Saat sudah duduk di meja makan
Violet memalingkan pandangannya
mengarah ke Bi Ida. "Bi, udah makan?"
"Belum Vio."
"Kalau gitu ayok sini Bi, makan bareng
Vio. Makanan nya terlalu banyak ntar
kalau gak abis mubasir, terus sepi juga
gak ada yang nemenin Vio."
Bi Ida mengangguk dan melangkah kan
duduk berhadapan dengan Violet.
"Makan yang banyak ya Bi, supaya
tambah gendut, mungkin bisa buat
anak lagi." Violet tertawa dan Bi Ida
tertawa juga.
Anak satu-satunya Bi Ida adalah Hans,
Hans Juardi. Yang sekarang sedang
bekerja di perusahaan milik Violet sendiri.
Acara makan malam itu diisi dengan
banyak candaan dan tawa yang
membahagiakan. Yah, Walaupun itu
hanya sesaat.
***
"Dari mana saja kamu hah?!"
Plak
Saat Violet-ralat maksudnya Amel,
sudah sampai dirumah, sebuah
tamparan yang amat sangat kuat
segera mendarat di pipinya.
"Maaf Ma... Amel cuman pergi keluar
untuk membeli bałhan makanan yang
sudah hampir habis." Amel gemetaran
merasa ingin menangis, tapi itu sangat
tidak mungkin, dia menangis didepan
Mamanya, malah dia akan lebih ditampar.
Sebelum pulang kerumah orang
tuanya. Amel mampir sebentar untuk
membeli bahan makanan agar bisa
menjadi alasannya.
"Maaf-maaf!!! Sudahlah cepat buat
minuman dan berikan kepada tamu
di ruang tamu. saya mau ketoilet dulu,
dan jangan lupa panggil saya Nona."
Amel menganggukkan kepalanya
kemudian segera pergi ke dapur untuk membuat minuman.
"Terimakasih." Ucap pria baru
baya, jika di liat-liat seperti umur
mamanya, tapi agak lebih tua sedikit.
Amel menganggukkan kepalanya,
membalikkan badannya dan segera
menuju dapur kembali untuk menaru nampan.
Amel sekarang sedang berada
didapur, dia duduk di kursi kecil
sambil bernyanyi. Sebenarnya dia
ingin kekamar, tapi jika mamanya
memanggilnya dan dia tidak berada di
dapur.
"Aishh, Siapkan jiwa dan raga." Guman
Amel pelan.
Saat sedang bernyanyi. Seorang pria
datang kedapur tapi lebih muda
dari pada pria yang berterimakasih
kepadanya diruang tamu. Pria itu
terlihat seperti umurnya.
"Apakah dia baru datang?"- Batin Amel
sambil menatap pria tersebut yang jugi
menatapnya.
Karena sewaktu Amel memberikanminuman kepada tamu, dia sama sekalitidak melihat Pria tersebut.
Mukanya tampan, ditambah lagi
dia sedang tersenyum. terlihat dari
tatapannya dia... Kagum? Benarkah itu?
Tunggu, apakah dia mendengar Amel
saat menyanyi?. "Suara anda bagus."
Ucap pria itu tiba-tiba dan ya.
Dia telah menjawab pertanyaan
dikepala Amel.
"Anda dukun?" Tanya Amel tiba-tiba
membuat pria itu seketika terkekeh kecil.
Jika saja ini bukan dirumah orang,
dan lagi ada pertemuan bisnis. Dapat
dipastikan bahwa dia tidak akan
menahan tawanya.
Tapi dia harus menahannya untuk
menjaga imagenya sebagai pemilik
perusahaan Noel Company.
"Ini orang mau ketawa ya? Keliatan
banget dari mukanya. Humor nya
rendah banget ****." Batin Amel sambil
memperhatikan muka pria muda yang
ada dihadapannya.
"Seriously? Of course no. Saya hanya
melihat wajah terkejut anda seperti
tertangkap basa melakukan sesuatu
dan saya sadar akan itu.
"Amel manggut-manggut kemudian
menatap pria itu lagi. "Masih ada
cowok peka ternyata." Pria itu
tersenyum mendengar perkataanAmel.
Dengan segera, Pria itu mengulurkan
tangannya membuat Amel bingung.
Amel menatap tangan pria tersebut
menunjukan ada tanda tanya besar di
atas kepalanya.
"Saya Noel, Noel Mahendra."
Amel segera sadar, mengerti apa yang
dimaksud. Kemudian menyambut
uluran tangan itu dengan senang hati.
"Saya Amel, Violetta Amelia Qoirunisa."
...>>>>>>>>>>>>>>>>○<<<<<<<<<<<<<<<...
Halo semuanya!!!
Selamat menikmati yah :)
Maafkan kalau ada typo yang kesasar>A<
Sekian dan terima****kasih~