
Author POV
Suasana ruang kelas XI. IPA 1 terasa Sunyi kecuali suara guru yang lagi mengajar. Vivi sebagai salah satu penghuni kelas tersebut terlihat tidak fokus belajar malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kurang ajar banget tuh si Dion. katanya ngak suka tapi tetap aja tuh cewek masih deket-deket aja," Vivi heran sendiri apa maunya si Dion itu, kalau ngak suka yah bilang aja langsung. Dasar lelaki, Buaya.
Vivi melihat kebangku sebelah kirinya walaupun Maya terlihat berkonsentrasi belajar dia masih terlihat agak sedih. Dia mungkin masih memikirkan kejadian di kantin tadi. Dia tahu betul perasaan Maya ke Dion.
Sewaktu awal MOS Maya sempat kagum dengan sosok Dion yang supel dan gampang bergaul dengan siapapun, dia anak yang ceria membawa aura kebahagiaan ke orang yang dekat dengannya. Happy Virus, itulah julukan anak CP (Cendekia Pratama) ke sosok Dion.
Hingga akhirnya mereka dekat ketika Maya dan Dion sekelas waktu kelas 1, Vivi waktu itu di kelas yang berbeda. Tapi setelah pembagian kelas di tingkat 2, Dion memilih jurusan IPS sedangkan Maya jurusan IPA jadilah mereka beda kelas. Maya dan Vivi kemudian sekelas sejak saat itu.
Hubungan Maya dan Dion mulai agak sedikit merenggang tapi mereka masih saja dekat, tapi hal-hal sederhana yang biasa mereka lakukan waktu sekelas seperti makan siang bersama, kerjain Pr bersama dan juga piket bersama tidak mereka lakukan lagi.
"Vi"
"Vivi," panggil Maya.
"Eh apa May?" tanya Vivi ketika tersadar dari lamunannya.
"Shhtt, itu kamu dipanggil sama ibu Astuti dari tadi," Maya berbisik ke Vivi sambil sesekali melihat ke arah depan.
Vivi pun melihat kearah depan dan melihat wajah Ibu Astuti yang seperti menahan amarah. Ibu Astuti, salah satu Guru Kimia di SMA Cendekia Pratama terkenal baik dan ramah tapi dia sangat tidak menyukai apabila ada salah satu muridnya yang tidak berkonsentrasi belajar ketika pelajaran sedang berlangsung.
Gue pun merasa bersalah dan meminta maaf kepadanya.
"Maaf Bu, saya tadi lagi ada yang dipikirin sedikit," kata Vivi menyesal.
Ibu Astuti juga sangat tidak menyukai muridnya yang suka berbohong, jadi lebih baik aku jujur saja. Dia lebih gampang memaafkan kesalahan kita kalau kita jujur, tapi selama itu masih ada dalan batas wajar.
"Baik Ibu maafin, jangan diulangi lagi. Kalau tidak langsung saja ibu kurangi poin kamu Vivianti," mengigatkan tentang sistem poin sekolah Cendekia Pratama tentu saja Vivi langsung saja mengiyakan.
"Baik Bu," jawab Vivi seadanya.
"Baik ibu lanjutkan, sampai dimana kita tadi? Metode perubahan Biloks?" tanya Ibu Astuti.
"Iya Bu," jawab murid-murid yang lain.
"Baiklah kalau begitu. Maya, coba kamu naik kerjakan soal no.1 di buku latihan berdasarkan contoh yang sudah saya jelaskan tadi," Bu Astuti menyerahkan spidol ke Maya.
Maya maju kedepan papan tulis dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan dipapan tulis. Maya merupakan salah satu siswi pintar di kelas kami sehingga dia mengerjakan tugas tersebut dengan mudah. Seandainya gue yang disuruh untuk menyelesaikan mungkin soal tersebut tidak akan selesai-selesai dari tadi. Gimana mau ngerjain? jelasin penjelasannya aja gue kagak.
"Jawaban yang bagus Maya, kamu boleh kembali ketempat dudukmu."
Maya kembali ketempat duduknya dan Ibu Astuti melanjutkan pembahasan.
"Shhttt May, ntar ajarin aku yah," Vivi meminta Maya untuk mengajarkannya tentang perubahan Biloks, prinsip Vivi yang selalu dia pegang teguh, yaitu nakal boleh asalkan jangan bodoh. Jadi walaupun tidak termasuk siswi yang pintar nilai Vivi cukup memuaskan.
Tak lama kemudian bunyi lonceng terdengar mengakhiri pelajaran sekaligus jam pulang sekolah.
"Baik anak-anak sampai disini pelajaran kita hari ini, pertemuan kita selanjutnya masih tentang Redoks, jadi belajar dengan baik dirumah," Ibu Astuti merapikan kembali perlengkapan mengajarnya setelah itu dia keluar dari ruang kelas.
"Yeay, akhirnya pulang," ucap Vivu bahagia. Seperti para murid yang lain, jam pulang sekolah ada waktu yang sangat menyenangkab bagiku.
"Yuk Vi kita pulang, kita belajar dirumahku saja yah?" tanya Maya. "Hari ini soalnya Mama nyuruh aku pulang cepat," lanjutnya.
"Bolehdeh, aku juga kangen masakan mamimu," jawab Vivi tanpa rasa malu.
Maya dan Vivi sudah bersahabat sejak mereka menginjak bangku SMP, waktu itu Vivi yang merupakan gadis tomboy yang masih kelas 1 SMP tapi terkenal sangat nakal diantara angkatannya maupun kakak kelas. Hingga suatu hari dia menolong siswi teman sekelasnya dari pembulyan oleh geng kakak kelas yang isinya perempuan semua.
Alasan mereka membuly siswi tersebut hanya karena dia memakai jepit ramput yang cantik dan mereka memintanya dengan paksa tapi siswi tersebut tidak mau meberikannya. Akhirnya mereka kemudian mulai membuly siswi tersebut tiap hari. Tak tahan lagi akhirnya Vivi mengamuk, dia sudah melupakan nasehat Ibunya untuk menjadi anak yang baik dan tidak berkelahi lagi disekolah.
Vivi mulai menarik rambut dari salah satu anggota tersebut dan mendorong yang lainnya. Pertengkaran tersebut sangat brutal hingga pihak sekolah kewalahan menanganinya. Vivi berakhir dalam keadaan berdarah dibeberapa tempat dan para anggota lainnya juga tidak dalam kondisi yang lebih baik.
Pertama kalinya dalam sejarah SMP tersebut murid perempuannya bertengkar lebih kasar daripada laki-laki. Para orang tua yang bersangkutan kemudian dipanggil dan memberitahukan kelakuan putri mereka.
Ibu Vivi sangat syok melihat anaknya dalam kondisi yang seperti itu. Vivi awalnya takut karena Ibunya sangat kejam ketika memarahinya tapi saat itu Ibunya tidak marah, dia malah menangis dan memeluknya erat. Ibu Vivi kemudian menanyakan perihal anaknya ke kepala sekolah dan guru BP.
"Bapak kepala sekolah, bisa anda jelaskan kepada saya kenapa anak saya dalan keadaan seperti ini?" Aura yang dikeluarkan Ibu Vivi membuat ruangan jadi sunyi, para orang tua lainnya yang ingin protes padanya terlihat diam bahkan kepala sekolah juga. Vivi merasakan hangat dihatinya melihat Ibunya tidak menyalahkannya.
Walaupun seorang perempuan di usianya yang sudah 30 tahunan, Ibu Vivi merupakan tipe perempuan Alpha Female yang terkesan kuat, belum lagi pegalamannya sebagai pengacara terkenal dapat membuatnya dengan mudah mengatasai berbagai masalah yang dia hadapi dengan mudah. Ibu Vivi juga merupakan seorang single mom setelah penghianatan suaminya sehingga membuatnya menjadi sosok perempuan yang kuat dan mandiri.
Kepala sekolah langsung saja menjelaskan bahwa Vivi terlibat pertengkaran, awalnya kepala sekolah ingin menyalahkan Vivi tapi sang Ibu tidak tinggal diam. Dia tahu bahwa sekolah ini merupakan salah satu sekolah terbaik dan memiki banyak CCTV untuk mengontrol tindakan para siswanya, dia kemudian meminta hasil rekamannya, kepala sekolah langsung kaget dan tidak bisa mengelak, dia terpkasa meminta staffnya untuk mengambil rekaman CCTV.
Dari rekaman terlihat Vivi bertengkar dengan para anggota geng dengan cukup brutal, Ibu Vivi tidak tinggal diam dan meminta rekaman dimundurkan dan terlihatlah bahwa anggota geng pada awalnya terlihat membuly seorang siswi dengan cukup kasar.
"Bisa anda jelaskan kepada saya Bapak dan Ibu sekalian tentang apa yang sebenarnya anak-anak anda lakukan?" tanya Ibu Vivi kepada para orang tua anggota geng. Mereka hanya terdiam setelah mengetahui alasan sebenarnya tapi masih saja ada orang tua siswa yang malah justru marah kembali karena menurutnya anaknya tidak salah apa-apa.
Hingga kemudian pintu ruangan terbuka dan siswi yang merupakan korban pembulyan datang bersama orang tuanya serta kakek neneknnya, ternyata siswi tersebut adalah Maya.
Kepala sekolah langsung kaget ketika melihat Kakek Maya dan langsung menyapanya dengan hormat. Kakek Maya ternyata merupakan pemilik yayasan dimana sekolah ini berada, dia menyayangkan hal ini terjadi disekolahnya dan menimpa cucu kesayangannya.
Para orang tua murid dan kepala sekolah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ternyata kepala sekolah menerima suap dari orang tua murid para anggota geng supaya anaknya tidak dihukum akibat kenakalan mereka selama ini dan hal ini sudah berlangsung lama. Kepala sekolah dan beberapa guru atau staff yang bersangkutan dipecat dengan tidak hormat dan dimasukkan kedalam daftar hitan pendidikan. Para murid anggota geng juga dikeluarkan dari sekolah.
Maya yang melihat Vivi langsung memeluknya erat dan berterimakasih. Maya yang ternyata merupakan cucu pemilik sekolah terkenal Low Profile dan tidak pernah mengadu ke orang tuanya perihal masalahnya disekolah, tapi dia langsung saja menghubungi kakeknya untuk meminta bantuan demi teman yang menolongnya.
Sejak saat itu Maya dan Vivi menjadi teman dekat, mereka awalnya menjadi teman sebangku hingga menjadi Sahabat.
Sekolah juga memulai perbaikannya baik dari segi administrasinya maupun pengajaran yang lebih baik. SMP yang dalam yayasan Pratama group mulai membaik dan lebih mengontrol sistem pendidikanya terutama terhadap anak-anak yang merupakan korban pembulyan maupun pelaku pembulyan itu sendiri.
---