Untittled

Untittled
Ke-absurdan Vivi dan Persahabatan



Author POV



Mobil Pribadi Maya yang di antar Mang Ujang telah sampai dirumah Vivi.


Hari ini Maya berencana menjemput Vivi untuk berangkat kesekolah bersama. Mang Ujang kemudian membunyikan klakson untuk memberitahu orang didalam rumah, setelah klakson dibunyikan terdengar suara-suara ribut dari dalam rumah.


"TUNGGU YAH MAY, GUE CARI KAUS KAKI DULU," teriak Vivi dari dalam rumah.


"Okay Vi," balas Maya walaupun dengan suara yang tidak terlalu keras.


Beberapa saat kemudian Vivi keluar dari rumahnya dalam keadaan berantakan. Rambutnya tidak terikat rapi serta Baju yang tidak masuk dalam rok spannya.


"Sorry yah may soalnya gue tadi lanjut tidur lagi, gue bangunnya agak pagi tadi karena Bunda sama Ayah gue harus pergi dari tadi subuh," Vivi menjelaskan ke Maya sambil memperbaiki penampilannya yang berantakan.


"Emangnya Ayah sama Bunda kamu mau kemana Vi?' tanya Maya heran.


"Oh itu, mau ke Surabaya. Pernikahan keluarga kayaknya," Jawab Vivi.


"Waduhhh, Gue salah ambil kaus kaki nih May. Gimana dong?" Vivi menunjukkan kedua kaus kakinya ke Maya yang panjang sebelah.


"Ha ha ha, Untung cuman panjang sebelah Vi. Kalau beda warn mah repot,"  Tawa Maya.


Maya lanjut menjelaskan, "Pakainya gini aja Vi, yanv panjang kamu gulung supaya bisa sama panjang kayak yang pendek."


"Bagus juga ide lo May," Vivi kemudian memakai kaus kaki seperti yang dijelaskan Maya kepadanya. walaupun Vivi merasa kakinya mengganjal karena kain kaus kaki yang dilipat tapi dia merasa ini lebih baik daripada harus memakai kaus kaki panjang sebelah, dia bisa saja jadi bahan tertawaan satu sekolah.


"Gimana May?" tanya Vivi.


"Kelihatanya bagus, walaupun agak beda warna sedikit tapi kalau tidak ada yang memperhatikan ngak apa-apa kok," Maya memperhatikan kaus kaki yang dipakai Vivi yang walaupun agak sedikit berbeda warna masih terlihat normal daripada panjang sebelah.


"Thank you idenya May," Kata Vivi.


"Sama-sama Vivi cantik."


Vivi dan Maya sampai disekolah mereka yang terletak ditengah-tengah kota Jakarta. Mereka kemudian turun dari mobil dan menuju kelas.


Selama perjalanan dia melihat beberapa temannya dan tidak ada yang memperhatikan atau menertawakannya, sepertinya mereka tidak menyadarinya pikir Vivi.


Mereka sampai di kelas dan bel pun langsunf berbunyi. Pelajaran pertama pun dimulai.


---


Pada jam istirahat pertama Vivi dan Maya pergi kekantin untuk makan siang bersama. Mereka duduk ditempat mereka biasa makan dan nongkrong, Vivi dengan Mie ayamnya dan Maya dengan Nasi gorengnya. Saat mereka menikmati makan siang dari arah samping terdengar gosip disamping mereka.


"Kalian udah dengar belum sih? Katanya Laras, Senior kita yang terkenal cantik itu menembak Dion kemarin di belakang sekolah," Gadis yang sedang bicara adalah IPS seangkatan mereka dan yang sedang bicara dengannya sepertinya teman sekelasnya.


"Serius? terus gimana diterima atau ngak?" tanya gadis lainnya penasaran.


"Ngak tau juga sih diterima atau ngak tapi katanya setelah itu kak Laras langsung meluk Dion sambil nangis, katanya sih nangis bahagia karena diterima," lanjut gadis itu lagi.


"Jadi mereka pacaran atau ngak sih?" tanya yang lain penasaran.


"Kayaknya sih pacaran," Ucap gadis yang pertama bicara.


Vivi dan Maya mendengarkan cerita tersebut sambil memakan makanan mereka.


Maya terlihat mendung setelah mendengar gosip sedangkan Vivi malah cuek bebek.


"Ngak usah didengerin May," Ucap Vivi cuek sambil menyeruput jus jeruknya.


"Apaan sih, siapa yang dengerin? Lagi pula aku juga ngak ada hubungan apa-apa sama Dion," Maya tersenyum terpaksa sambil menjelaskan ke Vivi. Dia daritadi cuman mengaduk-ngaduk makanannya ketika gadis-gadis dimeja sebelah mulai bergosip.


"Kalau gitu kenapa tuh muka dari tadi cemberut doang, tuh makanannya juga diaduk-aduk doang."


Sesaat kemudian Dion masuk dalam kantin dan dibelakangnya terlihat Laras yang mengikutinya dari belakang.


"Jadi mereka beneran pacaran? Lihat tuh Kak Laras duduk di meja yang sama dengan Dion," Gosip kemudian kembali terdengar.


Maya dan Vivi juga melihat kejadian tersebut, Maya kemudian langsung menundukkan kepalanya lagi sedangkan Vivi menatap Dion dengan tajam dari jauh.


Dion merasakan tatapan Vivi dan hanya bisa mengangguk kearah Vivi sambil menggosok belakang kepalanya canggung. Dion juga melihat Maya yang masih menundukkan kepalanya.


Maya kemudian mengambil Hp dikantung bajunya dan berpura-pura asik dengan memperhatikan Hpnya, padahal yang dari tadi dia lakukan cuman membuka dan menutup aplikasi di Hpnya.


"Cewek Ganjen," Kata Vivi keras. Dia sengaja melakukan hal tersebut supaya yang dimaksudkan bisa mendengarnya.


Laras yang merasa orang yang dimaksud Vivi adalah dirinya hanya diam dan seakan tidak peduli. Dia sebenarnya ingin membalas tapi dia sedikit segan dengan adik kelasnya itu. Bukannya kenapa, Vivi memang terkenal tak tanggung-tanggung dalam berurusan dengan orang yang tidak dia suka, baik itu laki-laki atau perempuan. Dia pernah dilabrak oleh Vivi karena menggangu Maya sahabatnya.


Laras mengganggu Maya waktu itu karena dia sering melihat kedekatan Dion dan Maya tapi setelah itu dia merasa menyesal. Bukan hanya mendapat Sanksi karena menggangu Maya, Vivi juga mengancamnya akan mengirimkan photo ciumannya dengan laki-laki dibelakang sekolah kepada Guru BP dan Kepala Sekolah.


Setelah kejadian tersebut walaupun dia masih sering kesal kepada Maya dia hanya bisa menahannya. Dia kemudian tidak menggangu Maya dan mulai gencar mengejar Dion kembali.


Seperti saat ini dia ikut makan bersama Dion dan teman-temannya di meja mereka walaupun hanya dia sendiri perempuan di meja tersebut. Sesekali dia akan merangkul tangan Dion walaupun telah dilepaskan beberapa kali.


Vivi selesai memakan mie ayamnya dan langsung menghabiskan jus jeruknya dalam sekali teguk. Dia kemudian menatap Maya yang sesekali menyuapkan makanan kemulutnya sambil melihat Hp.


"Masih lama belum May?" tanya Vivi langsung.


"Maya kayaknya udah kenyang deh Vi. kita balik kelas aja," ajak Maya.


"Kalau gitu habisin dulu minuman Lo, nanti kita beli roti sekalian bayar nanti. Lo bisa makan tuh roti kalau merasa lapar nanti,". Vivi kemudian merogoh saku roknya dan mengeluarkan uang 50 ribuan.


"Gue yang traktir lo hari ini. Gue bayar makanannya dulu yah, tunggu disini," ucap Vivi kemudian langsung menuju kasir membayar makanan mereka dan tak lupa membeli beberapa bungkus roti.


Vivi dan Maya pun menuju kelas mereka, dalam perjalanan Maya memegang tangan Vivi erat berusaha menyalurkan kegelisahannya ke Vivi tanpa harus bicara.


Vivi balas menggenggam tanga Maya seakan mengerti kegelisahan temannya.


Mereka berdua saling memagami dalam diam tanpa harua berkata. Beginilah persahabatan sebenarnya. Vivi tidak memaksa Maya untuk mengungkapkan kegelisahannya dan Maya merasa nyaman dengan kediaman Vivi yang mengerti dirinya tanpa harua dia jelaskan.


Beberapa saat kemudian bunyi Bel menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai sebentar lagi. Karena pelajaran selanjutnya adalah Kimia, Murid-murid kelas XI-Ipa 1 kemudian menuju Lab Kimia.


---


Dion, Pusing mau jelasin ke Maya gimana?



Maya yang cemberut



Yang mana nih menurut kalian??



----


FujimotoKumiko


Saling menerima tak menuntut


menghargai tak menjatuhkan


mengerti tanpa kata


itulah "PERSAHABATAN"