The twins

The twins
IPS?....No't my choice



Tolong buka hatimu itu,aku tau kau sangat menyayangiku.Maafkan aku yang selalu egois selama ini.Aku hanya takut,ketika semua yang sudah dimiliki oleh ku berpaling padamu.



                             ~Renata Shecillia Xavier ~


•••••••


Mentari pagi masuk melalui jendela yang sengaja di buka.Gadis itu mengeliat dari tidur panjang nya,sesekali mengucek mata untuk menetralkan penglihatan nya.Ia berjalan,menuju balkon kamar yang mengarah langsung ke taman belakang rumah.Dirinya sadar,hari ini cuaca nya sangat hangat.Berbanding terbalik dengan cuaca Canada yakni dingin.


Vita melangkahkan kaki mungil nya menuju kamar mandi.Cukup dengan waktu 20 menit ia sudah rapih dan cantik.Vita turun bergabung dengan penghuni lain nya di ruang makan.


Terlihat,Dave dan Nata sudah rapih dengan seragam nya masing-masing.Sedangkan Rissa pun sudah cantik dengan long dress nya.Tak ada tatapan pasti bagi Vita untuk suasana pagi ini.Dentingan sendok beradu dengan piring cukup menjadi tanda kesunyian.


"Papah sudah putuskan,kalau Vita sekolah bareng Nata.Dengan kelas yang sama juga!!!"


"Sungguh?.......Nata sangat senang mengetahui hal itu.Jadi Nata bisa menjaga Vita di Sekolah " Girang Nata


Sedangkan si korban malah cuek,ia enggan untuk memberikan suara.Namun hal lain terpaksa membuat nya menghentikan sejenak aktivitas sarapan nya itu.


"Jadi mas mau masukin Vita di sekolah yang sama?juga kelas yang sama?"


"Hm...iya,kan kita enak juga mengawasi mereka dalam satu kelas!"


"Berarti jurusan yang di ambil Vita sama dong kaya aku.IPS"


Trak


Suara garpu dan sendok sangat nyaring membentuk meja.Membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber suara.Mereka bingung dengan ekspresi datar si pelaku.


"Aku ngga mau masuk kelas IPS!!!lagian siapa juga yang mau sekelas bareng Nata,bikin pusing tau ngga!"Ketus Vita bersuara


"Tapi sayang,itu demi kebaikan kamu juga.Nata bisa membimbing kamu,sebagai kakak yang baik.Dan kamu bisa mendapat teman dari kakak kamu"Ucap Rissa menasehati,ia tau jika Vita anak yang keras kepala.Terlebih dirinya juga bersalah karena meninggalkan nya sendirian.


Jengah sudah Vita kali ini,sungguh apa yang di lontarkan oleh mulut Nata pasti di setujui langsung oleh kedua orang tua nya.Tanpa meminta pendapat pada si korban.


"Mungkin perlu di perjelas disini, bila sejak kecil GUE ngga suka yang namanya nya sejarah,ekonomi atau apalah itu.Di Canada pun GUE ambil jurusan biologi,penelitian bukan sejarah.Dan kalian mau masukin GUE ke kelas yang ngga GUE suka.Amazing!!!...."Amarah Vita mulai naik,ia tak bisa lagi menahan nya lebih lama.Apalagi hal seperti itu tentu menyangkut masa depan nya kelak.


Dave sangat marah,dengan sikap Vita yang tak ada sopan santun nya sama sekali.Dan lagi ia memakai kata LOE-GUE dengan kedua orang tua nya juga saudara kembar nya sendiri.


"Jaga ucapan kamu Vita,papah ngga pernah mengajari kamu kata-kata seperti itu!!!"


"Emang ngga pernah baru nyadar???.Makanya INTROSPEKSI DIRI sebelum mengeluarkan pendapat"


Brak


Suara kursi terdorong kebelakang,Vita memilih kembali ke kamar dari pada  terus ribut dengan orang tuanya.Sedangkan Dave,ia memijit kepala nya kasar.Ucapan Vita memang ada benar nya,ia pun tak bisa menyalahkan sepenuhnya kesalahan pada Vita.


"Pah,udah dong.Mungkin Vita masih kesel sama kita.Jadi jangan marah-marah lagi deh"


"Tapi sayang.....pa-


"Mas,yang di katakan Nata itu bener.Kita juga salah,sehingga Vita bersikap seperti itu.Mungkin dia masih kecewa.Tapi mas ngga usah khawatir,biar nanti aku bicara empat mata sama Vita sekalian mengurus tentang sekolah nya.Sekarang mending mas sama Nata pergi udah siang juga"


"Hm"


Kesunyian mulai melanda kembali,setelah kepergian Nata dan Dave rumah serasa sunyi.Selesai merapikan piring kotor,Rissa naik kelantai dua.Ia berniat berbicara berdua dengan Vita.


Tok tok tok


Bunyi suara pintu yang di ketuk,tak ada jawaban pasti membuat Rissa masuk secara perlahan.Matanya tertuju langsung pada Vita.Ia berjalan kearah Vita yang asik memandangi suasana belakang rumah nya.Rissa memeluk pundak anaknya lembut,ia tau menyelesaikan masalah perlu kepala dingin agar cepat kelar.


Vita berbalik,ia menatap mata coklat teduh itu.Mencari rasa bersalah,namun nihil Vita tak menemukan nya.Rissa mengajak Vita duduk di sofa dekat balkon.Ia memandangi Vita yang wajahnya penuh dengan rona kekecewaan.


"Mamah tau ini sulit buat kamu.Mamah minta maaf,selama ini udah menelantarkan kamu sendiri.Tapi kamu juga harus tau,kalau saat itu keadaan tak memungkinkan.Omah meninggal,dan Nata sakit.Mamah juga bingung...."


Diam,Vita enggan menjawab.Ia hanya perlu mendengar semua hal yang sia-sia menurut nya.Sedangkan Rissa semakin bersalah,bagaimana tidak Vita sama sekali tak merespon perkataan nya.


"Mamah mohon sama kamu,maafin mamah dan papah.Kita mulai hidup baru,dimana hanya ada kebahagian bukan kekecewaan atau kebencian"Tangis Rissa mulai pecah ia tak kuasa lagi menahan air mata nya.


"Mamah tau,selama 16 tahun Vita hidup mamah dan papah ngga pernah peduli bukan?kalian sibuk mengurus Nata.Tanpa sadar kalian menyakiti hati anak yang lain,tak pernah tau bagimana keadaan nya,sehat atau tidak,baik atau tidak.Berkunjung pun hanya beberapa kali dalam setahun"


"Tap-


"Vita dan Nata lahir bareng di Canada bukan?namun apa yang mamah lakukan ke Vita itu jauh dengan apa yang mamah lakukan ke Nata.Sakit mah,mengetahui orang tua lengkap kita tak peduli sama sekali,bahkan Vita pun sadar kalau mamah tau semua kesukaan Vita itu dari Grandma.16 tahun pula,Vita tinggal di Canada,tinggal dengan seorang Grandma yang mamah tau hidup sendiri itu sudah.Dan lagi Grandma harus ikut menanggung biaya hidup Vita disana.Pernah Vita berfikir,apakah mungkin jika Vita itu bukan anak mamah dan papah?tapi melihat wajah Nata yang begitu mirip membuat Vita jengah.Dan kadang Vita merasa dunia itu ngga adil " Vita menangis,ia pun sungguh kecewa para orang di depan nya ini.Walau status nya ibu,ia sungguh tak paham dengan isi hati nya.


Rissa menghapus airmata Vita,ia sungguh bersalah disini.Tak peka akan hati yang terluka.Berpihak pada salah satu anak nya,berpaling pada yang lain nya.Haruskah ia di nobatkan sebagai ibu yang paling KEJAM.Padahal ia tau sendiri anak nya itu kembar,pasti saling terikat satu sama lain.Namun bodoh nya ia malah memisahkan kedua nya.


"Mamah minta maaf sayang,mamah tau selama ini mamah egois ngga peduli sama Vita.Tapi Vita harus tau,mamah selalu sayang sama Vita.Ini hanya masalah waktu,kita bisa memulai hidup yang baru sayang"Jelas Rissa ia sungguh ingin anaknya MENGERTI,atau mungkin ia yang ingin DIMENGERTI.


"Memaafkan itu hal yang mudah bagi Vita mah,namun melupakan sangat sulit.Tolong jangan paksa Vita dalam hal ini,karena jujur Vita masih kecewa.Tapi Vita janji bakal berubah lebih baik"


Rissa bahagia,ia memeluk tubuh anak nya itu.Mengelus pelan pucuk rambut nya,ia tak mengira Vita memberi nya kesempatan untuk memulai jalan yang baru.


"Mamah janji ngga akan beda-bedain Vita dan Nata lagi.Dan mamah janji bakal kasih Vita kelas IPA sesuai kemampuan yang Vita miliki"


"Makasih mah,udah mengerti perasaan Vita"


 Kepercayaan harus di perkuat dengan perbuatan bukan ucapan.Kebahagian di dapat karena rasa saling percaya satu sama lain.Kesempataan di gunakan untuk membuka jalan baru bukan jalan lalu.


Bersambung