
Suatu ketika tetua dari suku Tauru dan kerajaan Agaroma
Suatu ketika saat kerajaannya telah terbentuk, suku Tauru yang masih tersisa bertemu dengan satu kerajaan, anak lelaki mereka yg sama-sama berusia sepuluh tahun. Anak dari suku Tauru memegang sebuah hewan kecil di tangannya. Kedua ayah mereka yg merupakan suatu petinggi dlm kaumnya masing-masing bertemu untuk saling membahas.
Suku Amera masih tersisa namun diam bergerak sembunyi-sembunyi memantau pergerakan di wilayah Zeviya.
Kerajaan-kerajaan yang telah terbentuk berunding untuk memberi nama pada suatu pulau tak bernama yang berada di bagian arah Timur Zeviya, penduduk di sana menyebut pulau mereka sebagai pulau dewa bukan berarti nama pulau tersebut namun itu hanyalah julukan.
Pengkhianatan pada suku Tauru, dan mencari pengkhiant tersebut untuk mencari maksud dan tujuannya. Pohon-pohon ditebang, sumber daya diambil serta para hewan darat, udara termasuk burung-burung dan air, ikan-ikan ikut diambil namun hak tetap bersama.
Para samurai-samurai yang kuat berlatih di sana, serta para ninja-ninja yang handal. Suku Tauru khawatir jika wilayah mereka akan menjadi sasaran dari serangan kaum lain, yang lebih besar yang justru akan semakin membuat mereka tergusur dan semakin mengganggu keberadaan mereka.
Di tempat yang lain ada suku yang memenggal kepala, ada juga suku yang suka memutilasi dan mengoleksi tulang belulang korbannya. Yang membuat para kerajaan lain ketakutan. Namun ada kerajaan kuat yang berusaha melawan mereka.
Badai penerjang kapal
Suatu ketika di samudera yang besar, kapal-kapal yang sedang mendayung di lautan, ketika di malam hari angin-angin yang bertiup kencang, petir yang menyambar mendorong-dorong perkapalan. Para prajurit, kapten, pelaut berbondong-bodong bekerja sama, mempertahankan kapal mereka. Tak terlalu banyak yang berani ke luar, hampir semuanya berada di dalam kapal. Hal itu sungguh menjadi hal yang berat, berharap tak ada kerusakan-kerusakan yang mengganggu proses perjalanan kapal, seperti masuknya air, mengalami kendala alat-alat sistem penopang kapal. Sebagian dari mereka duduk diam khawatir dan berharap ini segera berlalu dan sempat sampainya.
Ketika masalah bencana besar itu, adanya naga raksasa yang keluar dari dalam air. Naga itu menggeram, sampai terdengar para penghuni kapal dan merasa gemetar.
Saat itu ketika peperangan, adanya badai pasir, yang menimpa para prajurit dan tersapu angin dan beberapa di antaranya tertimbun pasir. Mereka berusaha membersihkan mata mereka yang kelilipan. Rasa lelah, sakit, luka-luka berperang bercampur dengan terpaan angin dan pasir, yang membuat mereka berhenti perang untuk sementara.
Para prajurit yang terdiri dari ribuan dari dua belah pihak melakuan pertempuran. Namun para prajurit kuda-kuda berjalan lebih dulu, lalu anak panah dari balik belakang lebih dulu terlepas dan turun sebelum para pasukan berkuda sampai ke musuh mereka. Beberapa tertancap anak panah, yang telah dilakukan dua kali serangan. Sedangkan pasukan itu memajukan tombaknya hingga sang penunggang kuda mereka tertancap ditambah dengan kecepatan kudanya yang menjadi hantaman balik pada penunggangnya ketika mengalami serangan. Teriakan-teriakan perang, desakan, dorongan, bergumul di tengah-tengah kekacauan tersebut.
Nyawa demi nyawa dibalas, berkorban demi diri sendiri atau pun orang lain, kaumnya masing-masing, peperangan di antara dua bangsa kerajaan besar. Perang besar pun terjadi