The Power Comes From Sky

The Power Comes From Sky
Chapter 3



Mereka terus mengalami kemunduran, serangan brutal yang semakin menjadi-jadi


Hoel meskipun menggunakan kekerasan namun berusaha tidak membunuh karena memang mereka ditugaskan untuk membawa perdamaian, jika terdesak maka mau tak mau akan terpaksa merenggut jiwa ketika dalam situasi tertentu.


Hoel turun di wilayah-wilayah yang berbeda di muka bumi ini, salah satunya di wilayah arah timur yang disebut Zeviya, wilayah itu amatlah subur dengan hasil alam yang melimpah ruah dan jernih. Wilayah tersebut di tempati suku Tauru yang mempunyai populasi yang besar namun bisa menjaga kestabilitas alam yang ada di sana. Suku Tauru jauh lebih dulu menempati wilayah itu pertama kali ribuan tahun sebelum kedatangan kaum lain.


Awalnya ada klan Saijhi yang menemukan daerah Zeviya setelah suku Tauru, lalu kedatangan jumlah klan Saijhi semakin banyak bahkan pernah terlibat sedikit perselisihan dengan beberapa anggota dari suku Tauru. Lalu kemudian datang lagi satu klan lainnya yaitu klan Yamatare dengan informasi yang didapatkan dari beberapa orang sesama klan Yamatare seiring berjalannya waktu para klan Yamatare pun datang bejibun. Karena terjadi perebutan perkelahian kecil atas hak kepemilikan disebabkan beberapa orang dari kedua belah pihak antar klan atas penemuan wilayah, maka dua klan tersebut yaitu klan Shaiji dan klan Yamatare pun akhirnya berperang.


Beberapa tahun kemudian karena mendengar informasi tentang wilayah Zeviya yang kabarnya adalah wilayah yang sangat subur dan berlimpah ruah dengan hasil alam yang jernih serta ukuran wilayah yang dianggap amat luas meskipun masih belum diketahui berapa ukurannya pada waktu itu, yang berada di arah Timur nan jauh sana, maka datanglah kedua klan yang bersekutu dua klan tersebut adalah klan Yamagura dan klan Zande. Klan tersebut pun datang yang pastinya sudah mendapat penolakan dari suku Tauru setempat yang tak ingin lagi kedatangan dari kaum lain. Yang mereka anggap bisa merusak tempat tinggal mereka.


Penolakan tersebut mulai berujung pada pertikaian kecil hingga akhirnya terjadi peperangan besar. Empat klan tersebut terus menerus memberikan perlawanan. Akibat kalah dalam sistem peralatan yang lebih maju dan strategi. Maka suku Tauru pun mundur dari arah selatan ke arah utara.


Perkelahian, perebutan serta pemberontakan terjadi, suku Tauru berusaha menjaga tanah leluhurnya. Sebagian tempat-tempat yang telah menjadi budaya-budaya bagi identitas suku Tauru pun tergusurkan. Keberadaan suku Tauru semakin terpinggirkan. Pendatang asing tersebut tampaknya membawa kerugian meskipun di sisi lain berjanji akan membawa kemajuan bagi suku Tauru.


“Para pendatang asing tersebut datang awalnya kami menyambut mereka dengan baik, namun mereka mengambil tanah, hak milik kami dan segala isinya, mereka datang dengan kekuatan dan peralatan yang lebih kuat dan maju serta jumlah kedatangan mereka yang tak sedikit” begitulah perkataan dari seorang tetua suku Tauru. Yang mana wilayah tersebut adalah milik mereka namun diambil, dan direbut paksa oleh para kaum pendatang asing tersebut.


Waktu demi waktu berlanjut dan sebagian wilayah mereka berhasil dikuasai oleh empat klan tersebut, suku Tauru ada yang berada di Utara di daerah Chezic, di antara daerah yang banyaknya bebatuan yang indah, ada yang mendiami wilayah pinggiran sungai jernih serta pegunungan, bukit-bukit dan beberapa daerah lainnya. Mereka suku Tauru mengukir batu-batu tersebut dengan ramuan-ramuan mereka yang mana kumpulan bebatuan tersebut bisa memancarkan cahaya-cahaya dengan tampilan bentuk ukiran-ukiran yang indah dalam gelap nan menarik yang telah dibuat.


Di pulau lain yang lebih kecil tak bernama, tetangga daerah Zeviya, ada suku lain yaitu suku Amera, suku ini adalah suku bar-bar yang gemar berperang, mereka suka memakan mata musuh mereka, populasinya lebih kecil dari pada suku Tauru. Suku Tauru pernah berperang dengan suku Amera namun suku Amera tak pernah berhasil menguasai wilayah Zeviya.


Suku Amera memiliki kepercayaan kehidupan terbentuk dari penglihatan mata, karena mata adalah sumber penciptaan kehidupan, matalah yang membuat keputusan akan berbagai macam kejadian hidup beragam. Jadi siapa pun yang berhasil memakan mata musuh mereka akan mendapatkan lebih kekuatan penglihatan dalam menggapai suatu tujuan.


Berbeda dengan suku Tauru yang menyapa dengan baik para pendatang pada awalnya, namun suku Amera justru lebih berbahaya dan waspada. Suku Amera lebih banyak menerangi kegelapan menggunakan api atau kunang-kunang yang ditangkap dan dimasukkan dalam benda seperti lentera.


Di pulau Zeviya dimana ada suatu kekuatan hebat yang terkutuk dari sebuah relik kuno, yang mana ada para klan Yamatare melanggar larangan yang sangat keras dari suku setempat. Akhirnya Klan Yamatare semakin bisa menandingi klan-klan tersebut yang menguasai wilayah itu. Relik tersebut telah dijauhi oleh suku Tauru, beberapa suku setempat dulunya pernah ingin menggunakan kekuatan tersebut kembali setelah para leluhur namun dihadang. Lalu dua klan yang bersekutu tersebut pun bergabung dengan satu klan lainnya yaitu klan Saijhi, untuk menghancurkan klan Yamatare. Ketiga klan tersebut pun berperang melawan Klan Yamatare dan klan Yamatare yang berada di wilayah tersebut pun hampir kalah. Ketika kekuatan klan Yamatare semakin menipis. Klan Yamatare pun mendapat serangan tambahan dari suku Tauru.


Akibat relik yang terkutuk tersebut dipakai terus menerus. Akhirnya tersebarlah kutukan-kutukan yang mematikan yang berupa wabah penyakit dari para kumbang. Hingga menghancurkan keseimbangan wilayah Zeviya.


Klan Yamatare pun melakukan sistem adu domba dimana klan Yamatare berjanji akan memberikan peralatan serta mengajar suku Amera menggunakan alat mereka dan cara berperang para klan Yamatare dalam membantu melawan tiga klan tersebut serta suku Tauru.


Di tengah-tengah dunia yang sedang kacau balau ini