
Penjelasan:
Zeviya di sini bukanlah sebuah pulau maupun benua melainkan sebuah tanah wilayah yang setengah dari ukuran benua, tapi bisa dikatakan luasnya seperti sebuah negara.
Peperangan telah menjadi bagian yang erat dengan kehidupan manusia di masa lalu dan tertuang dalam sejarah di masa sekarang. Setiap antar kaum membentuk cara menyerang, berperangnya masing-masing.
Manusia beperang disebabkan ideologi dan kekuatannya yang dipegang teguh masing-masing antar golongan berbeda hingga berujung pada konflik. Sewaktu zaman kerajaan para klan, suku, kaum terbentuk bahkan terjadi peperangan antar satu sama lainnya. Hingga kerusuhan atas ketidak adilan yang terjadi semakin parah. Wilayah demi wilayah menjadi kekuasaan dan mulai menjadi daerah yang berbahaya. Waktu itu terjadi perang antar klan dan mulai hampir memusnahkan suatu suku Tauru, yang penduduk asli di wilayah timur bernama Zeviya. Zeviya diyakini adalah suatu daerah yang benar-benar amat subur, suku Tauru sempat mengalami perang saudara, yang dimana suku Tauru terpisah menjadi tiga kelompok yang masing-masing dipimpin oleh tiga pria bernama Behiga, Nobuga dan Alakha. Mereka berperang satu sama lain siapa yang lebih kuat.
Kelompok yang dipimpin Behiga mempunyai lahan buruan lebih besar, sedangkan kelompoknya Nobuga ahli bercocok tanam. Mereka terpecai-berai, kelompok Alakha berhasil mengambil lahan buruan miliknya kelompok Behiga. Alakha dirasa lebih kuat dalam memimpin sub sukunya. Peperangan dan teriakan perang tak terhenti, namun ada satu suku yang selama ini menjadi ancaman mereka, yang berada di pulau cukup besar tetangga mereka, yaitu suku Amera suku bar-bar yang gemar berperang, suku Amera menyakini jika memakan mata lawannya maka akan menjadi lebih kuat karena akan mendapat tambahan dari kekuatan entitas lawannya. Suku Amera memiliki kepercayaan kehidupan terbentuk dari penglihatan mata, karena mata adalah sumber penglihatan berbagai macam kejadian ragam kehidupan. Jadi siapa pun yang berhasil memakan mata musuh mereka akan mendapatkan lebih kekuatan penglihatan dalam menggapai suatu tujuan.
Suku Alakha berhasil memukul mundur dan menurunkan secara dratis populasi kelompok Behiga, akibat dibunuh, melihat hal itu kelompok Nobuga pun merasa ketakutan, namun suku Amera kembali menyerang dan menyerbu mereka, para suku Amera datang dengan rakit dan perahu, suku Tauru yang terpecai berai pun semakin melemah hingga membuat mereka berusaha bersatu untuk mengusir rombongan suku Amera. Dengan bar-barnya suku Amera memukul tengkorak, menghancurkan tulang rusuk dan membelokkan secara berlawanan sendi musuh-musuhnya. Mereka berperilaku kanibalisme, tak hanya memakan tulang dan daging lawannya namun juga kaumnya sendiri yang sudah mati. Suku Tauru yang memiliki populasi jauh lebih besar, menghalangi perjalanan suku Amera yang berusaha masuk lebih dalam lagi. Suku Tauru juga cukup ahli dalam peperangan gerilya seperti bersembunyi, mengendap-ngendap serta membuat jebakan namun tak seahli ninja, tak seperti suku Amera yang kebanyakan menyerang secara berhadapan langsung.
Suku Amera memiliki fisik yang jauh lebih kuat, tentu saja mereka pasti lebih kuat fisiknya ketika bertarung satu lawan satu menghadapi suku Tauru, yang membuat suku Tauru kewalahan. Suku Amera yang semakin banyak tak henti-hentinya berdatangan, membuat suku Tauru mengerahkan segala kekuatannya hingga hampir membuat Alakha berencana untuk menggunakan relik kuno milik leluhur untuk menghentikan serbuan suku Amera. Namun Behiga melarangnya, sempat terjadi perselisihan kembali, namun suku Tauru dengan tekad yang kuat dan strategi yang mahir berperang selama berbulan-bulan hingga akhirnya suku Amera menghentikan serbuannya, ketika salah seorang pemimpin bawahan ketua, berhasil dibunuh oleh Nobuga dan Alakha. Dengan Nobuga menahan memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya, dan Alakha menebas lehernya. Melihat hal itu suku Amera yang tercengang akan tekad kuatnya para suku Tauru, membuat mereka mundur berlarian. Beberapa pasukan berkata dengan nada yang seram dan tenggorakan menggerutu
"Suatu hari nanti kami akan kembali."
"Kalian akan melihat, serbuan yang lebih besar. Ingat itu."
Beberapa dekade setelah peristiwa itu, suku Tauru kembali perang saudara. Dengan perpecahan yang terjadi sebelumnya.
Kelompok suku yang dipimpin Alakha masih semakin kuat, para suku berperang dengan memakai kuda, senjata tajam berupa pisau, parang, tombak kayu dan logam, alat pemukul dari batu khusus.
"Kembalikan sebagian lahan buruan kami, aku ingin berunding, tentang masalah ini...!!!" ucap Behiga dengan lantangnya. Para kelompok Alakha yang melihatnya tercengang dan Alakha si pemimpin mulai menghampirinya, "Baik, aku akan memberikannya, namun kau hanya mendapatkan seperapat saja."
"Apa?" teriaknya. Lalu bicara dengan nada yang lantang lebih rendah, "Yang benar saja, kami tak bisa menerimanya."
Di tengah mereka berunding, sub kelompok yang dipimpin Nobuga pun, datang dengan serbuannya menyerang secara tiba-tiba.
Hingga terjadilah perang saudara antar tiga kelompok kembali, Behiga menyuruh pengikutnya mundur, setelah ikut berperang dalam waktu singkat. Meninggalkan kelompok Nobuga dan Alakha yang masih berperang.
Kelompok Nobuga dan Alakha berperang cukup lama, hingga suatu waktu turun hujan dan terjadi badai angin, serta sambaran petir yang memporak poranda suku mereka. Menyambar pasukan mereka, serta membakar pohon-pohon yang ada, darah akibat luka perang bercampur air hujan dan keringat. Gerakan semakin sulit akibat terpaan badai angin dan kegemetaran sambaran petir. Setelah setengah waktu pun mereka pergi berlindung.
Setelah badai berlalu yang masih hidup dan tumbang, terbangun dari pingsannya, dan kembali melakukan serangan, berperang hingga titik penghabisan.
Keesokan siang harinya keadaan kembali damai, para suku menjalani aktifitas seperti biasanya, mereka berternak, menjadi nelayan, bercocok tanam serta berburu. Di waktu yang masih damai tersebut, kelompok Behiga berusaha memperkokoh kemampuan sub sukunya, demi membalas Alakha dan mengambil kembali lahan mereka.
Behiga mencoba berdamai dan bersekutu dengan kelompok Nobuga, namun ditolak yang kadang sering terjadi perseteruan kecil, hingga menewaskan beberapa nyawa di antara kedua suku. Kelompok Behiga berusaha mencari wilayah Zeviya yang lebih jauh demi menjauhi kedua suku tersebut, untuk mencari kemakmuran persediaan serta tak terlihat akan rencana mereka.
Sampailah suatu ketika kelompok Behiga berada di suatu tempat yang di bagian Utara daerah Chezic, di antara daerah yang banyaknya bebatuan yang indah, ada yang mendiami wilayah pinggiran sungai jernih yang bermuara dengan laut, serta adanya pegunungan, bukit-bukit dan beberapa daerah lainnya. Mereka suku Tauru mengukir batu-batu tersebut dengan ramuan-ramuan mereka yang mana kumpulan bebatuan tersebut bisa memancarkan cahaya-cahaya dengan tampilan bentuk ukiran-ukiran yang indah dalam gelap nan menarik yang telah dibuat. Yang mana banyaknya tanaman berupa jamur dan bunga serta ubur-ubur yang mampu memancarkan cahaya yang indah di tempat yang gelap.
kelompok Behiga yang masih hidup semakin menyusut sehingga Behiga tersudutkan namun pada akhirnya dia dan kelompoknya diampuni oleh Alakha.
Namun suatu ketika kelompok Alakha lengah, mereka diserang oleh kelompok Nobuga dan Behiga, hingga Alakha sang ketua kelompoknya tewas beberapa waktu kemudian kelompok Behiga dan Nobuga berperang hingga beberapa bulan mereka berdamai dan bersatu kembali.
Perseteruan suku Tauru mulai berhenti dan mereka kembali bersatu, setelah beberapa waktu berperang kembali berperang setelah meninggalnya Alakha yang dihabisi kelompok Behiga dan Nobuga, dan perdamaian di antara kelompok keduanya setelah beberapa bulan berdamai.
Di kejauhan wilayah di lautan, datanglah empat armada kapal besar milik klan Shaiji, para suku Tauru pun yang melihatnya berombongan ke pinggir pantai untuk melihatnya, mereka turun dari kapal tersebut memijak tanah Zeviya dengan rombongannya. Berpakaian besi, pedang, tombak, serta bom lempar.