
TAK ada pesta mewah, tak ada tamu penting, pernikahan antara Gavin dan Raya hanya dilakukan secara tertutup dan terbilang biasa saja untuk ukuran pernikahan keluarga konglomerat. Bukan karena terbatas oleh biaya, namun Gavin lah yang meminta untuk tidak mengekspose ranah pribadinya ke khalayak umum. Bahkan hanya keluarga Wijaya saja yang mengetahui tentang pernikahan ini.
Usai upacara pernikahan yang berlangsung secara singkat, Raya bergelut di dalam kamar bersama Mina, Ia sibuk mengemasi barang-barang yang nantinya akan dibawa ke rumah Gavin. Rumah yang terletak sangat jauh dari kediaman Handoko. Hal tersebut membuat Mina sedih karena harus berpisah dengan Raya.
"Kamu harus bahagia dengan pernikahan ini."
Raya terhenti, pernyataan Mina mengingatkan kembali segala perlakuan Gavin terhadapnya. Raya tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya nanti setelah tinggal bersama Gavin.
"Bagaimana caranya bahagia, kalau dia saja membenciku."
"Buatlah Tuan Muda Gavin mencintaimu," Mina dengan mudahnya menjawab.
"Yak! Kau pikir itu suatu hal yang mudah?" Tak tahu kalau jawabannya itu membuat nona mudanya kesal, Mina berlari menghindari pukulan Raya.
"Kemari kau, Mina! " Mereka saling mengejar satu sama lain, hingga suara ketukan pintu menginterupsi keduanya.
"Sudah selesai berkemas?" Seorang pria bertengger di depan pintu. Wajah yang belum pernah Raya lihat sebelumnya. Mungkinkah dia suruhan Gavin?
"Saya adalah Refal, kaki tangan sekaligus sahabat Gavin, suami kamu."
"Oh, gitu."
"Nona muda Raya sudah selesai berkemas." Mina menimpali pertanyaan Refal yang belum terjawab.
Tangan Refal seolah memberi isyarat kepada dua pria berbadan besar di belakangnya, mereka segera bergerak setelah diberi perintah. Dua pengawal tersebut membawa tas besar milik Raya menuju mobil.
"Jaga dirimu di sana, aku pasti sangat merindukanmu, Ra!" Raya menarik Mina untuk masuk ke dalam pelukan. Kebersamaan mereka berdua terpaut singkat, tetapi sangat berarti bagi Raya.
"Dan cepatlah membuat cucu untuk Tuan Besar!"
"Yakk!!!" Belum sempat memberi Mina pelajaran, gadis itu lebih dulu keluar agar terbebas dari amukan Raya.
Refal tercengang saat tahu bagaimana sifat Raya yang sangat berbeda jauh dengan tipe gadis kesukaan Gavin. Raya tersenyum kikuk mengetahui Refal tengah memperhatikannya. Mereka berdua akhirnya keluar dari kediaman Handoko. Raya belum sempat berpamitan pada Handoko sebab Handoko pada saat itu tidak berada di rumah, melainkan pergi ke luar kota karena urusan bisnis.
Di dalam mobil, suasana begitu canggung, baik Refal atau Raya, keduanya sama-sama tidak memiliki niatan untuk berbincang satu sama lain. Sesekali Refal melirik ke arah Raya yang tampak asyik mengamati jalan.
Sudah bukan lapangan kosong lagi yang memenuhi pandangan Raya, kini puluhan rumah mewah berjejer rapi. Tak kalah elite dengan komplek kediaman Handoko, Raya mungkin akan terkejut mengetahui berapa kisaran harga satu rumah di sini.
"Sampai,"
Penaturan Refal membuyarkan lamunan Raya. Ia tersadar, lalu menyusul Refal yang lebih dulu keluar dari mobil. Raya membantu Refal membawa tas besar miliknya, Ia memasuki rumah megah Gavin yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Raya.
"Gavin sedang lembur, mungkin Ia akan pulang larut malam."
Mereka menaiki anak tangga menuju kamar atas, di sana terdapat dua kamar berukuran besar dengan jarak yang sedikit berjauhan.
"Ini kamar Gavin," Refal menunjuk ruangan yang dimaksud.
"Syukurlah kalau aku dan Mas Gavin pisah kamar."
"Yang itu pasti kamar ak--"
"dan kau."
"Aku, aku dan mas Gavin satu kamar?" Raya bertanya kembali, memastikan kalau pendengarannya salah. Ia tidak ingin satu kamar dengan Gavin, berada di bawah kuasanya saja membuat Raya ingin tenggelam ke rawa-rawa.
Dilihat dari tingkah Raya, Refal merasa ada yang tidak beres di sini , namun Ia mencoba untuk tidak menyelidiki lebih dalam, sebab tidak ingin terlalu jauh menyampuri urusan rumah tangga Gavin.
"Yaudah, kalau begitu saya izin pamit. Selamat malam, Nyonya Wijaya."
Nyonya Wijaya. Refal menekankan dua kata terakhir, membuat Raya sadar akan statusnya sekarang. Dengan hanya memikirkannya saja bisa membuat kepala Raya pening. Untuk itu, Ia butuh sesuatu yang bisa membuat tubuh dan pikirannya tenang setelah apa yang Raya lalui akhir-akhir ini. Sepertinya berendam di dalam air hangat adalah pilihan yang tepat.
Masih di kota yang sama, Gavin memilih menghabiskan sisa malamnya di kelab, tempat yang sering Ia kunjungi bersama Refal ketika remaja. Tak ada yang berubah pada kelab malam ini, semua masih sama semenjak kepergian Gavin ke Singapura. Dan khusus malam ini, Gavin tidak memesan wanita untuk menemaninya. Ia hanya ingin sendiri. Tanpa gangguan para wanita yang bergelayut manja di tubuhnya.
Gavin meneguk wine sampai habis, kemudian tak lama Refal datang usai menyelesaikan misi yang Ia berikan.
"Pulanglah, istrimu sudah menunggu."
Gavin selalu begini tiap kali mengunjungi makam ibunya. Ia akan menyendiri, kemudian teriak, menangis, lalu tertawa layaknya orang yang kehilangan akal sehat.
"Istri?" Gavin memunculkan smirk jahat miliknya.
"Ah benar, aku harus pulang sekarang. Akan sangat menyenangkan jika memberinya tugas pertama sebagai seorang istri."
Gavin melekatkan kembali jas yang Ia lepas, lalu berjalan melewati Refal.
"Perlu ku antar?" Refal bertanya, kondisi Gavin saat itu tidak memungkinkan untuk membawa mobil seorang diri.
"Tidak perlu."
Gavin memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli bahwa dirinya telah melanggar peraturan lalu lintas, bahkan Ia juga menerobos lampu merah. Dalam hitungan menit, Gavin telah sampai di rumah. Ia melirik ke atas, lampu kamar yang masih menyala menandakan sang empunya belum terlelap dalam mimpi.
Gavin bergerak masuk menuju kamar. Setiba di kamar, Gavin tidak menemukan Raya di sana, namun Ia mendengar suara gemercik air yang berasal dari dalam kamar mandi. Gavin menunggu Raya keluar dengan berdiri di pintu. Cukup lama Gavin menunggu, tak ada tanda-tanda Raya akan keluar.
"Shit. Apa yang dia lakukan di dalam?" Gavin mengerang, saat ingin menerobos masuk, Raya lebih dulu muncul dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuh polosnya.
"Mas,"
"Ke-kenapa sudah pulang?"
"Raya." Untuk pertama kalinya, Gavin memanggil nama Raya.
"Kau tahu apa tugas pertama seorang istri?" Bukannya menjawab pertanyaan Raya, Gavin justru melontarkan pertanyaan lain.
"Melayani nya." jawab Raya ragu.
"Gadis pintar. Sekarang lakukanlah." Perintah Gavin.
"Raya tidak tahu caranya."
Brak!
"Kau berani menentang perintahku?"
"Tapi, tapi Raya benar-benar tidak tahu." Raya memejamkan dua bola matanya, tatapan mata Gavin terlalu tajam untuk Raya lihat.
Raya salah sudah membuat Gavin marah, jika sudah marah, Gavin akan sulit untuk dikendalikan. Kini sisi liar Gavin bangkit, sisi liar yang sungguh menyeramkan. Raya tak pernah membayangkan kalau malam pertamanya penuh dengan air mata. Gavin melakukan itu dengan amarah yang menggebu, tak peduli Raya menangis sekeras apapun. Gavin lebih menakutkan dari ketika pertama kali mereka bertemu, saat Raya hadir di tengah-tengah keluarga Wijaya.
"Kenapa kau menikahiku kalau kau saja sangat membenciku." gumam Raya sangat pelan. Gavin terlelap lebih dulu, sedangkan Ia hanya memandang punggung Gavin dari belakang. Matanya terlalu lelah menangis, jadi Raya memutuskan untuk tidur. Karena dengan itu, setidaknya rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya akan hilang untuk sementara waktu.