The Perfect Wedding

The Perfect Wedding
Chapter 2 - Semakin Terikat



HARI ini hari minggu, hari yang tepat untuk bersantai di rumah. Gavin memilih menghabiskan weekends nya dengan duduk di kursi samping kolam renang, suara yang berasal dari gemercik air membuat suasana menjadi tenang. Ia membaca headnews pekan ini sembari menyeruput secangkir kopi hitam. Selang beberapa menit, dari kejauhan Gavin mendengar suara derap langkah seseorang mendekati dirinya. Handoko, ayah dari Gavin itu mengisi bangku kosong tepat di sebelah Gavin. Sejak kepulangan anak tertuanya, Handoko belum mendengar sepatah kata dari Gavin. Untuk itu Ia berinisiatif menanyakan kepulangan Gavin yang mendadak ini.


"Kenapa tidak berkabar sama Papah kalau kamu akan pulang?"


"Tidak terpikirkan."


"Rencananya berapa lama kamu akan menetap di sini?"


"Selamanya." Gavin melipat koran, lalu meletakkannya di meja kecil.


"Terus perusahaan yang sedang kamu pegang gimana?" Handoko sedikit mengernyit, menerawang rencana apa yang kira-kira sudah Gavin persiapkan.


"Suruh saja orang kepercayaan Anda untuk bertukar dengan saya." Jawab Gavin enteng.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, Papah setuju dengan ide kamu. Lagipula anak perusahaan kita di Singapura sudah stabil, berkat kamu, Vin." Gavin menanggapi pujian Handoko dengan senyuman miring. Hal besar terlihat kecil bagi Gavin jika dipegang langsung oleh dirinya.


Sejujurnya, Handoko sempat khawatir kalau putranya itu memilih untuk tidak mengikuti jejak keluarga Wijaya sebagai pebisnis, karena sewaktu Gavin beranjak remaja, Ia hampir tak tertarik terjun ke dunia bisnis. Dunia yang telah menghidupi beberapa keturunan Wijaya. Handoko tak perlu khawatir lagi. Karena sekarang, Gavin benar-benar bisa dibanggakan dalam mengelola perusahaan.


Saat tahu tidak ada lagi yang dibicarakan, Gavin beranjak dari acara santainya, Ia melangkah masuk menuju kamar yang berada di lantai atas. Sekumpulan orang yang tidak lain adalah pelayan rumah membuat Gavin terhenti. Terlebih para pelayan tersebut berkumpul tepat di depan kamar Raya, masing-masing dari mereka memasang wajah yang khawatir.


"Ada apa?" Suara serak Gavin menginterupsi mereka yang sibuk membujuk Raya.


"Anu tuan, nona Raya sedari tadi tidak keluar dari kamar, dan pintu nya terkunci dari dalam. Saya khawatir terjadi sesuatu pada Nona Raya." Mina menyelamatkan beberapa pelayan yang nyalinya menciut usai kedatangan Gavin.


"Semuanya bubar. Biar saya yang bicara sama dia." Perintah Gavin. Pelayan rumah langsung berhamburan setelah mendengar perintah dari tuannya.


"Buka atau saya dobrak pintu ini." Gavin tak perlu bernada marah ataupun keras, karena Ia tahu kalau kelinci kecil itu pasti akan membuka pintu kamar sesaat setelah mendengar suara khas miliknya.


Dengan sangat hati-hati Raya membuka pintu, Ia harus waspada sebab pria yang berada di balik pintu adalah orang yang saat ini hendak Raya hindari.


Krek, brak!


Tubuh mungil Raya merespon rasa sakit usai Gavin menghempaskan nya ke tembok. Ia mengunci Raya menggunakan tangannya. Belum sempat mencerna apa yang barusan terjadi, Gavin mencium Raya untuk yang kedua kali. Ciuman tersebut persis seperti ciuman malam sebelumnya. Penuh paksaan, karena hanya dilakukan sebelah pihak saja.


Mata mereka sama sama tidak terpejam, sehingga Gavin dapat melihat kilatan kesedihan di dalam mata Raya. Bukannya berhenti, Gavin justru semakin kasar mencium Raya. Sebuah kebanggan bagi Gavin melihat gadis itu tak berdaya di bawah kuasanya.


Raya kewalahan mengimbangi Gavin yang semakin tak terkendali, Ia juga tidak diberi kesempatan untuk bernapas barang sedikitpun. Untuk itu tangannya mencoba mendorong bahu Gavin supaya menyudahi kegiatan mereka. 


Gavin tersenyum puas atas apa yang barusan Ia lakukan pada Raya, tak peduli apakah itu melukai hati Raya atau tidak.


"Kau," Gavin menarik paksa dagu Raya.


"payah sekali perihal bercumbu." Gavin mencibir.


"Wanita penghibur seperti mu harusnya tau bagaimana cara menyenangkan hati pria."


Kata-kata terakhir Gavin masih terngiang di kepala Raya, membuatnya tak kuasa menahan beban, Ia luruh ke bawah, menyatu dengan lantai marmer dingin tanpa alas. Raya tak boleh lemah, Ia harus memikirkan cara agar terbebas dari sini. Apapun caranya akan Raya hadapi jika dengan itu dirinya bisa terlepas dari belenggu keluarga Wijaya.


🌸🌸🌸


Sore ini Raya akan berterus terang tentang rencananya pada Handoko. Ia mencari keberadan Handoko ke penjuru rumah, dan pupilnya menangkap sosok Handoko tengah berada di taman rumah sedang melakukan pembicaraan dengan seseorang melalui telepon.


Raya memilih berdiri tak jauh, sembari menanti Handoko menyelesaikan teleponnya.


"Ra,"


"Paman, ada yang ingin Raya bicarakan."


"Apa itu?"


"Raya rasa sudah waktunya Raya pergi, sudah terlalu lama Raya menumpang. Raya tak ingin terus-terusan berhutang kepada keluarga paman."


"Bolehkah Raya balik ke kampung halaman? Kebetulan masih ada saudara jauh di sana,"


Handoko menelisik mata Raya lebih dalam, Ia tahu bahwa gadis di hadapannya itu tengah berbohong. Handoko tahu latar belakang Raya lebih dari yang Raya bayangkan. Handoko tahu banyak hal tentang Raya. Tetapi, melihatnya harus berbohong membuat Handoko sedikit iba. Mungkin, Raya benar-benar ingin bebas tanpa perlu bergantung padanya.


"Oke, paman setuju. Tapi, biarkan paman yang mengurus semua perihal keberangkatan kamu, ya."


Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Raya tatkala Handoko menyetujui rencananya itu.


Selain rencana Raya yang akan pulang ke kampung halaman, ada hal penting yang ingin Handoko sampaikan pada mereka; Raya, Gavin, dan juga Darien. Untuk itu Ia mengumpulkan ketiganya di ruang keluarga selepas makan malam selesai.


"Ada yang ingin papah bicarakan," Handoko lebih dulu membuka suara.


"Ada apa sih, pah? Kalo nggak penting-penting amat mending Darien masuk ke kamar, nih."


"Rin, dengerin dulu. Ini penting, menyangkut masa depan kakak kamu, loh."


"Iya, iya!" Darien mendengus sebal, sedangkan Gavin nampak tak berminat atas apa yang akan Handoko bahas malam ini.


"Raya, Paman sudah mengurus segala keberangkatan kamu ke Yogyakarta, detilnya akan paman kirim lewat whatsapp,"


"Terima kasih, paman." Raya bahagia, karena sebentar lagi akan terbebas dari sini, terutama dari jangkauan Gavin.


"Nah, kalo Gavin, papah dan sahabat papah, om Leon, berencana menjodohkan kamu dengan putrinya, Alena."


"Kamu tahu Alena, kan Vin? Tahun lalu kalian pernah bertemu di pesta ulang tahun perusahaan kita. Alena itu cantik, pintar, model terkenal juga."


"Gimana? Kamu setuju kan?" Handoko percaya kalau Gavin akan menyetujui rencana perjodohan ini, terlebih Alena melampaui kriteria wanita yang Gavin sukai.


"Alena?"


"Wanita itu sangat membosankan."


"Bagaimana kalau--" Gavin bangkit, Ia berjalan lurus menuju tempat Raya berada. Smirk jahat terukir di sudut bibirnya, membuat Raya seolah mengerti arti dari smirk yang ditujukan untuknya. Tidak, jangan sampai itu terjadi.


Raya dipaksa masuk ke dalam dekapan Gavin. Pria itu dengan lantang berkata, "Raya saja yang jadi istri saya."


Handoko, juga Darien, mereka sama-sama terkejut. Secara tiba-tiba Gavin meminta Raya untuk menjadi istrinya. Darien tahu betul seperti apa Alena, jika dibandingkan dengan Raya, sepertinya ada yang salah dengan otak kakaknya itu. Raya terlampau jauh jika dibandingkan dengan Alena.


"Vin, papah sedang tidak main-main."


"Memangnya saya terlihat sedang main-main?"


"Saya serius. Saya juga nggak akan nikah kalau bukan dengan Raya. Semua pilihan ada di tangan Anda, Tuan Wijaya terhormat."


Raya berharap Handoko akan membantunya dengan mengatakan tidak pada ide gila Gavin. Namun, semua harapannya agar terbebas dari sini hanyalah mimpi belaka, Handoko justru menyetujui rencana Gavin yang akan menikahinya.


"Kenapa harus Raya?"