
TIGA tahun berlalu, kehidupan keluarga Wijaya berjalan baik-baik saja tanpa ada sosok Gavin. Pria itu memilih pindah ke Singapura, selain karena kehadiran Raya yang begitu Gavin benci, perusahaan Wijaya Corp sedang merintis cabang di sana. Sejak Gavin memegang kendali atas perusahaan, tidak perlu waktu yang lama untuk Wijaya Corp menjadi perusahaan paling berpengaruh di Negeri Singa itu, darah pembisnis memang sudah mengalir mendarah daging di diri Gavin, tak heran jika perusahaan berkembang pesat dalam kurun waktu yang singkat.
Berbeda dengan Raya, kini kehidupannya jauh lebih baik. Perlahan hatinya sudah mulai ikhlas melepas kepergian ibunya. Handoko benar-benar merawat Raya dengan baik. Hidupnya tidak lagi serba kekurangan, segala kebutuhan Raya sudah Handoko persiapkan. Sebenarnya Raya tidak ingin ketergantuan seperti ini, namun Handoko yang memaksa Raya untuk menerima semua perlakuannya sebagai bentuk kasih sayang Handoko terhadap Raya yang notabennya adalah anak dari sahabat nya sendiri. Raya tidak bisa berbuat banyak selain membantu mengurus rumah keluarga Wijaya. Walau sempat mendapat penolakan keras dari Handoko, dan hanya dengan keyakinan dari Raya, Handoko membiarkan gadis itu membantu mengurusi rumahnya.
"Cobain deh, keasinan atau pas?" Raya bertanya pada Mina yang menemaninya memasak.
Jam sudah memasuki waktu makan malam, Mina menemani Raya memasak. Keduanya berbincang, sesekali Raya tertawa oleh lelucon yang Mina buat. Dari kejauhan sosok Darien memperhatikan keduanya yang nampak akrab satu sama lain. Darien benci, benci harus melihat Raya yang tertawa lebar seperti sekarang itu. Berkat Raya, hubungan antara Handoko dan Gavin menjadi renggang. Darien benci, bagaimana Mina bisa begitu akrab dengan Raya padahal Ia lebih lama tinggal di sini ketimbang Raya. Darien membenci segala hal tentang Raya.
"Udah pas, masakan nona muda tidak pernah mengecewakan!" Puji Mina.
"Mina! Aku nggak suka dipanggil nona muda, cukup Darien aja yang dipanggil begitu. Kamu panggil aku Raya aja, ok?"
"Ra...ya."
"Nah, gitu."
"Ah tidak, tidak! Saya tidak boleh memanggil nona muda Raya dengan sebutan seperti itu. Nanti tuan besar bisa marah."
Mina memberi hukuman pada mulutnya yang telah semberangan menyebut nama Raya. Bagaimana bisa dirinya begitu lancang menyebut nama majikannya hanya dengan nama saja.
"Hei, tuan besar nggak akan marah. Karena aku sendiri yang minta. Jadi mulai detik ini panggil aku Raya, atau Rara. Titik. Aku nggak mau ada penolakan dari kamu. Lagipula kita kan sepantaran." Mina melongo atas apa yang barusan didengarnya. Apa dia tidak salah dengar?
"Ba-baiklah, Ra."
"Anak baik."
"Yaudah, ayo kita bawa makanan ini ke meja makan."
Handoko dan Darien sudah bersiap di meja makan, dibantu dengan beberapa pelayan rumah, dalam hitungan menit berbagai jenis masakan telah tersaji di meja.
"Keliatannya enak." Handoko tergoda oleh aroma masakan yang menusuk-nusuk indera penciumannya. Hal itu membuatnya tak sabar untuk segera menyantap masakan buatan Raya.
Darien menatap malas ke arah Raya, Ia benar-benar muak satu meja dengan gadis itu.
"Selamat menikmati, Paman Handoko, Darien." ujar Raya sebelum beranjak pergi.
"Kamu mau ke mana? Sini makan bareng sama kita." Ajak Handoko.
Raya tak enak hati menolak ajakan Handoko, tetapi tatapan Darien padanya memaksa Raya untuk segera pergi.
"Anu, piring di wastafel menumpuk. Raya harus segera mencucinya."
Raya mencari alasan, setidaknya supaya Darien tidak lagi menatap nyalang ke arahnya.
"Biarkan yang lain saja yang mengerjakannya. Duduklah," Handoko menarik satu kursi untuk Raya tempati. Tempat itu berhadapan langsung dengan Darien. Ia menempatkan tubuhnya dengan canggung dan mulai menyantap makanannya dalam diam.
"Bagaimana kuliah kamu, Rin?" Handoko memulai pembicaraan, setidaknya Ia tidak akan membiarkan keheningan menyelimuti mereka bertiga.
"Baik." jawab Darien singkat.
"Kamu jangan keseringan pulang malem. Nggak baik seorang gadis pulang jam segitu. Bahaya."
"Darien bisa jaga diri."
"Tetep saja, Rin. Papah nggak mau kamu kenapa-napa."
"Sejak kapan seorang Handoko Wijaya perhatian sama anaknya sendiri?"
Handoko dan Darien menoleh bersamaan, suara familiar yang sudah tidak terdengar lagi sejak tiga tahun lalu, itu, itu suara Gavin!
"Gavin?"
"Kakak!"
Uhuk
Raya tersedak mendengar nama Gavin di telinganya. Pria yang amat membenci dirinya di detik Raya menginjakkan kaki di rumah ini.
"Saya capek, nanti saja bahasnya." Gavin berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamar atas. Kamar yang telah lama tidak Ia tempati.
Raya menghela napas lega usai Gavin hanya memandang datar ke arahnya. Apa itu artinya Gavin sudah tidak lagi membencinya?
"Ya, mungkin saja tidak. Tiga tahun waktu yang cukup lama. Aku yakin dia sudah tidak membenciku lagi."
"Tolong bawakan makan malam ke kamar Gavin." Perintah Handoko pada pelayannya.
Darien lebih dulu masuk ke kamarnya, lalu disusul Handoko.
Raya merapikan meja makan, lalu membawa piring kotor menuju wastafel. Ia melihat beberapa pelayan mengoper makanan yang akan dibawa ke kamar Gavin, di antara mereka tidak ada satupun yang berani. Masuk ke kamar Gavin sama saja seperti masuk ke kandang Harimau.
"Nona muda Raya saja yang mengantarnya!" Ide salah satu pelayan yang kemudian dibalas dengan anggukan dari beberapa pelayan lainnya. Raya dijadikan tumbal oleh pelayannya sendiri.
"Kenapa harus aku?" Pelayan itu mengambil alih piring kotor, lalu menggantinya dengan nampan bersih berisikan makanan.
"Yang benar saja!" Beberapa pelayan terkekeh melihat wajah Raya yang pucat.
"Mina! Kau saja yang--"
"Maaf, Ra. Aku tidak bisa bantu banyak. Semoga kamu bisa keluar dengan selamat."
Para pelayan termasuk Mina meninggalkan Raya setelah sampai di depan pintu kamar Gavin. Ia menarik napas dalam-dalam, dan bertekad pada dirinya sendiri.
"Hanya meletakkan makanan lalu segera pergi."
Suara gemercik air terdengar sampai luar, itu artinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk Raya masuk ke dalam.
Cklek.
Kosong.
Raya hanya berjalan lurus, Ia bahkan mempercepat pergerakan kakinya agar bisa segera keluar dari situ. Raya merasakan aura gelap yang tiba-tiba saja menyelimuti tubuhnya, seakan sesuatu tidak menyenangkan akan terjadi.
Cklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan tubuh atas Gavin yang polos tanpa sehelai benang. Raya meletakkan nampan di atas nakas samping ranjang, Ia tidak menyadari pria itu memperhatikannya dari belakang.
"Kelinci kecil ini rupanya punya nyali juga, berani sekali masuk ke kandang harimau tanpa izin!"
Raya terdiam. Gavin telah menyelesaikan acara mandinya, dan dengan bodohnya Ia malah tertangkap basah secara langsung oleh Gavin.
"Aku, aku hanya mengantar makanan saja."
"Kenapa harus kau?" Gavin mempersempit jarak antara dirinya dengan Raya.
"Atau kau dengan sengaja masuk untuk menggodaku? Begitu kelinci kecil?"
"Tidak, bukan seperti itu."
"Licik sekali otakmu."
Raya tidak dapat lagi menjauh dari jangkauan Gavin, Ia sudah dipenghujung antara hidup dan mati. Yang bisa Raya lakukan hanyalah mengalihkan pandangan dari tatapan tajam Gavin.
Gavin murka pada gadis sok polos di hadapannya. Ia segera menarik dagu Raya agar bisa menatapnya. Lalu mencium bibir Raya secara kasar, tanpa ampun, tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk menghirup udara. Ia semakin kesal saat tahu Raya tidak membalas ciumannya. Gavin menggigit bibir bawah Raya hingga berdarah agar Raya mau menyambutnya.
Ciuman pertama Raya telah direngut oleh orang yang membencinya.
Gavin menyudahi kegiatannya setelah sadar Raya terisak di bawah kuasanya.
"Cih, bukankah itu yang kau mau?"
"Keluar!" Titah Gavin.
Tanpa pikir panjang, Raya segera pergi dari hadapan Gavin. Sepanjang jalan menuju kamar Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Raya segera mengunci pintu kamar, lalu merosot di balik pintu. Tangisannya semakin pecah. Perlakuan Gavin sangat melukai hati Raya.