The Perfect Wedding

The Perfect Wedding
Prolog



Tidak ada satupun kata yang mampu mendeskripsikan perasaan Raya saat ini, Ia hancur, bahkan terlalu hancur untuk sekedar melanjutkan hidup. Satu-satunya sosok yang Raya miliki sudah kembali ke pangkuan Sang Kuasa. Kehilangan sosok ibu, terlebih sosok itu adalah satu-satunya orang yang Ia miliki begitu berat untuk Raya hadapi seorang diri. Ia menumpahkan kesedihan di hadapan makam sang ibu dengan menangis. Tangisan yang terdengar parau itu bisa membuat siapa saja yang mendengarnya dapat pula merasakan kesedihan yang Raya rasakan.


Semesta seolah turut serta dalam merayakan kesedihan dengan berubahnya warna langit yang membiru menjadi abu. Didetik berikutnya, tak henti-hentinya bumi dihujami hujan yang amat deras dari langit.


Tidak ada niatan bagi Raya untuk beranjak pergi meski hujan memporak-porandakan seisi bumi, baginya untuk tetap berada di sisi ibunya lah yang terpenting.


Seseorang memayungi Raya, membuat gadis itu mendongak agar dapat melihat siapa yang menghampirinya.


"Paman Handoko?" Raya memperuncing penglihatannya yang sedikit mengabur akibat hujan.


Foto pria paruh baya yang sempat ditunjukkan oleh almarhumah ibu Raya sama persis dengan pria yang kini tengah berdiri di hadapannya. Malaikat baik yang akan menolongnya di dunia ini. Handoko adalah teman baik almarhumah ibunya. Setidaknya itulah yang Raya ketahui.


"Sudah merasa lega?"


Pertanyaan Handoko membuat Raya mengusap air mata dan menghentikan tangisannya.


"Nggak apa-apa, masalah emang perlu ditangisi sesekali. Tetapi tetap ingat, hidup harus terus berlanjut, dan kita nggak boleh sedih berkepanjangan."


Raya mengangguk dengan masih diikuti isak tangis yang mulai mereda.


"Ayo pulang, hujan sudah semakin deras." Handoko menuntun Raya menuju mobil.


Sebelum meninggalkan area pemakaman, Handoko memberikan Raya jas miliknya usai melihat wajah pucat Raya akibat kedinginan.


Mobil mewah itu membelah hujan menuju perkomplekan elite di bilangan Jakarta. Sepanjang jalan Raya larut dalam lamunan, tidak menyadari kalau dirinya telah sampai di kediaman Handoko.


Besar. Megah. Mewah.


Rumah kediaman Handoko adalah rumah yang diimpikan Raya sejak dulu. Betapa indahnya bisa tinggal di tempat seperti ini bersama ibunya. Raya tersenyum miris, kini mimpinya itu hanya tinggal kenangan.


"Ayo masuk." Raya membututi Handoko dari belakang.


Mereka telah disambut oleh dua anak Handoko. Gavin Adiputra Wijaya dan Dariena Wijaya.


Raya melihat kepalan tangan Gavin begitu kuat, apalagi pandangan tajam Gavin membuat Raya tidak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya. Memandangi marmer dingin lebih baik daripada tatapan Gavin padanya.


"Siapa lagi? Simpanan Papah?" Gavin menelisik gadis yang dibawa Handoko dengan seksama, baju yang basah kuyup, serta wajah yang sembab.


"Gavin!"


"Bawa pergi gadis sialan ini, atau Gavin yang angkat kaki dari rumah!" gertak Gavin pada Handoko.


Hadirnya Raya di tengah keluarga Wijaya langsung mendapat penolakan. Dan hal itu membuat Raya tak enak hati.


"Vin, dia udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."


"Terus saya harus peduli?"


"Setidaknya biarkan dia tinggal di sini dalam beberapa waktu."


Perkataan Handoko membuat Gavin marah, ternyata ayahnya itu lebih memilih Raya ketimbang dirinya.


"Baiklah kalau begitu, biar saya yang angkat kaki." Pernyataan Gavin membuat Raya cekatan mencegah kepergian putra Handoko itu.


"Paman, biarkan Raya yang pergi dari sini. Raya nggak mau hubungan paman sama anak paman hancur karena Raya." Nada bicaranya dibuat seolah memohon, namun pendirian Handoko tetaplah sama. Raya harus tetap tinggal di sini bersamanya.


"Tidak, biarkan saja anak itu yang pergi dari sini."


Mendengar hal itu, Darien segera beranjak meninggalkan Raya dan Handoko sama seperti yang dilakukan kakak lelakinya.


"Apakah tinggal di sini adalah pilihan yang tepat?"


Pilihan itu adalah pilihan yang tidak disangka-sangka Raya yang nantinya akan membawa Raya menuju neraka buatan Gavin.