
Semakin malam semakin banyak para tamu menghilang. Kini yang tersisa hanya keluarga dan sahabat dekat Ayla.
Masih ada yang kurang. Gumam Reyno.
Dia melihat wajah istrinya. Sekilas tampak bahagia. Namun lama kelamaan ada genangan air mata di pelupuk matanya. Dia tau apa yang di rasakan oleh istrinya.
"Mah, mama kok nangis? Kenapa? " tanya Ayla.
"Eh, sayang.. mama nangis karena saking bahagianya" jawabnya sambil menghapus air mata.
"Oh.. beneran? "tanya Ayla curiga.
"Beneran?" jawab Daniah. Dia berusaha untuk menutup-nutupi apa yang ia rasakan sekarang.
Mama sepertinya bohong. Seperti ada yang disembunyikan. Ahhhh....sudahlah mungkin hanya perasaanku. Gumam Ayla.
"Mahh aku sama temen-temen ya! "
"Iya" jawab Daniah.
Akhirnya Daniah meninggalkan pesta tersebut tanpa ada yang tau. Kecuali Reyno. Dia mengikuti Daniah. Rupanya Daniah tidak menuju ke kamarnya, melainkan ke suatu ruangan gelap. Letaknya berada di belakang rumah utama dan bersebelahan dengan taman. Dia membuka ruangan itu lalu menyalakan lampu. Reyno masuk dan mengunci ruangan itu. Daniah tau kalau Reyno mengikutinya.
Ruangan tersebut merupakan ruangan rahasia. Tak ada satupun yang bisa masuk tanpa seizin Reyno dan Daniah. Seperti sebuah kamar. Kamar itu terlihat bersih dan rapi. Ada beberapa mainan dan boneka di sana. Ada juga sebuah tempat tidur balita yang berukuran besar dan lemari yang berisikan baju balita. Di sana juga terdapat meja rias. Ada beberapa foto yang terpajang di meja itu. Daniah mengambil salah satu.
"Hikk... hik...hikss... selamat ulang tahun Ambar sayang.." ucapnya sambil memeluk foto yang dia pegang. Dia menangis sejadi-jadinya. Reyno langsung mendekapnya. Dia menangis. Dia tak tahan melihat kesedihan istrinya.
"Sudahlah sayang. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus. Ikhlaskan dia.. Mungkin dia sudah tenang di sana" sahut Reyno.
Mendengar perkataan itu, sontak Daniah mendorong tubuh Reyno. "Apa yang kau katakan?" bentak Daniah ke Reyno. "Ambar masih hidup. Dia..putriku masih hidup. Aku ibunya, aku yakin dia masih hidup.." lanjutnya dengan penuh keyakinan.
Mendengar perkataan itu Reyno hanya diam. Dia juga memandangi foto yang di pegang oleh Daniah.
Sementara itu...
Al terlihat menyendiri. Dia merasa senang sekaligus sedih. Dia senang karena Ayla bahagia. Dan dia sedih karena dia masih ingat kalau dia juga masih mempunyai seorang adik perempuan lagi yang kini dia pun juga tak tau keberadaannya. Yah, dia masih ingat dengan kembaran Ayla yaitu Ambara adiknya yang satunya.
"Selamat ulang tahun Ambar.. Kakak merindukanmu dek!" katanya sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Ambar? Siapa Ambar kak?" tiba-tiba muncul Ayla di belakang Al
"Ehh,, Ayla.. anuu...Ambar.. eee. " jawabnya gelagapan. "Itu dia teman kuliah kakak. Dia juga ulang tahun hari ini" sambunya.
"Teman? tapi barusan kakak menyebutnya dek? " tanya Ayla.
"Ohh... itu dia sudah kakak anggap sebagai adek" jawab Al
"Hmmm.. begitu.. kalau begitu kenapa kakak nggak ajak dia kesini supaya bisa ngerayain ulang tahunnya bersama aku?" tanya Ayla
"Yaaa karna kakak tau kalau dia tidak suka pesta" jawab Al asal-aslan.
"Begitu.. Kak tau Papa sama Mama nggak? " tanya Ayla.
Al hanya menggelengkan kepala. "Apa mereka sudah ke kamar?" sahut Ayla.
"Mungkin" jawab Al.
"Yasudah kak, kurasa aku sudah mengantuk. Kalau begitu aku kembali ke kamar."
Al hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia menatap kepergian Ayla.
Huft... hampir saja ketahuan. batin Al. Dia bernafas lega karena dia sudah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak menceritakan kebenarannya kepada Ayla.