The Memory

The Memory
Carissa



Keesokan harinya semua awak kapal, para pelayan, dan yang lainnya mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang membersihkan kapal, memasak, menggerakkan kapal (disini kapal masih menggunakan tenaga manual), dan ada pula yang menghukum pegawai yang berani membantah atau kerjanya kurang cepat. Tidak ada yang berani bersenang-senang, kevuali anak dari kapten THE DAKNESS dan anak dari anak buahnya.


Kalian pasti tak menyangka bahwa anak dari kapten ini memiliki sifat yang bertolak belakang. Yah memang dia sangat bertolak belakang karena dia memiliki sifat baik hati, periang dan penyayang. Apalagu dengan Ara. Dia sering menolong dan membela Ara kalau Ayahnya memberi hukuman yang kejam kepada Ara. Paras wajahnya cantik, dan dia memiliki lesung pipi di sebelah kiri. Rambutnya berwarna hitam, panjang dan bergelombang. Kulitnya putih mulus. Kini usianya 12 tahun. Tak jauh beda dengan Ara. Hanya dia lebih muda 1 tahun dari Ara.


"Dimana Ara? " Carissa menoleh ke kanan ke kiri mencari keberadaan Ara. Setiap sudut ia cari tapi belum menemukan keberadaan Ara.


"Kemana sih dia? " berdecak pinggang. "Ah itu itu dia. Ara.." Dia menghampiri Ara yang duduk dan merajut bersama para gadis (anak perempuan dari para pelayan).


"Eh maaf Risa aku sedang sibuk. " jawab Ara sambil merajut.


"Oh.. apa yang kau buat? " Carissa penasaran dengan apa yang dibuat oleh Ara.


"Membuat baju" tersenyum melihat Carissa kemudian melanjutkan kegiatannya.


"Untuk kau jual di pasar minggu depan? "


"Bukan ini untukku sendiri".


"Lalu ini untuk Apa? tanya Carissa sambil menunjuk ke arah setumpuk barang hasil rajutan Ara. "Oh. yang itu baru aku jual" sahut Ara.


"Oh. Hmmmm... Ngomong-ngomong karyamu slalu bagus-bagus. Kau memang telaten ya, nggak kayak aku yang hanya melihat benangnya saja membuatku pusing".


"Hehehe trima kasih Ris pujianmu. Selain ibu, kau juga slalu memberikan aku semangat. Kau juga slalu menolong aku dan ibuku dari masalah".


"Hei, kitakan berteman sejak kecil. Bahkan kau sudah kuanggap sebagai saudara perempuanku. Apapaun masalahmu itu juga masalahku juga Ra. Dan ibumu juga ibuku". "Trima kasih Ris, kau memang yang terbaik" memeluk Carissa.


"Jangan berterima kasih! aku tidak suka". membalas pelukan Ara. "Ra ikut aku bentar.!" melepaskan pelukan Ara.


"Kemana? "


"Tapi... "


"Udah. . Ikut aku!" langsung menarik tangan Ara. "Ok.. Baiklah aku akan ikut.Tapi biarkan aku kemasi ini dulu donk" sahut Ara. Sebenarnya dia ingi melanjutkan merajutnya. Tapi dia tau dia tidak akan bisa menolak permintaan sahabatnya karena dia tau sifat dan watak Carissa. Sekali Carissa menginginkan itu maka semua orang harus menurutinya terutama Ayahnya.


"Yasudah cepat kemasi! "


Setelah mengemasi alat dan bahan rajutan serta barang-barang yang lainnya yang ia bawa tadi, mereka beranjak menuju ke kamar Carissa. Tapi setelah kepergian mereka dari tempat itu para gadis yang juga ikut merajut bersama Ara tadi merasa iri dengan Ara akan kedekatannya dengan Carissa.


"Eh teman-teman apa kalian nggak iri sama Ara. Yang kedekatannya sama Carissa si putri semata wayang Kapten" bisik salah satu gadis yang duduk sebelah Ara tadi. Dia bernama Erlita.


"Iri sihh... Karena dia hampir slalu lolos dari hukuman Kapten. Apalagi dia juga disukai para pria idola kita. Padahalkan masih cantikan aku. Lagian pasih yang di banggakan dari dia yang notabennya tak tau asal usul ayahnya" sahut Anne dengan nada sinisnya


"Hmmm.. aku punya ide. Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran. Setuju nggak?? " sahut Angel dengan wajah liciknya.


"Aku setuju" jawab Erlita.


"Hei apa kalian punya nyawa ribuan hingga mau menantang maut?" Gritte yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba menjawab.


"Maksudmu? " Erlita merasa bingung dengan perkataan Gritte.


"Apa kau lupa? Setiap kali dia mempunyai masalah Carissalah yang slalu membantunya. Dan jika Carissa yang membantunya dan meminta Ayahnya, dia akan mengadu ke Ayahnya dan meminta agar kita dilempar ke lautan menjadi santapan pemghuni lautan yang ganas. Dan apa kalian lupa kalau Kapten slalu mengabulkan permintaan putri semata wayangnya itu? Apa kalian mau? kalau aku sih lebih baik diam" jawab Gritte.


Membayangkannya saja sudah takut setengah mati apalagi kenyataan, pasti lebih menakutkan lagi. Batin Gritte.


"Waduh... Benar juga katamu. Sudahlah jangan cari masalah dengan mereka" sahut Anne dengan nada pasrah. Dia juga berfikir demikian untuk lebih baik menghindar daripada nyawa akibatnya.