The Magic Of The Witch

The Magic Of The Witch
Chapter 7 : Gitovornia 2



Untuk menyembunyikan alya yang saat itu dalam kondisi lemah, alya kemudian merubah dirinya seperti seorang elf bertelinga panjang dengan pakaian putih dan berdiam diri ditempat pengobatan. Seringkali rasa lapar dan haus darah mulai merasuki alya, namun obat buatannya bersama ras elf bisa mengurangi rasa lapar alya.


2 bulan telah berlalu, perut alya telah membesar yang menandakan ia akan segera melahirkan seorang anak keturunan ras penyihir dari keluarga trankel dan waterland. Disaat yang bersamaan, seorang anak keluarga ras sihir lahir dari rahim seorang wanita baik yang berasal dari keluarga waterland. Ia diberi nama alex.


"Anaknya telah lahir" ucap alya dengan senyuman.


"Anak siapa yang kamu maksud?" Tanya lucia, teman yang selalu menemani alya diruang pengobatam ras elf.


"Adikku telah melahirkan anak pertamanya lucia" ucapnya sambil tersenyum.


Tiba-tiba, perut alya terasa sakit dan membuat lucia dengan cepat memanggil warga elf untuk melihat alya, disaat yang bersamaan mata lucia berubah warna, ia menyambungkan penghilatannya dengan burung hantu peliharaan ras elf dan mengatakan bahwa keadaan alya telah diketahui oleh ras penyihir yang saat itu dipimpin oleh Drakon sang raja sihir baru pemilik seluruh kekuatan keluarga penyihir.


"Kita harus membawanya ketempat aman" ucap lucia dari ras elf.


Matanya yang biru berubah menjadi silver dan seluruh ras elf mulai khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Mata hitam berubah warna menjadi biru muda, badan alya mulai bergetar.


"Biarkan saya duduk sebentar" ucap alya.


Tanganya mulai ia arahkan kedepan, sebuah tongkatpun keluar dari tangannya, matanya yang hitam berubah menjadi biru, seketika itu tanahpun bergetar membuat seluruh ruang pengobatan ras elf masuk kedalam tanah, terdengar suara air yang berjatuhan hingga menutupi tempat mereka pada saat itu.


"Keluarga trankel dan lainnya sedang menuju kesini" ucap lucia dengan mata yg berwarna silver.


"Ada ras vampir yang ikut bersama mereka, dan wiliam ada disana" ucapnya dengan raut wajah sedih, karena sang kakak wiliamlah yang telah membocorkan keadaan alya.


"Tak ada waktu, cepat bergegas untuk membantu alya melahirkan anaknya." Proses lahiranpun membutuhkan waktu 2 jam, hingga akhirnya sang penyihir wanita bernama Zianastasya telah lahir.


Kekacauan mulai terdengar, pertanda ras penyihir dan sekutunya telah datang memberontak untuk mencari alya dan sang bayi.


"Aku titip anakku lucia", ucap alya.


"Kalian tak perlu keluar, aku akan menyerahkan sisa hidupku untuk menjaga kerajaan elf yang nanti akan menjadi tempat tinggal anakku dan anak adik kembarku." Ucapnya dengan nada serius.


Mata biru mudapun terlihat lagi dari dua belah mata alya, tanahpun mulai menutupi tempat pengobatan elf itu, air menjadi sangat kencang dan lampu api perlahan menyala untuk menerangi lucia dan anak alya. Beberapa pertanyaan mulai muncul dari ras elf.


"Aku dan adikku adalah anak yang sama dengan drakon, anak yang memiliki semua kekuatan sihir diras sihir. Dan ini saatnya kami menghentikan kegilaan drakon" ucap alya seraya perlahan menghilang dari hadapan lucia dan ras elf lainnya.


Api terlihat dimana-mana, namun belum ada korban jiwa sama sekali. Disana terlihat seorang wanita dan beberapa ras sihir serta dibantu oleh ras vampir dan elf sedang berdiri menghalangi drakon. Rambut hitam panjang, dengan tongkat berwarna putih ditangannya serta memiliki bola mata berwarna biru muda sedang tersenyum kearah drakon.


"Ayla-ayla, kamu sedang apa? Lebih baik kamu berdiri diatas air untuk merendam dirimu dari pada harus datang kesini" ucap stefan dengan senyuman diwajahnya. Sebuah panah airpun memancar kearah stefan hingga membuat bibirnya terluka.


"Wah, kamu menunjukkan dirimu sendiri alya" ucap drakon seraya menatap kearah alya yang sedang melayang diatas barisan ras sihir yang membelanya.


Alya melayang menuju kearah ayla dan berdiri disamping adik kembarnya itu. Tongkat yang mirip dan potongan rambut serta wajah dan mata yang terlihat sama mulai memimpin pertempuran saat itu.


"Bagaimana bayimu ayla?" Tanya alya,


"dia berada ditempat yang aman alya" ucapnya sambil tersenyum.


Drakon menggerakkan bibir kanannya seolah tak berani mengambil resiko disaat itu karena ia tahu kondisinya yang harus melawan dua penyihir sama seperti dirinya.


"Kita pergi saja" ucap drakon yang ternyata mengambil kesempatan untuk membunuh ayla adik dari alya.


Saat bersamaan mereka mengira bahwa drakon benar-benar mengalah. Ia mendorong stefan menyerang alya dengan cahaya merah api kearah alya dan mengalihkan pandangannya agar drakon bisa mendekati ayla yang saat itu tengah mengumumkan kemenangan mereka ke ras sihir, vampir dan elf. Sihir racun kematianpun diarahkan drakon kearah ayla namun dengan cepat alya berdiri dibelakang ayla dan menahan serangannya dengan sihir pengendali racun yang telah dibuat olehnya dan lucia, serta menyusulnya dengan panah berracun yang bisa menghilangkan sebagian kekuatan pemiliknya yang kena racun tersebut. Panah itu hanya mengenai pipi sebelah kanan drakon, yang membuatnya memerintahkan seluruh anggotanya untuk membunuh kakak beradik kembar itu.


Mata alya membiru dengan terang, seketika mata sebelah kirinya berubah menjadi merah dan taringnya menancap keluar dari gigi sebelah kiri. Kondisi alya tak terkendali. Ia menyerang satu persatu anggota drakon, dan membunuh mereka dengan serangan api, air, tanah dan racun buatannya sendiri agar ia bisa mendekati drakon. Sedangkan ayla bersama ras lain berusaha melawan untuk mempertahankan kerajaan elf yang saat itu telah menjadi lautan api karena sihir dari keluarga fireland. Keluarga waterland yang lainnya mulai memadamkan api agar tidak menyebar lebih jauh, sedangkan ras vampir yang ikut membantu berlari mendekati ras vampir dan penyihir penghianat dengan bantuan sihir pengobatan dari ras elf, sehingga ras vampir tidak mudah sakit dan jatuh karena serangan dari ras penyihir.


Serangan demi seranganpun terjadi. Alya mulai mencapai drakon yang saat itu sedang siap menunggu kedatangan alya. Alya terpaku melihat wajah sang suami sedang tersenyum kearahnya. Perlahan-lahan amarah alya menurun dan dengan lambat ia melangkah kearah suaminya. Air mata yang menetes, dan bola mata yang kembali keasalnya perlahan-lahan mulai menyadarkan alya dari kemarahannya.


"Abrakadabra" sihir racunpun terkena tepat dijantung alya yang membuatnya mengeluarkan darah hitam dari dalam mulutnya dan melihat wajah suaminya yang perlahan-lahan tersenyum dan berubah menjadi wajah drakon.


"Kamu lupa tentang sihir perubahan tampilan alya" ucap drakon dengan senyuman menyeringai. Sementara itu dipihak ayla telah membunuh sebagian besar dari anggota drakon, sehingga membuat drakon tak punya kesempatan untuk melanjutkan peperangan itu.


"Aku telah membunuh alya, dan suatu saat nanti akan tiba giliranmu ayla" teriak drakon dengan sapu terbang dan anggotanya yang masih hidup seraya pergi meninggalkan puluhan anggotanya yang telah mati.


"Aaaaaaahhhh" teriakan kesedihan ayla terdengar sampai kedalam lingkaran batu dibawah air terjun itu. Kematian alya membentuk pintu keluar dibalik air terjun itu dan mengeluarkan anaknya, lucia serta ras elf lainnya dari dalam gua. Ayla dan yang lainnyapun menguburkan alya di kerajaan elf dan mulai memperbaiki kerusakan yang terjadi serta berniat untuk membentuk kerjaan yang saat ini disebut dengan Gitovornia.