
Dibawah lampu kuning yang berada diatas sebuah meja terlihat sebuah buku terbuka dalam genggamanku. Buku yang berjudul The Lion itu sangat terlihat menarik. Lembar perlembar mulai ku buka dan terfokus pada satu paragraf yang menjelaskan tentang tumbuhnya kekuatan The Lion. Terlihat tulisan tentang darah campuran manusia dan penyihir yang bisa menjadi kehidupan baru bagi The Lion.
"Kehidupan baru bagi The Lion?apa maksudnya?" Tanyaku bingung dalam hati. Tiba-tiba pandanganku tertuju kearah arina yang tengah berjalan cepat kearah jiny.
"Jiny, jony lagi nungguin kamu diluar!" Serunya.
"Ah, ia malam inikan pertemuan jiny dan keluarganya". Ucapku seraya menutup buku dan tidak melanjutkan rasa penasaranku tentang paragraf The Lion itu.
"Ia, aku mau ganti pakaian dulu" jawab jiny sambil bergerak mempersiapkan diri.
Setelah selesai, jiny memanggil arina untuk pergi menemaninya.
"Kamu nggak apa-apa kita tinggal sendiri?" Tanya jiny kepadaku.
"Ia nggak apa-apa, kalian pergi saja" jawabku sambil tersenyum mengikuti langkah mereka kedepan pintu kamar.
"Salam sama ibu dan ayahmu yah" teriakku dan membalikkan badan untuk kembali kedalam seraya menutup pintu.
*Triiing" suara tak asing itupun terdengar, pertanda kehadiran tria muncul disaat itu. Badan ku putar kebelakang untuk menyambut kedatangannya,
"kamu sudah mulai membaca buku ini?" Tanya tria kepadaku sambil mengangkat buku berjudul The Lion itu dan membolak-balikkanya serta perlahan membuka buku tersebut.
"Sepertinya memang hanya the lion yang bisa membaca buku ini!" Ucapnya kembali,
"kenapa kamu bilang seperti itu?" Tanyaku bingung lalu berjalan kearahnya.
"Kamu bisa membaca ini?" Tanyanya lagi,
"Ia, tulisannya sangat jelas". "Ini hanya sebuah kertas putih dimataku" jawabnya lalu menyimpan kembali buku itu diatas meja dekat tempat tidurku.
"Maksud kamu, hanya aku yang bisa membacanya?" Tanyaku,
"Tidak, tetapi hanya The Lionlah yang bisa membacanya." jawab tria singkat kemudian berjalan ke tempat tidur jiny seraya duduk dikasur itu. Iapun terdiam sebentar sebelum akhirnya memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan tentang kejadian digedung pembelajaran ras elf tadi siang.
"Bagaimana kamu bisa menyambung kembali tanaman itu nyonya?" Tanyanya,
"Itu spontan terjadi tria, sebenarnya beberapa hari ini aku selalu membayangkan sebuah tulisan di sebuah buku yang tengah dibaca oleh seorang wanita, wajahnya tak ku lihat dengan jelas, tapi sepertinya dia sangat cepat memahami semua tulisan dibuku-buku itu. Bahkan ia sangat menyayangi semua tumbuhan yang ada disampingnya" ucapku.
"Apa itu zianatasya?" Tanyanya.
"Sepertinya itu memang dia, karena tanaman, tempat tidur dan binatang-binatang yang terlihat dalam bayanganku sama persis dengan kondisi didalam gua zianatasya itu" jawabku lagi sebelum akhirnya terdengar sebuah ketukan pintu yang mengagetkan ku.
Tria dengan cepat memindahkan buku The Lion kedalam lemari bersandi itu dan berubah menjadi seorang vairy serta menyembunyikan dirinya dari penglihatan orang lain.
Pintupun ku buka.
"Grifin? Sedang apa kamu kesini?" Tanyaku bingung. Ia melirik kearahku dan menatap seluruh ruangan kamar 020 itu.
"Kenapa kamu melihat kamarku?" Tanyaku kembali seraya menutup pintu kamar itu.
"Ah, aku sedang mencari landak peliharaanku, mungkin kamu melihatnya" jawab grifin sambil tersenyum ringan kearahku.
"Sedang apa kamu grifin?" Tanya zian yang kemudian menutup pintu kamarnya dan berjalan kearahku dengan raut wajah sedikit emosi.
"Tenanglah... kamu selalu datang menggangguku" ucapnya sambil berjalan dan memegang bahu zian dengan senyuman.
" Kenapa dia seperti itu?" Tanya zian menatap kearahnya yang sedang berjalan mencari-cari landak.
"Apa dia benar punya landak peliharaan?" Tanyaku penasaran,
"ia dia punya landak yang diberi nama role, tapi biasanya dia memanggilku sebelum mencarinya ketempat orang lain" ucap zian bingung.
"Oh rupanya kamu disini role" ucap grifin seraya membalikkan badannya dan berjalan kearah kamar 017,
"Kenapa kalian berada disini? Kalian mau menemaniku? Masuklah, aku sudah mendapatkan role". Ucapnya lagi sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.
"Baiklah zian, aku mau masuk dulu" ucapku,
"Ah iya, jiny dan arina kemana zia?" Tanyanya,
"Katanya mereka mau ketemu orang tua jiny,Aku tutup pintunya yah" jawabku sambil menutupnya tanpa menghiraukan zian yang terlihat sangat ingin berbicara denganku
"Tria?" Panggilku, iapun muncul dan menyuruhku untuk tidak memberikan atau meminjamkan kepada siapapun buku-buku itu.
"Apa kamu yang memberikan buku itu tria?" Tanyaku.
"Bukan" jawabnya.
"Lalu siapa?" Tanyaku lagi.
"Alex? Apa dia ada disini?" Tanyaku,
"aku penasaran dengannya" ucapku lagi.
"Nanti kamu akan bertemu dengannya setelah semua ingatan itu muncul" jawab tria kemudian berkata untuk pergi ke gedung pengobatan ras elf.
**
Sementara itu diruang atas gitovornia school terlihat profesor zardam yang sedang membaca satu buah buku tanpa judul.
"Masuklah tria!" Ucapnya sambil membuka kaca mata bening miliknya,
"Permisi tuan!" Pamit tria seraya duduk disebuah kursi tepat didepan meja profesor zardam.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanyanya,
"Ia tuan, sepertinya nyonya zianatasya tidak hanya bisa menggunakan kekuatan dari ras sihir saja" jawab tria sehingga membuat profesor zardam terdiam seraya berjalan menghampiri jendela kaca Gitovornia School.
"Apa yang terjadi hari ini tria?" Tanyanya lagi.
"Dalam pembelajaran pertama ras elf tadi, nyonya zia menyambung kembali tanaman yang patah dengan tangannya sendiri, dan katanya ingatan tentang buku-buku yang telah ia baca kembali terbayang" jawab tria.
"Sepertinya hari itu akan segera tiba" ucap prof zardam sambil menundukkan kepalanya.
"Profesor,tadi saat aku bersama zia, seorang anak dari ras campuran mengetok pintu kamar zia, dia terlihat melirik kedalam kamar zia, apakah dia patut kita waspadai?" Tanya tria sambil berjalan menuju kearah kakek zardam.
"Sepertinya kamu lebih dewasa jika berwujud seperti ini" jawab kakek zardam seraya tersenyum dengan ejekkan.
"Tak apa, mungkin dia hanya ingin berteman lebih akrab dengan zia". Jawabnya lagi.
"Ah baiklah, kalau begitu aku pamit pergi dulu tuan" ucap tria yang kemudian berjalan keluar dari ruangan profesor zardam.
setelah ia keluar, profesor zardam kembali membuka buku yang sama dengan buku zia berjudul The Lion bersamaan dengan sebuah buku hitam bertuliskan Abrakadabra.
"Sepertinya dia benar-benar akan kembali ketika zia kembali. Perang ini akan benar-benar terjadi" ucap profesor zardam yang kemudian menutup dua buku itu dan menghilangkannya dengan sentakan jari.
Suara ketokkan pintupun terdengar,
"ah kalian sudah kembali, bagaimana pertemuan tadi?" Tanyaku kepada jiny dan arina. Saat itu mataku tearah kepintu kamar 017 yang sedang ditahan oleh seorang pria tak lain adalah grifin sambil menatap kearahku.
"Seperti biasa, jiny dan orang tuanya sangat bahagia membicarakan kehidupan mereka" jawab arina seraya tersenyum kearah jiny.
Jawaban itu membuatku mengalihkan pandanganku dari grifin dan menutup pintu kamar 020 kami.
"Oh syukurlah kalau begitu".
"Kamu tadi ngapain aja?" Tanya arina,
"Oh aku sedang" ucapanku terhenti ketika mengingat jawaban yang disampaikan oleh arina.
"Bagaimana bisa jiny bahagia membicarakan kisah masa lalu kedua orang tuanya, sementara ia sedang tidak baik-baik saja dengan ayahnya sedari ia kecil" tanyaku dalam hati yang kemudian membuat fikiran buruk terlintas kepada dua orang yang sedang duduk didepanku.
"Kenapa zia?" Tanya jiny,
"ah tidak, aku baring-baring saja karena capek setelah beraktivitas tadi siang" ucapku bingung apakah dua orang ini benar-benar jiny dan arina atau bukan.
Suara ketukan terdengar yang tak lain adalah ketukan dari grifin.
"Permisi, permisi" teriaknya.
"Aku buka pintu dulu", ucapku sambil berdiri menghampiri pintu kamar. Jiny dan arina tiba-tiba dengan cepat menyentuh tanganku dan mencoba menghalangiku untuk membuka pintu itu.
"Kenapa kalian menahanku?" Tanyaku tanpa menengok kearah mereka.
"Jangan buka pintu itu" ucap suara seorang pria tak ku kenal.
"Lepaskan tanganku" teriakku,suara itu terdengar hingga membuat grifin dengan kuat menggedor-gedorkan pintu kamarku.
"Apakah role didalam?" Teriaknya. Hal itu membuat zian terbangun dari kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya zian kepada grifin.
"Zian? Grifin? Sedang apa kalian didepan kamar kita?" Tanya dua orang wanita yang tak lain adalah jiny dan arina.
"Ah bukannya kalian baru masuk kedalam?" Seru grifin yang membuat zian khawatir dan menggantikan grifin menggedor pintu kamar itu dengan kuat. Tio dan murid lainnyapun ikut keluar karena mendengar gedoran pintu zian.
"Awas, biar aku yang buka", ucap arina. Pintupun kemudian terbuka dan aku tak terlihat dikamar 020 itu. Kepanikanpun mulai terjadi dan kabar berita hialangnya diriku terdengar sampai ke telinga profesor zardam dan juga profesor tria.