
Secangkir teh hangat dihidangkan. Burung-burung berkicau menemani pagi yang sejuk. Halaman silih berganti, Ashnard menyesap sedikit demi sedikit teh mawarnya.
Edisi kedua dari buku petualangan Roc Sang Ksatria Bintang memiliki tema perjalanan yang cukup dalam juga penuh makna. Oleh karena itu, Ashnard memilih waktu dan suasana yang benar-benar tepat agar ia dapat memahami lika-liku konflik dan pesan dari cerita itu. Seperti pada pagi hari ini.
Teh menjadi dingin, tapi bukunya belum mencapai ujung cerita. Cuitan burung-burung yang bertengger di pepohonan mengalihkan fokus anak laki-laki itu. Di jalanan depan kediamannya, seorang gadis berambut pirang yang tampaknya seumuran membuat Ashnard meletakkan bukunya dan beranjak ke pagar.
Ashnard terpesona pada gadis itu yang sedang mengamati bunga-bunga di toko bunga. Saat gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinganya, Ashnard semakin tak bisa mengalihkan perhatiannya darinya. Bahkan keindahan bunga segala warna, tak bisa mengalahkan kecantikan gadis itu. Dengan gaun bermotif bunganya, justru menjadikan gadis itu bagaikan sebuah bunga itu sendiri. Rambut pirangnya tertiup angin, memperlihatkan rona merah di pipi manis gadis itu, semakin membuat jantung Ashnard berdetak tak karuan.
Gadis itu sibuk mengamati bunga, tanpa menyadari jika dia juga sedang diamati oleh Ashnard dari balik dinding pagar.
Ashnard berusaha menyelipkan pandangannya melewati celah dinding pagar. "Gadis dari keluarga Nerefelon, ya. Dia cantik juga. Tidak mungkin aku bisa mendekatinya," gumamnya.
Tiba-tiba, sebuah kegelapan menutupi celah pandangnya, Ashnard menarik diri dan mendongak. Wajah tua yang familiar itu tersenyum, "Selamat pagi, Tuan Ashnard. Bukankah masih terlalu dini untuk memata-matai seorang gadis?"
"Diamlah, pria tua. Kau mengganggu pagi cerahku," kata Ashnard. "Lagipula, aku tidak sedang mematai seseorang."
Ozark pun masuk melewati pintu gerbang dan mendekati Ashnard. "Oh, aku salah mengira ternyata, maafkan aku kalau begitu." Ozark terkekeh mengejek.
"Omong-omong, kau kenal ibuku, kan? Kau pasti juga kenal ayahku," tanya Ashnard mengganti topik pembicaraannya.
"Ya, aku kenal Tuan Ebert. Dia adalah Ksatria Elemagnia yang hebat. Aku pernah beberapa kali melawannya dan menurutku, ia lawan yang tidak boleh diremehkan."
"Sebelum kematiannya, ayahku menitipkan hadiah untukku. Sebuah gagang pedang tanpa bilah. Apa kau tahu kenapa ayahku memberikan hadiah semacam itu? Maksudku, pedang tanpa bilahnya yang tajam, tak bisa digunakan dengan baik, bukan?"
Ozark sejenak mengamati anak lelaki itu, lalu mengacak-acak rambutnya. "Nanti kau akan memahaminya, bocah." Ozark lalu beranjak melewatinya. "Tapi, sekarang waktunya latihan."
Pelatihan yang Ozark berikan dilakukan setiap hari tanpa libur satu hari pun. Apalagi karena dua elemen yang dimiliki Ashnard, membuat latihannya lebih berat dan lebih rumit daripada latihan yang biasa pria itu berikan kepada orang lain.
Latihan pertamanya, Ashnard dituntut untuk bisa mengubah ukuran bola air dengan bebas. Dalam sebulan, ukuran terbesar yang ia capai adalah sebesar kereta kuda dan untuk yang terkecilnya seukuran biji gandum. Dan pencapaiannya tersebut juga karena Elemen Astralnya yang cukup membantu.
Latihan keduanya adalah seberapa lama Ashnard bisa mempertahankan bola airnya sebelum meletus. Penguasaan elemen membutuhkan seluruh energi yang diperlukan, konsentrasi, nafas, dan otot.
Jika konsentrasinya buyar, bola air akan terpecah. Jika nafasnya tak terkendali, tidak hanya bola air, tubuh juga akan menerima dampaknya. Aliran darah bisa terpecah dan terjadi pendarahan di dalam. Sama seperti pukulan atau ayunan pedang, kekuatan elemen juga membutuhkan kekuatan otot yang sempurna. Dengan kata lain, kondisi fisik juga harus diperhatikan.
Tiga hal tersebut yang harus diperhatikan Ashnard untuk mempertahankan bola airnya. Pada awalnya, memang sulit. Ashnard bahkan tak bisa menahannya lebih dari tiga menit. Darah keluar dari hidungnya saat ia memaksakannya. Namun, seiring berjalannya latihan, ia bisa menahannya selama 10 menit. Sementara untuk Ozark sendiri yang merupakan Elemagnia berpengalaman, ia bisa menahannya hingga satu jam.
Latihan berikutnya adalah pemanfaatan. Ashnard harus memanfaatkan kekuatan elemennya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti menuangkan air dalam bak mandi, hingga menciptakan bentuk perabotan sederhana. Dengan begitu, tubuhnya akan terbiasa dengan penggunaan energi secara terus menerus, hingga tak ada batasan dalam menciptakan bentuk apapun.
Latihan tak akan lengkap tanpa makanan yang lezat. Setelah latihan yang melelahkan, Ashnard, Ozark dan Edda berkumpul di meja makan. Edda yang paling bersemangat melihat hasil perkembangan putranya lalu bertanya pada Ozark, "Bagaimana Ash? Apakah hasilnya memuaskan? Apakah dia selalu mendengarkan?"
"Perkembangan Ash cukup baik, walaupun kadang dia memiliki hobi yang aneh," jawab Ozark menyeringai ke Ashnard.
"Hobi aneh?" tanya wanita itu penasaran.
Ashnard memberikan tatapan tajam ke Ozark yang menyiratkan bahwa tak boleh memberitahu ibunya. Tetapi, Ozark membalasnya dengan wajah yang jahil, "Menurutku, Tuan Ashnard sudah waktunya mendapatkan hubungan alamiahnya."
"Maksudnya seorang gadis? Aku juga berpikir begitu. Adakah gadis yang kau sukai, Ash?"
Sementara Ashnard tertunduk malu, wajahnya semerah apel yang baru matang. Berusaha tak ingin untuk menjawab, tapi kedua manusia dewasa itu terus membuatnya malu.
Wanita itu menghentakkan tangannya di meja, "Kalau masih tidak ada, besok Ibu akan membantumu mencari gadis. Ibu tahu banyak gadis yang seumuran denganmu, lho."
"Oh, begitu ya. Mungkin lain kali, Ash. Besok ibu juga ingin melihatmu berlatih."
Di depan mata wanita yang bersemangat itu, kedua lelaki saling bertatapan satu sama lain. Di tempat yang terbuka, dimana angin mengembuskan sebuah keberanian untuk mereka.
"Peraturannya sederhana. Aku akan berdiam di sini, hanya menggerakkan tanganku saja. Jika kau bisa membuatku berpindah atau bergeser sedikit saja. Kau menang. Kau boleh menggunakan seluruh kekuatanmu," Ozark menjelaskan ulang peraturan latihan pertarungannya.
"Aku mengerti."
"Kau bisa memulai kapanpun."
Ashnard memulai dengan mengacungkan jari telunjuknya ke depan, menembakkan sebuah bola air kecil ke arah Ozark. Ozark tersenyum santai. Sebuah lapisan angin mengikis bola airnya hingga terpecah.
Bola air kedua dengan ukuran sebesar kepala dilepaskan dengan sangat cepat untuk ditahan lagi oleh angin milik Ozark. Bola air yang terciprat itu tiba-tiba meliuk-meliuk dan berusaha melesat ke kepala Ozark. Namun, lagi-lagi, angin mengikisnya hingga tak tersisa.
Ashnard terus menyerang Ozark dengan membabi buta, tanpa jeda. Dari bola air yang besar hingga bola air kecil dengan jumlah banyak. Dari serangan jarak jauh hingga pertarungan jarak dekat pun sudah Ashnard lakukan, tapi Ozark menanggapinya dengan santai.
Ashnard berlari sekuat tenaga dan mengarahkan pukulannya yang dilapisi air, tapi angin tersebut bergerak ke bawah dan mengangkat Ashnard, lalu memutarnya di udara. Ashnard terjatuh ke tanah dengan keras. Air di kepalan tangannya menggenang di tanah.
"Maaf, apakah aku terlalu keras padamu?" ejek Ozark.
Ashnard bangkit dan melompat mundur. Ia mengatur nafasnya sejenak sebelum melakukan serangan berikutnya.
"Ingat semua yang kuajarkan padamu. Jangan sampai konsentrasimu goyah," ucap Ozark mengingatkan.
"Aku mengerti. Aku hanya sedang memikirkan cara untuk membuat wajah tuamu itu menyium tanah."
Edda yang sedang mengamati, marah ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut putranya, "Jangan kasar sama gurumu sendiri, Ash!"
Genangan air yang terlepas dari kepalan tangan Ashnard, perlahan bergerak ke bawah Ozark. Ashnard terus mengajaknya berbicara agar perhatian Ozark teralihkan. Kemudian, Ashnard menembakkan peluru airnya bertubi-tubi sembari berlari ke samping, berusaha memperkecil jaraknya dengan Ozark.
Ashnard tahu semua serangannya pasti akan ditangkis, tapi bukan itu tujuan sebenarnya. Setelah ia merasa jaraknya cukup dekat, Ashnard menembakkan bola air yang cukup besar. Selagi membuat Ozark sibuk dengan bola air itu, Ashnard menciptakan tali air yang terhubung ke genangan air di bawah kakinya. Genangan itu perlahan mengikat kedua kaki Ozark seperti rantai. Dengan sekuat tenaga, Ashnard menarik talinya yang membuat kaki Ozark terangkat.
Rencana yang ia siapkan tidak berjalan sesuai pikirannya. Kaki Ozark memang terangkat di udara dan wajahnya berada di bawah, hanya beberapa inci di atas tanah. Angin membuat seluruh tubuh Ozark melayang di udara. Karena peraturannya hanya berlaku jika Ozark menginjak tanah, Ashnard tidak berhasil.
Lalu, angin berhembus kencang dari tubuh Ozark, mendorong Ashnard ke belakang. Meskipun ibunya terus menyemangatinya, tenaga Ashnard sudah mencapai batasnya terlebih dahulu. Ia tak bisa melanjutkannya lagi.
"Sial." Ashnard terhuyung lemas. Ia ambruk di tanah. "Aku menyerah."
***
Di ruang kosong, tak ada yang bisa ia lakukan selain melihat dan mendengar apa yang Ashnard alami. Semua ingatan anak itu juga tersimpan dalam ingatannya, seolah ia dan Ashnard satu kesatuan.
Ia mengangkat kaki kanannya dan menariknya kuat-kuat hingga menyentuh dada, lalu berganti kaki kiri. Setelah itu, ia memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan dalam hitungan yang telah ditentukan.
"Aku menyerah," ucap Ashnard yang tersampaikan melalui gambaran informasi tersebut.
"Kau payah sekali, nak. Lain kali kau harus rajin berolahraga sepertiku agar memiliki tubuh yang kuat." Ia menekuk tangannya di udara untuk menunjukkan ototnya. "Yah, tapi olahraga tidak akan membuat tubuhmu menjadi putih."
Lalu, ia menatap dengan heran. "Kenapa jiwaku sangat putih?"