The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Dua Elemen



Ashnard menatap heran Ozark. Ia menganggap jika Ozark berusaha mempermainkannya karena dirinya hanyalah seorang anak kecil yang tak bisa apa-apa.


"Bagaimana rasanya memiliki dua elemen?" tanya Ozark, mendekati anak itu yang membelakanginya.


"Apa maksudmu? Mana mungkin aku memiliki dua elemen? Aku tahu kau orang dewasa, tapi bukan berarti kau boleh mempermainkanku seenakmu," cibir Ashnard kesal.


"Cahaya kuning berarti aku memiliki elemen. Sedangkan kau ...." Ozark melepas brosnya dan memasangnya pada dada Ashnard. Seketika, warnanya berubah. Dari kuning menjadi jingga. "Memiliki dua elemen. Kau lihat, bocah! Perubahan warna itu membuktian bahwa di tubuhmu tersimpan dua elemen."


Ashnard melepaskan brosnya dan memandangnya dengan bingung. Warna cerah di bola kaca tersebut perlahan memudar. "Tapi, bagaimana bisa?"


Pria tua itu mengambil kembali brosnya. Ia menyeringai, "Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini benar-benar keajaiban. Apa dewi itu mengizinkanmu memakan dua buah saat di lembah?"


Ashnard berkelip tak percaya, "Aku tak mengerti. Jadi, sebenarnya orang lain juga mengalami seperti yang aku alami?"


"Semua Elemagnia mendapatkan elemen mereka melalui mimpi. Sebuah tempat tenang dengan air terjun, padang rumput putih, seorang wanita bergaun putih dan pohon dengan buah berwarna emas. Termasuk aku," ungkap Ozark. "Mungkinkah kau tidak mengingatnya karena kau mendapatkan dua elemen?"


Ashnard menaikkan bahunya. "Lalu, kau memilih apa?"


"Angin. Aku warga negara yang bangga, jadi aku memilih angin. Meskipun aku ingin memilih lebih dari dua, tapi wanita itu berkata padaku, 1 buah untuk 1 orang."


Ashnard sama sekali kebingungan dengan apa yang Ozark maksud. Ia tak mengingat apapun soal memakan buah di lembah. Meskipun ia berjuang untuk mengingatnya, tapi tetap tak dapat apa-apa.


Ozark sebagai sesosok gurunya, mengarahkan muridnya ke arah yang seharusnya, "Daripada memikirkan bagaimana bisa memilikinya, lebih baik memikirkan bagaimana cara menggunakannya."


Ashnard pun setuju dengan pendapat Ozark, tetapi ia tak tahu caranya. Ia pun bertanya saat teringat sebelumnya bahwa Ozark lah yang memberinya saran untuk meningkatkan bola airnya. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku memiliki dua elemen?"


"Hanya intuisiku saja. Waktu bola airmu membesar saat kuberitahu caranya, kurasa saat itulah elemen keduamu bangkit," jawabnya.


"Jadi, itu bukan cara yang biasanya digunakan Elemagnia?"


"Tentu saja bukan. Elemen astral adalah salah satu elemen yang langka. Tidak seperti elemen lainnya, elemen astral menekankan kekuatan pada pikiran dan jiwamu. Kekuatan astral tak dapat dilihat, tapi bisa dirasakan. Seperti yang kau lakukan sebelumnya, kau bisa menciptakan sesuatu yang bersifat imajiner."


Kening Ashnard berkerut lagi. "Tunggu, astral? Elemen keduaku astral?"


"Ya, aku yakin itu astral. Jika kau ingin menggunakan kekuatan api, maka kau membutuhkan tubuhmu untuk menyalurkannya, tapi astral membutuhkan mentalitasmu. Dengan tubuhmu yang diperkuat kekuatan elemen seperti air dan astral yang memperkuat jiwamu, kau bisa menggunakan kekuatan elemental yang jauh lebih kuat," jelas Ozark.


Selagi Ashnard memahami setiap ucapan dan kekuatan di tubuhnya, Ozark membuka kopernya dan mengambil sebuah lempengan besi yang keras. Ia lalu meletakkan lempengannya di tanah yang cukup jauh di depan.


"Dengan levelmu yang sekarang, kekuatan airmu seharusnya belum cukup untuk mengalahkan lempengan besi ini, tapi cobalah memperkuatnya dengan menggunakan elemen astralmu. Cukup bayangkan saja seperti yang sebelumnya kau lakukan. Jika bagimu terlalu sulit, tidak perlu bola air dengan volume yang besar."


Ashnard memejamkan matanya, mencoba lebih rileks dari sebelumnya. Lalu, ia mengulangi menciptakan bola air yang seukuran buah pinus. Ashnard mengarahkan telunjuknya ke depan. Dengan bantuan kekuatan astral, bola airnya terlontar. Sangat cepat. Hingga berhasil melubangi lempengan logam itu dalam kedipan mata.


Hari-hari latihan pun berlalu. Setiap latihannya semakin berat tiap harinya, tapi Ashnard berhasil melewatinya. Meskipun sudah cukup beradaptasi dengan kekuatannya, ia masih saja memikirkannya. Ia memikirkan dua kekuatan yang bersemayam di tubuhnya itu, apakah sebuah berkah yang baik atau kesalahan yang seharusnya tidak terjadi.


Ia begitu senang setelah menyadari ia mempunyai dua kekuatan dimana orang lain hanya satu. Ia ingin memberitahu ibunya, tapi Ozark melarangnya. Ozark berkata kalau kekuatannya harus dirahasiakan terlebih dahulu. Karena ini sesuatu yang sangat jarang terjadi, kehebohan bisa terjadi jika ada yang tahu. Kejahatan juga bisa muncul untuk menguasai kekuatan tersebut.


"Sebisa mungkin janganlah memberitahu siapapun tentang elemenmu sebelum kita memahami potensi dari kekuatanmu tersebut." Begitulah apa yang Ozark katakan pada Ashnard.


Meringkuk di balik selimut saat malam yang dingin dan sebuah buku untuk dibaca, Ashnard tak bisa memikirkan hal nyaman lainnya selain itu. Ia begitu bersemangat saat membaca buku petualangan. Ada berbagai macam buku petualangan yang ia miliki di raknya. Bahkan hampir semuanya berisi buku petualangan. Tapi, yang lebih ia sukai adalah buku 'Perjalanan Ksatria Bintang dari Tanah Kegelapan.'


Buku itu menyajikan sebuah petualangan yang epik dan aksi yang memukau Ashnard. Karena buku tersebut, ia sangat mengimpikan menjadi Roc-Ksatria Bintang dari cerita tersebut. Berkelana ke berbagai tempat di penjuru dunia, melawan monster yang menghancurkan desa, menjadi pahlawan kerajaan, dan mendapatkan tugas dari seorang dewa.


Baginya, siapapun berhak membayangkan mimpi yang ingin mereka rasakan seperti di buku.


Ia kini adalah seorang bangsawan, satu langkah khayalannya menjadi kenyataan seperti di buku. Ia sadar kalau dirinya masihlah kecil dan lemah. Oleh karena itu, dia berusaha berlatih dengan sungguh-sungguh dan memahami kekuatannya. Setelah ia menyelesaikan latihannya, Ashnard berniat untuk melakukan perjalanan seperti Roc.


"Ah, semoga saja aku bisa merasakan kisah petualangan yang epik dan sangat dramatis," Ashnard berandai-andai.


Tok!Tok!


Sebuah ketukan mengejutkan Ashnard dari fantasinya. Ashnard segera bangkit dan membuka pintunya.


Ternyata adalah ibunya yang mengusik waktu pribadinya. "Belum tidur? Pasti Ash baca buku petualangan Roc lagi, ya?"


"Ada apa, bu? Jangan bilang Ibu mengetuk pintu hanya untuk mencemaskanku saja." Ashnard sudah memasang wajah kesalnya.


"Pintar sekali anak ibu. Tapi, sayangnya tidak. Ibu datang untuk memberimu ini." Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak kayu panjang dengan tali merah yang mengikatnya. "Ini hadiah dari ayahmu. Ia berpesan pada ibu untuk memberikan padamu saat elemenmu sudah bangkit. Mungkin sangat terlambat, karena kau mendapatkannya sejak lahir."


"Dari ayah?" Ashnard mengambil kotak itu. Melepaskan ikatan talinya dan membukanya. Sebuah gagang pedang tanpa bilah. Batang silangnya berwarna biru gelap, seperti warna lautan yang dalam.


Akan tetapi, gagang tanpa bilahnya bukanlah pedang. Seperti manusia dengan mimpinya, pohon dengan buahnya. Gagang tanpa bilahnya, tak bisa disebut pedang, karena sudah kehilangan tujuan aslinya. Lebih tak berguna daripada pedang yang tumpul. Ashnard berpikir, untuk apa ayahnya yang merupakan seorang ksatria, yang seharusnya paham dengan pedang dan segala kehormatannya, justru memberikannya hadiah berupa gagangnya saja.


Edda berkata, "Ia meminta temannya untuk membuatkan gagang pedang ini untukmu. Ia berkata kalau kau sendirilah yang harus mencari bilah pedangmu."


***


"Jadi, begitu ya, aku paham sekarang," gumamnya yang sedang duduk merangkul lututnya. "Seharusnya aku yang menjadi tokoh utamanya tapi malah menjadi penonton saja. Dan sekarang aku terjebak di sini.


"Seharusnya aku yang mendapatkan tubuh itu, tapi kau mencurinya dariku." Ia menatap ke ilusi anak kecil yang masih mematung di sebelahnya.


"Sudah mendapatkan kehidupan bangsawan yang tercukupi, sosok Ibu yang penyayang, guru pribadi dan bahkan punya dua kekuatan yang orang lainnya tak punya. Enak sekali dirimu, nak. Aku iri, lho."