
Dunia yang kaya akan energi elemental, dari tanah tandus hingga puncak bersalju. Kehidupan manusia tak akan bisa lepas dari pengaruh energi elemen. Elemen-elemen tersebut tak hanya berasal dari alam saja, tapi juga pada diri manusia yang terpilih.
Beberapa kerajaan bahkan menyembah elemen tersebut, salah satunya Winfor. Terletak di bagian barat Benua Grasilia. Negeri dimana angin sangat dihormati disini, sebagai penjaga mereka dan dewa mereka. Para rakyat Winfor menganggap angin adalah salah satu bentuk perwujudan utama berkah langit. Hampir seluruh wilayah Winfor adalah tanah terbuka dengan rerumputan hijau yang luas, karena itu angin disini akan selalu berhembus dengan bebas. Menara kincir angin menyebar di dalam dan luar perkotaan, seperti raksasa yang selalu mengawasi segalanya.
Sebuah tradisi kelahiran diadakan. Sang ibu mengayunkan bayi dalam pelukannya, di dekat jendela besar yang terbuka lebar.
Wanita itu meniupkan angin ke wajah bayinya dengan lembut, lalu angin dari langit membelai bagian tubuh lainnya. Ini adalah doa sang ibu untuk putranya, dan angin yang datang untuk memberkati, sebagaimana para orang tua ingin anak mereka tumbuh menjadi sosok yang hebat. Sebuah nama diberikan saat angin sedang berbisik, Ashnard Rhom Raegulus.
Kehidupannya sebagai keluarga bangsawan Raegulus sangat tercukupi. Meskipun hanya bersama ibunya dan tanpa kehadiran seorang ayah disisinya, Ashnard sudah merasa sangat bersyukur.
Pagi hari itu, Ashnard yang berusia 15 tahun harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pengajar pribadinya. Saat Ashnard yang masih balita terjatuh dan menangis, air matanya tak menetes ke bawah, namun justru melayang-layang di udara. Edda saat itu paham bahwa kekuatan elemen putranya telah bangkit, dan ia siap untuk menerima pelatihan elementalnya.
"Apa yang akan Ash lakukan saat Tuan Ozark datang?" tanya wanita berambut coklat itu yang sibuk merapikan kerah jas putranya.
"Membungkuk, lalu menyapanya," jawab Ashnard yang mulai kesal dengan ibunya yang terlalu mencemaskannya.
"Lalu?"
"Aku mengulurkan tanganku dan mempersilahkannya masuk."
"Bagus. Ash harus selalu bersikap seperti itu pada siapapun. Etika adalah yang terpenting untuk menaikkan impresi seseorang padamu."
"Mengerti, bu," balasnya lesu.
"Ash harus semangat. Katamu ingin menjadi petualang, kan? Maka harus berlatih menjadi kuat terlebih dahulu," kata ibunya.
Pelayan pun datang, mengabari mereka bahwa Ozark Griswald telah datang. Ashnard yang dituntun oleh ibunya segera menuruni anak tangga. Seorang pria berjas hitam sudah menunggunya di bawah.
Tampaknya pria berjas hitam itu berumur cukup tua, ditandai tidak hanya karena rambut putihnya tapi juga karena wajahnya yang keriput. Pria tua itu melepas topi tingginya dan meletakkannya di dada sembari membungkuk.
Ashnard pun segera membungkuk dan menyapanya, "Selamat datang, Tuan Ozark. Namaku Ashnard Rhom Raegulus. Senang bertemu dengan anda."
Ozark tersenyum dan mengusap kepala Ashnard, "Anak yang pintar. Senang berkenalan denganmu juga."
Di ruang makan, Edda dan Ozark bercakap sangat panjang dan lama setelah menyantap habis makanan mereka. Ashnard tak mendengarkan segala percakapan mereka, karena ia berpikir bahwa yang mereka obrolkan adalah hal-hal yang membosankan. Ia hanya melamun, memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan kekuatannya ini. Apakah ia akan menjadi Ksatria Elemagnia seperti ayahnya atau tidak.
"Jadi, itu benar kalau kau memilih elemen air? Kalau boleh tahu, kenapa tidak memilih angin? Kau tinggal di negeri angin, kan?"
"Aku tak tahu. Tidakkah elemen yang didapatkan acak?" tanya Ashnard.
"Kau lucu, nak. Tentu saja tidak. Kau sendiri yang memilih elemenmu sendiri. Apa kau tidak mengingatnya saat kau mengambil Buah Ambrosia?" Ozark berbalik menanyakan.
Ashnard mengerutkan keningnya. "Aku tidak ingat soal itu."
Ozark terdiam mendengar jawaban yang tak di duganya dari Ashnard. Ia sama kebingungannya dengan Ashnard.
"Saat itu, dia masih bayi, Tuan Ozark. Dia tak mungkin masih mengingatnya," Edda menambahkan. "Lagipula, angin, api, air, apapun pilihannya, tidak masalah. Aku akan tetap mendukungnya."
"Aku mengerti. Perlu diingat bahwa hanya karena orang yang kulatih masih anak-anak bukan berarti latihan yang kuberikan tidak akan berat. Jadi, apakah Tuan Ashnard siap memulai latihannya?"
Di belakang kediaman, ada halaman yang cukup luas dan cukup terbuka untuk dijadikan sebagai tempat latihan. Siang itu, di sanalah mereka memulai pelatihannya.
"Elemagnia singkatnya adalah seseorang yang bisa mengendalikan elemen melalui tubuhnya," Ozark mulai menjelaskan ke Ashnard yang duduk di bangku taman, anak laki-laki itu mengamatinya dengan perhatian yang penuh.
"Bagaimana caramu mengetahui kalau seseorang adalah Elemagnia?" lelaki kecil itu bertanya. Matanya berkilau rasa penasaran.
"Dengan mata telanjang? Sulit. Namun, umumnya para Elemagnia memakai yang namanya elemental bros agar bisa diidentifikasi oleh orang lain. Elemental bros akan beresonansi dengan elemenmu dan akan menunjukan elemen yang kau miliki."
"Mana elemental brosmu? Bukankah kau sebagai pengajar harus memakainya?" tanya Ashnard.
"Tentu saja. Ada di sini." Ozark membuka kopernya dan mengambil sebuah bola kaca kecil yang saat digantungkan di dada, benda itu bersinar jingga. "Lihat. Aku memiliki elemen. Baiklah, aku akan lanjutkan. Apa kau pernah menggunakan kekuatan elemenmu secara sadar atau tanpa sadar, Tuan Ashnard?"
"Saat mandi, aku pernah membuat bola air."
Jika hanya membuat gelembung, Ashnard tidak akan kesulitan. Ia berdiri tegak. Menarik nafas dalam-dalam dan mengacungkan jarinya di udara. Seketika, aliran air muncul di udara, perlahan menyatu di pucuk jarinya menjadi sebuah bola air.
"Bagus. Sebagai Elemagnia, menciptakan dan mengendalikan elemen semudah bernafas. Sekarang buatlah semakin besar!"
Ashnard menarik nafasnya lagi dan berkonsentrasi penuh. Ia lalu menahan nafasnya dan memfokuskan matanya pada bola air. Bola air itu semakin membesar, hingga seukuran kepalanya.
Tiba-tiba, sebuah suara menggema di langit yang sunyi, seperti auman seekor singa. Suaranya begitu lantang hingga bisa menggerakan angin dan awan. Merambat melalui udara yang hangat hingga ke segala penjuru tempat, membuat gemetar tubuh Ashnard dan siapapun yang mendengarnya.
Tak ada satu orang pun yang tidak mendengarnya. Di puncak gunung, hingga di kegelapan hutan, suara itu tetap akan terdengar jelas. Suara itu berlangsung hanya beberapa menit sebelum lenyap begitu saja, diikuti dengan burung-burung yang kembali beterbangan dan gemerisik rumput yang saling bergesek tertiup angin.
Suara tersebut bukanlah auman para monster raksasa yang terlibat dalam pertempuran dahsyat. Di Winfor, jika terdengar sebuah suara seperti terompet di langit, maka pertanda bahwa musim akan berganti. Dan sekarang akan memasuki musim semi.
"Suara yang menakjubkan, bukan?" kata Ozark, memandangi langit. Ia lalu beralih lagi ke Ashnard. "Baiklah, kembali latihan! Sekarang buat lebih besar lagi!"
"Aku tak bisa! Dadaku sesak!" teriak Ashnard. Wajahnya semakin memerah dan bola air semakin tak beraturan, lalu pecah.
Ozark mengesah kecewa, "Sayang sekali. Dengar, orang yang mendapatkan elemen mereka sejak lahir adalah kasus yang sangat jarang terjadi. Karena itu, aku berpikir jika kau akan menjadi Elemagnia yang lebih hebat dariku. Semua orang yang pernah kuajar berakhir menjadi Elemagnia yang hebat. Jika kau tidak, maka aku salah berharap padamu."
"Apa yang kau harapkan? Aku masih kecil," kesal anak laki-laki itu.
"Sudah kubilang aku tidak akan meringankan latihanku hanya karena kau masih kecil saja, kan," ucap pria itu. "Begini saja. Saat kau membentuk bola airmu, bayangkan saja kau memiliki lebih dari dua tangan yang membantumu memperbesar ukuran bola airnya. Kau mengerti?"
Ashnard tak melihat sedikitpun ke pria tua itu, tapi bukan berarti ia tak mendengarkan. Setelah Ashnard mengatur kembali nafasnya, ia memulai lagi. Kali ini ia membayangkan seperti yang Ozark katakan, meskipun ia tak tahu bahwa ini akan berhasil atau tidak.
Ashnard membayangkan bahwa sejumlah tangan khayalan muncul dari tubuhnya dan mengalirkan semua energinya ke bola air. Dan ternyata, bola air itu membesar walaupun bertambah sedikit.
"Aku berhasil!" serunya senang.
Akan tetapi, di belakang, Ozark menaikkan salah satu sudut bibirnya dan menatap tajam ke arah Ashnard. "Sudah kuduga. Kenapa kau merahasiakannya? Dari awal, aku bisa merasakannya, Tuan Ashnard. Kau memiliki 2 elemen, bukan?"
***
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tak ada yang bisa dia ingat semenjak kejadian di lorong ajaib itu. Ia bahkan hendak berpikir jika lorong, dewi, pohon dan semua hal itu adalah mimpi. Dan saat ia membuka matanya, semuanya sangat gelap. Sepi dan kosong. Sendirian dan tak merasakan apapun. Itulah yang ia rasakan sekarang.
Ia tak tahu harus berkata atau berpikir sekarang, karena isi pikirannya hanyalah kekosongan seperti ruang kosong ini.
"Mungkin aku masih bermimpi."
Ia pun berbaring sambil memijat mukanya dengan tangannya. Dan saat itulah ia menyadari ada yang aneh. Tangannya seputih susu. Ia menelusuri seluruh tubuhnya dan ternyata benar semua yang terjadi bukanlah mimpi.
Lalu, saat ia memeriksa tempat itu yang luas karena kekosongan, ia menemukan figur yang tidak jelas. Figur itu berbentuk seperti anak kecil.
"Hei, kau! Akhirnya ada orang juga. Kemarilah, nak! Apa kau tahu tempat apa ini?" panggilnya. Tapi, tak ada respon dari figur itu. "Hei, nak! Apa kau tuli?"
Ia mau tak mau menghampiri wujud anak kecil yang berdiri kaku menghadap ke satu sudut. Saat ia semakin dekat, terlihat wujud anak itu yang kabur, seperti sebuah ilusi yang tak akan mendengar atau berpengaruh dengan sekitarnya.
"Ini seperti hologram," gumamnya.
Saat ia menyentuhkan tangannya melewati ilusi tersebut, tiba-tiba sebuah rentetan informasi visual ataupun suara memasuki pikirannya dengan sangat cepat hingga ia tak bisa mencernanya sedikitpun. Akibatnya, kepalanya mendadak merasakan sakit yang amat luar biasa. Seperti kepalanya dihujani oleh ribuan panah.
Kemudian sesuatu yang memasuki pikirannya sedikit demi sedikit memelan dan ia mulai bisa memrosesnya dengan tenang. Dari semua informasi yang masuk, ia pun paham bahwa semua itu adalah ingatan seseorang tapi bukan dirinya. Ingatan visual dan suara dari bayi hingga seukuran anak kecil yang sedang ada di dekatnya sekarang.
Lalu, secara ajaib, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ia lihat. Sebuah informasi lain berupa sudut pandang, tapi bukan miliknya. Gambaran itu juga bukan deretan ingatan yang baru saja masuk. Tapi, seperti melihat rekaman secara langsung.
Dalam informasi itu, terlihat seorang pria tua berambut putih yang sedang berbicara pada pemilik sudut pandang. Pria itu lalu berkata, "Sudah kuduga. Kenapa kau merahasiakannya? Dari awal, aku bisa merasakannya, Tuan Ashnard. Kau memiliki 2 elemen, bukan?"
Ia pun mulai paham dengan apa yang terjadi. Dan dari Lembah Eden, terowongan ajaib, hingga tempat kosong ini semuanya adalah kenyataan.