
Sosok wanita bergaun putih itu terus menatap sosok manusia dengan tubuh serba putih bercahaya dan tanpa muka. Terbujur kaku seperti patung, sosok manusia putih itu tak beralih sekalipun, bahkan saat wanita itu mendekatinya secara perlahan.
Langkah kaki telanjang wanita itu begitu ringan di tanah dengan rumput dan semak putih. Gaun dan tudung putihnya tampak senada dengan warna alami di sekitarnya. Ia tersenyum dengan lembut dan berkata, "Ada apa? Apa kau terpesona dengan kecantikanku hingga tak bisa berkata-kata?"
Sosok putih itu terkejut saat wanita itu menyapanya, lebih ke tidak menduga wanita itu akan berbicara padanya. "Ti-tidak, maafkan aku. Aku … aku hanya tak tahu harus berkata apa." Ia sedikit gelagapan saat berbicara. "Aku merasa pikiranku tiba-tiba berhenti." Suaranya terdengar seperti lelaki muda.
"Kesadaranmu masih belum sepenuhnya dipindahkan, jadi wajar saja jika kau merasa tak bisa memikirkan apapun."
"Kesadaran?"
"Apa kau benar-benar ingin tahu jawabannya?"
Lelaki itu menelan ludahnya dan mengangguk.
"Kehidupan fanamu telah mencapai titik utama yang ditentukan takdir dalam setiap proses kehidupan, karena sebagaimana mestinya apa yang diberi harus diambil kembali … atau dengan kata lain, kau telah mati."
"Aku mati? Bagaimana bisa?"
Dengan mata kuningnya, wanita itu menatap serius, "Api membakar seluruh rumahmu dan kau tertimpa atap yang runtuh saat berusaha menyelamatkan diri."
Lelaki itu teringat kembali akan detik terakhirnya. Ia ingat dengan semua api yang membakar sekelilingnya. Akan tetapi, ia masih menyangkal semua itu. "Itu kesalahan, bukan? Aku berhasil melarikan diri. Lihat! Aku ada disini. Aku masih hidup!" ucapnya seraya menyentuh-nyentuh lengan dan tubuhnya.
"Bukalah matamu, manusia! Lihatlah, dimana sekarang kau berdiri," tegas wanita itu.
Sebuah tempat yang tak bisa dibayangkan olehnya. Lelaki itu melihat ke sekeliling, segalanya putih dan bersinar. Ia lalu melihat ke langit yang cerah, tapi tanpa matahari, tanpa bayangannya sendiri dan tanpa sensasi disekujur tubuhnya.
Sejumlah air terjun raksasa mengalir dari atas ke suatu tempat yang tidak akan pernah dirinya ketahui. Lelaki itu berdiri di sebuah padang rumput putih dengan air terjun yang mengisi di sepanjang kedua sisinya , tak berawal dan tak berakhir.
Ia tak melihat siapapun di tempat asing itu selain dirinya, wanita itu dan sebuah pohon tunggal berukuran besar dengan cabangnya yang meliuk-liuk.
"Bagaimana? Masih percaya bahwa kau masih hidup?"
"Tempat macam apa ini!?" Lelaki itu masih tak tahu harus terpesona dengan keajaiban alam disini atau merasa takut akan kenyataannya.
"Lembah Eden. Disinilah tempat untuk memilih takdir barumu," jawabnya.
Dengan semua hal asing itu yang memasuki pikiran kecilnya, lelaki itu memegang dadanya dan menarik nafas. Ia masih tidak sadar jika ia tak bisa merasakan apapun disini, termasuk bernafas. Padahal, para makhluk agung menyebut tempat ini sebagai tempat yang paling menenangkan di alam semesta.
"Jadi, aku telah mati, kau seorang dewi dan ini surga?" tanya lelaki itu memastikan.
"Ya, bisa dibilang," wanita itu menjawab enteng. Sebelum lelaki itu menarik nafas lega karena mengira berhasil masuk surga, wanita itu menghentikannya, "Tapi, ini bukan surga. Tempat ini sangat jauh berbeda dengan surga."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Antar aku ke surga," desak sang pemuda.
Wanita itu menahannya, "Siapa yang bilang kau masuk surga? Kau memiliki nasib yang lain daripada di tempat itu."
"Apa itu neraka?"
"Lebih baik tapi juga lebih buruk. Kau adalah orang yang beruntung untuk diberi kesempatan menjalani kehidupan sekali lagi. Namun, sesuai dengan alasan tempat ini diciptakan, kau boleh memilih takdir barumu. Menjalani kehidupan baru dari awal atau memilih untuk diadili apakah dirimu akan berakhir di surga atau neraka. Semua tergantung keputusanmu. Pilihlah dengan bijak."
"Apakah amalanku terlalu baik di dunia sehingga diberi kesempatan kedua?"
"Itu bukan kewenanganku untuk menjawabnya. Kesempatan keduamu juga bukan karena kewenanganku."
"Oh, baiklah. Kalau begitu, bisakah aku memikirkannya terlebih dulu?"
Dan begitulah lelaki itu merenung selama satu jam mungkin lebih jika saja waktu mengalir di tempat ini. Duduk di tengah keheningan sambil berusaha mencabuti rumput-rumput yang tak bisa dicabut. Pikirannya terus memikirkan dua pilihan itu tapi matanya terus menatap ke satu-satunya pohon di tempat tersebut.
"Hei, dewi, pohon apa itu," panggilnya sembari menunjuk ke arah pohon.
"Kau sungguh tak memiliki kesopanan sedikitpun bahkan pada sosok yang lebih tinggi darimu. Aku memiliki nama, Ilna. Pohon itu adalah Pohon Eden. Pohon itu dapat tumbuh dengan sumber air dari 2 alam yang berbeda. Kemarilah, akan kutunjukan sesuatu."
Pohon itu setinggi 65 kaki dan ratusan cabang yang meliuk ke atas seperti membentuk sebuah mahkota. Daunnya tak jauh berbeda dengan daun pohon biasa, namun buah yang tumbuh di pohon ini spesial. Buah yang berwarna kuning mengkilap membuat pohon itu tampak seperti berbuah emas.
"Buah apa itu?" tanya si pemuda.
"Biar kutebak. Jika aku memilih kehidupan baru maka aku harus memilih buah ini dan memakannya untuk mendapatkan kekuatan?"
Dewi Ilna mengangguk dengan lembut.
"Elemen-elemen ini adalah unsur pembentuk semesta. Di kehidupanmu yang sebelumnya memang tidak terlalu begitu mempercayai hal semacam ini. Tapi, bayangkan jika kau bisa memiliki salah satu elemen itu di tubuhmu dan bisa menggunakannya sesuka hatimu."
"Maksudmu seperti avatar? Ada angin, api, air, dan bumi?"
"Di dunia yang akan kau tinggali, jika kau memilihnya, segala kehidupan disana bergantung pada elemen-elemen tersebut. Manusia yang mendapatkan kekuatan elemen disebut Elemagnia. Mumpung kau ada disini, kuizinkan kau untuk memilih dan mendapatkan elemenmu sendiri. Anggap saja kebaikan hati sang dewi."
"Terima kasih, kurasa."
"Ada tujuh elemen umum atau elemen yang akan sering kamu temukan: api, air, udara, listrik, tanah, logam, dan es. Tapi, pada dasarnya masih ada tujuh elemen lainnya: suara, cahaya, kegelapan, astral, waktu, ether, dan kehampaan. Beberapa elemen tersebut jarang atau sulit ditemukan, dan beberapa lainnya lagi mustahil."
"Kenapa mustahil?"
"Karena elemen tersebut jauh melebihi kapasitas manusia untuk menggunakannya. Jika ada manusia yang memilikinya maka keseimbangan alam semesta akan hancur. Realitas menjadi tak terkendali, dan kehidupan menjadi tak berarti lagi. Jadi, bagaimana? Apakah kau sudah memutuskan?"
"Jika aku memilih pilihan kedua, tidak menjamin aku bakal masuk surga, bukan?"
"Ya."
"Apa aku bisa memilih pilihan lain dimana aku bisa tinggal disini dan menikahimu?" Lelaki itu berusaha menggoda sang dewi.
Dewi Ilna menyunggingkan senyumannya. "Tidak mustahil manusia menjalin hubungan dengan para dewa-dewi sepertiku. Tapi, sayang sekali, aku menolaknya."
Semasa hidup lelaki itu, ia memang pernah merasakan ditolak oleh seorang gadis dan membuat hatinya sakit, tapi ditolak oleh dewi justru membuatnya tertawa.
Ia lalu mendongak ke cabang pohon dan buah emasnya, sambil memikirkan pilihannya. "Kau tahu, aku sangat menyukai permainan. Aku tidak suka permainan yang aku mainkan segera berakhir. Meskipun akhir akan selalu ada, tapi aku merasa aku belum siap. Jika aku diberi kesempatan untuk memulai permainan dari awal lagi, itu akan mengesalkan, namun juga menyenangkan. Memulai sensasi awal permainan, memahami seluk beluknya dan cara kerjanya, pasti itu akan sangat mengasyikkan."
"Tapi, kau juga akan merasakan rasa sakit, kesedihan, dan penderitaan yang terus menyiksa hatimu. Kematian tidak akan terelakkan. Apakah hatimu sudah siap akan hal itu?" tambah sang dewi.
"Aku rasa itu sepadan dengan kesempatan kedua yang kau berikan." Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam, lalu menatap sang dewi disebelahnya dengan penuh tekad. "Aku akan menerima semua itu."
"Baiklah." Dewi itu melihat kebulatan tekad sang lelaki, ia pun mempersilahkan lelaki itu untuk mengambil Buah Maerylis.
Di mata sang lelaki, buah itu dikelilingi semacam aura yang berbeda. Beberapa buah ada yang tumbuh sangat dekat dengan permukaan, beberapa ada yang tumbuh jauh di cabang yang tinggi.
Saat ia melihat buah yang paling dekat dengannya, buah tersebut dilapisi aura yang membara, tubuhnya serasa panas. Rasa bakar menggerayangi setiap kulitnya dengan sangat menyakitkan, membuatnya merasa takut.
Darahnya mendidih seperti dimasak dalam kompor. Ia mencari sesuatu untuk memadamkan rasa terbakarnya, dan mendapatkan buah yang dilapisi aura menyejukkan. Tanpa memikirkannya lebih lama lagi, ia memetiknya dan langsung memakannya. Setiap gigitan buah itu, lidahnya sama sekali tak menangkap suatu rasa sedikitpun, tetapi ia sendiri tak bisa menahan dirinya untuk menghabiskan buah tersebut.
"Jadi, kau memilih air. Baiklah, kuhargai keputusanmu," ucap sang dewi.
"Selanjutnya apa?" pemuda itu bertanya dengan mulutnya yang penuh.
"Selanjutnya kau harus mengetahuinya sendiri. Tidak asyik bukan, saat kau ingin menikmati sebuah permainan dan seseorang membocorkan semuanya padamu."
Wanita itu tersenyum saat mengangkat tangannya di udara, sebuah retakan di udara tiba-tiba muncul. Kabut cahaya keluar dari retakan tersebut, mengalir lembut seperti awan. Lalu, energi yang kuat menarik sang lelaki itu ke dalam retakannya.
"Semoga beruntung dengan permainanmu." Sang dewi melambaikan tangannya pada pemuda itu.
Dalam lorong retakan itu, ia terus melayang maju tanpa henti. Sebuah getaran di sekujur tubuhnya, membuatnya sadar akan sesuatu. Ia merasakan sensasi seperti saat dirinya berenang dalam lautan. Saat itulah ia sadar jika elemen air sudah meresap ke dalam tubuhnya.
Lalu, ia merasakan getaran kedua. Berbeda dengan sebelumnya, yang memberikan sensasi lembut dan menenangkan, kali ini sekujur tubuhnya terasa kaku. Kepalanya terasa sakit seperti ditekan oleh sesuatu yang berat. Ia bisa melihat sesuatu meskipun matanya terpejam erat. Bayangan putih melayang-layang seperti dirinya di sebuah ruang yang kosong.
Cahaya seperti gerbang tampak di depannya, lelaki itu sudah mencapai ujung lorong. Namun, sebelum memasuki gerbang cahaya itu, tubuhnya bergetar hebat, sejenak ia merasakan jiwanya seolah-olah ingin terlepas dari raganya. Dan kemudian, semuanya menghitam.
Namun, bukannya dia menjadi sosok yang baru, ia justru terlempar dari lorong tersebut dan tergantikan oleh bayangan putih yang lain.
Ia masih menjadi bentuk putih tapi takdirnya tetap tertuju pada tubuh baru tersebut.