
Konflik pertama dalam hubungan antara Amora dan Reymond Giovanni datang dengan cepat, dan itu melibatkan seorang manajer senior dari departemen pemasaran bernama Alessandro. Saat Alessandro memasuki kantor, senyumnya yang percaya diri menyiratkan bahwa dia memiliki pesan penting untuk disampaikan.
"Selamat pagi, Pak Giovanni," sapa Alessandro, tetapi pandangannya tertuju pada Amora, yang duduk di samping meja bosnya.
Reymond memberikan salam sopan, "Selamat pagi, Alessandro. Ada yang bisa saya bantu?"
Alessandro mengangguk, "Saya memiliki proposal yang bisa meningkatkan penjualan produk kita secara signifikan. Saya ingin mendiskusikannya dengan Anda."
Reymond mengangguk, menunjukkan kepada Alessandro untuk duduk. "Silakan duduk, Alessandro. Sampaikan proposal Anda."
Alessandro meletakkan dokumen di atas meja Reymond, lalu melirik Amora. "Maaf, tetapi saya rasa kami perlu berbicara secara pribadi."
Amora merasa agak tidak nyaman dengan permintaan tersebut, tetapi Reymond hanya mengangguk dan berkata, "Baiklah, Amora, Anda bisa meninggalkan kami sebentar."
Amora meninggalkan kantor itu dengan hati yang berat. Dia merasa seperti dia diusir dari pertemuan tersebut. Di luar pintu, dia menunggu dengan khawatir, tidak tahu apa yang akan dibahas oleh Reymond dan Alessandro.
Dalam kantor, Alessandro mulai menjelaskan proposalnya kepada Reymond. Dia percaya bahwa dengan mengubah strategi pemasaran, mereka bisa menggandakan penjualan produk mereka dalam setahun. Namun, rencana ini juga akan membutuhkan perubahan besar dalam anggaran dan sumber daya.
Reymond mendengarkan dengan seksama, tetapi ketika Alessandro menyampaikan anggaran yang diperlukan, dia mengangkat alis. "Ini akan membutuhkan investasi yang besar. Apakah Anda yakin ini akan berhasil, Alessandro?"
Alessandro bersikeras, "Saya yakin, Pak Giovanni. Ini adalah kesempatan besar bagi perusahaan kita untuk bersaing lebih baik di pasar."
Pertemuan itu berlangsung lama, dan Amora mulai merasa cemas di luar kantor. Dia tidak bisa mendengar detail pembicaraan mereka, tetapi dia dapat merasakan ketegangan dalam ruangan itu. Akhirnya, pintu kantor terbuka, dan Reymond dan Alessandro keluar.
Amora mengangguk, mencatat permintaan itu. Dia bisa merasakan bahwa situasi ini menjadi semakin rumit, dan dia merasa perlu untuk berbicara secara pribadi dengan Reymond untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang sedang terjadi.
Ketika hari berakhir, Amora menunggu sampai semua karyawan telah pulang sebelum dia memutuskan untuk mendekati Reymond. Dia berjalan perlahan ke kantor bosnya yang masih terang benderang. Ketika dia masuk, dia melihat Reymond duduk di meja kerjanya, dalam pemikiran yang mendalam.
"Bolehkah saya berbicara dengan Anda sebentar, Pak Giovanni?" tanya Amora dengan hati-hati.
Reymond mengangguk, mengalihkan perhatiannya kepadanya. "Tentu, Amora. Silakan duduk."
Amora duduk di depan meja Reymond. "Saya hanya ingin memahami situasi dengan proposal dari Alessandro. Apakah ada masalah?"
Reymond menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Saya ingin yang terbaik untuk perusahaan ini, Amora. Proposal Alessandro memiliki potensi besar, tetapi itu juga berisiko tinggi. Saya ingin memastikan kami membuat keputusan yang tepat."
Amora merasa lega mendengar penjelasan Reymond. "Saya mengerti, Pak Giovanni. Saya akan segera mulai menganalisis proposal itu dan menyusun laporan lengkap seperti yang Anda minta."
Reymond tersenyum lembut. "Terima kasih, Amora. Anda selalu menjadi sumber dukungan yang berharga."
Amora meninggalkan kantor Reymond dengan lebih tenang. Dia tahu bahwa tantangan pertama mereka sebagai tim tidak akan menghentikan perkembangan hubungan mereka. Mereka masih harus menghadapi banyak hal bersama sebagai tim yang bekerja untuk mencapai kesuksesan perusahaan.
Pada saat itu, Amora menyadari bahwa bekerja di bawah kepemimpinan Reymond adalah peluang yang luar biasa. Dia siap untuk mengatasi setiap tantangan yang muncul di depan mereka, bersama-sama dengan bosnya yang inspiratif ini.