TACENDA By Lindabin

TACENDA By Lindabin
5. Makan di restoran



...Angga memarkirkan mobilnya di parkiran restauran. Mereka turun dari mobil, berjalan ke dalam restoran. Di dalam restauran mereka langsung di sambut hangat, pegawai di sana menyapa Angga dengan sopan....


..." Selamat sore pak Angga, saya sudah menyiapkan mejanya. Mari saya antar ke atas, " ucap pelayan resto itu sopan....


...Mereka mengikuti arahan pelayan resto itu. Ajun dan Ailin memandang sekitar, restoran itu nampak terlalu mewah untuk mereka. Tak jarang saat mereka mengikuti Angga, para pelanggan melihat mereka penasaran, ataupun hanya sekedar melirik sebentar....


...Mereka sampai di lantai 3, seperti lantai khusus. Karna tidak ada orang selain mereka dan pelayan resto. Pemandangan sore menjelang malam itu indah, ia bisa melihat Matahari terbenam dari sana. Kilauan merah dengan perpaduan warna lain. Di tambah gemerlap warna lampu di jalan. Menambah kesan cantik di mata Ailin....


...Memberi buku menu. " Silahkan pak, ini menunya," ucap pelayan resto....


..." Okey makasih. Saya mau pilih-pilih dulu, nanti saya panggil," ucap Angga pada pelayan itu....


...Mereka melihat - lihat buku menu....


...Kaget." Busett ! Ini mie harganya Rp150. 000 gak salah ? " ucap Ajun, melihat harga di buku menu....


..." Ajun ... Itu spaghetti Jun, yang biasa kita lihat di TV ,bukan mie ! " ucap Ailin sedikit berbisik....


..." Sama aja bentuknya mie ! lihat nih ..." ucap Ajun bersikeras....


...Melihat gambar yang di tunjukkan Ajun. " Iya sih bentuknya sama. Tapi beda Jun ... " ucap Ailin ....


..." Apa bedanya coba ? " tanya Ajun....


...Menggaruk kepala kebingungan. " Apa yah ... ?" ucapnya bingung menjelaskan....


...Angga yang memperhatikan hanya tersenyum melihat mereka....


...Melihat kembali buku menu. " Apa lagi ini ... Nasi goreng aja harganya segini. Nih lihat ,Lin ..." seru Ajun, kembali ia menunjuk harga di menu....


..." Kalau kita makan disini, bisa-bisa seminggu kita kelaperan ,Lin," sambung Ajun....


..." Kalian gak akan kelaparan seminggu. Paling 6 hari," ucap Angga yang gemas dengan mereka....


...Menutup daftar menu. " Kalau gitu saya gak pesen apa- apa om, kita mana ada duit buat bayar," ucap Ajun nampak kecewa....


..." Kalian gak usah bayar, restoran ini punya saya. kalian bebas mau makan apa aja," tawarnya....


..." Hah ... ? Restoran ini punya ,Om," ucap Ajun seakan tak percaya....


..." Iya, jadi kalian bebas mau pesen apapun disini," tawarnya kembali, seraya ia memanggil pelayan disana....


..." Saya mau steak ini, kematangan Medium aja . Kalau kalian mau apa ? " tanyanya....


...Ailin nampak bingung sejenak. " Ehm ... Saya samain aja, kaya Om. Cuman saya mau kematangannya Medium Rare," ucap Ailin....


...Melihat Ajun. " Kalau kamu ,Jun. Mau apa ?" tanya Angga....


...Ajun nampak melirik pada Ailin. " Saya sama aja deh, sama Ailin. Saya bingung milihnya," ucap Ajun memutuskan makanan yang sama....


..." Okey, kalau minumnya?" tanya Angga....


..." kita samain aja kaya Om," ucap Ailin sungkan....


..." Tambah jus jeruk aja 3, " ucapnya pada pelayan....


...Segera pelayan itu pergi ke dapur, menyerahkan pesanan langsung pada chefs disana. Ajun dan Ailin duduk diam menunggu....


..." kalau di lihat -lihat. Kalian selalu berdua yah ... Kemana-mana, kalian adik kakak atau temenan ?" tanya Angga mengisi kekosongan Antara mereka....


..." Kita temenan sih ,om. Apalagi kita tetangga, jadi ngamen pun kita sama-sama," jelas Ajun....


...Tak terasa makanan yang mereka pesan pun sampai. Angga memperhatikan Ailin, ia nampak terbiasa menggunakan pisau dan garpu. Kebalikan dengan Ailin, Ajun nampak kesusahan menggunakan pisau. Angga yang melihat Ajun kesusahan, ingin membantunya. Namun belum sempat ia ingin menolong, Ailin lebih dulu menawarkan bantuan....


..." Ajun susah yah, makannya ? Mau aku bantuin motong steak nya ? " tanya Ailin....


...Ailin segera membantu Ajun memotong - motong daging, sehingga Ajun dapat mudah memakannya dengan garpu....


..." Makasih Lin. Tapi ini bisa dimakan ? Masih merah gini, kayak gak Mateng," tanya Ajun....


..." Bisa ,Jun. Palah itu enak kalau dimakan. Kalau Mateng banget jadi keras dagingnya," jawab Ailin....


...Ajun menurut pada Ailin, ia mulai memakan steak miliknya. Ini pengalaman pertama bagi Ajun, dan rasa daging itu ternyata enak, tidak alot, seperti daging yang ia terima dari pemberian orang....


...Mereka makan dengan tenang, sembari Angga sesekali berbincang-bincang dengan mereka....


...Selesai dari resto mereka langsung menuju rumah Angga....


...Setelah sampai terlihat lah, Rumah dan pagar berwarna putih. Terlihat elegan dan mewah, walau tidak bisa di bilang seperti istana. Tapi rumah itu terlalu besar untuk di tinggali Angga sendiri....


..." Kalian lihat apa ? Ayo masuk," ucap Angga yang melihat kedua anak itu nampak menganga takjub memandangi rumah itu....


...Sampai dalam pun mata Ajun dan Ailin mulai meneliti ke segala arah, mereka berpikir bagaimana cara mereka membersihkan rumah sebesar ini ? Pastinya perlu waktu dan tenaga yang banyak. Sementara mereka juga harus mencari uang untuk makan....


..." Lin, gimana kita bersihinnya kalau Segede ini ? " tanya Ajun khawatir tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini....


...Ailin hanya diam tidak menjawab pertanyaan Ajun. Dia sendiri bingung bagaimana cara melakukan nya. Seharusnya Ailin sadar sedari awal bahwa semua ini tidaklah akan mudah bagi mereka....


..." Kalian gak usah khawatir, kerja kalian ringan kok. Kalian juga gak berdua nanti ada bi Inem yang bantuin kalian, " ucap Angga meredakan kekhawatiran mereka....


...Ia memanggil seseorang yang dia sebut bi Inem. Seorang wanita yang lumayan tua keluar dari dapur, menanyakan keperluan majikannya memanggil dirinya....


...Angga memerintahkan BI inem untuk mengawasi dan mengajari mereka apa yang harus di lakukan di rumahnya. Sementara Angga naik ke atas untuk mandi dan membersihkan diri....


..." Nah ... Gimana kalau Non, Ailin. Bantuin bibi nyuci piring di dapur. Kalau Den, Ajun. Nyapu aja," ucap BI inem membagi tugas....


...Ajun dan Ailin langsung mengerjakan tugas mereka. Mereka melakukan pekerjaannya dengan cekatan. Sehingga tak butuh waktu lama, pekerjaan mereka rampung di kerjakan....


...Turun dari tangga. " Kalian udah selesai? Cepet juga yah ... " ucap Angga yang melihat mereka telah duduk santai memakan cemilan dari BI Inem....


..." Iya Den, mereka cepet. kerjanya juga bagus, Top pokoknya," ucap BI inem mengeluarkan ibu jarinya....


..." Bagus kalau gitu, gak sia - sia saya bawa mereka. Buat bantu-bantu disini," ucap Angga menggulung kemeja bajunya....


..." Den Angga, mau kemana lagi ? " tanya bi Inem, yang melihat tuannya itu telah rapih kembali....


..." Ada kerjaan di luar ,bi. Mungkin saya telat pulangnya. Jadi BI Inem gak usah nunggu saya, langsung pulang saja," ucap Angga....


..." Kalian mau pulang 'kan. Ayo sekalian Om anterin pulangnya," sambungnya....


...Setelah Ajun dan Ailin berpamitan dengan bi Inem. Mereka kembali naik mobil Angga untuk pulang ke rumah mereka....


...Angga tak sempat menanyakan lebam di tangan Ailin walau ia melihatnya sedari sore. Ia juga takut menanyakan dari mana dia mendapatkan lebam. Sehingga ia hanya membawakan obat dari rumahnya. Dan memberikan pada Ailin....


..." Makasih Om, udah nganterin kita. Sama makasih obatnya," ucap Ailin sopan....


..." Iya sama-sama, nih buat kalian. Karna udah bantu bersihin rumah ," ucap Angga seraya memberi uang pada Ailin....


..." Gak usah, om. Lagian kan kita kerja niatnya buat ganti rugi, " ucap Ailin menolak....


..." Udah gapapa, simpen aja buat di tabung," ucap Angga....


..." Lin , ambil aja buat di tabung. Lumayan buat tambah-tambah biaya masuk sekolah," ucap Ajun meyakinkan Ailin....


..." Kalau gitu, makasih ya om," ucap Ailin yang akhirnya menerima pemberian Angga....


...Setelah berpamitan, Ajun dan Ailin pulang kembali ke rumah, dengan berjalan kaki. Sebenarnya Angga ingin mengantarkan sampai rumah, namun akses jalan yang di lewati ternyata tidak memungkinkan bagi mobil Angga masuk. Mungkin kalau lewat jalur lain, mobil Angga bisa masuk....


...Ailin masih takut untuk pulang kerumahnya, sehingga ia kembali menginap di rumah Ajun. Tentu keluar Ajun menyambut Ailin, mereka palah senang -senang saja bila Ailin berniat menginap....