
"Ka, Kakak! Kau tampan sekali! Rasanya aku ingin memakanmu!"
"Hentikan! Kenapa harus memakanku?"
Akhirnya hari ini telah tiba. Setelah menuruti permintaan Haruka selama dua hari. Yaitu Senin dan Selasa, akhirnya di hari Rabu Haruka mengajukan permintaan terakhirnya. Yaitu mengajakku berkencan.
Saat ini kami masih berada di rumah. Aku semaksimal mungkin merias diriku sebaik mungkin, dan sepertinya usahaku tidak sia-sia.
Begitupun Haruka, dia berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia adalah gadis cantik biasa, sekarang dia menjadi gadis super cantik biasa. Maksudku dia naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi seperti sebelumnya. Selain itu tete itu begitu mencolok.
"Bukankah pakaian itu terlalu ketat untuk tubuhmu, Haruka?"
"Kyaa! Dasark Kakak mesum!"
"Eh?! Aku hanya mengingatkanmu!!"
Dia Haruka yang seperti biasanya. Aku sedikit lega, karena beberapa hari yang lalu Haruka menjadi berbeda dari yang biasanya kukenal. Tapi sekarang aku lega dia telah menjadi dirinya yang dulu.
"Kalau begitu, Kakak ...," Haruka melingkarkan tangannya ke lenganku, "Mari kita mulai kencan kita, hehe."
***
Karena di kencan ganda sebelumnya kami sudah pergi ke mall. Akhirnya Haruka membawaku ke tempat yang berbeda dari sebelumnya. Itu adalah taman bermain. Disana aku menghabiskan banyak waktu untuk bermain dengan Haruka. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak mengalami keterkejutan sama sekali.
Aku senang, tapi hanya sebatas itu. Sudah kuduga, aku sama sekali tidak bisa melihat Haruka sebagai lawan jenis. Dia adalah adikku yang berharga.
"Kau membawa itu, ya?"
"Hehe, Chijou berkata dia ingin ikut dengan kita. Bagaimana dengan Alpha, Kakak?"
"Alpha sudah pensiun. Sekarang dia menjalani kehidupan damai bersama istri dan anaknya."
"Tapi dia hanya robot."
"Diamlah, jangan tambahkan detail tidak perlu."
Di dalam biang Lala yang berputar. Kami duduk berseberangan. Aku terkejut Haruka membawa temannya semasa kecil. Waktu itu aku tidak sengaja merusaknya, aku masih bisa melihat bekas jahitan tidak rapi yang ada di lengan kanan Chijou. Melihatnya membuatku merasa nostalgia sekaligus membawa perasaan bersalah.
Hari sudah menjelang sore, dan kami bisa melihat matahari mulai tenggelam dibalik kaca jendela biang Lala ini.
"Ini membuatku nostalgia, saat Kakak bersusah payah memperbaiki Chijou untukku."
"Lagipula itu salahku. Maaf, bekas jahitannya masih kelihatan, ya? Jika kau mau aku bisa memperbaikinya lebih rapi lagi."
Haruka menggelengkan kepalanya, memeluk Chijou lebih erat lagi.
"Tidak, bekas jahitan ini adalah tanda atas kepedulian Kakak terhadapku. Maafkan aku yang dulu selalu mengabaikan mu, seharusnya waktu itu aku lebih menghargai waktu bersamamu."
"...."
Aku tidak bisa berkata apa-apa, sejak kecil kami berdua sudah menghabiskan banyak waktu sampai sekarang ini. Jadi, kenapa Haruka mengatakan seolah-olah bahwa dia akan berpisah denganku untuk waktu yang lama?
Secara tidak sadar hari sudah menjelang malam, dan kami berdua pulang tanpa kenangan yang menarik.
Memasuki kamarku, aku berbaring. Menatap langit-langit sambil mengerutkan kening.
Sementara dilain sisi, Haruka duduk meringkuk di kasurnya, sambil memeluk Chijou dengan erat.
***
Keesokan Harinya, aku datang ke rumah Sachi atas permintaannya. Ini adalah kedua kalinya aku datang kerumahnya, yang pertama saat aku mengantarnya pulang ketika hujan melanda. Di dalam rumah Sachi, aku menghabiskan waktu seperti bermain game, dan juga beberapa permainan kecil.
"Jadi, bagaimana kencanmu dengan Haruka?"
"Eh? Kenapa kau menanyakan itu?"
"Sudahlah, jawab saja."
Entah kenapa ada jeda dari jawaban yang kuberikan. Sachi sepertinya menyadarinya. Namun dia tidak bertanya lebih lanjut tentang apa yang terjadi kepada kencan kami sebelumnya.
Setelah makan malam, aku pulang. Tersisa dua hari lagi hari yang harus kuhabiskan dengan Sachi.
***
"Aku pulang."
Rumah sangat gelap, semua lampu dimatikan padahal masih pukul sembilan malam. Apakah Haruka tidur lebih awal? Itulah yang kupikirkan. Setelah menata sepatuku aku naik ke lantai dua menuju kamarku yang berada di samping Haruka.
"Haruka, aku bawa ayam goreng kesukaanmu, Lo. Ayo kita makan bersama."
Aku mengetuk pintu kamar Haruka dan menunggunya beberapa saat. Aku pikir dia sudah tidur, tetapi karena ini adalah kesukaan Haruka jadi aku yakin Haruka akan langsung mendengarnya dan membukakan pintu.
Namun, setelah lama menunggu tidak ada jawaban yang muncul. Aku juga sudah memanggilnya berkali-kali tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Karena pikiranku sudah menjerumus kemana-mana, aku langsung membuka kamarnya tanpa meminta izin.
"Haruka!"
Benar saja, di dalam kamarnya tidak ada siapapun. Kasurnya rapi, namun kerapiannya tidak normal. Seolah-olah barangnya telah hilang, seperti orang mau pindah.
Aku segera membuka lemari, dan kedua mataku melebar. Disana kosong, tidak ada pakaian sama sekali. Aku mengeluarkan ponsel dan menghubunginya, tetapi tidak dijawab. Karena khawatir aku menghubungi Sachi & Gerald, dan Helena. Saat mereka sudah datang ke rumahku aku menjelaskan situasinya ke mereka.
"Haruka kabur?"
"Benar, maaf memanggil kalian malam-malam begini. Tapi aku ingin kalian membantuku mencarinya, kumohon! Dia adalah adikku satu-satunya!"
Aku membungkuk dengan segenap kekuatanku. Berharap mereka bertiga akan membantuku.
"Kawan ...," Gerald memegang pundak ku, "serahkan saja pada kami."
"Gerald."
"Kau harus menjelaskan situasinya pada kami nanti, Kira," ucap Sachi.
"Karena Tuan Gerald berkata seperti itu jadi mau bagaimana lagi."
Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar. Namun, sebelum itu aku melihat secarik kertas yang ada di atas meja belajar Haruka. Kertas itu memiliki pesan untukku.
Untuk Kakak,
Aku tahu seberapa keras aku berusaha Kakak tidak akan beralih kepadaku. Aku tahu kalau Kakak selalu melihat ke arah Sachi, dan aku sudah mengetahui akhir dari permainan ini. Haha, sebenarnya permainan ini hanya alasan agar Kakak cepat menolakku. Aku tahu Kakak adalah orang baik yang pastinya memikirkan perasaanku. Jadi kurasa lebih cepat jika aku bertindak.
Agar tidak mengganggu hubungan kalian, aku akan pindah ke apartemen yang sedikit lebih jauh disini. Tenang saja, aku sudah menjelaskannya kepada Ayah dan Ibu, jadi seharusnya baik-baik saja, sampai jumpa lagi, Kakak.
Dari adikmu yang tercinta, Haruka.
Aku segera berlari, menuruni tangga dan terjatuh. Tetapi aku langsung bangkit dan berangkat untuk mencarinya. Hari sudah malam, dan malam ini lebih dingin dari yang biasanya. Meski begitu kakiku tetap berlari untuk mencarinya.
Aku mencari si setiap sudut kota maupun tengah kota, tetapi sama sekali tidak menemukannya. Aku juga bertanya ke beberapa tetangga dan orang yang lewat tapi mereka tidak tahu sama sekali.
Aku mulai kebingungan, dan kelelahan.
"Haruka!!!"
Tanp sadar aku berteriak hingga suaraku serak. Di tengah jalan semua orang melihatku. Namun aku sama sekali tidak memperdulikannya. Aku hanya ingin bertemu Haruka kembali, hanya itu saja yang sebenarnya kuinginkan.
"Dimana dia sebenarnya? Kumohon... Kumohon... Tuhan! Kumohon!" Aku mulai berputus asa. Aku berharap ada atau petunjuk tentang keberadaan Haruka.
Tiba-tiba saja angin berhembus kencang, dan selembaran kertas terjatuh di depanku. Melihatnya, kedua mataku langsung melebar.
"Ini dia."
Mungkin saja itu adalah petunjuk keberadaan Haruka, karena di dalam selembaran itu berisi gambar Taman anak-anak tempat bermain kami saat kecil.
Tanpa menunggu lebih lama aku segera berlari. Menuju ke Taman itu.