
Akira POV
Aku bangun tidur seperti biasanya. Di pagi hari Haruka membangunkan ku dengan kejahilannya. Dia beberapa kali menyentuh batang keadilanku yang masih berdiri tegak di pagi hari.
"Hei, Kakak. Aku ingin menyelesaikannya saat ini juga."
"Kenapa? Apa yang kau maksud dengan menyelesaikannya?"
Saat kami berdua sarapan. Haruka tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Setelah sarapan pagi selesai, Sachi datang menjemputku. Disaat aku ingin menyapanya. Haruka melangkah terlebih dahulu untuk menghadapi Sachi.
Sachi menyadari bahwa sikap Haruka hari ini sangat berbeda. Begitupun denganku, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Aku bingung harus mengatakan apa tapi jujur aku tidak tahu apa yang terjadi kepada adikku dan juga pacarku.
"Sachi, aku tidak akan kalah darimu. Aku pasti akan membuat Kakak jatuh cinta dalam seminggu ini."
"Hmm, aku juga tidak akan kalah. Aku akan tetap mempertahankan hubungan kami."
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku bisa melihat keseriusan di raut wajah mereka. Aku bisa melihat bahwa ini akan menjadi penentuan dengan siapa pasanganku di masa depan nanti. Apakah itu adalah adik tiriku atau pacar imutku.
***
Beberapa hari sebelumnya. Haruka mengajak Sachi ketemuan tanpa sepengetahuanku. Waktu itu hari telah menjelang malam, Taman adalah tempat mereka melakukan pembicaraan empat mata.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan Haruka?"
Sachi menyadari kalau Haruka ingin mengatakan sesuatu yang penting saat ini. Haruka bukan tipe orang yang tiba-tiba mengajak orang lain ketemuan hanya untuk bermain-main. Jadi Sachi bisa menebak, kalau Haruka ingin membahas yang ada hubungannya dengan Akira.
"Ayo kita selesaikan semua ini, Sachi. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Dalam seminggu ini ayo kita adakan sebuah game, siapa yang dapat membuat Kakak menyatakan perasaannya maka dia yang menang."
"Apa yang kau katakan? Bukankah Akira sudah menjadi milikku? Kau tidak berhak memutuskannya sepihak."
"Kalau begitu, apakah kau tidak berpikir kalau Kakak akan beralih padamu? Apakah kau tidak ingin memastikan cinta dari Kakakku? Apakah itu hanya sementara atau tidak?" Balas Haruka, "Atau, jangan-jangan, kau yang beralih dari Kakak, Sachi?"
"Tentu saja tidak!" Sachi langsung menolak, "perasaanku kepada Akira. Tidak akan berubah kapanpun juga."
"Kalau begitu, sudah dipastikan. Selama seminggu aku akan merebut Kakak darimu."
Setelah menyatakan pernyataan perang tersebut. Haruka meninggalkan Sachi yang masih terdiam disana. Sachi menyadari bahwa Haruka ingin mengakhiri pertarungan mereka selama satu Minggu.
Sachi menetapkan hatinya, dia tidak akan menyerahkan Akira begitu saja tanpa perlawanan. Dia juga akan ikut andil dalam permainan itu. Sekali lagi, Sachi akan membuat Akira menyatakan perasaannya padanya.
***
"Haah, apa yang harus kulakukan tentang ini?"
Dalam seminggu ini. Sachi dan Haruka sepakat untuk membagi waktu mereka denganku. Senin sampai Rabu adalah waktu Haruka. Sedangkan Kamis sampai Sabtu adalah waktu Sachi. Minggu adalah hari dimana aku memberikan jawaban kepada mereka.
"Ini sungguh merepotkan."
"Apa yang merepotkan, Kira?"
Gerald mendatangi bangkuku. Dia duduk di kursi kosong di depanku. Melihatnya datang saja sudah membuatku merasa lebih baik, dia benar-benar teman yang pengertian.
Aku menceritakan apa yang terjadi kepada Gerald, dan kurang lebih Gerald mengerti dengan keadaanku.
"Jadi Haruka-chan ingin mengakhiri semua ini, ya."
"Bagaimana denganmu, Gerald? Apa kau masih tidak menyukai Helena?"
"Aku ...," Gerald menggaruk rambutnya, "Yah, aku tidak sepenuhnya menolak. Sifatnya itu selama ini memang mengganggu, tapi aku tahu kalau dia benar-benar menyukaiku."
"Jadi kau sudah mulai menyukai Helena, ya? Lalu bagaimana perasaanmu kepada Haruka?"
"Te, tentu saja tidak! Maksudku Helena, meski dia sering menggangguku tapi dia sangat baik kepadaku, meski dia itu orang mesum, tapi setidaknya dia sangat peduli terhadapku. Arrg! Lupakan! Kenapa jadi membahas Helena. Kira, sebenarnya kau sudah tahu jawabannya, bukan? Tentang siapa yang akan kau pilih?"
"Aku ...."
Tentu saja aku sudah tahu jawabannya. Tapi tetap saja aku tidak ingin salah satu dari mereka terluka. Sebisa mungkin, aku ingin mengakhiri ini dengan baik-baik tanpa ada yang terluka.
"Jika kau pikir tidak ada yang terluka maka kau salah."
"Apa maksudmu?"
"Haah, melihat wajahmu saja aku sudah tahu apa yang kau pikirkan. Kira, kau itu orang baik, jadi pikirkanlah siapa yang akan kau pilih dengan benar. Terluka itu pasti, tapi kau hanya harus minta maaf dan menjelaskannya kepada mereka. Yah, aku tidak bisa banyak membantumu, maaf kawan."
"Tidak, itu sudah cukup. Terimakasih Gerald."
Aku benar-benar bersyukur memiliki teman sepertinya.