Setra | Another Side

Setra | Another Side
prolog



"ibu... Raran pulang"


"wah, Anak Ibu udah pulang, gimana sekolahnya?"


"Seru bu, Raran tadi dapet temen baru, trus bu guru yang ngajar baik"


Irain Tiyas, umur 7 tahun.


Kala itu, Irain masih tak mengetahui bagaimana cara kerja dunia.


untuk anak seumuran dia memang mustahil mengerti betapa gelapnya sisi lain cahaya yang terang.


Pukul 10.00, Irain yang pulang dari Sekolah Dasar merasa mendengar suara perbincangan dari ruang tamu.


Ia yang telah berganti baju mencoba mendengar semua percakapan.


"maafkan saya bu Friska, walau semua hutang Ibu sudah lunas, tapi saya tidak bisa memberikan hutang lagi" ucap seorang ibu-ibu.


Irain mendengar semuanya, Selama ini Ibunya yang hanya tinggal sendirian bersamanya bekerja banting tulang.


namun itu semua tak cukup, tak cukup uang, hutang pun jadi.


Namun Firna orang yang telah memberikan pinjaman uang kepada Ibu Irain tak bisa memberikan hal yang sama kepadanya.


"Bu Friska juga tahu kan, kami juga dalam keadaan krisis moneter keluarga, apa lagi akhir-akhir ini semua kebutuhan jadi mahal" ucap Bu Firna dengan rasa iba.


"begitu ya bu, nanti saya cari cara lain buat biaya sekolah anak saya" jawab Ibunda Irain.


"Sebelumnya saya minta maaf, tapi menurut saya Menyekolahkan Irain malah membuat Bu Friska semakin susah"


"kalau dari luar memang seperti itu, tapi saya suka lihat wajah Irain sehabis pulang sekolah, dia sangat bahagia, apa lagi Irain katanya pengen kerja di kantor kalo sudah besar" jawab Ibu Irain dengan tersenyum tulus.


Namun Irain yang mendengarnya nampak sedih, ia Langsung kembali ke kamar dan menangis di balik bantal.


keesokan harinya sebelum berangkat sekolah


"bu"


"iya sayang"


"Irain janji kalau udah gede, Irain bakal jadi orang sukses, trus ibu gak perlu kerja sampai lelah!"


mendengar kata-kata Irain yang penuh semangat membuat Friska sebagai ibu tak menyerah.


"iya, tapi ingat kata-kata Ayah dulu kan, Pelajaran pertama Untuk Manusia adalah....


dengan cekatan Irain menjawab


"Memanusiakan Manusia"


"nah, Kalau Raran sudah berhasil, maka impian Raran jadi mudah"


"iya bu"


"hati-hati ya, Sudah di tunggu sama Tifa tuh"


kemudian dengan semangat Irain menuju sekolah bersama Latifa.


Latifa adalah teman Irain yang satu kelas dengannya, Ia adalah seorang Gadis pemalu, namun memiliki latar belakang yang berkebalikan dengan Irian.


Cantik, Kaya serta kuasa dimiliki oleh dirinya, keluarganya memegang peran penting di negara ini.


walau begitu masih aneh di mata orang lain, mengapa Tifa dibiarkan bersekolah di tempat yang biasa saja


serta dibiarkan berteman dengan anak seperti Irain.


sesampainya di kelas...


"Irain bau jengkol haha"


"Apaan sih Alan! Ngajak berantem nih?!" jawab Alun.


"emang kamu berani? ayahku polisi loh" jawab Alan.


"mau anak Polisi anak pejabat anak setan, Maju aja lu Botak!"


"apa? aku gk botak!"


"Kalian jangan berantem nanti dimarahi bu guru" Tifa berusaha melerai mereka berdua.


"plak!! plak!!!"


sebuah buku pelajar yang dipenuhi ilmu mendarat dikepala mereka berdua.


"kalian berdua kalau masih ribut aku pukul nih!"


Anastasia Shita, gadis cantik dan populer dikalangannya.


"Ana?"


dengan refleks Alan mengajak Irain berbaikan.


"kami gak berantem kok, iya kan Ran?" ucap Alan.


"heh? tadi kamu ngatain aku bau jengkol" jawab Irain.


"udah jangan masalahin itu lagi, kita didepan Ana nih" bisik Alan.


sangat nampak, jika Alan menyukai Ana, wajar saja ia adalah gadis paling populer di kelas.


cantik,tinggi,cerdas serta perhatian terhadap teman sekelasnya.


dan nampaknya Irain juga terse- terpesona olehnya.


namun, Tifa yang melihat Irain dari jauh merasa jika ia tak berbuat banyak.


Bagi Tifa Keberanian adalah faktor yang sulit ia dapatkan.


Namun sepulang sekolah....


Rumah Irain dipenuhi oleh banyak orang.


Kabar penuh duka membubung hingga langit kesabaran Irain.


"Irain, ibunda kamu meninggal"


beberapa orang berusaha menenangkan Irain.


"tadi saya gk sengaja lihat ibu kamu terbaring di teras, tapi....


"Sabar ya nak"


.


.


.


.


.


hampir seminggu semenjak meninggalkannya Ibu Irain.


Irain sama sekali tak keluar dari rumah, bahkan Tifa bersama teman-teman sekelas berusaha membujuknya.


namun Hasilnya adalah gagal.


hingga pada suatu malam...


"tok-tok!"


suara ketukan pintu berbunyi, Irain membukanya lalu.


"Tifa, ini sudah ma-


"Plak!!"


Dengan tiba-tiba, sebuah hal tak terduga, Tifa yang seorang gadis pemalu menampar wajah Irain.


"Tifa kok kamu-


"Raran kenapa sih!, Sudah enam hari gak mau keluar rumah!"


dengan marah namun disertai sedih, begitulah perasaan Tifa saat ini.


Irain memberikan Alasan mengenai ibunya, namun Tifa membantah.


Tifa menjelaskan jika Irain sedih maka Ia dan Ibu Irain pasti juga sedih.


setelah beberapa menit berlalu, Irain mulai sadar, dan Tifa kembali ke sifatnya yang lama.


"maaf Raran, tadi aku nampar kamu"


Tifa mengucapkannya dengan menunduk.


"terima kasih Tifa, kamu memang teman terbaikku"


mendengar hal itu, membuat hati Tifa semakin berdebar.


wajahnya yang memerah membuat Irain memerhatikan dirinya.


"emm?, Tifa kamu sakit?"


"gak kok, aku pulang dulu, kasihan bibi Agnes nungguin di depan"


"iya, sekali lagi, terima kasih banyak"


mendengar kalimat yang sama daru Irain membuat Tifa semakin bahagia.


"padahal nona tidak perlu repot-repot kemari" ucap Agnes.


"tapi Tidak sia-sia aku kemari bi"


sebagai pelayan Kepuasan majikan adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Agnes.


"huh, Asal Nona muda senang, saya tidak mempermasalahkannya"


setelah itu, Irain menjalani kehidupan sekolahnya dengan Antusias seperti biasanya, hingga Ia bertemu dengan sosok yang hampir....


membunuhnya...


Lima tahun kemudian, Lebih tepatnya hari dimana Kelas Irain mengadakan Study tour.


Hari dimana Ia seharusnya bersenang-senang sebelum naik ke bangku SMP.


Namun Pada Malam itu, semuanya kacau.


"Kamu siapa!"


sosok Hitam pekat, tubuhnya diselimuti Kabut hitam,. bermata empat, taring yang tak terhitung jumlahnya, berdiri tegak layaknya manusia.


`beberapa menit sebelum kejadian....


"Karnaval?"


semua murid kaget, karena sebelum pulang, mereka akan diajak menuju Tempat Ramai, yaitu Karnaval.


"Jadi, Anak-anak jangan berpisah dari rombongan ya"


"Iya bu"


Namun saat itu, Irain merasa jika dirinya diawasi sejak turun dari Bus.


beberapa saat kemudian Irain dan teman-temannya diajak menuju ke sebuah Labirin cermin..


dan saat itulah keanehan mulai terjadi.


"krak!!" seluruh lampu ruangan Mati.


tiba-tiba saja Irain terpisah dari rombongan, dan saat itulah Ia memperlihatkan wujudnya.


"Ha-Hantu!!"


"Apa aku berhalusinasi?, tenang Raran, dia tidak nyata, dia hanya manifestasi dari ketakutan yang kau alami, lalu-


"Lalu apa?" jawab Sosok hitam yang menyerupai iblis.


"tidak usah kaget, lagi pula membaca pikiran mu itu mudah"


"ka-kamu siapa!?" Irain gemetar tak sanggup menggerakkan tubuhnya.


"Sosok yang berdiri diatas kebencian Mahluk rendah seperti manusia, aku yang menguasai malam, aku yang memakan Cahaya empat ratus tahun yang lalu"


"Aku Darkpath"


Semuanya Berawal dari Sini


`\bersambung