Reality Life

Reality Life
Manusia



Sekuat apapun manusia, mereka tetap manusia.


Kuat atau berlaga kuat pun menyerah adalah hal yang dipikirkan ketika lelah.


Kata siapa manusia tidak boleh mengeluh.


Mereka kan manusia.


Punya raga yang harus dijaga.


Pun punya lelah yang bisa dirasa.


Dibalik kekuatan untuk yakin,


Ada separuhnya yang juga butuh di yakinkan.


Manusia kan hanya bisa berharap.


Berharap ada yang mengerti.


Berharap ada yang peduli.


Berharap ada yang tahu akan lelahnya.


Sisanya baru tersadar.


Apa yang diharapkan tak semua bisa terwujudkan.


Lelah lah.


Istirahatkan.


Semua orang kadang perlu tau kamu punya lelah yang tidak pernah kamu tunjukkan pada siapapun.


Setelahnya berjanjilah pada dirimu.


Kamu harus lebih bangkit.


Sebab manusia boleh lelah.


Tapi tidak boleh menyerah.


Percaya atau tidak,


Dirimu lebih kuat dari apa yang kamu tahu selama ini.


Namanya manusia.


Kalau tak mengeluh ya kecewa.


Bersyukur ketika bahagia.


Setelahnya mengumpat ketika sebaliknya.


Namanya manusia.


Berharap pada manusia,


Padahal tau akan kecewa.


Padahal tau akhirnya seperti apa,


Tapi tetap saja dilakukan,


Namanya manusia.


Bahagia membanggakan diri,


Terluka menyalahkan orang lain.


Namanya manusia.


Senang secukupnya,


Sedih seperlunya,


Kecewa sewajarnya,


Bersyukur sebanyaknya.


Tuhan menciptakan hati untuk merasa,


Kemudian otak untuk berfikir.


Memilih, mana yang pantas dirasa atau tidak.


Mana yang layak dipertahankan atau tidak.


Ada pula logika, yang dipakai ketika sedang bimbang.


Namanya manusia,


Segalanya ada,


Yang digunakan hanya mengeluhnya saja.


Kemudian kecewa,


Merasa paling terluka,


Lalu menyebut semuanya tak adil.


Jadilah manusia yang mempunyai nama.


Bukan hanya untuk pamer dan di nisan saja.


Jauh lebih dari itu, seperti untuk mengukir cerita atau berguna.


Pertanyaannya,


Apakah bisa?


Sejauh mana yakin nya?


Sebesar apa niat nya?


Manusia tetap manusia.


Salah minta maaf


Dibantu berterimakasih


Susah meminta tolong


Apa susahnya.


Derajat manusia memang tertinggi,


Tapi bukan meminta maaf jadi tak berarti.


Tanpa manusia lain, manusia bukan apa-apa.


Manusia tetap manusia.


Mereka semua sama. Sama-sama manusia.


Mengapa membedakan?


Mengapa semaunya?


Bukankah jika sama, manusia juga berperasaan sama?


Punya lelah, kesal, marah, sedih atau bahagia?


Lantas kenapa,


Masih ada manusia yang tidak memanusiakan manusia.


Tuan, nyonya


Kita semua sama.


Ingin memiliki waktu untuk bahagia.


Tak cuma satu, tapi semua.


Tak ada yang meminta kesedihan pada Tuhan nya.


Tuhan pun tak ada yang menginginkan ciptaan nya bersedih.


Lantas mengapa,


Yang hanya manusia justru saling sakit menyakiti?


Mengundang amarah dan pedih.


Bahkan, ujian pun tak datang setiap hari.


Ada manusia yang lebih mahir dalam seni musik dibanding seni beladiri.


Sama-sama seni namun berbeda keahlian. Tak ada masalah


Lalu, mengapa masih ada manusia yang membeda bedakan satu sama lain hanya karna tidak bisa melakukan di suatu bidang. Hanya berbeda keahlian namun tetap sama manusia.


Apa bedanya.


Setiap dirinya pasti mempunyai porsinya masing-masing.


Mempunyai roda hidupnya masing-masing.


Manusia lain hanya membantu kita mendorong agar mencapai segalanya.


Peran utama dalam hidup kita ya diri kita sendiri.


Segala alur cerita dengan semesta ia tahu.


Menjawab teka-teki dari semesta pun semestinya ia tahu.


Diri ini mesti tahu kapan harus terus melaju dan kapan waktunya untuk beristirahat.


Manusia tetap manusia


Kuat atau berlaga kuat pun menyerah adalah hal yang dipikirkan ketika lelah.


.


.


.


🍌🍌🍌