
Pergi saja, sebenarnya.
Aku tidak melarang
Juga tidak menahan siapapun untuk tetap tinggal.
Diri selalu menerima jiwa-jiwa yang juga menerima apapun itu adanya.
Biar saja berjarak
Tanpa harus bersorak.
Datang baik-baik
Pergi dengan pamit.
Bukan pamit yang menyelipkan sakit
Kawan,
Diri ini tidak setegar gunung yang dihempas anginpun tetap kokoh.
Kawan,
Diri ini tidak seperti karang yang diterjang ombakpun tetap tegak.
Diri ini layaknya pohon di tepi pantai yang selalu diserbu angin.
Kadangkala ia tetap tegak dengan segala arah angin.
Kadangkala ia akan jatuh dan patah karena diterjang angin.
Tahu apa yang terjadi?
Ada yang kembali tumbuh,
Ada juga yang kemudian mati dan tidak akan tumbuh kembali.
Ku harap angin lekas mereda.
Badai cepat berlalu.
Ombak cepat menyurut.
Diri sendiri memang prioritas,
Namun egois bukan alasan untuk tegak berdiri sendiri.
Kawan,
Makhluk sosial seperti kita tak bisa hidup sendiri.
Juga tak bisa bergantung pada orang lain.
Keduanya harus imbang.
Tak perlu kuucap ini selesai
Karna dasarnya memang tidak pernah ada yang dimulai.
Terimakasih kepada manusia yang tetap bertahan dengan segala keadaan.
Tetap ada dengan segala kekurangan
Dan tidak pergi walau tahu keburukan.
Maaf.
Diri ini tidak bisa diatur sebagaimana orang lain inginkan.
Diri ini hanya bekerja sebagaimana mestinya,
Tak bisa berbaur,
Tak bisa memulai,
Sulit mengungkap,
Mudah mengeluh,
Dan lainnya.
Terimakasih yang masih ingin jumpa,
Terimakasih yang masih mau menerima.
Maaf bukan untuk mundur
Melainkan hanya tak sejalan.
Kita semua memang sama,
Sama-sama mempunyai rasa
Punya kepribadian,
Punya privasi,
Punya kekurangan dan kelebihan.
Namun kita berbeda,
Berbeda cara kita berbaur,
Dan berbeda juga pandangan kita terhadap sesuatu.
Masih banyak yang tidak perlu orang lain tahu,
Cukup mereka yg peduli yang akan tahu dengan sendirinya.
Silahkan bersanding dengan seadanya diri ini,
Jika tidak, pergi pun tak akan dilarang.
Yang tidak merasakan tidak akan paham,
Yang tidak mengalami tidak akan mengerti.
Sejauh ini paham?
Siapa diri ini?
Katanya ini teralu sulit.
Kemudian si hati menjawab,
Tentu saja, kalau mudah semua orang bisa melakukannya.
Ini kamu.
Bertahanlah,
Dunia bukan tempat untuk mengeluh.
Hatimu bukan untuk merasakan segala pedihnya,
Dan ragamu bukan tempat untuk menopang beratnya hidup.
Dunia adalah tempat dimana kamu harus menerima apa yang ditakdirkan untuk kamu.
Entah tentang kehidupan,
Atau pertemanan.
Entah itu sesuai,
Atau berantakan.
Kamu sudah berada pada takdirmu.
Jangan mengeluh.
Tuhan memberimu sesuatu dengan segala alasan yang luar biasa.
Tuhan memberimu masalah agar kamu menjadi manusia yang lebih kuat lagi.
Tuhan memberimu kebahagiaan agar kamu menjadi manusia yang lebih bersyukur lagi.
Tuhan memberi segalanya padamu pada tempatnya.
Tugasmu hanya berlu berterimakasih pada ragamu,
Otakmu,
Hatimu
Juga jiwamu.
Yang senantiasa kuat menjalani segalanya bersamamu.
Bahwa, orang yang paling mengerti kamu adalah dirimu sendiri.
Orang yang paling memprioritaskan kamu adalah dirimu sendiri.
Berterimakasihlah padanya.
Telah kuat selalu.
Karna kita sadar, hidup gak selamanya seperti apa yang kita mau.
Seperti layaknya daun pada pohon,
Ia bisa saja berguguran menjadi sampah.
Juga bisa tumbuh subur menjadi indah.
Itu semua tergantung bagaimana lingkungan menganggap ia apa.
Tergantung bagaimana lingkungan terhadap nya.
Dirawat dan dibantu tumbuh kah.
Atau, dibiarkan menjadi sampah.
.
.
.
🍌🍌🍌